Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 52 - Care


__ADS_3

“Ayolah Tasya, orang kayak lo itu langka. Mendingan temenan sama gue, bentar lagi jam 00.00, lo gak mau berubah pikiran.”


Tasya menggelengkan kepala, sudah berapa gelas minuman dihabiskan olehnya dengan cepat.


“Lihat jam 00.00, lo gak mau berubah pikiran?” Manda menunjukkan jam di ponselnya. Sementara Tasya kembali menggelengkan kepala.


“Ah. lo buang waktu gue aja deh,” Manda mengotak atik ponselnya mencari nomor seseorang untuk dihubingi.


“Upload,” ucap Manda kepada seseorang dibalik telpon.


“lo udah berurusan sama avarelic, jangan lupa gila. Lo kalah.”


Tasya terkekeh lalu meletakkan gelas di atas meja, “Baru juga dimulai, kita liat siapa yang kalah dan jadi gila nanti.”


“Aneh gak sih kalau orang jahat menang?” Tanya Tasya yang mulai mabuk terlihat dari sorot matanya.


“Sok kuat lo, nanti siang berita lo heboh malah nangis-nangis.”


“Kalau gitu seberapa lama berita bodoh itu ada di internet, gue yakin belum 24 jam berita gue hilang ditelan bumi. Buang buang duit tahu gak? Mendingan duit lo pakai buat beli minuman iya gak?”


“Lo anak mafia ya?”


“korban novel lo,” Tasya terkekeh.


“Gue balik, males ngomong sama lo.” Manda meninggalkan Tasya dengan kesal.


“Gue yang ditindas dia yang ngambek? Bodoh,”


“UWEK! Argh, gue kebanyakan minum.” Tasya memegang kepalanya yang mulai pusing.


“Aduh mbak bagaimana sih?”


“Aduh, sorry, sorry,”


“Makanya mbak kalau jalan liat-liat, sini kita bantu mbak berdiri. mabuknya sendiriab saja ya mbak, mau kita temenin gak?”


“Brengsek lo berdua?” Tasya murka, dua laki-laki yang menolongnya berdiri hanya modus semata.


“WOY!”


“Kabur, gila dia punya dua cowok,”


“Biar Tasya sama gue,” Rajaya menarik Tasya dari pelukkan Keano.


“Tasya lebih aman sama gue,” Keano kembali merebut Tasya.


“Maksud lo apa?”


“SHIT! Gue lagi pusing jangan tambahin pusing gue,” rasanya Tasya ingin muntah akibat ditarik sana sini.


CEKREK! CEKREK!


Suara kamera dan cahaya flash dengan jelas mengarah kepada Tasya.


“WOY!” Rajaya meneriaki orang yang sudah mengambil gambar Tasya tanpa izin.


“Kita pulang Sya,” Keano membawa Tasya pergi tapi karena Tasya sulit berjalan apalagi berlari akhirnya Keano menggendong Tasya.


“Siapa yang nyuruh lo?” Rajaya berhasil membuat paparazi bedebah babakbelur beserta ponselnya yang digunakan untuk mengambil gambar Tasya tadi.


“Di suruh orang,”


Amarah Rajaya memuncak, “lo mau begoin gue?”


Bug! Bagh!


“Argh, gak ada yang nyuruh gue. Gue inisiatif, dia model, gue bisa dapat duit kalau jual foto dia yang lagi mabuk.”


“Lo mau jatuhin karir orang?” Rajaya menginjak ponsel bedebah yang dihajarnya sampai benar benar hancur lalu menendangnya jauh.


“Kea, turun... mau muntah.”


Tasya menghampiri tong sampah terdekat yang ada di jalanan lorong.


UWEK! UWEK!


“Mau muntah tapi gak bisa,” keluh Tasya dengan kedua tangan memegang kepalanya kuat.


“Minumnya kurang banyak,” Keano menghampiri Tasya.


“Kepala gue pusing,” Tasya memejamkan matanya kuat, rasanya dunia berputar dengan sangat gila.


Keano membawa Tasya ke dalam dekapannya, “Mustahil minuman bisa beresin masalah. Kita pulang.”


“Kea...” Tasya yang berada dalam gendongan Keano, mengeratkan lengannya kuat-kuat. Tasya berpikir bahwa jatuh bisa menimpanya kapan saja.


“Mau muntah lagi?”


Dengan cepat Tasya menggelengkan kepala, tapi matanya terpejam tak kuat melihat dunia yang berputar.


“Di suruh Salsa?”


Keano menghentikan langkahnya, “Lagi mabuk berat, masih sempat mikir?”


Tasya terkekeh, “itu kelebihan gue,”


Keano menggelengkan kepala lalu melanjutkan kembali langkahnya, mobilnya sudah ada di depan mata.


