
“Nanti kalau rencannya berhasil, duitnya gue tambah. Ingetnya balik sekolah terus lo jangan kasar-kasar sama targetnya, soalnya itu cowok gue.”
Setelah meninggalkan Keano, Tasya pergi menuju toilet dan tidak sengaja mendengar pembicara Nia dengan entah siapa yang ada di telpon.
Ceklek
Tasya segera masuk ke toilet yang lain sebelum ketahuan oleh Nia, kalau dirinya sudah menguping.
“Ketahuan juga busuk lo,” Tasya melihat Nia yang sudah kembali lagi ke kelas.
***
“Aduh, anak solehah pulan-pulang bawa senyum dapet rezeky apa sih, Sya?” Mita terkekeh saat Tasya datang.
Tasya duduk di depan Mita dan Teresa lalu meraih ponselnya yang sedari tadi dimainkan dua sahabatnya.
“Di tembak Dion?” Mita bertanya.
Tasya berdecak lalu menggelengkan kepala, “Bukan.”
“Diajak jalan sama Rendy?” Teresa menebak.
“Ih, bukan.” Ucap Tasya sambil memainkan ponselnya.
“Di cium, Keano.” Ucap Mita dan Teresa bersamaan.
Tasya terkekeh, “Itu bukan Rezeki, tapi musibah.”
Tawa ketiganya pecah bersama.
“Lo mau tahu?” Tanya berusaha menahan senyumannya. Sementara Teresa dan Mita menganggukkan kepala.
Tasya melirik Nia sesaat lalu membisikkan sesuatu kepada Teresa dan Mita secara bersamaan.
“Yang bener, sebanyak itu?” Mita membulatkan matanya.
“Sya, ikutan dong.”
“Apaan si lo, minggir,” Tasya menjauhkan kepala Rajaya.
“Gila, gak nyangka gue,” Kali ini Teresa yang terkejut setelah mendengar bisikkan Tasya.
Tasya terkekeh lalu melirik Nia sambil tersenyum mengejek.
“Lo pembawa sial, sini kalau mau ribut,” Rara menunjuk wajah Tasya.
“Apaan si lo gak jelas,” Teresa yang menyahut.
“Suuuut, BERISIK!” Rajaya kembali duduk setelah melototi seisi kelas.
“Mau Sya, dibisikkin,” dengan manjanya Rajaya mendekatkan kepalanya ke Tasya.
“Gak, lo minggir,” Tasya menjauhkan kepala Rajaya, “Jauh-jauh dari gue.”
“Suuuut!” Rajaya meletakkan telunjuknya di bibir.
“Woi KM, istirahat udah selesai cari guru,” Dimas yang sedang rebahan menunjuk wajah Rajaya.
Rajaya melempar botol air dari meja Teresa karena tidak terima dirinya ditunjuk dengan kasar oleh Dimas.
“Ayo, Sya ikut aku,” Rajaya menarik lengan Tasya agar bangkit dari duduk.
“Gak, mau,”
__ADS_1
Rajaya tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapih melihat Tasya memayunkan bibir sambil menggelengkan kepala meniru gaya manja dirinya tadi pagi.
Teresa dan Mita terkekeh geli, “Rajaya, lo suka ya sama Tasya?”
“Cie, lo suka sama gue,”
Tasya menoyor jidat Rajaya, “Lo gak boleh suka sama gue titk.”
Rajaya mengejar Tasya yang lebih dulu keluar kelas.
***
“Keren Ini loker gue, ada gambar setannya,” Teresa menempelkan berbagai sticker hantu di pintu loker miliknya.
Mita ngakak sendiri, “Lo parah sih, gak pernah berubah.” Mita juga sedang menempelkan sticker nama dirinya di pintu loker.
“Re, lo orang pertama yang isi loker,” Tasya yang juga sedang menempelken stiker nama dilokernya sambil melirik Teresa yang sedang memindahkan isi dari tasnya ke dalam loker.
“Beban tas gue besar, Sya. Gue pindahin sebagian,” Teresa masih sibuk dengan kegiatannya.
Setelah pelajaran kimia yang diajar Bu Firda berakhir, Bu Eka sang guru matematika meminta anak-anak untuk istirahat lebih dulu dengan alasan yang sama seperti yang diucapkan minggu lalu.
Istirahat tersebut digunakan oleh sebagian siswa untuk menamai lokernya, termasuk Mita, Teresa dan juga Tasya yang sudah mendapatkan kunci loker dari Rajaya.
“Re, lo gak jadi tobat? Katanya mau jadi anak polos ka si-“ Mita tidak melanjutkan perkataannya.
