
“Ta, gue ke rumah lo nya nanti malem ya, mau nganter mami shopping,”
“Iya dah yang mau shopping gak ajak-ajak. Kayaknya gue juga balik telat soalnya kan kemarin osis diliburin dulu. Sya, kalo les lo selesai tungguin gue ya,” Pinta Mita.
“Iya, nanti gue tungguin lo. Gue duluan ya, mau nganter Salsa balik dulu,” Tasya berjalan lebih dulu bersama Salsa menuju parkiran.
“Salsa, rumah lo jauh?” ucap Tasya yang sedang menyetir mobil.
“E... Lumayan deket sih Sya,” Salsa gugup.
Tasya terkekeh, “Emang gue semenakutkan itu ya? Lo kayak takut banget sama gue.”
“Maaf Sya. Tapi gue belum pernah liat orang kayak lo, lo berani sama Rara, Rajaya dan juga Kak Leo.” Kali ini Salsa semakin gugup karena takut salah bicara dan menyinggung Tasya, bahkan tangannya sampai bergetar.
“Kalau kita benar kenapa harus takut. Salsa, gue gak bakal melototin lo atau gue juga gak bakal mukul lo kayak gue mukul Leo. Lo juga teman gue kali, kita teman sekelas, terus kalo lo ada apa-apa ATAU diapa-apain lagi sama orang bedebah itu bilang saja ke gue.” Tasya melirik Salsa yang masih ketakutan.
“Salsa jangan takut gitu dong, gue merasa jadi siluman, sakit hati gue diliatin kayak begitu.” Wajah Tasya memelas.
“Nah begitu dong,” Tasya ikut tersenyum setelah Salsa juga tersenyum mencoba untuk akrab dengan Tasya.
“Salsa, lo kan pinter sampe dapet beasiswa, tugas lo tinggal belajar yang rajin ngerjain tugas tepat waktu dan terakhir jangan pedulikan orang lain yang nyuruh-nyuruh lo ngerjain tugas mereka. Mulai sekarang kalau ada yang berani nyuruh-nyuruh lo bilang gue,” Tasya fokus menyetir sementara Salsa menganggukkan kepalannya.
“Eh, bis sekolah?” Salsa terkejut setelah membuka notif pesan masuk dari grup kumpulan anak penerima beasiswa SMA Garuda Internasional.
“Kenapa?” Tasya ikut penasaran.
“Ini Sya, sekolah menyediakan fasilitas bis sekolah untuk mengantar dan menjemput ana-anak penerima beasiswa.” Salsa masih fokus dengan ponselnya.
“Bagus dong, sekarang lo aman di jalan karena ada bis sekolah, dan juga aman di sekolah karena gue jagain,” Tasya dan Salsa terkekeh bersama.
“Sya, mau mampir dulu gak?”
“Boleh, deh. Boleh.” Tasya ikut turun dari mobil lalu memasuki kosan 3 petak.
“Maaf Sya, Cuma ada air putih doang.” Salsa menaruh sekelas air putih di atas meja.
“Gakpapa, gue diajak mampir aja udah bersyukur,” Tasya mengambil gelas tersebut lalu meminumnya bersamaan dengan nada dering pesan masuk dari poselnya.
+628---------
Sya, les bentar lagi masuk. Lo belum tahu bu Eka kalau sampe lo telat masuk.
__ADS_1
Tasya tersedak air putih yang sedang diminumnya. “Aduh, Salsa gue gak bisa lama-lama, Si Kea bener-bener rese.”
Salsa mengantar Tasya menuju mobil, “Sya, kedatangan lo membuat keajaiban.”
Tasya menghentikan langkahnya lalu melirik Salsa dengan dahi mengerut, “Keajaiban? Gue bukan Tuhan ataupun dewa.”
Salsa terkekeh, “Lo bisa buat Keano peduli dengan kegiatan lo, dan lo juga bisa buat Rajaya terkekeh.”
Tasya kembali berjalan, “Salsa, Keano bukan peduli, dia orangnya rese gak mau liat gue happy sebentar kerjaannya nyeramahin dan ngatur gue mulu, soal Rajaya, lo nya aja kali yang baru liat ketawa Rajaya.”
