Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 7 - Keseruan di akhir pelajaran


__ADS_3

Bu Eka tidak pernah bertele-tele dalam mengajar, to the point adalah tipe mengajarnya. Saat ini, guru matematika itu sedang membagikan lembar soal kepada masing-masing siswa, tujuannya ingin mengetahui daya ingat siswanya mengenai ilmu matematika yang sudah diajarkannya di kelas sepuluh.


“Anak baru?” Tanya Bu Eka saat sampai di meja Tasya.


“Iya, Bu.” Tasya tersenyum ramah.


“Pindahan dari Amerika.” Ucap Bu Eka setelah melihat identitas sekolah yang menempel di baju seragam Tasya. “Nama Kamu siapa?”


“Tasya, Bu.”


“Oke, Tasya.” Bu Eka melanjutkan langkah kakinya, membagikan lagi soal matematika dari tangannya.


“Ya, ampun. Soalnya susah banget, kaya jalan hidup gue.” Keluh Dimas.


“Ibu tidak menerima curhatan hidup kamu,” Bu Eka memeriksa soal matematika yang sudah terisi, sepertinya milik kelas lain.


Setelah sepuluh menit berlalu, awalnya hanya Keano yang maju ke depan mengumpulkan soal yang sudah diisi lengkap berikut penjelasan secara rinci, tetapi langsung disusul Tasya sampai membuat bu Eka melirik Tasya dengan senyum ramah, terlihat tertarik dengan keberadaan Tasya terutama setelah mengerjakan soal sama cepatnya dengan Keano.


Awalnya Bu Eka sempat curiga kalau Tasya mencontek dari Keano, secara Keano duduk di depan Tasya dan posisi duduk Tasya pun tegap, jadi bisa saja dugaan Bu Eka benar.


Tapi dugaan itu salah saat Bu Eka melihat jawaban Tasya yang cara menjawabnya jauh berbeda dengan jawaban Keano. Jawaban Tasya lebih ke Singkat, Benar dan tidak ribet bagi diri sendiri, tidak peduli jika orang lain tidak mengerti.


“Sindi, lala tukeran dong duduknya sama Tasya, cuma pelajaran ibu aja kok,” Pinta bu Eka.


Tasya duduk di bangku paling depan dan bangku samping kanannya adalah tempat Keano.


“Tasya hobinya apa?” Tanya Bu Eka sambil memberi Tasya soal matematika yang baru untuk dikerjakan.


“Hobi?” Tasya agak bingung mau menjawabnya, ia meraih soal Bu Eka lalu mengerjakannya tanpa kesulitan.


“Di sini tinggal sama siapa?” Tanya Bu Eka lagi, karena dia tahu tasya tidak berniat menjelaskan hobinya.


“Sama papi.”


Bu Eka mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kamu mau ya, ikut olimpiade matematika sama Keano.”


“Hah?” Tasya kaget dan dirinya tidak sadar kalau suaranya terlalu keras sampai terdengar oleh seisi kelas.


“Tasya sudah jawab semua Bu, ini.” Tasya tersenyum miris saat menyerahkan kertas yang sudah dikerjakannya kepada Bu Eka.


“Ibu, tidak menerima penolakan ya, Sya.” Bu Eka kembali ke meja guru.


“Latihannya setiap hari kamis setelah pulang sekolah, sebentar kok Cuma 2 jam. Nanti Keano yang ngasih tahu dimana ruangannya.”

__ADS_1


“Siap, Bu.” Tasya menyetujui.


“Baru dua orang yang ngumpulin, yang lainnya mana, hello?” Ledek Bu Eka.


Pelajaran matematika tinggal 30 menit lagi, tapi tugas yang diberikan Bu Eka kepada murid kelas XI IPA 1 belum beres setengah jumlah siswa.


“Lemot banget si Kalian.” Bu Eka bangkit dari duduknya.


“Ini adalah bab-bab yang akan ibu ajarkan di kelas XI, silahkan catat. Yang sudah mengerjakan tugas Ibu boleh pulang.”


Tidak terdengar sorak bergembira dari Dimas and the gang ataupun yang lain meskipun sudah menyelesaikan tugas matematika, itu karena Bu Eka akan menambahkan soal jika terdengar riuh tidak jelas di dalam kelas yang sedang diajarnya.


“Kecuali, Keano dan Tasya jangan pulang dulu,” ucap Bu Eka sambil mengambil handphonenya yang bergetar diatas meja memunculkan notif panggilan masuk.


“Keano ambil kursinya ke sini, terus periksain kertas-kertas ini kasih nilai juga, Tasya yang tulis nama sama nilainnya di buku ini ya, cuma meriksain dua kelas kok. Ibu mau angkat telpon dulu.” Bu Eka berjalan keluar kelas.


