
“Lo berdua jadikan nginep di rumah gue?” Mita menghalangi jalan Teresa dan juga Tasya yang ingin membuka pintu kelas.
“Iya, Mita... Lo udah tanya puluhan kali deh.” Tasya menarik Mita lalu merangkul dua sahabatnya.
“Oke, gue mau kasih tahu bibi buat siapin makanan enak.” Mita mengotak atik ponselnya.
“Harus itu,” Teresa menjentikkan jarinya.
“Eh, kita gak telat masuk kelaskan?”
“Belum lah istirahat aja baru selesai.” Jawab Teresa sebelum Tasya membuka pintu kelas.
“Tasya darimana aja kok di kantin pas istirahat gak ada?” Ucap Dimas sambil memakai dasi.
“Kepo lu selangit.” Maki Teresa.
“Sumpah ini kelas jorok banget sih... bau ketek tahu gak.” Mita menutup hidungnya lalu menggunakan minyak wangi yang diambil dari dalam tas untuk disemprotkan ke udara.
“Lo kali yang bau ketek, Ta. Dari tadi bau kelas memang kayak gini." Rian menyisir rambutnya.
“Enak saja lo. Gue sama teman gue sudah pada mandi. Emangnya lo, abis olahraga kagak mandi. Iuh... jorok.” Mita mengibaskan tangannya di depan hidungnya.
“Apaan nih.” Tasya menangkap kunci yang dilemparkan Rajaya tanpa aba-aba.
“Elah, ternyata lo lelaki sejati yang menepati janji.” Mita mengecek kunci tersebut.
“Mukanya gak rela ngasih kunci, sampaerin yuk.” Tasya dan dua sahabatnya berjalan menuju bangku Rajaya.
“Silahkan duduk mbak-mbak, woi minggir dong bro.” Rian menyeret Farel untuk bangkit.
“Gak berkah bro taruhan tapi gak iklas.” Tasya yang sudah duduk di samping Rajaya meletakkan kunci mobil di atas meja.
“Beneran Sya, lo gak mau mobilnya Rajaya. Lumayan lah kalau di jual uangnya buat Shopping satu bulan.” Mita membuat Tasya bimbang sementara Teresa tertawa cekikikkan.
“Hah, begitu ya. Tapi gue sudah bersyukur banget kok mobil gue gak jadi dibakar. Gue balikin mobil lo.”
“Rajaya, lo sebenarnya pura-pura gak iklah atau gimana sih. Gue sabagai perwakilan Tasya akan mengambil mobil lo dengan senang hati jika lo memberinya dengan iklas.”
“Tasya gak mau mobil gue.” Rajaya segera mengambil kunci mobil miliknya.
“Selamat lo gak dimarahin mami.” Farel mengusap lembut kepala Rajaya.
“Berisik an*ing.” Rajayay menepis tangan Farel.
“Ah, lo gimana sih. Mobil mami kok diajak taruhan.” Mita mencibir.
“udah-udah, balik yuk.” Tasya bangkit dari duduknya.
“Eh, Sya. Bentar, gue mau ngomong.” Dimas menahan Tasya dan juga dua sahabatnya.
__ADS_1
“Lo mau ngomong apa, nyatain cinta? Gue ingetin kalau tipe cowok Tasya bukan kayak lo.” Mita menepuk-nepuk pundak Dimas.
“Lo makan apa sih, Ta? Pedes banget mulut lo.” Dimas mengacak-acak rambut Mita.
“Lo kalau mau ngomong ngomong saja, gak usah jailin teman gue.” Teresa nyentil dahi Dimas.
“Oke everybody. Lo cemburu Re? My wife is posesif. Hahaha.... Oke jadi gini, Sya. Sekolah kita itu kayak punya sebuah geng yang dipimpin sama anak kelas 12. Nah tapi geng ini itu gak diketahui sama pihak sekolah, mereka kayak berdiri sendiri tapi membawa embel-embel sekolah ini. Dan setiap sekolah pasti punya geng kayak gini, Sya.”
“Terus hubungannya sama gue apa?” Tasya menaikkan kedua alisnya.
“Tadi lo battle sama Manda, Manda itu bisa dibilang anggota dari geng yang kita bicarain ini.” Jelas Dimas.
“Setahu gue Cuma saudara Manda doang yang ikutan geng ini,” Mita menyahut.
“Ta, lo itu gak tahu, geng ini itu ada dua jalur. Jalur offline yang biasa kumpul-kumpul di basecamp begitu, sama jalur online. Dan bisa saja Manda ikutan geng ini, menurut gue sih yang jalur online yang berbahaya soalnya, orang yang keliatan polos bisa saja ikut geng ini.” Rian menambahkan.
“Lo hati-hati aja Sya, yang mata-matain lo banyak.” Farel membuka suara.
Tasya menganggukangguk pelan, “Tapi urusan gue sama Manda sudah kelar.”
“Sya, urusan lo bukan kelar tapi masalah lo baru aja di mulai, gue serius lo harus hati-hati.” Ekspresi wajah Dimas begitu serius begitu juga dengan temannya.
“Bener, juga sih, Sya. Lo harus ati-ati, nanti kalau ada waktu gue ceritain versi lengkapnya,” Tambah Teresa dengan serius lalu diangguki Mita.
Tasya menghembuskan nafas pelan lalu bangkit dari duduknya, “Thanks, guys.”
