
“Tumben muka lo kusut, slow Kea kerjaan osis kita bantu. Gue masuk ya.” Ilham menyerobot masuk apartemen Keano lalu disusul Fadil dan Terakhir Keano sambil menutup kembali pintu apartemenya.
“Gila jam 4 bentar lagi jam lima, laporan gue belum selesai. Kea pinjem kabel data gue ambil ya ke kamar.”
Keano yang tepar di sofa hanya mengiyakan saja dengan mata terpejam.
“Wush, gila kamar lo bau alkohol Kea.” Ilham langsung menutup hidung saat membuka kamar Keano.
“Jangan berisik, Tasya lagi tidur.”
“Tasya? Mana gue liat, gak percaya gue.” Fadil langsung meletakkan ponselnya dan berlari memasuki kamar Keano.
“Bener, dia Tasya. Ratu alkohol, baunya gila.” Fadil menggelengkan kepala.
“Keluar, jangan ganggu,”
Ilham terkekeh, “lo Jadi chef sama perawat dadakan?”
Keano mengacuhkan pertanyaan Ilham, setelah dua temannya ini keluar dari kamarnya Keano menutup pintu dengan sangat hati-hati.
“Mita sama Teresa tahu gak woi Kea?” Tanya ilham yang mulai menyalakan laptop.
“Tahu apa?” Keano yang kembali tepar di sofa balik bertanya.
“Tasya di tempat lo.”
“Tahu.”
Fadil menggelengkan kepala, “Gila kalau Rajaya sampai tahu.”
“Dia tahu,”
“Wuih, yang bener.”
“Terus lo mau kemana?”
“Mau istirahat, leher gue sakit tidur di sofa.”
“Di kamar ada Tasya woi Kea,”
“Gue tahu.”
“Parah lo Kea, kamar sebelah kosong.”
“Kotor.” Ucap Keano sebelum menutup pintu kamar.
TING TONG TING TONG TING TONG
Ilham membuka pintu apartemen dengan buru-buru, agar si Tamu tidak menekan terus tombol bel. “Berisik, Tuan rumah lagi tidur.”
“Sudah siang gini, jam 7 masih tidur?” Teresa dan Mita menerobos masuk apartemen meninggalkan Ilham.
“Farel, Tasya mana?” Tanya Mita.
“Tasya ada di kamar, tapi dia lagi demam jangan berisik.” Fadil memberi peringatan kecil.
“Kamar ini bukan? Terus si kea nya dimana?” Teresa menunjuk pintu dihadapaannya.
“Dua-duanya juga di sana.” Jawab Farel santai sambil menekan-nekan tombol keyboard laptop.
“Hah? Mereka satu kamar?” Mita membulatkan matanya.
“Gila sih, mereka berdua ini meresahkan orang tua,” Teresa menggelengkan kepala.
“Kea, bangun woi. Sahabat gue jangan dipeluk-peluk kayak begitu.” Protes Mita pelan sambil mencubit lengan Keano.
Keano membuka mata lalu mlirik jam dinding. “Keluar, gue mau mandi,” Keano mengusir Mita dan Teresa sampai keluar kamar.
“Diusir juga kan lo, ganggu sih.” Fadil terkekeh.
“Ilham, sekalian cek laporan punya gue dong, kalau ada yang salah benerin aja. semalam gue ngantung, jadi asal ngerjainnya.” Mita meletakkan flasdish di samping laptop yang sedang dipakai ilham.
“Mita, kalau punya kerjaan itu jangan pakai sistem kebut semalam. Ngacokan hasilnya.” Protes Fadil.
“Udahlah, gini-gini kita satu tim harus menutupi kekurangan kalau gak mau disemprot Keano.”
“Mita ikut rapatkan sekarang ke sekolah.”
“Ilham izinin gue dong, gakpapa kan sekali gak ikut rapat?”
“Ini rapat terakhir Mita, besok lombanya dimulai.”
“Eh, Re bantuin ngomong dong. Main handphone mulu.”
__ADS_1
“Gue gak ngerti cara kerja osis, sorry gak bisa bantu.”
Ceklek!
“Kea, Mita gak mau ikut rapat katanya.”
