
“Hm,” Rajaya fokus membereskan alat sekolahnya dan sama sekali tidak melirik bu Eka.
“Tasya jangan diulangi lagi ya kesalahannya,” ucap bu Eka di ambang pintu.
“Gak janji bu,” Tasya tersenyum semanis mungkin.
“Iya Bu, iya.” Tasya terkekeh saat Bu Eka melototinya.
“Sya... jangan lupa rencana lo yang udah dirancang,” Teresa mengedipkan sebelah matanya.
“Besok kita tunggu ceritanya,” tambah Mita.
“Siap,” Tasya memberi jempol. Lalu melirik Nia sekilas, Baiklah kita lihat apa rencana busuk lo Nia.
“Sya lo maafin gue kan yang tadi?”
“Lo halangin pintu, yang lain mau lewat, minggir.” Tasya masih bicara dengan baik-baik kepada Rajaya.
“Gak,” wajah Rajaya terlihat begitu santai, tidak mempedulikan Tasya dan teman satu kelasnya yang berdiri menunggu Rajaya membuka jalan.
“Lo sendiri kita sekelas, lo mau mati dihajar kita, hah?” Tasya melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Rajaya terkekeh, “Siapa yang berani sama gue sini maju!” Rajaya menatap satu persatu wajah teman sekelasnya.
“Kita imbang, satu lawan satu,” Rajaya ikut melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Tasya memutar badannya, melihat teman sekelasnya mundur beberapa langkah ke belakang termasuk dua sahabatnya Teresa dan Mita.
Jika saja Teresa dan Mita tidak ditarik oleh Dimas, mungkin saat ini Tasya masih memiliki pendukung dari dua sahabatnya untuk melawan Rajaya.
“Rajaya lo kenapa sih? Akhir-akhir ini lo beda tahu gak, mendingan lo balik lagi kayak dulu deh jadi tukang ngebo yang gak peduli sama siapa pun.” Teresa kesal.
“Gue bilangin mami Riri kalau lo suka jailin Tasya,” ancam Mita sambil bertolak pinggang.
Mita dan Mami Riri alias maminya Rajaya cukup dekat, itu semua karena Rajaya selalu berhubungan dengan pengurus osis dan juga BK.
Mami Riri selalu percaya dengan apa yang dikatakan Mita mengenai semua kelakuan Rajaya di sekolah. Bahkan Mami Riri meminta Mita untuk memata-matai Rajaya walaupun Mita sangat malas melakukannya.
“Bilangin aja, gakpapa,” ucap Rajaya baik-baik.
“Minggir,” Tasya berusaha menyingkirkan lengan Rajaya yang menghalangi pintu.
“Coba saja sampe ca-“ Rajaya menghentikan ucapannya karena terkejut, Tasya memeluknya sampai terbawa keluar kelas.
Dengan posisi Berdiri yang tidak siap, dengan mudahnya Tasya membawa Rajaya ke luar kelas dan berakhir menghempaskan tubuh Rajaya sampai jatuh ke lantai.
“Mau banget gue hajar.” Tasya mendegus kesal sebelum pergi.
Rajaya terkekeh tanpa menunggu lama dirinya juga bangkit lalu berlari mengejar Tasya. Begitu juga dengan Mita dan Teresa, setelah tidak ada yang menghalangi pintu mereka berlari mengejar orang yang sama dengan yang dikejar Rajaya.
“Mau apa lagi sih?” Tasya benar-benar kesal dengan Rajaya saat ini.
__ADS_1
Rajaya yang sedang mencengkram lengan Tasya terkekeh karena berhasil mengejarnya.
“Gak, lo pada balik. Jangan ganggu.” Rajaya menunjuk Teresa dan Mita yang ingin mendekat.
“Mau lo apa sih?” Tasya menggunakan satu tangannya untuk mencengkram kerah baju Rajaya.
“Sya... Jangan galak-galak. Ikut aku bentar.” Rajaya memelas sambil membawa Tasya menuju parkiran.
“Lo hack akun avarelic,”
“Gue gak ngerti apa yang lo omongin.” Tasya mendorong Rajaya yang terus menempel dengannya lalu memakai kacamata karena diparkiran begitu ramai.
Rajaya terkekeh, “Lo tahu apa aja tentang gue dari website sialan itu.” Rajaya menghadang jalan Tasya.
Kali ini Tasya yang terkekeh, “semuanya. Kenapa? Lo gak terima?”
Rajaya menatap Tasya tanpa berkedip. Tasya mundur perlahan sampai mentok di sebuah mobil.
“Minggir,” Tasya mendorong lengan Rajaya yang mengapit tubuhnya dari sisi kanan dan kiri, tapi usahanya gagal.
Rajaya tersenyum lebar saat Tasya duduk di atas kap mobil.
“Sya, menurut lo gue orang jahat ya?”
Tasya melirik Rajaya, “Jawabannya udah jelas, lo pakai tanya.”
“Jangan percaya apapun kalau bukan dari sumbernya langsung.” Rajaya masih menatap lekat wajah Tasya.
