Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch 15 - Nia si pemisah jarak antara Tasya dan Kea


__ADS_3

“Masih lama Sya eskulnya?” Kepala Mita tiba-tiba nonghol di pintu.


“Ini sudah kelar,” Tasya dan Rendy keluar dari ruang musik.


“Tinggal lo berdua doang, gila.” Mita tidak percaya.


“Tadi banyakan sih, Cuma yang lain punya double ekskul dan bentrok sama musik jadi mereka keluar duluan,” Jelas Tasya.


“Eskul musik sih nyantai. Eskulnya memang Cuma hari selasa doang tapi tiap hari boleh kok mampir ke sini, Sya, bawa teman lo juga boleh.” Ucap Rendy sambil mengunci pintu.


“Kak Rendy baik banget sih,” Mita tersenyum lebar.


“Sya, langsung balik?”


Tasya dan Mita menoleh ke belakang, “Mau samperin Teresa, ada apa ya kak?” Tasya menaikkan kedua alisnya.


“Ke anak olahraga ya? Kakak juga mau ke sana nyamperin temen. Katanya semua anak eskul di bidang olahraga lagi kumpul di lapangan basket buat persiapan acara ulang tahun sekolah.” Rendy berjalan di samping kiri Tasya.


“Kayaknya acara ulang tahun sekolah spektakuler banget ya.” Tebak Tasya.


“Setiap mau ulang tahun, sekolah ini selalu buka turnamen lomba-lomba kayak gitu Sya, antar sekolah pula dari tingkat SD Sampai SMA, selama satu minggu dan puncaknya saat sekolah ulang tahun.” Rendy menambahkan.


“Itu, Teresa.” Mita menunjuk anak futsal yang bekumpul di sebelah kanan lapangan basket. Mata Tasya mengikuti jari telunjuk Mita lalu melambaikan tangan ke arah Teresa.


“Aduh, gue haus banget lagi, Sya gue beli minum dulu ya,” Mita pergi begitu saja.


Saat Mata Tasya menyapu seisi lapangan basket, kedua matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Keano dan hal tersebut berangsur cukup lama.


“Apaan sih, aneh deh,” gumam Tasya lalu mengalihkan pandangannya dari Keano.


“Kenapa, Sya?” Rendy melirik Keano.


“Hah, enggak. Teman kakak kelas 11 ya, yang mana?” Tasya bertanya balik.


Rendy salah tingkah, “Itu... kakak kira ada kelas 12 nya, ternyata kelas 11 semua.”


Tasya mengerutkan alis lalu duduk di tribun penonton, begitu juga dengan Rendy dia duduk di samping Tasya seperti tidak ingin jauh-jauh dari gadis itu.


“Masih lama gak sih mereka?” Mita datang dengan 3 botol air mineral di tangannya lalu membaginya kepada Tasya dan Rendy.


“Thanks, Kayaknya bentar lagi juga bubar sih,” Rendy memakai earphone lalu bernyanyi.


“Sya, nanti malem ada acara gak?” Rendy kembali buka suara.


“Ada kak, emangnya kenapa?” Tasya balik bertanya.


“Oh, ada ya. Tadinya sih mau ajak kamu jalan, tapi ya udah deh masih ada malam berikutnya,” Rendy memberikan senyum tulusnya kepada Tasya, sementara Mita menahan diri sekuat tenaga untuk tidak tertawa.

__ADS_1


“Sya gak diminum airnya?” Mita menyenggol lengan Tasya.


“Nanti gue minum kalau haus, tunggu di parkiran aja yuk,” Tasya bangkit dari duduknya.


“Ya ampun Sya, cowok baik lo sia-siain.” Mita menyandarkan punggungnya ke mobil Tasya sambil melihat kepergian mobil Rendy.


“Guys, nungguin ya?” Teresa mengejutkan Tasya dan Mita.


“Re, lo bau ketek sumpah,” Mita mencubit hidungnya.


“Cium ini ketek,” Teresa memeluk Mita erat.


“Guys... yang punya mobil datang, jangan halangin pintu masuknya.” Tasya menarik dua sahabatnya.


“Eh, mau balik ya.” Mita membuka jalan untuk Keano.


“Jarang-jarang ini mobil kita sejajar dengan Kea paling depan, berasa anak rajin gue,” Teresa terkekeh begitu juga dengan Mita.


Keano terbatuk-batuk tapi bukannya berhenti malah semakin menjadi, bukan batuk lebay tapi seperti batuk keselek sesuatu yang entah apa.


“Aduh lo bisa batuk juga Kea, makanya kalo nafas itu yang bener, gerogi ya liat Tasya?” Tanya Teresa.


“Yaelah ini mah batuk keselek omongan lo, Re.” Timpal Mita.


