
“Kamu punya buku tata tertib sekolah?" Tanya Bu Nina.
“Yang ini, Bu?” Tasya menunjuk buku kecil pemberian Keano.
“Jangan lupa dibaca, kali ini ini ibu maklumin. Ayo kita ke kelas.”
Tasya mengikuti Bu Nina di belakang. XI IPA 1 adalah indentitas dari pintu yang dibuka oleh bu Nina.
“Waw...”
“Bidadari turun dari kayangan.”
“Jadi mau nikah muda.”
“Ya ampun, tulang rusuk gue yang ilang udah ketemu.”
Suara hiruk piruk seperti di pasar tercipta setelah Tasya masuk kelas bersama Bu Nina. Siswa laki-laki tidak henti-hentinya berbicara omong kosong sementara siswi perempuan menyoraki siswa laki-laki yang mulutnya ganjen.
Kericuhan itu mendadak sepi sunyi setelah Bu Nina mengebrak meja menggunakan penggaris kayu yang biasa dipakai oleh guru matematika.
“Dasar bocah-bocah.” Bentak bu Nina.
“Dimas! Kamu mau nikah muda sama siapa?” Tanya bu Nina pada murid laki-laki yang berada di bangku pojok paling belakang.
“Sama Tasya Bu,” Jawab Dimas mantap.
“Tasya siapa?” Bu Nina menaikkan kedua alisnya.
“itu loh Bu, Tasya. Orang yang ibu bawa.” Jelas Dimas.
“Kamu Tasya?” Tanya bu Nina Ke Tasya, dan langsung diangguki Tasya.
“Kamu kenal dia?” Bu Nina kembali bertanya ke Tasya. Kali ini Tasya menggelengkan kepala, dan yang terjadi selanjutnya seisi kelas langsung menyoraki dimas.
“Dimas... Dimas, kasian deh kamu.” Bu Nina meledek Dimas setelah menggebrak meja mengkondusipkan kelas.
“Dimas, kamu tahu dia Tasya dari mana?” Tanya Bu Nina lagi.
“Ibu jarang buka medsos, tabloid sama majalah deh. Udah dua minggu terakhir ini majalah fashion lagi rame Bu karena yang jadi modelnya Tasya.” Dimas terlihat percaya diri saat mengatakannya.
“Ah elah, Si Dimas mah memang pemburu cewek cakep Bu. Basi banget omongannya.”
“Dukung gue napa, gini amat punya sahabat.” Dimas menyentil mulut Rian.
“Sudah-sudah. Jadi anak-anakku semuanya, perkenalkan ini teman baru kalian. Yang akur-akur, jangan pada berantem, harus tolong-menolong, sayang-menyayangi, ya.” Bu Nina menasihati.
“Iya, Bu. Sudah sayang banget malah.” Dimas kembali menyahut.
“Dimas... jangan bercanda mulu.” Bu Nina melototi Dimas.
“Maaf Bu, maaf.” Dimas nyengir kuda.
“Jadi semuanya sudah kenal Tasya, ya?” Tanya Bu Nina
“Masa, kenalannya gitu doang, Bu?” Farel protes.
“Yaelah, gue kira lo udah gak tertarik sama cewek, Rel.” Dimas menimpukki kepala Farel yang duduk di belakangnya.
“Emangnya kamu mau kenalan yang kayak bagaimana Farel, cium tangan?” Bu Nina melihat Farel dengan malas.
“Memangnya boleh Bu?” mata Farel berbinar, sementara Bu Nina menghela nafas pendek.
__ADS_1
“Yang mau tanya-tanya sama Tasya, ibu kasih waktu lima belas menit. Pertanyaannya jangan aneh-aneh?” Bu Nina melototi Dimas dan Farel di akhir kalimat.
“Aku Mita, Tasya pindahan dari mana si?” Tanya seorang siswi bernama Mita yang duduk di jajaran ke dua dari depan.
“Hallo Mita, aku Tasya. Aku pindahan dari Amerika.” Tasya menjawabnya dengan ramah.
“Kok pindah? Kenapa?” Kali ini teman sebangku Mita yang bertanya, namanya Teresa.
“Di Amerika sama Grandpa, karena disuruh tinggal sama papi, aku pindah ke Indonesia.”
“Mami?” Tanya Teresa lagi.
“Mami... Mami udah meninggal.” Tasya tersenyum tipis.
“Eh, maaf ya, gak tahu.” Teresa merasa bersalah.
“Gimana si lo, Re.” Dimas memancing emosi Teresa.
“Apaan si lo, gue gak tahu ya.”
“Kalian apa-apaan si, lupa ada Ibu?” Bu Nina menengahi adu mulut Dimas dan Teresa.
“Tasya, ulang tahun kamu tanggal berapa?” kali ini Rian mengajukan pertanyaan. Dan belasan deheman menyerbu pertanyaan Rian.
“12 Desember.”
“Tasya, hobi kamu apa?”
“Tasya, ukuran sepatu nomor berapa?”
“Tasya bagi dong nomor telponnya.”
“Udah punya pacar belum, Sya?”
“Tasya pintar-pintar ya, milih teman. Fadil, pindah ke belakang, Tasya mau duduk.” Pinta Bu Nina, sementara Tasya segera duduk di bangku yang dipilihkan Bu Nina.
