
Tasya menutup pintu apartemen Keano lalu melirik jam tangan di pergelangannya yang menunjukkan pukul sembilan malam.
Sebenarnya memindahkan file tidak memerlukan waktu sebanyak itu dari pukul 5 sore sampai 9 malam.
Jika saja telpon Tasya tidak berdering memunculkan notifikasi panggilan masuk dari agensi yang menaunginya untuk menjadi seorang model, mungkin Tasya akan lebih lama di tempat Keano.
Orang lain seperti Luna mungkin akan berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, tapi kenyataannya dengan waktu selama itu dihabiskan oleh Tasya dan Keano untuk berdebat mengenai tindakan yang akan mereka ambil untuk menghadapi avarelic.
Mobil Tasya keluar dari area parkir dan melaju cepat menuju gedung agensi yang menaunginya menjadi seorang model.
***
Luna
Selamat pagi, Nona...
Selamat beraktivitas.
Karena nona sudah menjadi seorang CEO, ada baiknya nona segera belajar bagaimana cara mengontrol perusahaan. Saya selalu siapa kapan pun dan dimana pun nona membutuhkan saya.
Terima kasih.
Tasya menghela nafas pendek setelah membaca pesan singkat dari Luna.
“Melelahkan,” gumam Tasya lalu turun dari mobilnya sambil merapihkan seragam sekolah.
“Pagi, Sya.”
“Pagi, cantik.”
“Pagi-pagi sudah ketemu yang manis aja,”
“Mata gue seger liat yang bening,”
“Selamat pagi, masa depanku.”
Sepanjang perjalanan menuju kelas Tasya disuguhi jilatan dari kaum buaya jantan entah itu dari satu angkatannya atau kakak kelasnya bahkan adik kelasnya yang tidak tahu sopan santun pun ikut menggoda Tasya.
Sementara Tasya sendiri merosponnya dengan senyuman, tidak mungkin juga dia memberikan baku hantam kecuali kata-kata hinaan yang keluar mungkin hal mengerikan akan terjadi.
“Sya,” Teresa berteriak sambil berlari menghampiri Tasya lalu memeluknya.
“Lo kenapa? Dapet arisan, seneng banget,” Tasya membalas pelukkan Teresa.
“Please... lo nginep ya di rumah gue, lo belum pernah nginep di rumah gue, jangan nolak Sya.” Teresa memohon. Mereka melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
“Dih, kok maksa,” Tasya terkekeh, “Ada apa sih Re, cerita aja kali.”
__ADS_1
“Nanti ceritanya kalo personil kita udah lengkap,”
“Mita udah di sekolah atau masih di jalan, Re.”
“Dia di RO, Sya. Sya-“ Teresa memperhatikan wajah Tasya yang agak pucat.
“Sya, Lo abis lembur photoshoot? Lo keliatan kecapean banget.” Teresa menelengkupkan kedua tangannya di pipi Tasya.
“Apaan sih, Re. Gue gak suka dikasihani,” Tasya memalingkan wajahnya.
“Sya, gue udah cerita sama mami tentang lo. Mami suka sama lo Sya, lo mau ya jadi anak angkatnya mami jadi sodara gue juga. Di umur segini itu kita harus fokus belajar.”
Tasya memeluk Teresa sambil terkekeh, “Yang bener, gila... ketemu mami lo saja gue belum pernah.”
Teresa melepas pelukan, “Sya... gue serius. Walaupun kita baru sahabatan, tapi lo itu kayak saudara gue sendiri lebih tepatnya lo itu kembaran gue, berasa bercermin kalo gue liat lo. Haha... kepedean banget ya gue.”
Teresa dan Mita terkekeh bersama.
Teresa menghadang langkah kaki Tasya saat mereka hampir dekat dengan kelas, “Sya, gue tahu lo pasti males banget kan tinggal satu rumah sama Nia. Lo mau ya tinggal bareng gue, atau lo boleh milih mau bareng gue atau Mita atau selingan juga boleh. Yang katanya lo pulang larut malem ke rumah Salsa, kenapa lo gak hubungi gue atau Mita, Sya?”
Tasya menggaruk dahinya, “Itu... gue gak enak sumpah. Kata Grandpa gue, rata-rata orang tua Indonesia akan marah dan benci kalau anak pulang larut malam apalagi kalau anaknya cewek.”
