
“Kea, kerjain tugasnya yang bener ya yang bagus juga biar pas presentasi orang lain iri haha... Gue bantu doa,” Ilham yang sedang rebahan terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Fadil pun yang sedang membuka media sosialnya ikut terkekeh.
“Gak, kita bagi-bagi tugas,” protes Keano datar.
“Rajaya sama Leo makin panas ada apa sih Sya?” Tanya Fadil setelah melihat video singkat lewat di media sosial.
“Kok gue, gue gak tahu apa-apa ya,” Tasya juga sedang memainkan ponselnya.
“Lo ati-ati aja sama Rajaya,” sambung Fadil.
“Lo kayak Teresa sama Mita deh, emangnya Rajaya sebahaya apasih sampai gue harus mode waspada?” Tasya masih memainkan ponselnya.
Ilham terkekeh, “Kea, kasih tahu Tasya.”
“Ah, mami kenapa sih nelpon,” Ilham meraih ponselnya yang berdering lalu bangkit dari rebahannya.
“Hallo, Mi...” Sapa Ilham.
“Iya, Mi... iya,” Ilham sampai mengangguk-anggukkan kepala.
“Sorry guys gue balik duluan ya.” Ilham memakai jaket.
“Balik lo sana anak mami,” Tasya melempar remot tv ke Ilham.
Ilham nyengir kuda, “Lo gak dicariin Sya? Sudah jam 11 malem loh.”
“Siapa yang mau repot-repot cari gue? Baru juga jam 11, anak perawan lo,” Tasya terkekeh.
“Mami gue yang rese Sya. Gue balik ya guys. Sya, anggap aja ini rumah lo,” Ilham masih sempat-sempatnya jail sebelum pergi.
“Ah, lowbat?” Fadil berdecak kecal.
“Kea, masih lama?” Fadil melirik jam tangan yang menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
“Lo mau bantuin?” Tanya Keano datar.
“hehe, gak. Kea, gue ke lantai 15 ya, kangen gue sama silva,” Fadil memakai jaket.
Tasya yang sedang memakan snack keripik singkong tersedak, “Gue kira lo jomblo. Anak kelas berapa, sekolah dimana?”
“Dia udah kuliah, Sya,” Fadil menjawab santai.
Tasya terkekeh, “Tipe lo tante-tante.”
“Gue balik duluan Sya. Kea, Tasya jangan diapa-apain ya.” Fadil terkekeh sambil keluar dari apartemen Keano.
Ehem ehem
Tasya berdehem dua kali, mencairkan suasana agar tidak terlalu sunyi.
“Kea,” Panggil Tasya.
“Hm,” Kea masih fokus dengan laptopnya.
“Lo pernah janji sama gue mau ceritain semua tentang avarelic.” Tasya meletakkan ponselnya di sofa lalu menatap keano yang membelakanginya.
“Udah malem Sya, lo gak dicariin? Satahu gue orang tua Nia posesif sama anaknya, lo sodaraan kan sama Nia?” Jari-jari tangan Keano masih menekan tombol keyboard laptop.
__ADS_1
Tasya terkekeh, “Sok tahu lo. Ah, lo ingkar janji, gue balik,” Tasya mengemas barangnya memasukkan ke dalam tas dengan kesal.
“Gue ceritain semuanya,” ucap Keano saat Tasya bangkit dari duduk.
“gItu dong,” Tasya tidak jadi pulang, dirinya segera duduk di samping Keano.
“Sya, Lo sodara tirinya Nia kan?” Tanya Keano datar.
“Kita mau bahas avarelic kan kea... kenapa jadi nanya urusan pribadi gue sih?” Tasya mulai bete.
“Jawab dulu, nanti gue cerita,” Keano mulai membuak file yang berisi logo dan juga foto kejahatan yang entah siapa pelakunya karena tidak kenal.
“Iya gue sodara tirinya Nia,” Tasya menopang kepala menggunakan tangan dengan malas.
“Kok lo beda sama Nia?” Keano masih datar.
Tasya terkekeh, “Lo aneh ya. Ya beda lah, yang sekandung aja beda apalagi yang tiri.”
“Gak ada yang nyariin lo?”
“Cie... kepo.” Kekehan Tasya makin menjadi.
“Siapa yang mau cari gue, nyokap tiri gue? Bokap gue? Nomor mereka aja gue gak punya.” Tasya berdecak kesal.
“Kea... lo jadi cerita kagak sih?” Tasya merebut laptop Keano.
“Ini logo avarelic?” Tasya menunjuk layar laptop yang menampilkan sebuah logo. Sementara Keano menganggukkan kepalanya.
Raut wajah Tasya semakin serius seiring melihat satu per satu gambar yang ada di dalam laptop.
“Mereka terlalu berbahaya jika terus dibiarkan,” Tasya berdecak kesal sambil terus melihat satu per satu foto kejahatan anggota avarelc di sekolah.
