
Priiiiiiit!
“Anak-anak kumpul.”
“Anjay, guru olahraga baru, masih muda, ganteng pula kayak oppa,” Mita melototi guru olahraga yang sudah berada di tengah-tengah lapangan.
Teresa mengusap wajah Mita, “Lo demen om-om.”
“Belum om-om dia, kayaknya masih 20 lebih berapa gitu,” Mita menatap guru olahraganya dengan takjub.
“Gitu banget liatnya, Ta,” ucap Rian yang tiba-tiba berada di samping Mita.
Priiiiiiiiiit!
Guru olahraga kembali membunyikan peluitnya.
“Oke, semuanya sudah kumpul. Sebelumnya, saya guru olahraga baru di sekolah ini, jadi mohon kerjasamanya. Materi kita hari ini ada yang tahu?”
“Pak,” Mita mengangkat tangan kanannya tinggi.
“Iya, silahkan,”
“Kok langsung materi sih, kenalan dulu dong. Kita semua belum kenal bapak,” pinta Mita.
Teresa dan Tasya menunduk sambil memegang perut dan manahan diri sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan suara tawanya.
“Oh, iya. Ada pribahasa Tak kenal maka tak sayang, perkenalkan nama saya Faisal Setiawan, saya guru olehraga kelas XI IPA 1 sampai 5. Saya resmi mengajar di sekolah ini sejak tadi pagi.” Jelas Faisal sang guru olahraga.
“Ada lagi?” Tanya Faisal.
Tasya mengangkat tangan kanannya tinggi, “usia?”
Mita dan Teresa tertawa cekikikkan, “Hilih, Tasya masih siang sudah baperin orang,”
Rajaya yang berdiri di samping Tasya berdehem.
“Usia saya 23 Tahun,” Faisal tersenyum kepada Tasya.
“Oh, masih muda...” mulut Mita membentuk huruf O, “Kata Tasya, panggilnya kakak boleh?” sambung Mita.
“Hilih, kok gue,” Tasya mencubit pinggang Mita.
“Jadi, Tasya yang tanya umur saya. Dipanggil kakak atau apapun juga boleh, Ada lagi?” Tanya Faisal.
“Gak ada,” ucap Rajaya judes.
“Rese lo,” Teresa mencibir Rajaya.
“Baiklah, perkenalannya selesai. Kita langsung ke pelajaran, saya akan mengajarkan teknik dasar permainan futsal,” ucaro Faisal yang salah satu kakinya sedang menginjak bola.
“Permainan ini membutuhkan pemain paling sedikit 2 orang, jadi kalian silahkan cari teman untuk berpasangan.”
“Apa, Sya?” Tanya Rajaya dengan wajah tanpa dosa.
Tasya berdecak sambil menatap wajah Rajaya dengan tatapan datar. “Gue gak mau sama lo,” Tasya mengangkat lengannya yang dipegang Rajaya.
“Gue gak menerima penolakan.” Kali ini Rajaya tidak ingin Tasya lepas darinya.
“Ehem, Tasya praktikan Teknik dasar yang sudah bapak jelaskan tadi,”
__ADS_1
“Pak, langsung tes saja boleh?” Tasya sudah siap dengan bolanya.
“Kamu yakin?” Faisal menerima anggukan kepala dari Tasya.
“Silahkan,”
“Oke, bagus. Ada lagi yang ingin langsung tes? Jam pelajaran olahraga masih banyak, tidak perlu terburu-buru,” ucap Faisal sambil menuliskan nilai untuk Tasya dibuku yang dibawa Faisal sendiri.
“Pak, saya mau langsung tes juga,” Teresa mengangkat tangan kanannya.
“Tukang caper.” Rara menendang bola ke arah lutut Teresa, tapi Tasya berhasil menggagalkannya dan membalas apa yang dilakukan Rara.
“Belajar nendang bola yang bener gih,” Mita tersenyum mengejek setelah bola yang ditendang Tasya mengenai lutut Rara.
“Jangan mulai kalau gak mau selesai, paham?” Tasya tersenyum sebelum pergi menuju ke tepi lapangan bersama Mita.
“Ya ampun ini Squad ambyar gak bisa ya jauh-jauh dari kita?” Mita protes keras karena Dimas and the geng sudah berada di dekatnya lagi.
“Minggir, lo menghalangi pemandangan indah gue,” Tasya mendorong Rajaya yang berdiri di hadapannya.
“Gue juga indah,” Rajaya duduk di samping Tasya.
“Sangat indah memang, beda ya kalu anak futsal. Re, bawa bolanya juga sini.” Dimas sedikit berteriak agar Teresa mendengar.
Teresa yang sudah menyelesaikan tes menghampiri dua sahabatnya lalu melempar bola ke arah Dimas. “Ya ampun Squad ambyar kerjaannya menghabiskan tempat. Gue juga mau duduk, geseran dong.”
“Penuh, Re. Duduk di sini,” Rajaya menepuk salah satu pahanya.
Teresa bergidik ngeri, “Sorry ya, bukannya baper malah jadi mengerikan.”
“Lo kenapa anak setan?” Rajaya melototi Dimas yang sudah melemparinya dengan bola futsal.
