Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 9 - Ya Tuhan, jauhkan hamba dari orang-orang pembawa sial


__ADS_3

“Apaan si.” Tasya menjauhkan diri dari Keano, lalu membaca isi dari buku tata tertib tanpa suara.


“Udah rangkul-rangkulan aja, cerita dong ganteng,” Ilham mencolek dagu Keano sambil tertawa gemas.


“Sya lanjutin saja. Sorry banget kalau keganggu, gue Cuma mau ambil berkas ini doang. Jangan lupa lanjutin.” Ilham menunjuk Keano menggunakan sorot matanya.


“Apanya yang dilanjutin?” Tasya membuang muka dari tatapan Ilham.


“Gue pergi, tapi lo berdua jangan melakukan hal-hal yang berlebihan. Ingat! Ini masih di sekolah.” Ilham mengacak-acak rambut Keano sebelum meninggalkan ruang osis.


“Semua peraturan sudah gue baca.” Tasya melemparkan buku tata tertib sekolah dan kemudian jatuh tepat di atas keyboard laptop milik Keano.


“Jadi, harusnya lo tahu kesalahan lo apa aja?” Keano masih fokus dengan laptopnya jadi tidak sempat melihat Tasya.


Tasya menggembungkan kedua pipinya lalu menggaruk kepala sambil melihat kaus kaki biru yang dikenakannya. Dalam buku tata tertib, siswa dan siswi diperkenankan untuk memakai kaus kaki berwarna hitam saja.


“Biasanya, murid yang melanggar peraturan akan diberi poin, dan jumlah poinnya akan disesuaikan dengan kesalahan yang dilanggar. Lo akan dikeluarin dari sekolah jika dalam setahun mengumpulkan poin sebanyak 100.”


“Kea, jangan begitu dong. Lo nyebelin banget si. Gue, janji... besok kaos kaki gue udah item.” Tasya menepuk pundak Keano beberapa kali.


“Gue kasih lo 3 poin.” Keano mengambil buku yang berisi daftar siswa dan siswi yang bermasalah dari laci meja.


“Please, Kea. Jangan poin-poinan, gue baru masuk sekolah. Bisa-bisa, belum bagi raport gue sudah di DO duluan.” Tasya memohon dengan wajah menyedihkan.


“Kea, lo gak ada baik-baiknya emang.” Tasya merebut buku milik Keano, kerena cowok itu sangat serius ingin menulis nama Tasya beserta poin dan alasannya dibuku legendnya.


“Rame banget, ada apa nih?”


Mata Tasya mencari sumber suara, “Lo siapa?” Tasya bertanya pada cowok yang berdiri di pintu.


“Lo gak tahu gue siapa?” Cowok itu seperti tertimpa musibah,


Tasya menggelengkan kepalanya, sementara Keano sibuk kembali dengan laptopnya, tidak peduli dengan buku legendnya yang masih berada di tangan Tasya.


Tasya menaikkan kedua alisnya setelah tahu cowok yang tidak dikenalnya adalah ketua osis yang sebentar lagi pensiun.


Tasya memberi dengusan pelan kepada Keano sebelum menghampiri Ketua osis.


“Ketua Osis.” Tasya mengambil papan nama yang tertulis ketua osis yang diambilnya dari atas meja.


“Tasya, ya.” Cowok itu tersenyum seperti menemukan harta karun mermaid man and barnacle boy.


“Gue Juan Andara,” Sang ketua osis mengulurkan tangan kanannya.


Tasya memindahkan buku legend milik Kea dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu berjabat tangan dengan juan, “Tasya.”

__ADS_1


Juan tertawa kecil, “Gue udah tahu nama lo. Gini ya, lo dapat informasi yang belum lo tahu yaitu nama gue, jadi gue juga ingin punya informasi dari lo yang belum gue tahu.”


Tasya menarik tangannya, “Kok, lo bisa sih jadi ketua osis. To the point, lo mau apa dari gue?”


Juan kembali tertawa, kali ini dia menyalakan laptopnya terlebih dahulu sebelum bicara. “Nomor telpon.”


Tasya tertawa cekikikkan, “Kayaknya nomor handphone gue terlalu berharga hanya dengan ditukar dengan nama lo.”


“Lo punya kaos kaki item?” Tanya Tasya.


“Kaos kaki item? Di laci kayaknya ada, cari aja.” Juan sibuk dengan handphonenya yang terus berdering memunculkan notifikasi pesan masuk.


“Ada ini dibungkus, masih baru. Buat gue, ya.” Tasya segera mengganti kaos kakinya.


“Ambil saja. Jadi, berapa nomor telpon lo?” Juan bertanya.


“Lo gak berpikir nomor telpon gue ditukar dengan kaos kaki ini, kan?” Tasya bertanya sambil tertawa pelan.


“Sabar napa, ketua osis.” Tasya yang sudah selesai mengganti kaos kakinya duduk persandar pada sandaran kursi, berlaga seperti Ceo-ceo yang ada dalam buku novel yang pernah dibacanya.


seorang siswi muncul di ambang pintu lalu menatap Juan dan Tasya bergantian diiringi amarah. Kejadian itu hanya diketahui Tasya seorang, karena Juan sibuk dengan laptopnya.