“Pintu neraka kebuka ya ANJIR, badan gue gerah.” Dimas memasukan semua alat tulisnya ke dalam tas sambil ngomel tidak jelas.


“Lebay lo,” Mita mengatai Dimas, dirinya juga sedang berkemas bersiap untuk pulang.


“Lemah lo, ah. Baru juga duduk berdua di sana, kalo di pelaminan lo mau kejang-kejang?” Rian menoyor dahi Dimas.


“Gak asyik lo semua.” Dimas menunjuk semua anggota gengnya.


Kedua mata Tasya melotot saat jari-jari tangan kanannya sudah ada di dalam genggaman Dimas.


“Apa lo.” Dimas melototi Keano yang melihat aksinya dengan wajah datar.


“Balik lo sana, minum obat!”


“Galak banget si, Ta.” Dimas memakai tobi setelah Mita berhasil menjauhkannya dari Tasya.


“Bye, Tasya.” Dimas melambaikan tangannya. Tasya membalas dengan memberi bentuk love menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya. .


“Udahlah, Balik. Lo makin bego.” Rajaya merangkul Dimas keluar kelas, sementara Farel dan Rian tidak berhenti untuk mengatai dan memaki kebodohan Dimas.


“Sya, kita tunggu lo di depan. Kalo tunggu di sini, nanti bu Eka ngira kita minta soal tambahan.” Ucap Teresa sambil melambaikan tangan.


“Oke, deh.” Tasya setuju.


“Masih banyak?” bu Eka akhirnya bertanya setelah sekian lama dirinya menelepon yang entah dengan siapa, sampai isi kelas tinggal menyisakan dua makhluk hidup bernama Tasya dan Keano.


“Sedikit lagi Bu,” Tasya melihat jumlah kertas yang belum diperiksa Keano.

__ADS_1


“Kalo sudah selesai bawa ke tempat ibu,” Bu Eka pergi begitu saja.


“Akhirnya... gue bisa balik.” Tasya bangkit dari duduk lalu memasukkan barang miliknya ke dalam tas.


“Eh, ada Kacamata gue,” Tasya langsung menyambar kacamata yang tiba-tiba muncul di atas mejanya.


“Kea, kalo mau pinjem kacamata gue, calling-calling dulu napa, biar gue bawa cadangan. Asyik dikit susah banget si lo.” Tasya memakai kacamata hitam dengan gaya elegannya.


“Butuh bantuan gue?” Tanya Tasya sambil melihat Keano yang sedang membereskan barang-barang milik Bu Eka.


“Gak.” Keano menepis tangan Tasya yang berniat ingin membantunya.


“Galak banget, lo.” Tasya mengusap tangannya yang ditepis Keano , meskipun keano menepisnya tidak keras ataupun kasar.


“Tasya.” Panggil Keano datar.


“Lo manggil gue?” Tasya tertawa sambil menahan diri untuk tidak memaki Keano yang sedari tadi berjalan di depannya. Lalu menyamakan irama langkah kakinya dengan langkah Keano.


“Yaelah, Ikea perabor rumah. Jadi gemes gue sama lo. Napa lo manggil gue?” Tasya meletakkan lengan kanannya di pundak kiri keano, lalu menggunakan gagang kacamata yang baru dilepasnya untuk mengusap dagu Keano.


“Lo seneng banget cari masalah.” Ucap Keano datar.


“Sumpah gue bingung, itu pertanyaan atau pernyataan. Tapi, gue Cuma mau kasih tahu kalau masalah yang suka banget cari gue.”


“Jangan cari masalah, lo gak tahu sekolah ini.” Nada bicara Keano masih datar.


“Apaan si, lo. Lo urus aja dulu wajah lo yang datar ini. Gue balik duluan, bye.” Tasya membelok arah setelah menemukan Teresa dan Mita yang sepertinya sedang menunggunya sambil memainkan ponsel.


“Guys, kemana dulu ini?” Tasya menepuk dua pundak sahabatnya.


“Tasya, demen banget lo berlama-lama sama wajah datar.” Teresa nyeletuk.


“Kepaksa, Re. Enaknya kemana, nih”


“Sya, gue mau banget tahu apa saja kegiatan lo hari ini sampai mau tidur, pokoknya gue mau buntutin lo hari ini,” ucap Teresa dan disetujui Mita.


“Beneran? Gue tidak akan menerima protes kalo kalian nyesel nantinya.” Tasya menakuti.


“Ya, kagaklah. Gue mah belum pernah menyesali perbuatan gua walaupun itu buruk sekali.”


“Yang bener, yuk jalan. Eh, tapi gue mau cari tukang jahit buat benerin baju seragam gue dulu.”


“Kecil,” Mita menjentikkan jarinya.

__ADS_1


__ADS_2