
“Keren banget lo, Sya.” Teresa turun dari mobil lalu menatap bangunan bertingkat yang di tengah-tengannya terdapat logo dari TL Corporation.
“Perfect,” Mita menjentikkan jarinya sambil menatap takjub bangunan bertingkat itu.
“Masuk yuk,” Tasya berjalan lebih dulu memasuki kantor.
“Kenalin ini mbak Luna, sekretaris mami.”
“Teresa, mbak,”
“Mita, mbak,”
Luna menyalami satu per satu sahabat Tasya, “Iya, Luna.”
Hachu! Hachu! Hachu!
Luna membenarkan kacamatanya lalu bergeser perlahan menjauhi Tasya yang sedang menggendong Fluffys.
“Oh, mbak alergi. Kalau begitu... aku langsung ke ruangan aku ya, bye.” Tasya melambaikan tangan.
“Permisi, mbak.” Teresa dan Mita kembali membuntuti Tasya.
“Gila... Paradise,” Mita menjatuhkan badannya di atas sofa sambil menatap takjub ruangan yang sedang ditempatinya.
“Blue and black, ini ruangan CEO apa ruang gamer?” Teresa menggelengkan kepala.
Tidak hanya Teresa dan Mita yang terkesan bahkan Tasya sendiri pun sangat puas. Apa yang diinginkan Tasya diwujudkan Luna dengan sangat sempurna.
Tasya menurunkan Fluffys lalu meraba komputer barunya yang tersimpan kokoh di atas meja CEO.
“Eh, Sya... kalau lo udah gak tinggal lagi sama Nia tinggal aja di rumah gue,” Teresa menawarkan.
“Atau di rumah gue juga boleh,” sambung Mita.
“Beres,” ucap Tasya yang sedang mencoba komputer barunya.
“Nanti gue kasih tahu papi and mami deh buat bantuin perusahaan lo, Sya,”
“Bener, papi gue harus tahu dan mami gue juga seneng pasti bisa kerjasama bareng lo Sya, mami gue suka banget fashion. Bidangnya banget,” Teresa mengedipkan satu matanya.
“Eh, jangan dulu, proposalnya belum siap. Nanti dikabarin lagi kalau udah siap.” Tasya tersenyum kaku melihat sahabatnya antusias membantu.
“Oh, harus ada proposalnya ya,” Teresa terkekeh.
“Foto dulu, keren nih tempat,” Mita sudah siap dengan ponselnya lalu bersama Teresa menghampiri Tasya.
Cekrek Cekrek Cekrek
“Repost juga di ig kelas, Ta.”
“Siap... Eh, Re pesen makan dong, laper ini.”
“Oke,”
“Ehem! Nona ini rincian harga untuk merenovasi ruangan ini,” Luna meletakkan berkas yang dibawanya di atas meja.
“Oh, iya ya aku belum bayar.” Tasya mengambil rincian harga itu dan saat melihat jumlah total yang harus dibayar Tasya menelan ludah kasar.
What the fu-, sembilan ratus juta, Tasya tersenyum miris lalu meraih ponselnya dan langsung melakukan transfer dengan jari-jari yang bergetar.
__ADS_1
Hacuh!
“Mbak Luna bisa pergi, uangnya sudah aku tf. Maaf ya aku gak tahu kalau mbak Luna alergi bulu kucing,”
“Gakpapa, mbak pergi ya,” Luna meninggalkan ruangan Tasya.
“Uang aku...” Tasya tersenyum kecut.
Semangat, kerja lembur. Tasya menyemangati dirinya sendiri dalam hati.
“Makanan datang,” Teresa dan Mita tiba-tiba masuk.
“Kapan kalian keluarnya?” Tasya berjalan menghampiri sofa.
“Tadi pas mbak Luna masuk, lo terlalu fokus sama komputer jadi gak liat kita keluar ambil orderan,” Mita membuka makanan dari bungkusan plastik yang tadi diteng-tengnya.
“Ehm, bener,” ucap Teresa disela kunyahannya.
***
“Kita balik ya Sya... kalo lo udah selesai shootnya balik aja ke rumah gue atau rumah Mita, pintu rumah gue terbuka lebar buat lo,” Teresa merentangkan tangannya.
“Siap... itu juga kalau gue bisa balik ada jadwal buat iklan juga soalnya,” Tasya terkekeh.
“Sya... emangnya lo gak capek?” Mita sebenarnya pusing dengan jadwal Tasya yang begitu padat.
“Gue suka capek, capek juga suka gue,”
“Tasya...” Teresa dan Mita melotot.
“Canda guys,”
“Meaong!” Fluffys memalingkan wajahnya saat Teresa mendekat.
“Coba sama gue, kita itu cuma butuh waktu doang buat saling kenal lebih dalam,” Mita mengambil Fluffys dari gendongan Tasya.