“Ini bukan mobil gue, gue bisa bawa mobil sendiri.”


Keano menyentil dahi Tasya, “jangan ngaco.”


“Kea... gue diapain sih? Ini benda apa, bikin sesak aja.”


 


“Sabuk pengaman, shut jangan berisik, katanya pusing... tidur.” Agar Tasya bisa duduk dengan nyaman, Sandaran punggungnya dibuat Keano agak ke belakang.

__ADS_1


“Tasya... Argh sial.” Rajaya menendang batu di hadapan kakinya kesal. Mobil Keano sudah melaju membawa Tasya saat Rajaya baru datang.


“Lepas Sya,” Keano membuka paksa kedua lengan Tasya yang melingkari lehernya.


 


Tasya benar-benar mabuk berat, sudah sampai di atas kasur pun dirinya tidak sadar.


Selesai meletakkan Tasya di tengah-tengah kasur, keano mulai melepas kedua sepatu Tasya beserta kaos kakinya.


“Panas,” Tasya menyingkirkan bed cover yang menyelimutinya menggunakan kedua kaki.


Keano menghela nafas pendek, lalu meraih bed cover dan mencoba menyelimuti Tasya kembali, tapi kali ini hanya kakinya saja dan berhasil, Tasya tidak melakukan yang aneh-aneh lagi.


Sebelum meninggalkan kamar, Keano mengganti lampu yang menyala terang dengan lampu tidur.


Keano berjalan cepat menuju pintu untuk menemui seseorang yang terus menekan tombol bel sedari tadi.


“Gue mau ambil Tasya,”


“Dia lagi istirahat jangan ganggu,” Keano memblokir pintu, karena Rajaya ingin menerobos masuk.


“Minggir! Tempat ini gak aman buat Tasya.”


“Lo mau bawa Tasya kemana?! Rumah nyokap lo?! Ngaco, balik sana.”


“Awas lo sampai apa-apain Tasya!” ucap Rajaya sebelum pintu ditutup sempurna oleh Keano.


Baru saja kekesalan Keano reda akibat bel pintu rumahnya di tekan terus oleh Rajaya, sekarang bunyi lain muncul yaitu dering panggilan masuk dari ponsel seseorang.


Keano menghampiri kamar yang di dalamnya ada Tasya yang sedang istirahat.


Keano meraih ponsel Tasya yang didapatkannya dari dalam tas, lalu menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.


 


Sya, lo lagi apa sekarang? Lo masih sama Salsa kan? Ada artikel ngaco yang bahas tentang lo Sya, gue samper lo ya ke tempat Salsa


^^^Tasya di tempat gue^^^


Hah kok suara cowok? Eh, lo Kea? Tasya bagaimana?


^^^Tasya tidur^^^


Tidur di tempat lo? Kok bisa, bagaimana ceritanya?


^^^gue mau istirahat, cape^^^


Eh, lo jangan apa-apain Tasya ya


^^^Iya^^^


 


Keano memutskan telpon secara sepihak.


Tak!


“Demam?” Kening Tasya begitu panas saat telapak tangan Keano menyentuhnya.


Keano keluar kamar lalu kembali lagi dengan sangat cepat sambil membawa seperangkat alat kompres.


Keano mulai mengompres dahi Tasya menggunakan benda-benda yang dibawanya tak lupa ac kamarnya juga dimatikan.


Huuuuaaaaiiiii


Sudah tak terhidung berapa kali Keano menguap, dan entah sudah berapa kali juga Keano mengganti kompres.


“Kamu cantik Sya,” Satu tangan Keano digunakan untuk menopang dagu dan satunya lagi digunakan untuk menekan handuk yang menempel di dahi Tasya.


“Kea, aku laper,” Tangan Tasya meraih lengan Keano yang ingin beranjak mengganti air kompres.


“Yang tadi kedenger?”


Tasya membuka matanya lalu tersenyum, “Aku cantik, kan?”


“Mau makan apa?”


“Apa saja,”


“Jangan dilepas.” Keano mengganti kompresan yang baru sebelum keluar kamar.


“Adanya ini.” Keano meletakkan nampan berisi satu piring makanan dan satu gelas air putih di atas nakas.


Tasya dibantu duduk oleh Keano.


“Masih demam,” ucap Keano setelah memeriksa dahi Tasya. “Tadi pura-pura tidur?”


“Bukan pura-pura, matanya susah melek saking pusingnya.”


“Makan semua,” Keano meletakkan piring di hadapan Tasya, piring itu berisi beberapa potong roti bakar yan diisi omelet sayuran.


“Enak ini kayaknya. Masih anget pula. Kamu yang bikin?”