Teresa berdecak, “Sya, orangtua kami beda. Mau lo abis dari rumah Kea ngerjain tugas atau selesai photoshoot mereka bisa menerima lo walaupun lo pulang jam berapa pun, kecuali lo abis dugem terus mabok parah mungkin mami gue mikir dua kali buat nerima lo.”
Tasya terkekeh, “Iya, ok.”
“Oke, yang itu.” Tasya jadi bingung. Sementara Teresa terkekeh.
“Ada apa sih, Re. Pagi-pagi udah bahagia banget?” ucap Dimas yang sedang nongkrong di meja Keano sambil bersama teman-temannya yang lain.
“Kepo lo badai,” Teresa menghampiri bangkunya.
“Rajaya lo ngerjain tugas? Bukan mimpi kan ini,” Teresa terkekeh lalu menghampiri Rajaya sambil mencubit lengan lengannya sendiri.
“Au... sakit, Sya.” Teresa mengusap lengannya karena Tasya juga ikut mencubit.
“Ini nyata, Re. Rajaya sudah ganti basecamp, sekarang dia akan sibuk keluar-masuk tempat les.” Dimas terkekeh, sementara Farel dan Rian yang sama-sama bermain ponsel juga ikut terkekeh.
“Demi apa lo kayak gini, Demi Tasya?” Teresa menatap Rajaya tidak percaya.
“Shut, jangan ganggu gue atau lo semua gue bunuh, kecuali kamu,” Rajaya tersenyum sambil menunjuk Tasya lalu mengerjakan kembali tugasnya.
Di sini tawa Teresa yang lebih kencang dari Dimas, Farel ataupun Rian.
“Mita dimana sih, sayang banget dia gak liat pertunjukkan langka,” Teresa melihat seisi kelas, tinggal anak-anak osis saja yang belum masuk kelas.
“Tasya!” suara melengking terdengar dari ambang pintu.
__ADS_1
Seisi kelas menoleh, termasuk juga Tasya yang namanya disebut.
“Sini lo.” Manda melipatkan kedua tangannya di depan dada ditemani dua siswi yang dibawanya.
“Siapa yang butuh?” Tasya menatap Manda malas lalu memainkan ponsel karena ada notifikasi masuk.
“Banyak bacot,” Kali ini bukan suara Manda.
Tasya menoleh, “Lo yang pernah gue cakar di parkiran, siapa sih nama lo?”
“Melinda. cepetan ke sini cantik,” Alda yang sedang mengunyah permen karet mulai kesal.
“Lo semua balik, masih pagi udah buat gue muak,” Rajaya menunjuk tiga siswi yang sedang nongkrong di pintu.
“Gak ada urusannya sama lo, banci.” Alda tersenyum mengejek.
“Kalo lo gak mau ke sini juga, gue ambil satu teman lo,” Alda mulai memasuki kelas lebih dalam.
Seisi kelas mulai takut, Tasya segera bangkit dari duduknya.
“Gak, lo diem,” Tasya menahan bahu Teresa yang ingit ikut bangkit juga.
“Sya, mereka bertiga lo se-“
“Jagain Teresa, lo gue hajar kalau gak bisa jaga dia,” Tasya melototi Dimas.
Alda membunyikan permen karetnya sambil memperhatikan Tasya yang sedang berjalan menghampirinya.
“Alda, Manda, Melinda, nama lo semua hampir sama termasuk kelakuannya juga,”
“Panggil gue kakak,” Alda melipatkan kedua tangannya.
“Ogah,” Tasya juga melipatkan kedua tangannya.
“Manusia yang gak ikutan mos kayak gini, ngelunjak sama kakak kelas.” Manda mendorong bahu Tasya.
Tasya mengibaskan bahunya, “Norak. To the point lo mau apa samperin gue?”
“Lo-“ Manda tersulut emosi, dirinya ingin mencakar Tasya tapi usahanya dihadang Alda.
“Gue pantau lo terus, dan ternyata makin hari lo makin meresahkan,” Alda merangkulkan tangannya di bahu Tasya dan dengan cepat kedua tangan Tasya sudah ada dalam cengkraman Alda.
“Terus?” Tasya menaikkan kedua alisnya tidak melakukan perlawanan. Tangannya dibiarkan menyatu dibelakang punggung sambil dipegang erat oleh Alda.
“Lepasin gue, gue mau bantu Tasya.” Gumam Teresa sambil meronta dari Dimas.
“Gak, Re. Tasya punya rencana sendiri, jangan ganggu dia.” Dimas mencengkram lengan Teresa begitu erat.
__ADS_1