Mita melototi Fadil, “Kata siapa? Guekan pengikut setianya Keano Algesha, mana mungkin gue gak ikut rapat. Hidup Kea...”
“laporan yang gue minta sudah selesai?” Tanya Keano sambil berjalan menuju arah dapur.
“Sudah tapi ngaco, gue lagi benerin.” Ilham terkekeh.
“Cuma salah angka doang juga,” Mita membela diri.
“Angka doang?”
“Sini-sini gue bisa benerin sendiri, lo berdua gak ikhlas bantu.” Mita mengambil alih kendali laptop.
Ceklek!
“Eh, Tasya baru bangun,” Teresa menahan senyumnya.
“Atuatuatu, abis bobo di kamar siapa Sya?” Goda Mita.
“Hah?” Tasya mendudukkan diri di atas sofa lebih tepatnya di samping Teresa.
“Bobonya kayak nyenyak banget pula, dikelonin Kea enak ya Sya?” Tanya Ilham.
“Iya, lo mau coba?”
“Gila, iya katanya Kea.” Teriak Ilham.
“Keano naik pitam,” ucap Teresa.
“Naik daun Re...” sanggah Mita.
“Naik awan anjay, gemes gue,” Fadil gereget sendiri.
“Dimakan,” Keano datang dengan membawa dua piring hidangan di kedua tangannya, satu diberikan kepada Tasya dan satunya lagi untuk dirinya sendiri.
“Buat gue mana woi Kea?” Tanya Ilham.
“Gue juga,” tambah ilham.
“Masa gue gak kebagian?” Mita
“Di belakang masih banyak, ambil sendiri.”
“Hidup sendiri itu jadi serba bisa,” Mita datang kembali setelah mendapatkam sepiring hidangan nasi goreng.
“Sya sudah tahu berita lo difitnah belum?” Tanya Teresa.
“Disiarin di televisi juga gak sih. Gue mau liat di internet males sama komentar netizen.”
“Gue nyalain nih televisinya,” Ilham menekan tombol remot. Kebetulan mereka semua sedang berada di ruang tv.
“Tasya Edellyn Dihantam berita miring, akankah karir model yang sedang naik daunnya ini akan redup? Gila judul beritanya,”
...kontroversi dengan beritanya yang muncul di dunia maya. Pengabdi Harta, sebutan bagi para netizen untuk model muda dan cantik ini. di usianya yang masih belia, Tasya Edellyn diterpa isu bahwa dirinya ingin menguasai semua aset harta keluarga tanpa memandang keluarganya yang lain termasuk ayahnya sendiri. Beberapa kritik pun muncul dari netizen di dunia maya, “Masih muda, otaknya sudah dipenuhi harta.” Tulis dari akun dengan nama orang baik. “Jangan sampai deh anak saya berteman kayak model ini sifatnya gak baik banget.” Tulis akun bernama MamahYaya. “Harusnya fokus sekolah saja dulu, be-...
“Kontrak masih aman kan Sya?” Tanya Mita.
“DM gue isinya pembatalan kontrak semua.”
“Terus bagaimana?” Tanya Ilham.
“Apanya yang bagaimana? Karir? Biarin saja sih.”
“Kenapa dibiarin? Cita-cita lo bukan jadi model Sya?” Tanya Fadil.
Tasya menggelengkan kepala, “Bukan.”
Teresa yang memang berada di samping Tasya sangat mudah untuk merangkul sahabatnya ini dengan satu tangan, “Mau tahu gak cita-citanya Tasya apa?”
“Cita-cita Tasya jadi istrinya Kea,” jawab Mita.
“Yang bener Ta? Ah PHP, Tasyanya saja belum pernah bilang.” Pancing Ilham.
“Tenang sodara-sodara, lihat berita. Gue gila harta, mana mau Kea mau sama gue nanti hartanya raib tak tersisa,” ucap Tasya menenangkan teman-temannya.
__ADS_1
“Harta gue banyak,” Keano yang sedari tadi menyimak akhirnya angkat suara dengan gaya santai tapi tetap cool.
“Wiuh,” Mita bertepuk tangan lalu di susul teman-temannya yang lain.
“Gue suka ini, sombongnya natural,” timpal Ilham.
“Anak tajir buka suara.” Teresa takjub dengan kesombongan Keano.
