
“Lama banget datangnya, Re. Pegel kita nunggu,” Protes Dimas yang sedari tadi duduk di meja tunggu depan Restoran.
“Gue gak nyuruh nunggu ya,” ucap Teresa malas.
“Nyari siapa Sya?” Rajaya menarik lengan Tasya agar tidak menengok ke belakang.
“Nyari Keano lah,” celetuk Mita yang berjalan di belakang Tasya dan Rajaya.
“Ngenes banget muka lo, tenang aja sih kita gak bareng sejalan sama Keano cuma tadi kita sempet makan bareng becanda bareng, lo gak usah khawatir,” jelas Teresa.
“Belum pernah gue lihat Rajaya menang dari si Kea, iya gak Salsa?” Mita menyenggol lengan Salsa yang berjalan di antara dirinya dan Teresa.
“Hah? Gue gak ikutan,” Salsa menggelengkan kepala.
“Salsa tinggal ngomong aja kali yang jujur, kalau lo diapa-apain sama Rajaya ngadu aja sama Tasya. apa?!” Teresa tidak terima ditatap datar oleh Rajaya.
“Aduh,”
“Maaf sengaja,” Manda terkekeh setelah berhasil menumpahkan minuman dan mengenai sepatu Tasya, sebenarnya Manda mengarah baju tapi karena Tasya cepat menghindar minuman itu hanya mengenai sepatu Tasya.
“Jalan pakai mata,” Rajaya menatap Manda dengan Tajam.
“Jalan pakai kaki, bego.” Mata Manda tak kalah tajam.
“Dek, besok pagi kakak mau kirim hadiah terima dengan baik ya, bye.” Manda melambaikan tangan kepada Tasya sebelum pergi.
“Sya, tunggu dong.” Rajaya ditinggal Tasya.
“Lelet lo,” Mita, Teresa dan Salsa berjalan cepat menyusul Tasya ke arah lift, Tidak seperti Rajaya yang mengandalkan mulut saja apalagi teman-temannya yang bergantung hidup kepada ponsel yang digenggam masing-masing.
“Kelebihan beban liftnya, yang baik ngalah,” sahut Mita.
“Lo keluar,”
“Gak bisa Raja, lo lah yang ngalah sekali-sekali merakyat,” Dimas tidak mau jika dirinya yang harus mengalah.
Saat Salsa ingin keluar dari lift, Tasya lebih dulu mencegahnya.
“Sya,” Rajaya ikut keluar menyusul Tasya.
“Gara-gara lo gak mau ngalah, teman gue yang pergi,” Mita memberi dengusan kesal kepada Dimas sebelum menekan tombol lift untuk naik ke lantai 5.
“Lagi apa sih Sya... handphone mulu akunya dicuekkin,” protes Rajaya.
“Kalau mau ngomong ya tinggal ngomong saja gue gak tuli, pesen minum dong gue haus,” Kali ini Tasya berhenti memainkan ponsel.
“Ini gue kasih lo minum,” Manda tiba-tiba mendudukkan diri di kursi kosong dekat Tasya.
“Lo lagi,” Tasya terlihat malas.
“Lo yang sopan, gini-gini gue kakak kelas lo.”
“Lo buntutin gue?” Rajaya juga sangat malas dengan kedatangan Manda yang tiba-tiba.
__ADS_1
“Eh, gue lagi males ngomong sama lo. Enak saja gue dibilang buntuttin, lo liat di sana,” Manda menunjuk sekumpulan muda-mudi yang booking tempat di pojok ruangan, mereka berjumlah 10 orang.
“Gue bareng mereka, buntutin lo? Sorry, gak banget,” Manda memutar bola matanya malas.
“Minum,” Manda memberi segelas minuman kepada Tasya.
“Apa? Lo juga mau,” Manda terkekeh sambil melihat Rajaya.
“Buat lo, Terima kasih dong sama gue.” Manda juga memberi Rajaya minuman.
“Kenapa gak diminum? Anjir... lo semua gak percaya sama gue. Yaudah kita ches aja gimana,” Manda mengangkat minumanya diatas meja.
Ting!
“Gitu dong,” Manda tertawa puas.
“Bagaimana, minum gratisnya,” Manda tersenyum menunggu jawaban dari Tasya.
“Lo beli minuman murah, GAK ENAK.”
Manda berdecak, “Calon miskin saja belagu lo,” Manda membuka buku menu yang tersedia di atas meja.
“Mbak!” Manda melambaikan tangan kepada pelayan.
“Saya pesan minum yang ini, dia yang bayar,” Manda menunjuk wajah Rajaya.
