
“Grandpa, gak kangen sama aku?” Tanya Tasya dengan handphone yang tertempel di telinganya.
“Iya, deh iya. Tasya bakal hati-hati, dan jagain aset-aset mami. Bye grandpa.” Tasya menutup telponnya.
“Balik lagi yuk, ke kelas.” Tasya dan dua sahabatnya keluar dari toilet.
“Sya, lo beneran pernah gandengan tangan sama Keano rangkul-rangkul juga?”
“Re, lo percaya banget sama Ilham. Gue cuma mau buat Nia jealous doang. Gue gak ada apa-apa sama Keano.” Tasya menyimpan handphone ke saku.
Mita dan Teresa terkekeh bersama, “Oke, oke. Gue setuju, gue dukung lo.”
“Kirain lo beneran ada apa-apa sama Keano.” Mita masih terkekeh.
“Ya gaklah, Gak kebayang pas pacarannya bagaimana, pasti boring, begitu-begitu doang, membosankan.” Tasya, Mita dan Teresa tertawa bersama.
“Eh, tapi Sya. Biasanya, orang yang dingin kayak Keano kalau udah pacaran bucinnya parah terus posesifnya kebangetan.” Mita menakuti.
“Beneran, Ta? Lo tahu darimana?” Teresa yang lebih penasaran dari Tasya.
“Dari Novel.” Tawa mita pecah.
“Korban cerita fiksi lo,” Tasya dan Teresa mengguncang-guncangkan tubuh Mita.
Mita berdehem dua kali saat masuk kelas lalu melirik Nia sekilas dengan tatapan sinis.
“Woi, maksud lo apa?” Rara sewot karena mengetahui tatapan Mita untuk Nia.
“Apaan sih lo, gak jelas.” Mita megibaskan rambutnya, sementara Rara menggebrak meja.
“Sudah dong, rakyatku semua, pada akur gak bisa ya. Gue mau tidur capek ujian hidup gue berat,” Keluh Dimas yang berbaring di atas meja.
“Seneng banget Ta naikkin tensi darah,” Tasya Dan Teresa terkekeh.
Mita membereskan alat sekolahnya, “Sya, kata kak Lisa lo boleh masuk eskul hari ini juga.” Mita mengotak atik hpnya.
“Oke, Thanks.” Teresa juga membereskan alat sekolahnya walaupun jam pulang masih 1 jam lagi.
“Sya, nanti gue ikut anter lo ya ke ruang musik, lo juga belum tahu kan?” Teresa tersenyum manis.
Mita tertawa, “Ah modus lo.”
Teresa terkekeh, “Bukan modus tapi usaha.”
“Sya, lo belum tahu ya anak-anak musik cakep-cakep apalagi vokal cowok utamanya, Kak Rendy namanya.” Jelas Teresa.
__ADS_1
“Bukannya sudah punya cewek ya dia,” Mita mengatakannya dengan ragu.
“udah putus, waktu liburan sekolah.” Teresa terlihat bahagia.
“Re, lo udah move on dari gue?”
“Apaan si lo, lampu taman. Kalo lagi tidur ya tidur saja gak usah nguping.” Teresa memutar bola mata malas.
“Gue gak nguping cuma lo nya aja yang lagi ngobrol atau pidato, sekelas denger semua.” Dimas yang sedang rebahan menatap Teresa.
“Ini Sya, foto kak Rendy. Cakep gak?”
Tasya melihat fota yang ditunjukkan Mita, “Cakep, cakep,”
“Cakep gue lah, Sya.” Dimas menyahut.
“Yaelah, lo cakep darimanaya, bego.” Rian menjitak kepala botak Dimas.
“Cakepan Kea lah, Sya.” Ilham menunjuk Keano yang sedang menundukkan kepala fokus dengan ponsel.
“Cakep, cakep,” Tasya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Sya, di kelas ini mah gak ada yang cakep. Ta, tunjukkin satu lagi,” Teresa membuat Tasya untuk tidak meladeni Ilham lagi.
“Namanya Kak Dino, pemain basket. Ini idaman banget sih, gila bodynya so hot,” ucap Mita berlebihan sambil melototi hpnya yang menampilkan gambar Dino dengan kaosnya yang tidak sengaja terbuka oleh terpaan angin sehingga tapilah perut sixpack.