“Pokoknya lo harus tlaktir anak sekelas kalau menang jadi ketos, jangan kalah dari Rajaya.”
“Ta, jangan membandingkan,” Teresa menasihati.
“Bukan membandingkan, anggap saja ajang berbuat kebaikkan.”
“Pinter ngeles,”
“Kan gue belajar dari lo, Sya. Otak gue itu gak bedah jauh dari otak lo.”
“Iya, lo pinter kayak gue,” Tasya meletakkan piring kosong di atas meja.
“Jam berapa sekarang, sudah siang ya?”
“Jam 8, itu minum gue Sya,” Ilham menunjuk gelas yang ada di tangan Tasya.
“Lo ambil lagi. Lo ganteng banget hari ini gila... rapih banget, cewek siapa yang mau lo ajak jalan?”
“Definisi Kepo yang elegan,” Mita terkekeh.
“Salting dia dibilang ganteng sama Tasya, Ilham... Ilham ilahi.” Teresa terkekeh.
“Gue itu suka gereget sama lo ya Mita, lo jadi cewek peka dikit napa,” celetuk Tasya.
“Percuma Sya, lo bilangin hari ini gak bakal mempan. Gue saja yang nasehati dari abad sebelum masehi gak pernah denger.” Tambah Teresa.
“Lo sendiri bagaimana?” Mita melototi Tasya.
“Kok balik tanya?” Tasya juga melototi Mita.
“Eh, kok jadi berantem. Gini amat perbincangan cewek,” Ilham menengahi.
“Tunggu, ini gak peka apanya dulu anjir, gue gak ngerti?” Mita kembali melototi Tasya.
“Sudah jangan dibahas.” Tasya menggelengkan kepala. “Lo semua sudah rapih mau pada kemana sih? Gue doang yang belum mandi.”
“Anak osis mau ke sekolah Sya, gak tahu ini si Tere mau kemana mana dah rapih sama wangi banget pula,” jawab Mita sambil terkekeh.
“Terus gue samperin Tasya gak mandi dulu begitu?”
“Becanda Re, becanda.” Mita tertawa.
“Eh kok gue baru nyadar ya,” sendok yang tadinya ingin dimasukkan ke mulut diletakkan kembali oleh Mita ke piring.
“Ih Tasya sumpah jorok banget, bangun tidur gak cuci muka dulu gak gosok gigi dulu langsung makan saja, sumpah jorok lo level maksimal.” Mita menatap Tasya sambil menggelengkan kepala.
Tasya terkekeh, “Keano saja gak protes.
“Untung ini nasi gorengnya enak, bisa menutupi kejorokkan Tasya.”
“Sudah Mita, joroknya Tasya masih bisa dimaafkan.”
“Astaga, susah banget mau makan dengan damai.” Celetuuk Fadil.
“Lo semua mau tahu gak? Semalam gue muntah, nah... gue itu lupa sudah kumur apa kagak ya. Kalau kagak artinya gue makan nasi goreng sama campuran muntahan semalam. Coba lo bayangin bagaimana Rasanya.”
Mita meletakkan sendok dengan kasar lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan, mukanya memerah menahan diri untuk tidak muntah.
“Gak bisa ditoleransi ini kejorokkannya,” Teresa meletakkan sendok lalu membuang muka.
“Nafsu makan gue ilang anjir,”
“Tasya parah,” Fadil menggelengkan kepala.
“Padahal gue cuma mau berbagi cerita, Lo semua kok begitu responnya, ngeledek gue ya?”
“Sya, mandi.”
Tasya melirik Keano, “Oke.”
“Re, beliin gue baju dong. Gue gak punya baju di sini. Mita kalau mau muntah, muntah saja.” ucap Tasya sambil pergi menuju kamar Keano untuk mandi.
Mita berlari menuju dapur, lalu memuntahkan isi perutnya di washtapel.
Teresa terkekeh sambil menghampiri sahabatnya, “Tasya parah sih, tahu temennya jorokkan, bikin joroknya gak kira-kira. Sudah muntahnya Ta? Temenin gue beli baju. Ke lantai bawah.”
__ADS_1
Mita yang sedang berkumur-kumur menganggukkan kepala.