
“Argh, SHIT!” Mita mengumpat kesal karena rompi seragamnya basah terkena minuman coklat panas yang disiram Manda.
“Aduh, salah sasaran. Tapi gakpapa deh temennya juga sama,” Manda tertawa mengejek.
Tasya dan Teresa segera membantu Mita berjalan ke bangkunya sambil membersihkan noda di seragam Mita menggunakan tisu.
Dimas and the geng terlalu terkejut dengan kedatangan Manda dan dua temannya yang tiba-tiba menyiramkan coklat panas. Sampai mereka pun bingung harus melakukan apa.
“Eh, lo hindarin gue. Lo takut, ya?” Manda menyeret lengan Tasya yang sedang membantu Mita membersihkan seragam.
“Lepas!” Tasya menghempaskan lengan Manda lalu mendorong mundur.
“Lo kalau mau gue siram lagi bilang!” Tasya menyiram Manda menggunakan bobba Rajaya yang tersimpan di atas mejanya.
Tak hanya disitu saja, selagi Manda masih shok, Tasya segera melangkah menghampiri Manda sambil mengambil botol air mineral dari bangku Keano.
“Masih kurang gak siramannya,” Tasya menyiram Manda lagi menggunkan air mineral.
“TASYA!” Manda yang disiram menjerit histeris, mungkin karena terlalu emosi jadi dirinya mendorong Tasya sekuat tenaga.
Tasya yang terduduk di lantai terkekeh melihat manda yang dipenuhi emosi dengan penampilan yang begitu berantakan.
“Pegangin dia,” Manda menyuruh dua teman yang dibawanya untuk memegangi Tasya.
“Ngapain sih lo ke kelas gue?” Rajaya mendorong Manda mundur.
Manda terkekeh, “Kelas lo? Lo cuma sampah kelas doang. Minggir! Lo banci kalau sampai ikut campur.”
Tasya menyleding kaki Manda dan alhasil tubuh Manda pun ambruk di lantai, Tasya juga mengambil kesempatan untuk bangkit lalu mendorong dua siswi yang dibawa Manda.
“Argh! Gak guna lo semua.” Manda menyingkirkan dua teman yang menimpa tubuhnya.
“Lo balik deh, jangan ribut di kelas gue,” Tasya melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Manda tersenyum mengejek lalu matanya melihat seisi kelas.
“Biasanya yang ditakutkan oleh seorang model adalah wajah yang jelek,” ucap Manda dengan horor sambil meraih penghapus papan tulis.
“Hari ini lo akan malu, TASYA!” Manda mengarahkan penghapus papan tulis ke wajah Tasya.
Tasya memutar bola matanya malas, lalu meraih lengan Manda dan memutarnya.
“Anji*ng! Sakit, beg*.” Manda meringis.
“Punya bela diri apa lo mau lawan gue. Lo berdua maju, gue patahin lengan Manda,” Tasya mengancam dua teman Manda.
“Tasya! Lepasin, sakit beg*,” Manda kembali meringis karena kedua lengannya seperti ingin patah.
“Kak Manda maafin adek kelas mu ini yang kurang ngajar ya,” Tasya terkekeh dibelakang Manda.
__ADS_1
“Anji*ng, sakit TASYA!”
“Ini akibatnya jika mengusik sahabat gue,” Tasya berbisik di telinga Manda.
“Kak Manda dengerin gue, ya. Coba lo liat semua teman sekelas gue hafalin juga wajah mereka, termasuk sahabat gue yang lo siram tadi.” Tasya menuntun Manda memutar badannya perlahan melihat seisi kelas yang menampilkan wajah siswa dan siswi yang begitu tegang.
“Jika lo berurusan sama mereka, artinya lo sama berurusannya dengan gue.” Sambung Tasya.
“Lo paham?” Tanya Tasya baik-baik.
“Jawab beg*,” Tasya mulai kesal.
“ANJI*G SAKIT! Gue aduin lo sama Alda.” Manda menjerit kesakitan.
Tasya tertawa kecil, “Silahkan, itu yang saya tunggu.”
“Tadi lo mau rusak wajah gue pakai penghapus papan tulis? Lo jahat banget sih Kak,” Tasya mengeluh.
“Anjir!” Manda mengumpat kesal, bukannya lepas dari cengkraman Tasya yang menyakitkan, posisi Manda saat ini semakin parah.
“Manda...” dua teman Manda panik bukan main karena Tasya menyleding Manda.
“Kak, berhenti deh ajarin adik kelas gak bener,” satu tangan Tasya menyoret wajah Manda menggunakan penghapus papan tulis, sementara satu tangan yang lainnya masih memegang erat lengan Manda.
