
Rajaya terkekeh lalu menghampiri Tasya sampai gadis itu mentok di tembok lalu mengapit kedua sisi menggunakan lengan.
“Woi Rajaya lepasin Tasya. Lo jangan macem-macem sama sahabat gue dong,” Teresa dan Mita menarik lengan Rajaya, tapi usahanya gagal.
Rajaya begitu kokoh sulit untuk diruntuhkan oleh Mita dan Teresa.
“Gue mau ngomong sama Rajaya,”
“Sya, lo gila,” Mita melotot tidak percaya.
Rajaya cekikikkan, “Udah, sana. Jangan ganggu.” Rajaya menggunakan satu tangannya untuk membuat Mita dan Teresa jauh dari Tasya.
“Mau ngomong apa, hm?” Rajaya tersenyum tapi masih mengapit Tasya menggunakan lengannya.
“Tadi Leo cerita sama gue lumayan lama tentang lo, gue cuma mau mastiin kebenarannya dari lo,” bisik Tasya tepat di telinga Rajaya.
Sebenarnya Tasya tidak bertemu Leo sama sekali apalagi bercerita. Tasya ingin tahu apakah rencana yang dirancangnya berjalan atau tidak.
Ketika menonton video aib Rajaya di apartemen Keano, Tasya ingin memastikan kebenaran tentang hal itu.
“argh!” Rahang Rajaya mengeras tangannya terkepal lalu memukul tembok.
“Jaya, napa lo.” Dimas dan teman-teman tidak bisa diam saja melihat Rajaya tiba-tiba marah, apalagi Tasya ada di dekat Rajaya.
“Udah dong, Rajaya. Lepasin sahabat gue,” Teresa dam Mita memohon.
“Gue gak sebajingan itu, dia yang udah jebak gue, Sya.” Lirih Rajaya di telinga Tasya.
“Lo gak salah? Punya buktinya?” Tasya menaikkan kedua alisnya.
Rajaya melirik sekilas Teresa dan Mita juga sahabatnya Dimas, Rian dan Farel.
“Sya liat mata gue,”
Tasya menuruti permintaan Rajaya, sementara dua sahabatnya Mita dan Teresa terdiam dengan kekhawatiran yang sudah mencapai ubun-ubun.
“Lo beneran ketemu Leo?” Tanya Rajaya.
Pupil mata Tasya membesar, sementara Rajaya terkekeh.
“Jaya, lo sehat?” Dimas merangkul Rajaya.
“Minggir lo, jangan ganggu,” Rajaya kesal dengan Dimas.
Rajaya mendekatkan bibirnya ke telinga Tasya, “Lo yang hack akun avarelic semalam?”
Rajaya kembali terkekeh setelah melihat raut wajah Tasya.
“Gue dukung lo, Sya,” Rajaya menumpangkan tangannya di atas tangan Tasya yang memegang bobba.
Rajaya menyeruput bobba tanpa permisi, “Bobba gratis, enak,”
Tasya memberikan tatapan melas kepada dua sahabatnya karena Rajaya mendorong bobba menuju mulut Tasya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama Mita dan Teresa menggunakan Dimas dan semua temannya untuk menabrak Rajaya.
“Anjin* lo semua!” Maki Rajaya yang gagal membuat Tasya minum bobba bekas dirinya.
“Minggir lo,” Tasya mendorong Rajaya dan semua temannya lalu menatap bobba yang tumpah mengotori lantai.
Tasya melirik Keano si pemberi bobba. Tasya tidak akan tahu kalau Keano sesekali melirik aksi Rajaya terhadap Tasya.
“Cepet bersihin,” Rara melempar pel lantai.
“Apa-apaan sih lo, ada petugas ob kali gak perlu sampe Tasya yang ngerjain,” Teresa tidak terima.
Tasya segera mengambil pel lantai sebelum didahului Mita.
Rara tersenyum mengejek, “Bagus deh, lo tahu diri. Makannya jadi manusia itu jangan banyak tingkah. So cantik lo, pahlawan kesiangan, pembawa sial.”
“Yang bersih, itu masih kotor, ngepel doang gak becus lo!”
“Iya gue bersihin. Mulut lo juga kotor mau gue pel gak biar sekalian bersih,”
“Ngomong apa lo?” emosi rara sudah sampai ubun-ubun.
“Mulut lo mau gue pel?” Tasya mengulurkan pel lantai tepat di depan wajah rara.
Tasya terkekeh sementara sebagian siswa sudah menertawakan Rara termasuk dua sahabat Tasya.
“Minuman saya tumpah,” Rajaya datang membawa OB sekolah. Pel lantai yang ada di tangan Tasya diambil Rajaya lalu diberikan lagi ke OB yang dibawanya.
Tasya berdecak kesal lalu menghempas lengan Rajaya yang hinggap di bahunya sebelum pergi menuju bangkunya.