Teresa memberikan tatapan datarr kepada Rajaya, “Lo sebenarnya mau puji atau mau hina.”
“Udah, lo minggir,” Dimas menunjuk wajah Farel.
“Duduk, Re.” Ucap Dimas sambil mendudukkan Teresa diantara Tasya dan Mita.
Tasya menarik Teresa ke belakang dan otomatis Dimas yang masih memegang bahu Teresa ikut tersered.
“Lo modus,” Tasya menepuk jidat Dimas.
“Lampu taman... kalau mau enak-enak tahu tempat anjir,” Rian mengambil bola futsal.
Sementara Mita bangkit dari duduk lalu mendorong Dimas dari belakang, “Dimas mesum akut, jangan deket-deket sama dia.”
“Lo cari kesempatan, minggir.” Teresa memalingkan wajahnya sambil memukul-mukul Dimas.
Setelah mendapat keseimbangannya, Dimas perlahan bangkit kembali. “Gila, Re. Badan gue remuk lo pukul-pukul.”
“Terus... lo mau diapain sama Teresa?” Mita menatap Dimas dengan datar.
“Ngomong lagi, gue gampar lo asli,” Teresa benci dengan suara tertawa Dimas.
“Tol*l,” Rajaya menatap Dimas dengan malas.
“Eh, bos. Dari tadi diem-diem bae... galau ya?” Dimas menatap Tasya dan Rajaya bergantian.
“Au, Sya. Sakit.” Dimas meringis saat Tasya menjewer telinganya. Ini semua akibat dari ulah Dimas sendiri yang ingin membalas perbuatan Tasya kepada dirinya tadi.
__ADS_1
“Anak-anak yang berkumpul di sana sebaiknya latihan,” Faisal menunjuk Tasya dan kawan-kawan.
“Rakyat gue yang bodoh, latihan yang bener,” Rajaya bangkit dari duduk lalu merebut bola dari Rian.
“Ayo Mita semangat... Gue sama Tasya udah tes.” Teresa membantu Mita bangkit dari duduknya.
“Malas gue kalau pelajaran olahraga, bikin ketek basah aja.” Mita bergabung dengan Dimas dan kawan-kawan untuk latihan.
“Main kelereng aja Ta, kalau ketek lo gak mau basah,” Farel mengoper bola ke arah Rian.
“Sya, Keano liatin lo mulu,” Mita terkekeh geli.
“Yang bener,” Tasya menatap Keano yang jauh di sebrang sana, lalu melambaikan tangan menyapa remaja tampan yang masih setia menatap Tasya.
“Teriakin namanya, Sya.” Pinta Teresa.
“Gak ah, fans Keano banyak, gue takut dikeroyok masal.”
“Sya, gue mohon dengan berat hati, jangan buat kobra cemburu, kan gue yang kena racunnya nanti.”
“Lebay lo,” Mita memukul kepala botak Dimas.
“Rajaya yang fokus bro... lo ganteng-ganteng sering galau, mendingan gue muka pas-pasan tapi happy terus,” Dimas kesal bola yang diopernya di acuhkan Rajaya.
“Ganteng-ganteng sering galau,” gumam Teresa sambil terkekeh geli.
sementara Tasya sendiri sedang sibuk dengan tabnya.
PRIIIIITTT!
“Anak-anak latihannya selesai kita mulai tes,” Faisal sudah berdiri di tengah-tengah lapangan.
“Pak, saya izin ke toilet,” Tasya mengangkat satu tangannya dan satu tangannya lagi digunakan untuk menyembunyikan tab di belakang punggung.
“Silahkan,”
“Gak, Re. Lo gak boleh ikut, lo jagain Mita biar gak digondol kucing garong.” Tasya berlari keluar lapangan.
“Avarelic,mereka harus bubar.” Tasya membuka sebuah folder terkunci yang ada di tabnya dan sebuah aplikasi muncul, aplikasi tersebut digunakan untuk mengkoneksikan semua CCTV yang ada di sekolah dengan tabnya.
Berkat bantuan Salsa, Tasya membuat sebuah grup chat yang berisi anggota anggota yang pernah ditindas oleh avarelic, setiap malam juga Tasya akan selalu mendengar dengan setia setiap curhatan mereka.
Saat ini Tasya berada di koridor sepi yang sangat jarang dilewati orang kecuali yang ini menuju lapangan futsal.
“Manda lagi,” Tasya menatap fokus layar tabnya.
“Argh, sial. Gue belum hafal tata letak sekolah ini,” Tasya menggigit bibir bawahnya kesal lalu memukul bangku kosong yang ada di sampingnya.
“Manda lo keterlaluan,” Tasya bangkit dari duduknya.
“Setan!” Mata Tasya melotot, baru saja kakinya melangkah sesuatu mencengkram lengannya.
Tasya menoleh, Ini lebih buruk dari setan, ini psikopat.
“Lepasin, Kea. Lo nakutin gue mulu, heran gue,” Tasya meronta.
Brugh!
“Lo kenapa sih?” Tasya yang berada di dalam pelukan Keano bertanya dengan nada datar.
__ADS_1