“Sya, lo gak takut? Kok lo santai banget.” Perkataan Dimas berhasil menghentikan langkah kaki Tasya.
“Guys, kok perasaan gue gak enak, ya. Di kelas gak ada pengurus osis selain gue, apa lagi pada kumpul, ya.” Mita melihat seisi kelas, tidak ada Nia dan Fadil apalagi Keano dan Ilham yang bangkunya kosong dan sekarang sedang diduduki Tasya.
“Gak kumpul sekali, gak masalah kali. Rajin amat.” Teresa meneguk minuman botol yang dibelinya tadi sebelum masuk kelas.
“Mita, lo di sini?” Ilham teriak dari ambang pintu.
“Lo pada darimana, abis kumpul ya... tega banget gue gak dikasih tahu.” Mita tidak hanya melihat Ilham saja yang merangkul Keano tapi di belakangnya juga ada Fadil dan Nia si muka polos tapi ya begitulah kalau kata Teresa.
“Nama lo udah gue masukin speaker tapi gak dateng juga. Lo tim suksesnya Keano.” Ilham mengusap lembut kepala Keano, saat ini ilham duduk di atas meja karena kursinya di duduki Tasya.
“Yang bener? Ah males, gue.” Mita terlihat bete.
“Jangan begitu, Ta. Keano teman lo juga.” Ilham menaik turunkan kedua alisnya.
“Kok gue geli ya sama lo berdua. Kalian itu cowok-cowok normal gak sih?” Teresa geli meihat Ilham yang terus membelai rambut Keano, dan Keano diam saja sambil membaca buku seperti menikmati apa yang dilakukan Ilham.
“Jangan-jangan lo berdua pasangan guy, iuh.” Mita bergidik ngeri lalu tertawa bersama Tasya dan Teresa termasuk Ilham juga ikut tertawa.
“Kea lo dikatain cowok gak normal sama guy,” ucap Ilham setelah tawanya reda.
Keano menjauhkan tangan ilham dari kepalanya lalu berdecak.
__ADS_1
“Kea masih normal kok, Sya.” Ilham menahan diri untuk tidak tertawa.
“Apaan sih, kok gue.” Tasya memutar bola matanya.
“Kea itu malu-malu, guys. Dia mau tapi gak mau mulai duluan, iya kan Sya?”
“Ilham, lo kalau ngomong yang jelas dan lengkap dong. Gue gak ngerti nih.” Wajah Teresa terlihat penasaran.
“Bener, yang katanya gandeng-gandeng itu juga gue belum ngerti. Tasya gak mau cerita.” Mita mengompori.
“Ah, lo temennya sendiri gak tahu gimana sih. Sya, kemarin gandeng-gandeng, terus sekarang rangkul-rangkul, besok apa lagi?” Ilham kempali membelai rambut Keano tapi tindakannya segera ditepis tangan Keano.
“Serius, Sya. Tipe lo modelan kayak Keano?" Mita tidak percaya begitu juga dengan Teresa.
Teresa tersenyum miris, “Lo semua salah paham ya, lo juga pembawa gosip miring.”
“Cabut, guys. Pintu neraka terbuka, gerah gue di sini.” Dimas and the geng berjalan menuju keluar kelas sambil menatap Keano dan Ilham dengan tatapan mata yang tajam.
“Syirik saja lo, lampu taman,” Teresa memaki Dimas.
“Sya,” sahutan dari Dimas untuk Tasya terdengar dari ambang pintu.
Tasya mengalihkan pandangannya ke pintu kelas, begitu juga dengan teman-temannya yang ada di kelas.
“Manda punya kembaran, ya?” Tasya bertanya pada dua sahabatnya.
Mita dan Teresa mengangguk, “Hati-hati, Sya.” Mita dan Teresa mengusap pundak Tasya pelan.
“Woi, yang namanya Tasya sini lo, lelet!” Ucap kembaran Manda.
Tasya bangkit dari duduknya lalu menaikkan kedua alisnya setelah melihat raeksi dari ekspresi semua teman sekelasnya terutama Keano, “ Kenapa sih? Gue yang dipanggil kok lo semua yang tegang.”
“Lo lelet banget sih Tasya!” Kembaran Manda terlihat jengkel.
“Santai dong kak, emanya mau kemana sih buru-buru banget kayak orang penting saja.” Tasya tersenyum mengejek.
“Punya nyali gede lo.” Kembaran manda melempar kunci lalu ditangkap mantap oleh Tasya.
“Kak tapi saya maunya sama suratnya juga lengkap,” tawar Tasya sambil tersenyum.
“CK, Bocil pinta diajarin. Ikut gue.” Manda dan juga kembarannya berjalan lebih dulu.
“Sya, Sya... jangan. ” Mita menarik tangan Tasya tapi usahanya gagal malah dirinya yang terbawa sampai keluar kelas oleh Tasya.
“Sya lo beneran mau ke kandang macan?” Teresa tidak percaya.
“Gue Cuma mau ambil surat mobil doang, mereka gak bakal macam-macam di sekolah.” Tasya berjalan setengah berlari menyusul Manda.
“Eh... lo pada mau kemana?” Tanya Mita kepada Dimas and the geng.
__ADS_1
“Ikut Tasya lah, Ta. Lo gak mau ikut?” Tanya Rian.
Mita dan Teresa ikut Dimas and the geng menyusul Tasya diam-diam.