“Eh, balik lagi. Siapa dia, cewek lo?” Tanya Tasya, sementara Juan orang yang ditanyanya terlihat bingung.


“Hah, ya gitu.” Jawab Juan tidak jelas.


“Setahu gue, pengurus osis itu kerjaannya ngomel, nyuruh-nyuruh, ngukum, dan ceramah tidak jelas. Kayak gini-“ Tasya melihat Nia memasuki ruang osis di temani Rara.


“Sebagai pengurus osis lo baru dateng jam segini?” Tasya menatap Nia sambil menggelengkan kepala pelan lalu melirik jam tangannya yang menunjukkan jam 7 kurang 15 menit.


“Harusnya lo datang pagi-pagi, malu-maluin organisasi aja.”


“Ya, ampun Sya, gak gitu juga kali.” Juan menertawai akting Tasya.


“Lo mau gue hajar?” Rara melototi Tasya.


“Apaan si gak jelas.” Tasya mengibaskan poninya.


“Rara sahabatnya Nia, lo kok, kayak sensi banget sama Tasya, kenapa?” Juan bingung.


“Udahlah, Ra.” Nia menarik lengan Rara untuk keluar dari ruang osis, dan sepertinya mereka akan pergi ke kelas.


Tasya menghampiri Keano lalu meletakkan buku legend di samping laptop, “Kea, gue nitip kaos kaki. Nanti di kelas gue ambil lagi.” Tasya menyimpan kaos kakinya di dalam tas Keano oleh dirinya sendiri tidak peduli Keano mendengarnya atau tidak karena Keano masih sibuk dengan laptopnya.


“Sya, nomor telponnya?” Tanya Juan saat Tasya ingin keluar dari ruangan osis.

__ADS_1


“Kea punya nomor telopon gue, minta aja sama dia. Gue gak inget nomor telpon sendiri,” ucap Tasya sebelum meninggalkan ruang osis.


“Apaan si grandpa, kirim email mulu bukannya duit.” Tasya sibuk dengan handphonenya.


“Woi!” Rara tiba-tiba mendorong bahu Tasya.


Tasya yang baru masuk kelas dengan tanpa persiapan untuk melawan serangan Rara, akhirnya mundur beberapa langkah ke belakang sampai menabrak seseorang yaitu Keano.


“Ra, udahlah Ra. kita duduk aja.” Tasya melihat ekspresi Nia langsung berbeda saat ada Keano.


“Ya Tuhanku, jauhkanlah hamba dari orang-orang pembawa sial.” Tasya melirik Keano, Nia dan Rara secara bergantian.


“Aamiin...” Dimas and the genk masuk kelas lalu mengaminkan doa Tasya.


“Tasya, pagi-pagi sudah jajan aja,” ucap Rian sambil berjalan menuju bangkunya.


Setelah Tasya mengambil Hanphone yang tertinggal di parkiran, ia mampir ke kantin membeli 2 buah minuman cup yang sekarang ada di tangannya.


“Lo mau? Gue kasih satu .” Tasya meletakkan satu minumannya di atas meja lalu kembali ke bangkunya menghampiri Mita dan Teresa yang masih tepar.


“Itu punya gue tolol,” Rian memaki Dimas yang mengambil minuman pemberian Tasya.


“Siapa cepat dia dapat.” Dimas meminum minuman itu.


“Gila... kecut amat kayak mukanya Rajaya.” Dimas nyengir keasaman.


“Sya, kok asem banget. Kamu lagi ngidam, ya?” Tanya Dimas dari bangkunya.


“Siapa yang ngidam. Gue beli minuman asem buat bangunin teman gue.” Tasya menjawab dari bangku Ilham yang sedang di dudukinya karena dua bangkunya dipakai Mita dan Teresa.


Ya, lagi-lagi Tasya dan Keano berada dalam jarak yang begitu dekat. Sepertinya takdir tidak ingin menjauhkan mereka berdua.


“Minuman apa ini, Sya? Lo ganggu tidur gue deh.” Mita dan Teresa mengeluh.


“Bentar lagi masuk kelas, cepet abisin deh minumannya.” Pinta Tasya yang masih khusyuk dengan poselnya.


“Sya, minuman apaan si, asem banget kayak hidupnya Keano.” Teresa dan Mita bergantian menghabiskan minuman yang diberi oleh Tasya.


“Hidupnya Kea mah bukan asem lagi tapi udah pahit.” Tasya tertawa cekikikkan lalu diikuti dua sahabatnya. Sementara Keano yang sedang dibicarakan terlihat tidak peduli.


Tasya melirik Nia sekilas. “Eh, gue mau ngomong deh, sini telingan lo berdua,”


“Ekspresinya si Nia beda banget kalau Gue lagi deket sama Keano.” Tasya berbisik.


Mita tertawa, “Nanti siang gue cerita pas pelajaran penjaskes.” Mita dan Teresa tosan tangan.

__ADS_1


__ADS_2