
“Lo suka sama Teresa? Sejak kapan?” Mita melotot lalu tawanya pecah.
“Rajaya! Gue mau hibur teman lo, kasian dia lagi galau,” Tasya melototi Rajaya yang sudah memisahkan dirinya dengan Farel.
“Minta perhatian, untuk pengurus osis tingkat satu dan dua harap kumpul di ruang osis sekarang juga, terima kasih.”
“Nia nyuruh lo kumpul, Ta.” Tasya yakin suara dari speaker adalah suara milik Nia.
“Ya udah, gue kumpul dulu ya, Sya. Bye.”
“Pulang sekolah jalan ya, Sya.” Ucap Rajaya setelah semua parasitnya pergi ya siapa lagi kalau bukan Rian dan Farel.
“Pulang sekolah gue sibuk,” Tasya menatap malas lengan Rajaya yang merangkul bahunya.
“Bentar doang, Sya.” Protes Rajaya saat Tasya menepis lengannya.
“Jadi kapan jalan barengnya?” Rajaya kembali bertanya.
“Di BM sama yang lain,” jawab Tasya santai dan terdengan helaan nafas berat dari Rajaya.
“Manis sekali,”
“Kucingnya mau gue bantu sembelih gak?” Manda tertawa.
Tasya menghela nafas pendek saat berpapasan dengan sekelompok siswa-siswi yang nongkrong di tangga bisa dibilang juga orang-orang ini anggota inti avarelic mereka Leo, Alda, Manda, Melinda dan satu orang laki-laki yang entah siapa karena Tasya belum mengenalnya.
Terdengar decak kesal dari Leo saat Tasya dan Rajaya melewati mereka begitu saja.
“Rajaya!”
Manda terkekeh, “Panggil penghianat aja kali lebih cocok.”
“Kenapa lo jarang kumpul, hah?” Teriak Leo.
“Biasa kalau lagi senang lupa sama kita giliran susah datang terus ngemis bantuan sama kita,” Manda mengompori.
“Gak usah diladenin, dia lagi mancing lo,” Tasya menahan lengan Rajaya agar tidak terjadi baku hantam di area tangga, sangat berbahaya bukan?
Leo terkekeh, “Lo mau hajar gue, sini. Lemah lo bisa ditahan cewek. Lo dikasih apa sih sama dia, sampe nurut dan lupa diri sama gue?"
“Uuu, dikasih ******* mantap,” Tawa Manda pecah dan disusul teman-temannya yang lain.
Rajaya menuruni beberapa anak tangga lalu menendang Leo yang sedang menertawakan lelucon yang dibuat Manda.
“Lo marah, kenapa? Gue salah ngomong ya,” ucap Manda lalu membantu Leo bangkit.
“Kasian gue sama lo belum dikasih apa-apa,” cibir Alda yang sedari tadi diam.
“Eh! Jangan ribut,” Tasya menendang Leo.
“Udah dua kali ya gue nendang lo, sorry. Mendingan lo semua belajar yang bener, bentar lagi luluskan. Biar masa depan lo semua gak suram-suram amat, bye.”
Rajaya mengeluarkan smirknya kepada anggota avarelic sebelum pergi menyusul Tasya.
“Kelas kita kan di sana, Sya.” Rajaya protes saat Tasya berhenti di depan pintu kelas XI IPA 2.
“Pegang kucing gue,” Tasya meletakkan Fluffys di tangan Rajaya.
Ceklek
Kelas yang tadinya berisik sampai terdengar keluar kelas sekarang mendadak hening saat pintu kelas tersebut dibuka Tasya. Bahkan ada beberapa anak yang menelan ludah saat tahu Rajaya juga bersama Tasya.
“Gue mau balikkin kamera,”
“Sya, yang punya kameranya gak masuk karena sakit, biar gue aja yang nyimpen,” Lia yang baru datang mengulurkan tangannya.
“Oh, nih, Makasih, ya.”
“Kucing gue mana?” saat Tasya membalikkan badan Fluffys tidak ada di dalam gendongan Rajaya.
“Dia kabur, gak mau aku gendong, Sya.” Rajaya berdecak saat wajah Tasya berubah kesal.
“Cari,” Tasya yang sudah sampai di depan kelas menghandang pintu kelas.
“Nanti istirahat aku cari.”
Jika saja Dimas dan yang lainnya ada, sudah pasti Rajaya akan menyuruh mereka untuk mencarinya.
“Ya udah, gue gak mau duduk sama lo,” jawab Tasya santai.
__ADS_1
“Gue bukan babu lo,” Tasya menaikkan satu alis saat Rajaya menyerahkan tasnya.
“Simpan sendiri,” Tasya tidak lagi menghadang pintu.
“Siapa yang bilang babu, Gak berat kok, Sya.” Rajaya terkekeh saat memakaikan tasnya ke salah satu lengan Tasya.
"Oke, aku cari kucing kamu dulu, bye." Rajaya melambaikan tangan sebelum pergi.
Di dalam kelas XI IPA 1 hanya ada Tasya seorang tidak seperti di kelas sebelah yang begitu ramai dan berisik.
Tasya duduk dibangkunya lalu mengambil Tab dari dalam Tas.
Luna Paramita
Nona, kenapa Anda mengirimkan banyak gambar kepadaku?
^^^Tasya Edellyn^^^
^^^Panggil Tasya saja. Mbak tolong renov ruangan aku ya... aku mau ganti suasana, gambar yang aku kirim itu contohnya^^^
Luna Paramita
Budget?