“Sya lo gakpapa kan?” Mita Teresa menghampiri Tasya yang membenamkan wajahnya ke meja.
“Gue gakpapa, masih lama gak sih masuknya?” Tanya Tasya.
“Kayaknya 5 menit lagi deh,” Teresa dan Mita mengelus lembut kepala Tasya.
Rajaya menepuk pundak Mita.
“Apa lo ke sini bawa tas segala?” Mita melototi Rajaya yang berdiri dengan tasnya lengkap.
“Minggir,” Rajaya menarik lengan Mita agar bangkit dari duduk.
Tasya menoleh, “Apa lo ke sini. Jauh-jauh dari gue dong, Rajaya.” Tasya mencegah Rajaya duduk di sampingnya.
“Aku mau duduk di sini, Sya.” Tubuh Rajaya masih didorong oleh Tasya.
“Anjay AKU, sehat lo JIN*.” Dimas terkekeh lalu lalu dirinya bersama Farel dan Rian menghampiri Rajaya.
“Lo berdua, duduk. Tasya gak bakal gue apa-apain.” Rajaya meminta Teresa dan Mita untuk duduk dibangkunya masing-masing.
“Rajaya, please lo jauh-jauh dari gue. Yang jauh sejauh sabang dan merauke,” Tasya mendorong tubuh Rajaya sekuat tenaga agar tidak duduk.
Rajaya terkekeh lalu memindahkan Tasya ala bridal style ke bangku sebelah, “Sya lo berat.” Rajaya duduk di samping Tasya.
__ADS_1
“Mau kemana?” Rajaya menarik lengan Tasya yang ingin kabur menuju dua sahabatnya Mita dan Teresa.
“Jay, jangan kasar dong. Kasian Tasya,” Dimas duduk di atas meja dihadapan Rajaya.
“Sya, maafin aku ya,” ucap Rajaya dengan wajah memohon.
“Lo pindah dari tempat gue, gue maafin,” Tasya menghempaskan lengannya yang dipengan Rajaya, tapi lengan Rajaya seperti ada lem perekatnya sulit dilepas.
“Gak mau,” Rajaya menggelengkan kepala sambil memanyunkan bibirnya.
Dimas and the geng tertawa bengek melihat tingkah Rajaya yang berubah 180 derajat, sementara Tasya berusaha untuk tidak mengumpat kasar.
“Sya, gue gak bakal apa-apain lo,” kali ini Rajaya serius.
Tasya mendengus kesal Setelah lengannya berhasil lepas dari Rajaya lalu mengalihkan pandangan ke depan enggan menatap Rajaya yang duduk di sampingnya.
“Balik lo setan, jangan ganggu gue,” Rajaya mengusir teman-temannya.
“Gak mau,” Dimas menirukan gaya manja Rajaya kepada Tasya.
Sontak seluruh kelas menertawakannya termasuk Tasya pun ikut ngakak.
“Dimas, ya ampun kelas ibu awur-awuran. Duduk semuanya.” Bu Nina masuk kelas.
“Bangun, Beri salam.” Perintah yang harusnya dilakukan Ketua kelas malah dilaksanakan oleh Rajaya.
“Selamat pagi, bu.” Ucap seisi kelas.
“Selamat pagi, semua, silahkan duduk kembali.” Bu Nina melirik Tasya dan Rajaya bergantian sambil menahan senyum karena tidak biasa dengan sikap Rajaya.
Rajaya cuek saja dengan perhatian yang diberikan Bu Nina.
“Baiklah, anak-anak ibu semua. Hari ini kita mulai belajar efektif. Belajar yang bener, yang serius, yang rajin, jangan dibuat main ya Rajaya,” Bu Nina melirik Rajaya di akhir kalimat.
Bu Nina hampir dibuat melompat kaget melihat Rajaya menganggukkan kepala dan tersenyum tulus.
Tasya menatap datar wajah Rajaya yang berlaga seperti murid teladan.
Rajaya menyentil hidung mancung Tasya, Rajaya tidak suka jika Tasya melihat dirinya dengan cara seperti itu.
“Ehem, ehem,” Bu Nina berdehem membuar Rajaya fokus kembali ke penjelasan yang sedang disampaikan.
“Karena belajar sudah efektif kalian bisa pegang loker lagi. Ketua Kelas bagikan kuncinya,” Bu Nina kembali duduk di tempat guru.
“Dimas gak becus kerja, Saya Ketua Kelasnya, Bu.” Rajaya menghampiri Bu Nina.
Bu Nina menaikkan kedua alisnya, sementara jauh di bangku pojok Dimas hampir mati tersedak oksigen yang sedang dihirupnya.
Rajaya membagikan kunci loker pada masing-masing siswa menyisakan kunci milik dirinya dan juga Tasya.
Tasya memutar bola matanya malas melihat Rajaya enggan memberinya kunci loker.
“Ibu mau menggunakan proyektor, coba tutup gordennya.”
__ADS_1