Tasya melihat Nia dengan seragam cheerleader berlari menuju dirinya.


Tasya berharap setelah Nia melihat tindakannya terhadap Keano, Nia bisa pergi. Tapi harapannya bertolak belakang.


“Sya, pulang bareng ya.” Nia pemisah jarak antara Tasya dan Keano saat ini.


“Gak ah, gue mau ke rumah Mita,” tolak Tasya lalu membuka pintu mobilnya.


“Kita cabut. Bisa bengek idung gue cium ketek lama-lama.” Mita dan Teresa menghampiri mobilnya masing-masing.


“Tapi Sya, papi gak bisa jemput gue. Lo tega sama gue.” Nia menggedor gedor kaca mobil Tasya.


“Please Sya, gue takut pulang sendiri,” ucap Nia dengan menyedihkan. Tidak malu jiga dramanya diperhatikan Keano.


Tasya menurunkan kaca mobilnya, “Lo bisa bawa mobil gak?” Tasya melihat Mita mengangguk pertanda bisa mengendarai mobil sendiri.


“Pakai mobil Manda,” Tasya memberi kunci mobil beserta surat-suratnya sebelum pergi meninggalkan parkiran.


“Tapi Sya, ini-“ Nia bengong, bukan ini yang diharapkannya. Nia berharap dia akan dicampakkan Tasya lalu ditinggalkan di parkiran, dan karena ada Keano Nia akan meminta bantuan Keano untuk mengantarnya pulang.


Keano yang sudah yakin tidak akan ada pertikaian antara Tasya dan Nia, dirinya menyalakan mobil lalu melesat keluar dari kawasan sekolah.


***

__ADS_1


“Welcome to my house,” Mita membuka pintu kamarnya.


“Pokoknya, saya tidak mau kalau sampai ada debu di kamar ini,” ucap Teresa dengan peran antagonis.


“Yaelah, so lu.” Tawa ketiganya pecah bersama.


“Re, lo tahu gak, Tasya abis nolak kencannya Rendy.”


Teresa melotot mendengar pernyataan Mita, “Demi apa lo? Ya ampun Sya, demi apa lo nolak DIA?” Teresa menelungkupkan dua tangannya di pipi Tasya.


“Ya, demi lo berdua lah.”


Mereka bertiga berpelukkan lalu menjatuhkan diri di atas kasur dengan tawa yang sudah mengisi kamar Mita.


“Non-non cantik... makanan sudah siap,” teriak asisten rumah tangga Mita Bi Mimi.


“Gila sih, gue jadi penasaran bagaimana reaksi Rendy saat ajakannya di tolak Tasya, Biasanya kan dia nolak cewe sekarang dia di tolak cewek.” Tawa Mita dan Teresa pecah saat makan.


“Eh, guys. Tapi gue takut dikarma.” Tasya tersenyum miris.


“Ya gak bakal dikarmalah, kan lo nolaknya karena sahabat, kalo karena Keano misalkan mungkin Karma lo lagi OTW.” Mita berkata setengah tertawa.


“Non-non ketawanya nanti lagi ya, kan lagi makan sayang kalo keselek. Cantik-cantik tapi keselek.” Bi Mimi menasihati.


“Eh, ini siapa? Cantik sekali.” Bibi Mimi melirik Tasya setelah menghidahkan masakannya di atas meja makan.


“Namanya Tasya, Bi. Sahabat aku pindahan dari amerika, keren gak Bi?” Mita menaik turunkan kedua alisnya, sementara bi Mimi mengacungkan jempol.


“Saya Tasya, Bi. Salam kenal, Bibi sudah makan belum?” Tanya Tasya sopan.


“Iya, non Tasya. Bibi sudah makan kok tadi sambil masak. Bibi tinggal dulu ya non-non cantik,” Bi Mimi pergi menuju halaman belakang.


***


“Jadi lo ke Indonesia karena itu,” Teresa memainkan rambut Tasya. Bereka bertiga saat ini berada di kamar Mita lebih tepatnya sedang duduk di atas kasur menyimak cerita kehidupan Tasya terutama keluarganya.


“Apa lo masih ngarep Sya bisa balik ke Amerika?” Tanya Mita.


Tasya menggelengkan kepala, “Kayaknya gak deh, gue sudah punya lo berdua yang jadi keluarga gue.”


“O.........” Mita dan Teresa memeluk Tasya dengan erat.


“Udah ah, gue mau tidur. Jarang-jarang jam tidur gue panjang.” Tasya membungkus tubuhnya sampai kepala menggunakan selimut.


“Sya mau gak kita ceritain tentang Alda sama Manda?”


“Gue dengerin sambil tiduran,” Tasya membuka selimut yang menutupi kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2