
“Sya udah malam, ayo pulang.”
“Hm,” Tasya terbangun dari tidur saat lengannya digoyang goyangkan Keano.
“Jam berapa?” Sambil mengumpulkan nyawa, Tasya menonton Keano yang sedang membereskan meja kerjanya.
“Jam satu, kerjaannya udah selesai semua ayo pulang.”
“Pulang kemana? Aku gak punya rumah, kamu aja pulang sana.”
“Aku antar kamu ke rumah Nia, di sini dingin Sya.”
“Rumah Nia? Hih males banget.” Tasya menenggelamkan wajahnya ke atas meja.
“Yaudah ke tempat aku ayo.” Keano yang sudah berdiri di samping Tasya mengulurkan tangannya.
Tasya terkekeh, “Emangnya boleh? Seminggu boleh?” tawar Tasya.
“Satu tahun juga boleh, tapi jangan lupa air sama listriknya dibayar.”
Tasya menepis lengan Keano sambil memasang wajah datar.
“Becanda doang, ayo.” Keano kembali mengulurkan tangannya.
“Bentar, aku ambil barang-barang dulu.”
“Kea aku janji, aku cuma numpang seminggu doang kok, gapapa ya?” ucap Tasya yang sudah siap dengan dua kopernya yang berisi barang sehari-hari dan sekolahnya.
“Selamanya juga gak papa.” Keano membantu Tasya dengan membawa koper lalu merangkulkan salah satu lengannya di bahu Tasya.
“Kea...!” Tasya protes dengan sikap tidak biasanya Keano.
Keano melepaskan rangkulannya lalu berjalan mendahului.
“Ck,” Tasya berdecak pelan lalu menyusul Keano setelah menggendong Fluffys.
“Oh my God, gelap sekali. Kantor gue kok serem amat sih.” Tasya mengunci ruangannya dengan cepat lalu segera menyusul Keano.
Semua lampu padam entah karena memang seperti itu atau mbak Luna mungkin lupa kalau Tasya sedang lembur di ruangan.
Hanya lampu dari senter ponsel Keano yang membantu penerangan jalan karena ponsel Tasya sendiri low battray.
PRANK!
“Pantry,” Gumam Tasya sedikit terkejut mendengar pecahan gelas dari arah belakang.
“Mau kemana?” Tasya menghadang Keano yang ingin menghampiri sumber suara.
“Mau lihat siapa yang pecahin gelas.”
Tasya menelan ludah, “Kalau setan bagaimana?”
“Ya bagus, daripada orang jahat yang mau bakar perusahaan.”
“E-“ Tasya kehabisan kata-kata.
Tak!
Keano menghidupkan tombol saklar lampu pantry.
Tasya ikut Keano mengelilingi pantry dan menemukan pecahan gelas di lantai.
“Di perusahaan ini yang paling bagus cuma ruangan kamu doang Sya,” ucap Keano yang memeriksa rak gelas yang sudah rusak.
“Ha?” Tasya terkekeh malu.
Tak!
“Shit!” Tasya mengumpat terkejut mendengar bunyi saklar yang mati dengan sendirinya.
Keano kembali menyalakan senter dari ponselnya dan memeriksa ke segala sisi ruangan takut ada orang yang sengaja mengerjainya.
Bulu kuduk Tasya meremang seketika. “Kea, kayanya be-“
“Shut,” Keano mengajak Tasya berjalan menuju saklar tadi dan mencoba menghidupkan kembali tombolnya alhasil lampunya berkedip tak beraturan.
__ADS_1
“Perusahaan ini sudah lama gak direnovasi.” Gumam Keano.
“Kea ayo pulang.”
“Kopernya mana? Gak dibawa?” Tanya Keano.
Tasya menggelengkan kepala.
“Meaong, Meaong, Meaong.”
“Shit, Kea bawa ini. Ponsel kamu biar aku yang pegang.” Tasya melakukan barter antara kucingnya dan handphone Keano.
“Ayo Sya jalan duluan kan kamu yang bawa ponselnya.”
Dendaman ini anak, Tasya berdecak lalu menggandeng lengan Keano agar berjalan beriringan.
Nah itu dia koper gue untunng gak digondol setan, Tasya membatin sambil melihat kopernya yang tidak jauh di depan mata.
“Berisik Sya, makhluk halus juga keganggu kalau kamu bawa koper malem malem kayak begitu.”
“Kea,” Tasya kesal dengan Kenao yang selalu membuatnya panik dengan memanfaatkan ketakutan Tasya saat ini.
“Aku yang bawa. Kamu jalan di depan.”
Tasya menurut, karena berjalan di samping Keano juga sama dengan bohong. Tangan kanan Keano menggendong Kucing yang kadang-kadang berbunyi agresif dan membuat Tasya panik sementara tangan kiri Keano membawa koper.
Tasya tidak pernah salah dengan feelingnya, jika dirinya merasa aneh dengan hawa lingkungan maka lingkungan itu memang ada sesuatunya, dan Tasya mengingat cerita Teresa kalau kucing berbunyi tak biasa artinya kucing itu sedang melihat makhluk astral.
Sungguh cerita yang konyol, Tasya menggelengkan kepala.