Keano tersenyum, “Bukan lo gue lagi.”


Tasya menggeleng, “terlalu kasar buat manusia jelmaan dari malaikat.”


“Aku yang bikin, enak gak?”


“Banget, mau gak?”


Keano menggeleng, “Masih pusing?”


Tasya mengangguk.


“Mual juga?”

__ADS_1


Tasya memberikan anggukkan lagi.


“Perutnya sakit gak?”


Kali ini Tasya menggeleng.


“Matanya perih?”


“Sedikit, uhuk uhuk. Minum...”


Keano memberi Tasya segelas air putih.


“Makanannya abisin, terus minum obat ini.”


Tasya mengangguk, “ini kamar kamu?”


“Iya.”


“Kok aku ditaro di sini?”


“Kamar sebelah berdebu jarang dipakai.”


“Oh,” kepala Tasya mengangguk-angguk, “Terus kamu tidurnya dimana?”


“Ya di kamar aku,”


Tasya berhenti mengunyah, “Inikan kamar kamu, kamu mau tidur di sini? Terus aku tidur dimana?”


“Kasur aku luas, muatkan buat berdua?”


“Kea,”


UWEK! “Toilet dimana? Mau muntah.”


“Omelet aku...” Tasya berjongkok di depan toilet sambil menatap muntahannya dengan sendu.


“Kalau muntahnya sudah selesai, cepet keluar, di kamar mandi dingin.”


“Kea, kayaknya aku masuk angin deh,” ucap Tasya sambil berjalan menuju ranjang.


“Bagaimana anginnya gak masuk, kamu pakai rok anak sd baju gak ada lengannya juga dipakai. Itu kenapa ambil obatnya banyak-banyak.”


“Biar cepet sembuh,”


“Sya... ngaco.” Keano merampas semua obat dari tangan Tasya.


“Cuma satu? Kapan sembuhnya?” Tasya menahan senyum saat menelan obat.


OOO... OOO...


“Mau dikerokkin gak biar anginnya keluar?”


“Dikerokkin? Buka baju begitu? Gak, gak.” Tasya menggelengkan kepala.


“Apa bedannya kamu pakai baju sama gak pakai baju?”


“Hah?” mulut Tasya menganga, “Gini saja deh, pinjamin aku baju yang tebel.”


“Gede banget,” Tasya merentangkan kedua lengan memperlihatkan sweater over size milik Keano yang kebesaran ditubuhnya.


“Tidur, sudah jam 3.” Keano mendorong Tasya ke belakang lalu menyelimuti dengan bed cover.


“Kea, kamu mau tidur di sini?” Tasya melirik Keano yang malah ikut berbaring di sampingnya, dan lebih parahnya lagi Keano memejamkan matanya.


“Memangnya boleh?” ucap Keano lalu membuka matanya, “Nanti aku pindah.”


“Mau dikompres lagi gak, masih demam.”


Mata Tasya melirik ke atas melihat telapak tangan milik Keano yang menempel di dahinya.


“Gak,” Tasya menggelengkan kepala.


Kok aku jadi kepo ya, Kea pernah pacaran gak sih? Iri gue sama pacarnya kalau Kea pernah pacaran. Jangan sampai deh si Nia dapaet Kea, Tasya membatin.


“Sya...”


“Apa?”


“Jangan minum yang aneh lagi ya, gak sehat. Capek kan sakit kayak gini? Kalo ada masalah jangan lari ke minuman.”


“Terus larinya ke siapa?”


“Ke orang yang bisa kamu percaya.”


“Hm,” Tasya berpikir sejenak, “Ke kamu boleh?”


Keano mengangguk, “Boleh.”


“Kea...” Tasya merubah posisi tidurnya dari yang terlentang menjadi menyamping menghadap Keano, lalu meletakkan guling diantara mereka.


“Apa ini?” Keano menatap guling dengan malas.


“Jangan lupa pindah ya Kea...”


“Iya tapi nanti,” Keano memejamkan mata.


“Kea lo pernah pacaran gak?”


“Gak penting. Tidur Sya... sudah malam.”


“Sudah pagi lagi malahan. Makasih ya Kea buat semuanya, terutama hari ini.”


Keano tersenyum lalu membuka matanya dan terakhir mengusap kepala Tasya lembut, “Tidur...”


Tasya ikut tersenyum lalu mengangguk sebelum memejamkan mata Tasya berkata, “Aku percaya kamu bakal pindah,”


Satu jam lamanya menemani Tasya, akhirnya Keano memenuhi janji untuk pindah.

__ADS_1


TING TONG


Baru saja keluar kamar, Keano sudah disuguhi bunyi bel pintu rumahnya, kasihan sulit mendapat waktu istirahat yang tenang.


__ADS_2