Bangku itu tepat di samping bangku Teresa dan Mita, di depannya entah siapa yang sebangku dengan Keano yang sedari tadi tidak mempedulikan Tasya yang berdiri di hadapannya.
“Sya...” Sapaan pelan datang dari Mita dan Teresa, Tasya melambaikan tangan lalu tersenyum bersahabat.
Di dalam kelas ini juga ada Nia, saudara tiri Tasya. Tempat duduknya tepat di depan Dimas. Sedari tadi wajah nia terlihat seperti orang yang tidak menyangka akan sekelas dengan saudara tirinya sendiri.
“Baiklah anak-anak, hari ini adalah hari pertama kalian masuk sekolah di kelas sebelas. Selamat datang kembali di sekolah ini, dan selamat berjumpa lagi dengan Ibu. ibu juga yang akan menjadi wali kelas kalian.”
“Beneran bu?”
“Apa?”
“Boleh bu, boleh.”
“Awas ya Farel kalau kamu punya kasus terus masuk ruangan ibu.” Acam Bu Nina kepada Farel yang berteriak ‘apa’ seperti tidak setuju jika Bu Nina wali kelasnya.
“Becanda Bu, biar ibu bisa tersenyum.” Farel nyengir kuda.
“Rencana ibu hari ini, mau membentuk susunan kelas, Farel ketua kelas.” Bu Nina membuat struktur organisasi kelas di whiteboard
“Gak ah, bu. Males,” Tolak Farel. “Kea saja.” Farel menunjuk Keano sebagai ketua kelas.
“Keano, pengurus osis. Coba yang jadi pengurus osis siapa saja angkat tangan.”
“Keano, ilham, Fadil, Mita sama Nia. Nah, lima orang itu gak boleh ikut di susunan organisasi kelas.” Pinta Bu Nina.
__ADS_1
“Dimas Ketua kelas,” Bu Nina menulis nama Dimas di bagian ketua kelas.
“Siap, bu.” Ucap Dimas mantap.
“Wakil ketua kelasnya, Rian.”
“Oke, Bu.” Rian menyetujui keputusan Bu Nina.
“Perempuan siapa yang mau jadi sekretaris?”
“Tasya, Bu. Tasya,” tunjuk Dimas.
“Tasya mau jadi sekretaris?” Bu Nina memastikan.
“Boleh, Bu.” Tasya menyanggupi.
“Sekretaris dua?” Bu Nina menaikkan kedua alisnya karena tidak ada yang mau menjadi sekretaris dua.
“Nia mau, Bu.” Nia menawarkan diri.
“Daripada tidak ada, boleh deh yang ikut osis jadi cadangan struktur kelas.” Bu Nina menyetujui permintaan Nia.
“Bendahara, Teresa.” Tunjuk Bu Nina lagi seperti tidak ingin dibantah oleh siapa pun.
“Siap, Bu.” Teresa menjawabnya dengan semangat 45.
“Bendahara dua?”
“Mita, Bu.” Teresa menunjuk teman sebangkunya, lalu disetujui Bu Nina.
“Pelajaran ibu habis, untuk bagian seksi-seksi kalian bisa pilih sendiri ya fleksibel saja.” Bu Nina menutup spidol yang sedari tadi digunakannya untuk menulis struktur organisasi kelas.
“Yang akur-akur, teman barunya diajakin.” Nasihat Bu Nina sebelum meninggalkan kelas.
“Sya tukeran nomor telepon dong.” Ucap Teresa sambil menyambar kursi kosong di samping Tasya diikuti Mita.
“Boleh, nih.” Tasya mengeluarkan poselnya.
Sementara di pojok paling belakang. “Dimas, lo ke ruang guru terus cari guru kimia masuk kagak.” Perintah Rian.
“Gak ah guru ribet, males gue.”
“Beneran gak mau, yaudah gue aja sama Tasya yang cari guru kimia.” Rian sudah bersiap bangkit dari duduknya.
“Gak-gak, gue ketua kelasnya. Itu tanggung jawab gue.” Dimas mendorong bahu Rian sampai duduk kembali.
“Ayang Tasya, cari guru kimia yuk.” Dimas berjalan menghampiri Tasya yang asyik mengobrol dengan Teresa dan Mita.
“Lampu taman, lo bisa cari guru sendiri ya. Ganggu aja.” Teresa nyolot.
“Maaf ya, Re, kalo buat lo cemburu, tapi tipe cewek idaman gue itu udah naik level.”
“Bodo amat, gue gak peduli.” Teresa kembali sibuk dengan hpnya.
“Dimas, gue gak bisa, maafin gue ya. Seragam gue beda, malu kalau keluar kelas keliatan anak barunya.” Tasya merasa tidak enak.
“Sya, lo gak usah malu karena seragamnya beda tapi malulah karena jalan sama lampu taman,”
“Gak guna banget lo jadi sahabat,” Dimas melempari Rian yang sudah mengatainya menggunakan pulpen yang ada di meja Tasya.
“Eh, pulpen gue.” Mita melotot.
__ADS_1
“Sya, ayo.” Ajak Dimas, lalu Tasya mengikutinya di belakang.
Dimas bersorak menang lalu melambaikan tangan kepada Rian.