“Baik, permisi.”
“Lo pergi, gak guna.” Rajaya menatap Manda dengan sangat malas.
“Eh, dek.” Manda menyenggol lengan Tasya yang sedang memainkan posel.
Tasya berdecak kesal, “Apa si, gue bukan adek lo.”
“Sewot banget, harusnya gue yang sewot. Lo dengerin gue,”
“Apa?” Tasya menyimpan ponselnya lagi.
“Lo itu banyak salah sama gue, mendingan lo gabung bareng gue nanti gue maafin semuanya. Gimana setuju gak?”
“Gak,” jawab Tasya singkat.
Manda kembali berdecak, “Penyesalan itu suka datang belakangan, lo itu suka cari masalah, mendingan ikut gue aja, lo sama gue itu gak beda jauh.”
“Cih,” Rajaya mengejek ucapan Manda. Sementara Manda terlihat acuh dan mengabaikan keberadaan Rajaya.
“Permisi,” seorang pelayan wanita meletakkan sebotol wine dan 3 buah gelas yang masih kosong.
Manda segera menyambar botol wine sambil mulutnya kembali bersuara, “sayang sih kalau orang kayak lo gak ditemenin sama gue, lo itu belum tahu aja rasanya bareng gue. Lo bakal aman kalau ikut bareng gue, Gimana?” Manda meletakkan gelas yang sudah terisi air wine tepat di hadapan Tasya.
“Gak ngerti gue sama omongan lo,”
Manda menghembuskan nafas kasar, “intinya kalau lo gak jadi musuh gue hidup lo aman dan pastinya seru,”
__ADS_1
Tasya terkekeh, “Kayaknya aman jadi musuh lo deh.”
Manda meletakkan gelas dengan kasar, kesabaran untuk membujuk Tasya habis, “gue tanya sekali lagi, lo yakin mau jadi musuh avarelic?”
“Terserah lo mau anggap gue apa,” Tasya meneguk wine dengan nikmat.
“Oke, lihat lo gila kayaknya seru, anak ****** aja belagu,” ejek Manda.
“Maksud lo apa?” Tasya menatap Manda dengan sinis.
“Lo pergi, Parasit.” Rajaya juga menatap Manda tidak kalah sinis.
Manda terkekeh lalu mendekatkan wajahnya ke Tasya untuk membisikkan sesuatu, “Anak hasil hubungan gelap jangan banyak gaya, kalau jatuh sakit. Kalau hina hasilnya juga hina.”
“Pergi lo, bit*ch!” Tasya menyiram wajah Manda menggunakan minumannya sendiri dengan spontan.
“Gue akan balas perlakuan lo ini, bye.” Manda sempat menendang kursi sebelum pergi.
“Dia ngomong apa, Sya?” Rajaya penasaran dengan apa yang dibisikkan Manda tadi.
Tasya menggelengkan kepala lalu menghembuskan nafas panjang, “Kita kumpul sama yang lain.”
Rajaya mengangguk lalu meminta tagihan minuman kepada pelayan untuk dibayarnya.
“Sya, Mita sama Teresanya mana?” Tanya Ilham saat berpapasan menuju lift yang sama.
“Mereka udah duluan,” Tasya melirik Keano yang seperti biasa cuek saat dikeramaian.
“Kapan mabar lagi Sya?” Fadil mencoba akrab dan menganggap Rajaya tidak ada.
“Tasya sibuk,” sela Rajaya dan langsung membawa Tasya ke dalam lift saat pintu liftnya terbuka.
“Apaan si lo, lepas Rajaya,” Tasya kesal sudah beberapa kali dirinya menurunkan lengan Rajaya yang menempel di bahu.
“Diam Sya... atau mau aku cium,” Rayu Rajaya.
Tasya berdecak sambil melipatkan kedua tangan di depan dada, maksudnya apa coba? Kalau gak sempit ini lift, sudah gue hajar ini anak.
“Jangan bersiul nanti ada setan,” protes Tasya saat mulut Rajaya membunyikan siulan.
“Memang setannya udah ada,” Rajaya menunjuk kepala Keano, Ilham dan Fadil menggunakan telunjuk jarinya. Beruntuk orang yang ditunjuk berdiri membelakangi Rajaya dan Tasya.
“Au sakit, Sya...” Rajaya merintih lebay sambil mengusap lengannya yang terkena cubitan.
TING!
Lift terbuka Keano, Ilham dan Fadil segera keluar begitu juga dengan Tasya yang ingin segera menghindar dari Rajaya.
"Sya... aku nya ditinggalin terus," Rajaya berdecak.
__ADS_1