Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch 17- Grandpa di sekolah


__ADS_3

"Tuh cewek berisik banget anjir," Farel bangkit dari rebahannya.


"Woi, Aldi bilangin cewek lo kalau di kelas gue gak usah teriak gak jelas!" Farel meneriaki Aldi dari ambang pintu.


"Guys, cabut toilet. Farel yang minta. " Dimas membangunkan Rian dan Rajaya.


Sementara di bangku Tasya.


"Udah lama lo diginiin sama kelas tetangga? " Tanya Tasya kepada Salsa yang saat ini sedang duduk di sampingnya.


Salsa menganggukkan kepalanya, "Dari kelas 10, Sya."


"Gak ada yang belain lo, temen, sahabat, teman sekelas? " Salsa menggelengkan pertanyaan Tasya.


"Lo gak bilang ke guru?"


Lagi-lagi Salsa menggelengkan kepalanya, "Gue takut Sya. "


"Ta, lo tahu tapi lo gak bantuin? Lo kan osis bantu dong teman lo menggunakan embel-embel organisasi lo," sebenarnya Tasya menyindir Keano.


"Aduh, Sya. Gue angkat tangan deh soal ini percuma gue bawa-bawa osis kalo berjuang sendiri gak ada yang bantuin. Bisa-bisa gue mati dikeroyok."


Ilham tertarik untuk ikut gabung sampai memutar kursinya.


"Sya, semua ini karena lo belum tahu siapa mereka dan mengapa meresa seberani itu, sampai kita pun gak berani melawan mereka,” jelas Ilham.


"Kita? Gue berani melawan mereka walaupun sendiri." Wajah Tasya terlihat serius.


Ilham menghela nafas panjang, "Sya, sebenarnya kita juga mau banget bantu apalagi Keano, tapi ini semua diluar batas kemampuan kita."


Tasya berdecak, "Apa sih yang lo semua takutin dari mereka sampai gak mampu melawan? Mereka gengster atau perkumpulan apa, atasan mereka seserem apa sih, seserem setan? " Tasya semakin serius.


"Sya, cukup. Lo gak bisa ikut campur masalah orang lain begitu aja." Keano memutar kursinya berbicara baik-baik sambil menatap Tasya.


"Lo bisa ya diem di saat temen lo ditindas, tapi gue gak bisa." Tasya tidak menurunkan keseriusannya.


"Lo gak tahu serumit apa masalahnya nanti.” Begitu juga degan Keano wajahnya sama seriusnya dengan Tasya.


"Setiap masalah ada jalan keluarnya, serumit apapun yang lo bilang. "


"lo gak akan mampu."


"Gue gak butuh pengakuan lo."


"Sya, Kea cukup. Gue makin takut kalau mereka cegat gue saat pulang sekolah." Tangis salsa pecah.

__ADS_1


"Lo buat masalah baru," ucap keano setelah mendengar pernyataan Salsa.


"Gue bisa beresin masalah sendiri, kalo lo gak bisa bantu dan hanya memancing emosi gue saja, mendingan lo diem. " Tasya bangkit dari duduknya sambil memakai tas lalu menghampiri Nia.


"Balikin mobil gue." Tasya menerima kunci mobil beserta suratnya lengkap dari Nia.


"Tasya. " Keano mengejar Tasya.


Ilham menelan ludah, "Kok gue kayak lagi lihat suami istri bertengkar ya. "


"Ilham jangan bercanda, gue belum pernah liat Tasya seserius ini sebelumnya. " Mita dan Teresa menenangkan Salsa.


"Gue jadi inget saat Tasya belain gue dari hinaan Rara." bisik Teresa kepada Mita.


"Ia bener. Gue inget,” Mita menganggukkan kepalanya.


***


“Yang Terhormat Bapak Kepala Sekolah SMA Garuda International, saya sudah membuat surat permohonan untuk disediakan bis sekolah.” Tasya menyerahkan selembar surat permohonan yang sudah di print out.


“3 bis?” Kepala sekolah masih membaca surat permohonan dari Tasya.


“Fasilitas ini akan digunakan untuk siswa dan siswi penerima beasiswa,”


“Bapak bisa ambil mobil saya, kalau masih kurang tabungan saya siap.” Tasya menyimpan Kunci mobil Manda beserta surat lengkapnya dan terakhir kartu atmnya.


“Bapak akan coba menghubungi pemilik yayasan sekolah ini,” Kepala sekolah keluar dari ruangan pribadinya meninggalkan Tasya dan Keano.


“Punya duit lo,” Tasya terkekeh saat Keano meletakkan kartu atmnya di atas meja.


“Kea... gue tahu isi atm ini jatah dari orang tua lo yang gue gak tahu sampai kapan abisnya. Jangan sampai lo nyusahin diri sendiri.” Tasya mengambil atm Keano lalu meletakkan di telapak tangan sang pemiliknya.