Mita dan Teresa tertawa, “Ada lah, skill potret gue mah patut diacungi jempol.”
“Gambar ini itu, penghilang streS Sya. Apalagi kalau pegang perutnya langsung, gila sih roti sobek,” Teresa menambahkan sementara tawa Mita pecah.
“Kalo lo berhasil pegang perut sixpack nya Kak Dino gue kasih mobil gue deh buat lo,” ucap Mita setengah tertawa.
Mata Teresa melotot, “Beneran lo. Sya bantuin gue dong, gue mah yakin lo bisa lakuin challengnya Mita.”
“Gak ah, gue gak mau. Apaan pegang-pegang cowok perutnya lagi. Steam deh otak lo berdua.” Tasya mengusap lembut kepala dua sahabatnya.
“Sya, Keano juga pemain basket, sebelas dua belas lah sama Dino.” Ilham menahan tawanya.
“Apaan sih Ilham, la ganggu orang lagi seru aja,” Mita masih menunjukkan foto panas Dino kepada Tasya.
“Woi lo semua ya, Mita, Teresa dan lo Ilham jangan bawa Tasya ke jalan yang sesat.” Dimas menunjuk orang yang di sebutnya lalu kembali memejamkan mata.
“Syirik saja deh.” Teresa menimpali.
“Siniin handphone lo Ta, lo gak boleh simpen foto-foto kayak gini, gak baik ini itu untuk 18++, lo 17 saja belum.”
__ADS_1
“Yaelah Sya, mau hapus foto atau mau liat lebih teliti,” Tawa Mita dan Teresa pecah lagi.
“Ya, beneran di hapus. Gak papalah, gue bisa ambil lagi gambarnya. Eh Kea, eskul basket hari apa sih?” Mita masih memeriksa galeri di handphoneya.
“Hari ini, kenapa emangnya Ta?” Ilham yang menjawab.
“Mita mau modus,” Teresa terkekeh.
“Mau usaha ya bukan modus.” Mita mengikuti alasan andalan Teresa.
“Kenapa lo gak ikutan cheerleaders aja, biar modus lo bermanfaat banyak.” Tasya mengusap lembut kepala Mita.
“Gak ah, nanti bau ketek.” Mita mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung.
“Re, futsal juga hari ini kan eskulnya?” Tanya Mita.
“Yups.” Teresa mengacungkan jempol.
“Sya, nanti itu pasti lo duluan yang selesai eskul, terus di susul Teresa, lo berdua mau nungguin gue gak? Kalau males tunggu lo berdua boleh langsung ke rumah gue aja, ada bibi kok di sana.” Jelas Mita.
“Ya kali. Kita nungguin lo dulu kok.” Tasya melirik jam ditanganya.
“Oke, thanks. Huhu gue terharu.” Mita memakai Tasnya.
“Cabut yuk, ke ruang musik.” Mita berjalan lebih dulu lalu di susul Teresa dan Terakhir Tasya.
“Mita... gak boleh keluar dulu masih ada 20 menit lagi,” ucap Dimas baik-baik sambil menghadang pintu kelas.
“Misi dong Dimas and the geng, duduk di pintu itu nolak jodoh tahu gak,” Mita bertolak pinggang.
“Gue gak peduli. Lo mau kemana sih tah buru-buru banget, jangan ajakin Tasya gak bener, ya.” Pinta Dimas.
“Bukan urusan lo,” Mita masih bertolak pinggang.
“Emangnya Rian kurang ganteng ya, ta. Sampe cari cowok lain?” Dimas merangkul Rian.
“Woi, Minggir.” Teriak Rara.
Tidak hanya Tasya dan Tersa ataupun Mita yang menoleh, tetapi juga Dimas and the geng, mereka bahkan menyingkirkan bangku yang menghalangi jalan pintu agar Rara bisa keluar dengan leluasa.
“Cih, gak guna lo semua,” Rara menabrak bahu Tasya sebelum keluar kelas.
“Santai dong sis, dendaman lo!” Teresa dan Mita mengusap bahu Tasya.
“Sya, maafin Rara ya,” Nia memegang tangan Tasya dengan wajah bersalahnya, tapi Tasya segera menepisnya agak kasar.
__ADS_1
“Lo pergi deh,” Mita mengusir Nia.
“Pergi yuk Sya,” Teresa mengajak Tasya dan Mita untuk meninggalkan kelas.