“Mendingan lo tobat, daripada gue siram terus,” Tasya masih asyik mengaplikasikan penghapus di wajah Manda, meskipun wajah Manda sudah begitu hitam.
“Kurang ngajar lo Tasya!” Manda menggelengkan wajahnya ke kanan dan ke kiri.
Rajaya berjongkok di depan Manda, “Serah lo! Gue gak peduli.”
Tasya berhenti melukis wajah Manda, “Kalian temanan?”
“Lo musuh gue juga ternyata,” Tasya menatap Rajaya dengan tatapan datar.
“Kak Manda lo cantik banget sumpah, Juan tidak akan berpaling jika liat lo kayak gini,” Tasya menatap wajah Manda dengan takjub.
“Anak setan! Jahatnya lo melebihi gue,” Manda mengumpat kesal.
“Masa sih? Kalau gue jahat, mana mungkin tangan lo masih nyatu kayak gini,” Tasya kembali mengelap wajah manda menggunakan penghapus papan tulis.
“Sialan lo! Tunggu pembalasan gue,” Manda menggeleng-gelengkan kepalanya tidak terima jika wajahnya dirusak Tasya.
“Calm, gue tungguin. Alis lo mau gue tebelin?”
“Bibir gimana?”
Tasya membuat wajah Manda semakin hitam, sementara Manda sendiri tidak berhenti mengumpat atau menghina Tasya.
“Tasya!”
__ADS_1
Tasya menoleh karena kenal dengan suara itu, ya Keano.
Entah karena Keano lelah dengan adanya keributan karena dirinya memang tidak suka keributan atau mungkin karena sikap Tasya yang terlalu berlebihan karena Keano memiliki prinsip kejahatan tidak perlu dibalas dengan kejahatan pula.
Entahlah apa alasan Keano memanggil Tasya dengan datar dan agak meninggi. “Lo salah, Sya.”
Tasya masih menatap Keano mencerna kata-kata yang masuk ke dalam telinga, cengkraman Tasya melonggar.
“SHIT!” Tasya mengumpat kesal.
“Thanks, boy,” Manda tersenyum menang sambil memberi jempol kepada Keano
Saat ini Tasya berada dalam posisi bahaya, Manda menduduki tubuhnya, sementara kedua tangan Tasya dicengkram erat dua sahabat Manda.
“Minggir lo penghianat, Lo banci kalau ikut campur.” Manda mendorong Rajaya lalu mengancam.
“Tasya... anggap kita sama-sama sial.” Manda terkekeh lalu mengambil penghapus papan tulis.
“Tasya, Manda!” Bu Eka dibuat kaget setelah membuka pintu kelas XI IPA 1.
“Minggir,” Tasya menyingkirkan Manda karena tangannya sudah bebas lalu langsung bangkit berdiri.
“Ikut Ibu,” Bu Eka melototi Manda dan Tasya bergantian.
“Keano juga,” Kini giliran Keano yang dipelototi Bu Eka.
“Saya ketua kelasnya Bu, biar saya aja,” Rajaya menarik lengan Keano.
“Gak, ibu maunya Keano.” Bu Eka menolak permintaan Rajaya.
Rajaya berdecak kesal lalu pergi menuju bangkunya.
“Ta, di mobil ada seragam cadangan. Pakai, ya.” Tasya melempar kunci mobil ke arah Mita sebelum mengikuti Bu Eka yang mungkin akan membawanya ke ruang BK.
“Urusan kita belum selesai,” Manda mendorong Tasya sampai menabrak meja dan terjatuh.
Bukannya meringis Tasya malah terkekeh itu semua karena wajah manda yang hitam dan juga rambut yang basah karena ulah tangan Tasya.
“Rasain,” Tasya menarik kaki Manda sampai jatuh ke lantai.
“Tasya, Manda. Masih berani berantem walaupun ada Ibu?” Bu Eka menoleh tidak percaya dengan ulah Tasya dan Manda.
“Dia duluan yang dorong saya, Bu.” Tasya menunjuk wajah Manda.
Manda berdecak lalu mengusap wajahnya yang hitam.
“Ibu lihat, dia yang suka mulai duluan.” Tasya menghampiri Bu Eka dan Keano sambil menunjuk Manda.
“Ibu gak liat penampilan saya seperti ini gara-gara siapa? Gara-gara Dia.” Manda menunjuk Tasya.
__ADS_1
Manda dan Tasya saling debat dan saling menunuk satu sma alain.
“Sudah, Berisik. Ikut ibu!”