“Gue mau bantu lo, Sya.” Ucap Keano masih dengan wajah dan nada bicara yang datar.


“Lo sudah bantuin gue kok, lo lupa udah bantuin gue bikin surat permohonan sama lo juga sudah kasih tahu gue tentang anak-anak penerima beasiswa mengenai jumlahnya, kisahnya dan banyakkan tadi lo sudah cerita. Soal materi, lo serahin aja ke gue.”


Sebelum menemui kepala sekolah, Keano bercerita cukup banyak tentang anak-anak penerima beasiswa yang diperlakukan seenaknya seperti yang terjadi kepada Salsa.


Dan Keano jugalah yang membantu Tasya membuat surat permohonan di ruang osis. Keano juga sebenarnya ingin menceritakan tentang Manda dan saudara kembarnya termasuk orang-orang yang ada dibelakannya, tapi Keano rasa waktunya belum pas.


“Bagaimana Pak, apakah pemilik yayasan setuju?” Tanya Tasya saat Kepala sekolah kembali.


“Permintaan kamu cukup bagus, dan langsung disetujui pemilik yayasan. Tetapi...” Kepala sekolah terlihat bingung melihat kunci mobil yang ada di atas mejanya.


“Mobil kamu ini hanya bisa membeli satu bis. Jika menunggu anggaran sekolah, mungkin tahun depan sekolah ini baru bisa menambahkan bis walaupun hanya satu.”

__ADS_1


Tasya bingung lalu memeriksa isi Tasnya.


“Tasya kalau kamu jual mobil kamu yang itu,” Kepala sekolah menunjuk kunci mobil yang sedang dipegang Tasya.


“Jangankan 3 bis, kamu bisa membeli 6 bis sekaligus.” Tambah kepala sekolah.


Tasya melihat kunci mobil kesayangannya diiringin senyuman miris. “Jangan Pak, jangan. Saya punya rencana lain. Boleh saya menelepon seseorang untuk meminta bantuan?”


“Silahkan,” Kepala sekolah setuju.


Tasya bangkit dari duduknya meninggalkan ruangan kepala sekolah sambil mencari nomor telpon dari kontak di hpnya Tasya berjalan menuju ruang tunggu bagi Tamu.


“Grandpa?” Mulut Tasya menganga, bahkan hpnya yang sudah menempel di daun telinga yang berakhir terjatuh pun Tasya tidak sadar.


“Ada apa Sya, handphonenya sampai jatuh.” Keano mengambil Handphone Tasya yang tergeletak di lantai.


“Grandpa ngapain di sekolah Tasya?” Tasya menghampiri Grandpa nya yang sibuk dengan ponsel.


Grandpa memasukkan poselnya ke dalam saku jas lalu bangkit dari duduk, “Apalagi kalau bukan karena ulah kamu yang nakal.”


“Aduh,” Tasya meringis sambil mengusap jidatnya yang disentil Grandpa.


“Aku kangen grandpa,” Tasya memeluk grandpanya yang gemuk.


Keano terkejut sesaat saat melihat Grandpanya Tasya, bukan karena dirinya kenal. Tapi wajah Grandpa tidak asing bagi Keano.


Tidak salah lagi, Karena Keano pernah ikut rapat di ruang guru sebelum ikut olimpiade matematika kelas 10 maka dirinya mengetahui pemilik yayasan SMA Garuda Internasional yang fotonya terpampang jelas di dinding bersama dewan direksi lainnya.


Kepala sekolah keluar dari ruangannya lalu memberi hormat kepada Grandpa, tapi grandpa memberi kode tangan untuk tidak melakukannya dan meletakkan jari telunjuk di bibir. Kode tersebut sepertinya ditunjukkan kepada Kepala Sekolah dan juga Keano.


“Grandpa ke sini sendiri?” Tasya melepas pelukannya lalu melirik kanan dan kiri, tidak melihat satupun dari selusin bodyguard Grandpanya.


“Tentu, Grandpa ke sini sendiri hanya untuk menerima laporan kenakalan kamu,” Grandpa duduk kembali di sofa.


“Grandpa, aku gak nakal,” Tasya ikut duduk di samping Grandpa. Sementara Kepala sekolah kembali ke ruangannya.


“Nah, kamu pasti pacarnya Tasya kan?” Grandpa menggunakan jari telunjuknya untuk menunjuk wajah Keano


“Bukan.” Tasya menurunkan tangan Grandpa.


“Jangan berdiri terus, nanti pegal. Silahkan duduk.” Grandpa menunjuk sofa agar diduduki Keano.


“Grandpa aku mau minta uang,” Pinta Tasya.


Grandpa mengerutkan keningnya, “Untuk apa?”

__ADS_1


__ADS_2