“Gue lebih baik percaya bukti daripada omong kosong lo.”
“Gak, lo pergi. Ganggu aja!” Rajaya sewot sambil mengibaskan tangannya agar Nia cepat-cepat pergi.
Gue lupa, si Nia kan punya rencana busuk. Tasya mengingat saat dirinya menguping pembiaraan Nia ketika di toilet.
“Gak Sya, lo mau kemana? Gue belum selesai ngomong.” Rajaya menahan pinggang Tasya agar tidak turun dari kap mobil yang sedang di dudukinya.
“Buruan lo mau ngomong apa? Gue mau balik.”
“Hubungan anggota Avarelic lagi pecah-pecah, Sya. Avarelic lagi gak kompak, kalau lo mau hancurin mereka gue dukung Sya. Lo Cuma hati-hati aja sama Alda dan juga Leo,” ucap Rajaya pelan agar hanya Tasya saja yang bisa mendengarnya.
Tasya mendorong Rajaya lalu tersenyum mengejek, “Gue mau balik.”
“Mau gue anterin? Ini mobil gue.” Rajaya menahan Tasya.
“Gak perlu.”
Rajaya menatap kepergian Tasya beberapa saat lalu memasuki mobilnya dan menancapkan gas keluar dari area sekolah.
Harusnya Nia belum jalan jauh, apa rencana busuknya sudah kelar ya?
Tasya mengendarai mobilnya sangat pelan sambil menengok kanan dan kiri siapa tahu ada kejadian yang ganjil.
__ADS_1
“Mangsanya Kea, udah gue duga. Drama banget hidupnya si Nia,” Tasya tersenyum lebar melihat perkelahian antara dua preman melawan Keano yang hanya seorang diri.
Tasya menggunakan skill balapan liarnya untuk menyerempet 2 preman yang sedang berkelahi dengan Keano.
“Kea, lo gakpapa?” Tasya turun dari mobil sambil melepas dasi.
Keano menggelengkan kepala, sementara raut wajah Nia sedikit memburuk.
“Cih, bocah tengil cantik juga. Kita jual auto kaya.” Bukannya kapok telah diserempet Tasya, 2 preman itu terlihat bersemangat seperti hujan emas.
Tasya terkekeh, “Jual gue?”
Tasya juga begitu bersemangat, entah kapan terakhir kali dirinya mengeluarkan jurus karate.
Jika di sekolah Tasya harus menahan diri untuk tidak baku hantam dengan Manda, Alda ataupun siapapun menggunakan gerakan karate mematikannya, tapi tidak untuk sekarang.
Bug! Bag! Plak! Krek!
Tasya tersenyum lebar, walaupun gerakkannnya tidak sesuai ekspetasi karena salah satu tangannya sedang cedera, tetapi 2 preman di hadapannya sudah terkapar pingsan.
“Hallo, Kantor polisi....” Tasya mengikat tangan preman itu sambil menghubungi polisi.
“Gue bantu, Sya.”
“Dari tadi kek,” Tasya membiarkan Keano yang mengikat tangan preman itu.
“Sya, gue gak diapa-apain kok sama mereka, gak harus dilaporin ke kantor polisi.” Raut wajah Nia kali ini benar-benar panik.
“Lo gak denger tadi mereka mau jual gue? Mereka terlalu berbahaya kalau dibiarkan terus, bayangin kalau gue gak bisa bela diri gue udah dijual ke om-om kaya, ih ogah.” Tasya bergidik ngeri.
“Udah deh lo gak usah panik begitu, noh mobil polisi. Gue pastiin mereka dipenjara seumur hidup,” Tasya tersenyum kemenangan.
Keano menghampiri Tasya dan Nia setelah memberi keterangan kepada polisi. “Mereka udah dibawa polisi, Nia, lo gak usah panik lagi. Lo mau pulang bareng Tasya?”
“Gak, bareng lo saja.” Tasya menolak keras. Sangat malas jika harus satu mobil dengan si Nia.
“Semua ini lo lakuin buat dapet simpatinya Kea?” Tasya berbisik kepada Nia, sementara Keano berjalan jauh di depannya.
“Kasian... gue gagalin,” Tasya terkekeh.
“Lo jauh-jauh deh dari Keano, lo itu duri di dalam hubungan gue dan Keano,” Nia menunjukkan kekesalannya.
“Akhirnya lo buka topeng, capek ya sandiwara dengan gue?” kekehan Tasya semakin menjadi.
“Kenapa?” Keano menoleh ke belakang.
“Gakpapa,” Tasya berhenti terkekeh lalu melirik Nia sinis.
“Kemenangan gak selalu dipihak lo,” Nia mendorong bahu Tasya.
“Jadi lo berpikir kalau gue selalu menang gitu? Padahal gue belum pernah merasa menang.” Tasya mengibaskan jejak tangan Nia di bahunya, lalu menghampiri mobilnya.
__ADS_1
“Sya, lo pulang. Papi mau bicara sesuatu sama lo,” ucap Nia dengan drama yang sok pura-pura baik.
“Hm,” Tasya menutup pintu mobil dengan keras.