^^^Tasya Edellyn^^^
^^^Mbak tulis rinciannya dulu nanti saya tf^^^
Luna Paramita
Siap
“Fys, lo kemana sih? Jangan sampai lo samperin Kea,” gumam Tasya sambil mencek satu per satu CCTV yang menyala dan tersambung dengan tabnya.
“Sya... mau gak?” Teresa duduk di samping Tasya lalu meletakkan bungkusan berisi sosis bakar.
“Sendiri Re, mana Dimasnya?” Tasya mengambil satu tusuk sosis bakar.
“Diambil Rajaya di tengah jalan,” Teresa asyik makan. Sementara Tasya menganggukkan kepalanya.
“Mita kemana?” Tanya Teresa yang baru sadar kalau sahabatnya belum lengkap.
“Kucing lo Sya, kemana?”
“Kabur, gara-gara digendong Rajaya.”
Teresa tersedak sosis yang sedang dimakannya, “Minum, minum.”
“huh,” Teresa bernafas lega.
“Rajaya gendong kucing?” Teresa melotot tak lama berganti dengan tawa.
“Re... gak usah teriak juga,” Tasya tersenyum miris saat seisi kelas mendadak melirik Teresa.
“Noh kucing gue lagi dikantin,” Tasya menunjukkan layar tabnya.
“Kasian juga ya, Rajaya yang salah teman-temennya ikut kena imbas,” Teresa terkekeh saat Rajaya dan yang lainnya berusaha menangkap Fluffys.
“Belain Dimas ceritanya?”
“Kata siapa? Teman-temennya Sya... Bisa aja Farel atau yang lain Rian gitu,”
“Pinter ngeles lo Re... belajar dimana? Lo tahu gak, Farel suka sama lo,”
“Hm,” Teresa meneguk air mineral. “Tahu, dia pernah nembak gue waktu kelas 10.”
“Terus lo gak mati?”
“Ish, Sya... Gue tolak, gengnya Rajaya susah dipercaya.”
Tasya terkekeh, “Terus sekarang gimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Jadi sekarang lo pilih Dimas daripada Farel, kayaknya lo udah percaya sama Dimas.”
“Gue gak pernah milih,”
“Oh, gue tahu sekarang lo bingung mau pilih Farel atau Dimas kan?”
__ADS_1
“Sya, menurut lo lebih baik pilih Keano apa Rajaya?”
“Kok balik tanya,”
“Biar sama-sama bingung,” Teresa tertawa.
"Gue gak bingung," Tasya mengelak.
“Sya... nih ketemu,”
“Lah... Fys, lo disiram coklat sama siapa?” Tasya meraih Fluffys dari Rajaya.
“Gak sengaja kesiram sama anak di kantin Sya,”
“Meaong,” Fluffys tidak nyaman dengan bulu kotornya.
“Sya, kemana?” Rajaya ikut membuntuti kemana perginya Tasya.
***
“Lo diem!”
“Jangan bentak kucing gue,”
“Refleks Sya, abisnya dia gak bisa diem aku mandiin.”
“Argh, baju gue,” Rajaya melototi Fluffys, baju seragam Rajaya basah akibat Fluffys yang tidak bisa diam.
“Gak becus lo,” Tasya mengambil alih membersihkan Fluffys.
“Kemana lagi Sya? Aku ditinggal,”
“Mendingan lo keringin baju, berjemur dibawah sinar matahari, gue mau masuk ke PMR bentar,”
Tasya terkekeh saat Rajaya menurut tanpa membantah. Rajaya akhirnya duduk di atas batu besar di tepi taman sambil melihat bangunan PMR dihadapannya yang barusan dimasuki Tasya.
“Kak punya hairdryer?” Tanya Tasya saat memasuki markas PMR dan menemukan seorang siswi yang sepertinya sudah kelas 3 sedang sibuk dengan laptop di pojok ruangan.
“Ada di etalase punya aku, cari aja."
“Pinjam ya,” Tasya mengeringkan bulu Fluffys menggunakan hairdryer.
“Apa lo?” Rajaya yang sedang berjemur tidak suka ditatap oleh Keano yang tiba-tiba lewat.
****! ngapain masuk ke sana segala. Umpat Rajaya.
Ceklek
“Berkas dari osis, kak.”
“Oh, Taro di meja saja Kea,”
“Meaong,”
“Sya, ada di sini.”
“Hm,” Tasya menggangguk. “Eh, bulu lo belum kering Fys... mau kemana?”
“Kayak abis dimandiin, emangnya kenapa Sya?” Keano meletakkan kembali Fluffys di dekat Tasya.
“Kena siram coklat di kantin,” Tasya kembali mengeringkan bulu Fluffys.
“Sya, gak bilang ada hairdryer di sini,” Rajaya menghampiri Tasya.
“Kenapa harus bilang?”
“Keringin baju aku juga,” Rajaya menunjuk seragamnya yang basah.
“Lo bakal mati kalau deketin dia,”
“Meaong!” Fluffys tidak suka saat dia ingin menghampiri Keano ekornya malah ditarik Rajaya.
“Lo mau bunuh kucing gue? Lepasin,”
Rajaya tersenyum kecut saat kucing Tasya begitu akrab dengan Keano.
“Sya, seragam aku belum-“ Rajaya berdecak saat meraba seragamnya yang sudah mengering.
Keano juga terkejut saat Fluffys dibawa pergi Tasya.
__ADS_1