“Foto itu entah tahun yang kapan, bukan yang sekarang Sya,”
Tasya melirik Keano datar, menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata kasar ataupun umpatan, lalu mengembalikan laptop kepada sang pemiliknya.
Keano mendapat kendali atas laptopnya lagi, “Ini yang terbaru, saat avarelic dipimpin Leo dan yang ini saat dipimpin Rio sebelum Leo.”
“Logonya masih sama, Manda, Manda, Manda. Di setiap foto selalu ada Manda, dia bilang masalah?” Tasya memindahkan dari satu foto ke foto yang lain.
“Bisa dibilang begitu,” Keano memperhatikan wajah Tasya yang terlihat begitu kesal.
“Manda dan Alda adik Rio,” sambung Keano.
Tasya terkekeh tapi tidak berpaling dari layar laptop, “oh, pantas.”
“Harusnya kejahatan mereka yang begitu keterlaluan ini terekan cctv, mereka tidak dikeluarkan?” Tasya kembali bertanya.
“Hanya pemanggilan orang tua, yang yang paling berat di skorsing tidak sampai dikeluarkan.” Jelas Keano.
“Terus poin seratus yang pernah lo bilang sama gue, gak ngaruh sama mereka?”
Keano menggeleng “Orang tua mereka mampu membeli hukum sekolah.”
Tasya menaikkan kedua alisnya, “Ada yang gak beres dengan sekolah, lo tahu siapa pemilik yayasan sekolah kita?”
“Hah,” Keano terkejut.
“Gue, gak tahu,” sambung Keano.
__ADS_1
Tasya berdecak, “gimana sih lo, masa udah sekolah satu tahun gak tahu siapa pemilik sekolah lo sendiri,”
“Berapa banyak jumlah mereka?” Tasya bertanya lagi.
Keano kembali mengambil kendali atas laptopnya lalu mencari file format pdf dengan judul Avarelic.
Tasya membaca isi dari pdf tersebut, “Mereka udah 10 tahun berdiri, jumlahnya 500. Bukti apalagi yang lo punya?” Tasya menscroll file tersebut sambil dibaca dengan teliti.
“Gue Cuma punya bukti foto-foto itu doang. Sya, lo berhenti deh berurusan sama mereka, atau lo-“
“Atau gue akan bunuh diri atau jadi gila,” Tasya memotong kata-kata Keano.
“Lo sama Kayak Teresa sama Mita. Gue gak takut sama kejahatan. Gue takutnya sama Tuhan.” Tasya melototi Keano sebentar.
“Kea, mereka punya situs web?” Tasya melihat alamat website avarelic di akhir halaman.
Tasya tersenyum lebar lalu tawanya pecah, “Kea, website ini dibuat dari pertama kali adanya avarelic bukan?”
Tawa Tasya semakin menjadi setelah Keano menganggukkan kepala, “Kita hack web mereka.”
Tasya berhasil menghack wabsite avarelic, dan saat ini dia sedang mengcopy semua data tanpa menyisakan satupun.
“Lo waspada juga sama Rajaya,”
Tasya yang sedang minum air putih melirik Keano, “Rajaya? Kenapa dia?”
“Gue gak punya bukti mau cerita pun takut lo gak percaya,” ucap Keano datar.
“Emang, gue gak akan percaya sebelum adanya bukti,” Tasya terkekeh.
“Lumayan banyak ya file yang mereka punya. Kea, lo setuju gak kalau gue ganti website mereka jadi sumber virus?”
Tasya melirik Keano yang mengacukan pertanyaannya, “Lo gak setuju ya, tapi itu gak ngaruh si sama keputusan gue.”
“Sya, lo gak ada takut-takutnya, lo mau sama jahatnya sama mereka, terus nanti apa bedanya lo sama mereka?”
Tasya melirik Keano sambil terkekeh, “Lo lambat, gue sudah ganti websitenya jadi sumber virus.”
“Kea...” Panggil Tasya sambil membuka file hasil copyan dari website avarelic.
“Apa, Sya?” ucap Keano datar.
“Gue gak akan sejahat mereka kok, Cuma orang jahat kayak mereka saja yang perlu gue kerjain,”
“Bentar, Sya. Gue pinjem dulu,” Keano mengambil alih laptopnya.
“Rajaya?” Ucap Tasya spontan setelah melihat nama folder yang dibuka Keano.
“Tadinya gue mau ceritain lo tentang ini,” Keano memuatr sebuah video sementara mulut Tasya menganga bahkan kedua matanya yang sipit membulat sempurna.
Tasya menonton video itu dengan serius sementara Keano memalingkan wajahnya enggan menonton video yang sedang tayang di laptopnya.
“Kea, Rajaya berada dibawah kendali obat,” Tasya menggoyang-goyangkan lengan Keano.
“Lo gak nonton?” Tasya terkekeh lalu mematikan video tersebut.
“Lo bener Sya, Rajaya dibawah kendali obat karena dia yang meminumnya sendiri,”
Tasya melirik Keano, “Bisa aja dia dipaksa meminumnya.”
__ADS_1