Tasya berjalan sambil menggigit kuku tangannya, dahinya terus berkeringat dan sesekali Tasya menelan ludah sambil mengusap tengkuknya.
TING!
Tasya menghembuskan nafas panjang saat pintu lift terbuka, Keano yang lebih dulu masuk.
“Kea,” Bukan merangkul lengan lagi tapi Tasya langsung memeluk Keano.
“Ya ampun Sya sampai keringetan gini, beneran takut? Maafin aku ya.” Keano merasa bersalah lalu membalas pelukkan Tasya menggunakan satu lengannya karena lengannya yang lain digunakan menggendong Fluffys yang sudah tidak berisik lagi.
Tasya menganggukkan kepala.
TING!
Keano dan Tasya keluar lift bersamaan.
“Gak usah ditengok kalau ada yang aneh dari belakang biarin saja,” Tangan Keano menahan kepala Tasya agar tidak menengok ke belakang.
Rasanya tenaga Tasya untuk menarik koper menghilang seketika.
“Sya, satpamnya banyak ya sampai tiga,” ucap Keano yang melihat tiga satpam berlari kearahnya.
“Mbak Tasya baru pulang?” ucap Satpam yang mengambil alih koper Tasya.
“Pak, kalau di lantai paling atas ruang di samping pantry itu ruang apa?” Tanya Tasya.
“Aku lihat tadi kayak kamar mandi, kenapa emangnya?” Tanya Keano.
Tasya menggelengkan kepala.
“Mas bener, itu kamar mandi tapi sudah beberapa tahun gak berfungsi.”
“Gak berfungsi? Memang apanya yang rusak?” Tanya Tasya.
Keano memberi kode agar pak satpam tidak bercerita apapun. “Ya gak berfungsi saja, tadi aku sudah bilang perusahaan kamu harus direnovasi.”
“Ayo Sya masuk,” ucap Keano yang sudah membuka pintu mobil.
“Mari pak, saya pulang.” Ucap Keano setelah meletakkan koper di bagasi.
“Iya mas, hati-hati di jalan.”
***
__ADS_1
“Kea, tempat kamu gak ada setannya kan?” Tasya terlihat seperti baru pertama kali datang ke tempat Keano, padahal dirinya sering mendatangi tempat ini bahkan kemarin malam dirinya tidur di sini.
“Gak ada, mau kemana? Tidurnya di kamar yang ini aja, yang itu belum sempet dibersihin.”
“Terus kalau aku di sini, kamu tidur dimana?”
“Aku mau nginep di sekolah, persiapan buat pembukaan besok belum selesai.”
“Mita juga di sekolah?”
“laki-laki doang yang nginep di sekolah.”
Tasya menganggukkan kepala, bagus deh berarti si Nia juga gak ada.
“Aku titip rumah ya, kalau laper di dapur ada makanan kok.”
“Oke, makasih ya.”
Tasya meraih salah satu kopernya lalu mencari ponsel beserta chargernya.
“Huh,” Tasya merebahkan tubuhnya di atas kasur.
“Kalau sewa apartemen pasti disamperin Rajaya terus, kalau tidur di kantor kayaknya gak deh.” Tasya bergidik ngeri.
“Tidur di tempat Teresa sama Mita kalau satu malam dua malam sih iya, tapi kalau bermalam-malam gak enak juga sama orang tuanya. Kok gue jadi ngomong sendiri kayak gini ya,” Tasya bangkit kembali dan berjalan keluar kamar sambil memboyong laptop dan ponselnya.
“Astaga, kalau dipikir-pikir beban hidup gue berat banget.” Tasya menyalakan laptop dengan malas.
“Mbak Luna kalau kirim tugas bukan main,” Tasya melempar ponse ke sofa lalu pandangannya beralih ke remote tv.
“huft,” Tasya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menonton tayangan televisi.
Drrrrrttttt Drrrrrrrrttttt
“Siapa sih malam-malam tel- Kea?”
“Hallo, Kea... Kenapa?”
“Sudah malem Sya, tidur.”
“Tadi aku tidur, kamu telpon ya aku bangunlah.”
“Tutup laptopnya, matiin televisi, masuk kamar.”
Tasya mengerutkan dahi lalu menengok ke kanan dan ke kiri melihat setiap sisi ruangan.
“Aku liat dari cctv, pojok kanan sudut ruangan.”
“Oh.”
“Ayo tidur, masih di situ saja.”
Sambil berjalan menuju kamar, Tasya mengalihkan panggilan telepon menjadi video call.
“Di kamar gak ada CCTV kan?”
“Gak ada.”
“Kea, kok aku gak tahu kamu punya dua ponsel.”
“Kamunya gak tanya.”
“Kamu lagi dimana? Kok backgroundnya item semua.”
“Di lapangan upacara. Lihat panggungnya baru dibikin buat pembukaan nanti pagi.”
“Yang lain kerja kok kamu malah telpon aku sih?”
“Tadi aku kerja sekarang istirahat dulu.”
“Masa?”
“Iya.”
“Yaudah, aku tutup ya video callnya mau tidur.”
__ADS_1
“Tidur yang nyenyak, selamat malam, bye.”
“Bye.” Tasya tersenyum.