Salsa menyamakan langkahnya di samping Tasya, “Sepanjang gue sekelas sama Rajaya, Rajaya emang belum pernah terkekeh, senyum pun kayaknya mustahil. Lo gak inget reaksi anak di kelas saat Rajaya terkekeh karena lo.”
Tasya menggaruk keningnya, “Ya bagus deh, biar Rajaya gak kaku amat kayak Keano. Oh iya Keano... Salsa gue berangkat ya sebelum digorok Keano karena terlambat.”
“Iya Sya, hati-hati. Makasih juga sebelumnya karena udah mau anterin gue.” Salsa diberi bunyi klakson mobil sebagai salam perpisahan dari Tasya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Ya ampun, Kea... Gak online gak offline muka lo datar aja. Buruan dimana tempat les matematika?” Tasya terkekeh melihat wajah Keano yang ada di layar ponselnya.
Sebenarnya Tasya duluan yang menghubungi Keano Via VC, itu semua karena Tasya belum tahu dimana tempat les matematikan yang pernah disebutkan Bu Eka.
Keano memutar tubuhnya menatap datar Tasya yang sudah ada di dekatnya, Keano belum selesai menyampaikan rute dari parkiran menuju ruang les matematika tetapi Tasya sudah berada di tempat tujuan.
“Biasa aja kali muka lo, gue tadi minta orang di koridor untuk anterin gue ke sini, itu orangnya,” Tasya menunjuk siswi yang yang sedang berjalan menjauh.
“Gue matiin ya VC nya. Muka lo gak enak diliat,” Tasya mengintip ruang les melalui jendela dan mendapati anak-anak lain yang masih asyik mengobrol.
“Lo boongin gue yak, katanya bentar lagi les dimulai,” Tasya mencubit lengan Keano.
“Sya, Leo sudah nyamperin lo, lo gak takut?”
Tasya berhenti mengintip lalu menatap Keano dalam-dalam, “Keano Algesha, kenapa gue harus takut? Baru ditendang aja dia sudah rapuh.”
“Justru gue lebih takut sama lo. By the way, gue refleks cubit lo, jangan dendam ya Kea, apalagi bunuh gue,” Tasya mengusap lengan Keano di tempat yang dicubitnya tadi.
“Gue pernah bilang, gue bukan teman psikopat lo yang ada di Amerika.” Wajah Keano masih datar.
“Memang buka sih tapi mirip,” Tasya tersenyum miris.
“Keano, Tasya kenapa masih di luar? Ayo masuk,” Pandangan mata Bu Eka jatuh ke tangan Keano yang sedang diusap lembut oleh Tasya.
__ADS_1
“Anak-anakku semua, di ruangan ibu gak boleh ada yang pacaran ya,” sapa bu Eka setelah masuk ruangan les.
Tasya menghembuskan nafas pelan, heran dengan orang-orang yang selalu salah paham antara dirinya dan Keano.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Kea, lo tahu avarelic sejauh mana?” Tasya berjalan di samping Keano.
Pertanyaan tersebut yang ingin segera diucapkan Tasya kepada Keano setelah les matematika selesai.
“Jauh dari yang lo atau teman-teman lo yang tahu,” ucap Keano datar. Tasya menahan diri untuk tidak memaki atau sekedar mengumpati Keano.
“Lo mau gue ceritain?” Keano melirik Tasya.
“Semua yang lo tahu?” Tasya menaikkan kedua alisnya.
Keano mengangguk, “Semua.”
“Gue pegang kata-kata lo,” Tasya menepuk pundak Keano.
“Kea, Planning ke dua buat acara Birtday Party school ada yang-“ Nia menghentikan ucapannya lalu melirik Tasya yang berada di samping Keano.
“Sya, mau balik?” Tanya Nia kepada Tasya.
Tasya memutar bola matanya malas lalu memakai kacamata hitam, “Bukan urusan lo?”
“Sya, balik dulu ke rumah, papi nanyain,” Nia memohon.
“Gak, ah. Gue sibuk.”
“Tasya... come here.” Teriak Mita sambil melambaikan tangan.
Tasya menatap Keano dan Nia bergantian sebelum pergi.
***
Udah chapter 20 nih...
Mana komennya? Likenya juga, yang paling pasti Favorit...
semangat... semangat...
__ADS_1