“Tuh kan nururt, ya udah kita balik ya, Sya.” Mita dan Teresa pergi menuju mobil, sementara Tasya melambaikan tangannya kepada Fluffys yang sedang digendong Mita.
“Loncat!” Latah Mita saat Fluffys keluar dari jendela mobilnya dan langsung menghampiri Tasya.
Tasya terkekeh, “It’s okay kucing gue kurang ngajar emang suka banget pilih-pilih orang, kalian balik aja, gue juga mau berangkat nih.”
Tasya melambaikan tangan saat Teresa dan Mita bergantian memberi klakson sebelum pergi.
“Fys, gue gak yakin lo bisa diem di tempat gue photoshoot. Lo mau dititipin kemana?” Tasya membawa Fluffys ke dalam mobil.
“Mbak Luna alergi kucing. Atau gue titipin lo ke Kea aja ya, jawab dong Fys, lo maukan sama Kea lagi? Ya mau lah.” Tasya menyalakan mobil sambil terkekeh sendiri.
“Fys kita ke tempat Kea, ya. Lo jangan repotin dia, kasian kan teman gue kalau lo repotin, lo berdosa kalau sampai repotin orang ganteng.” Tasya menunjuk-nunjuk Fluffys.
***
“Sya? Ada apa?” Keano sedikit terkejut, ternyata yang menekan bel pintu apartemennya adalah Tasya.
Tasya tersenyum kaku lalu melirik Fluffys yang sedang digendongnya.
“Gue ada jadwal photoshoot, gak mungkin juga gue bawa Fluffys bisa buat onar dia di sana. Mau gak lo dititipin kucing gue?” Tasya menyerahkan Fluffys.
“Maaf ya gue repotin lo terus, sebenarnya Teresa sama Mita sudah akrab sama Fluffys walaupun gak bertahan lama. Gue juga sudah beliin makanannya Fluffys, nih.”
__ADS_1
Keano menerima paper bag hitan dari Tasya.
“Gue pergi dulu, titip kucing gue ya,” Tasya melambaikan tangan sebelum pergi.
***
“Selamat pagi, mbak Luna.”
“Pagi... Mbak.”
Sapaan ringan muncul dari para pegawai kantor TL Corporation saat Luna datang.
“Pagi,” Luna membalas sapaan lalu berjalan cepat menuju lift.
“Kenapa ruangan CEO terdengar berisik sekali, apa Nona sudah ada di sini,”
“Astaga!” Luna membetulkan kacamatanya.
Ruangan Ceo sangat berantakan dan kacau banyak sampah snack dan minuman kaleng berceceran di atas meja,, komputer masih menyala, Televisi belum dimatikan.
“Nona?” Luna memasuki ruangan CEO lebih dalam secara mengendap perlahan takut Fluffys tiba-tiba muncul.
“Nona... tidak mungkin Anda bermalam di sini,” Luna berjalan setengah berlari menghampiri Tasya yang tertidur di sofa.
“Wine?” Luna mengangkat botol minum yang diambil dari atas meja.
“Bagaimana ini? Nona Tasya... bangun, Anda harus pergi sekolah.” Luna menepuk pipi Tasya, tapi percuma gadis itu tidak kunjung bangun.
“Ada tab, baguslah tidak di password,” Luna mengotak-atik tab milik Tasya.
“Siapa yang harus aku hubungi? Sahabatnya atau kekasihnya?” Luna terlihat bingung.
“Hallo, Sya.”
“Hah,” Luna tersentak saat sebuah sahutan terdengar dari dalam tab. Luna tidak sengaja menekan tombol panggilan suara dengan kontak yang bernama Kea calon ketos galak.
“Iya, hallo. Ehm, saya Luna. Nona saya...”
“Tasya kenapa?”
“Sepertinya semalam nona saya habis mabuk, saya sulit membangunkannya.”
“Sekarang mbak sama Tasya dimana? Saya ke sana sekarang,”
“Di kantor.” Luna mengerutkan alis, Keano menutup telpon secara sepihak.
“Sepertinya aku juga harus menyimpan nomor kekasihnya nona untuk berjaga-jaga.” Luna mengangguk-anggukkan kepalanya.
Keano mengerutkan dahi saat memasuki ruangan CEO dari perusahaan TL Corporation, terakhir kali dirinya ke sini ruangan yang ditemuinya sekarang jauh berbeda.
“Tasya,” Keano berjalan cepat menghampiri Luna yang berjonggok di samping sofa yang ditiduri Tasya.
“Meaong,” Fluffys mencium pipi Tasya yang masih sedia tertidur pulas.
Hacuh! Hacuh! Hacuh!
“Mbak tinggal boleh?” Tanya luna yang masih bersin-bersin.
Keano mengangguk.
__ADS_1