“Nia polong,” Lanjut Teresa sambil menutup pintu lokernya.
Mita mengerutkan alis, “Polong? Apaan?”
Tasya dan Teresa terkekeh.
“Makanya kalo Tasya lagi cerita lo jangan tidur, gak tahu kan,” ucap Teresa sebelum membisikkan sesuatu kepada Mita.
“Sini lo kalau mau ribut sama gue, bacot doang yang gede,” Rara tidak terima jika Nia digibah sambil ditertawakan oleh Tasya and the geng.
“Ribut mulu lo kerjaannya, Nyi Rara ratu pantai selatan,” Teresa memutar mata malas.
“Nyi Roro, sayang.” Dimas masuk kelas lalu di susul sahabatnya yang lain termasuk juga Rajaya.
Rara dan Dimas sempat perang mata walaupun sebentar, setelah itu Dimas and the geng menghampiri Teresa yang sedang asyik lesehan di lantai.
“Ehem... udah sayang-sayangan aja nih,” celetuk Mita tapi matanya masih fokus ke layar handphone milik Tasya.
“Ngapain sih lo ke sini?” Teresa mendorong Dimas, tapi karena usahanya gagal Teresa kembali menonton video yang sedang diputar di layar ponsel Tasya.
“Nonton apaan sih?” Rian mengambil ponsel Tasya.
“Nonton ajang modus, buat inspirasi Mita,” Teresa terkekeh lalu mengusap lembut kepala Mita.
“Lo yang doyan modus, Re.” Mita membalas.
“Suuuut, udah. Kasian Tasya jadi tameng, liat King cobra sudah melotot,” Dimas terkekeh.
Karena Tasya berada diantara Teresa dan Mita yang sedang perang tangan, sesekali Tasya kena getah. Walaupun Tasya tidak marah tapi Rajaya yang duduk di depan Tasya melototi Dimas begitu tajam walaupun sedang makan es krim, entahlah kenapa dimas yang harus dipeloti harusnya kan Teresa dan Mita.
“Lo yang minggir, ganggu aja,” Teresa menyingkirkan lengan Dimas yang melingkari bahunya.
Tasya menatap Dimas dengan tatapan yang begitu datar, baru saja Teresa dan Mita berhenti perang tangan, sekarang perang itu berpindah kepada Dimas dan Teresa.
“Doyan ribut lo berdua,” Mita menarik dua kaki Teresa dan secara otomatis si punya kaki ambruk di atas tubuh Dimas.
Tasya yang melihat Teresa berhasil menopang tubuhnya menggunakan tangan segera menindih Teresa.
__ADS_1
“ANJI*G Dimas, mesum di kelas,” Rian dan Mita tertawa bengek begitu juga Farel sementara Rajaya tersenyum tipis.
“Sya.” Protes Teresa dan Dimas bersamaan kepada Tasya yang menindihnya.
Tasya terkekeh, “Gak tahu tempat lo Dimas.”
Rajaya membantu Tasya duduk sebelum gadis itu jatuh dipelukkan dimas karena Teresa berhasil kabur dari himpitan Tasya.
“Modus lo,” Teresa memukuli Dimas tanpa ampun.
“Re, gue gak sengaja Tasya yang-“
“Apa lo nuduh gue, udah bagus dicomblangin,” Tasya menendang kaki Dimas.
Teresa segera duduk diantara Tasya dan Mita karena Dimas ingin menerkamnya.
“Anjir bandan gue ringsek, kalau di kasur enak nih,” Dimas bangkit dari rebahan.
“Macem-macem sama Teresa gue patahin leher lo,” Tasya kembali menendang kaki Dimas.
Dimas terkekeh, “Aduh king cobra mesumnya kumat.” Dimas mendorong Rajaya sampai menimpa Tasya, lalu menghampiri Farel.
Tasya menyingkirkan Rajaya dengan mudah lalu menatap Dimas datar, “Gue gak restuin lo sama Tere,”
“Jangan Sya, gue sayang Teresa. Restuin gue ya,” Dimas mengedipkan matanya beberapa kali.
“Halah, sayang tai kucing lo. Gue pelampiasan lo doang kan karena gagal dapet Tasya,” Teresa memutar bola mata malas.
“Re, jangan gitu dong, gue sayang lo,”
“Ngenes banget muka lo,” Mita terkekeh sambil menunjuk wajah Dimas.
“Ta, bantuin gue dong,” Dimas menghampiri Rian yang duduk di samping Mita.
“Ya lo berusaha sendirilah, yang mau sama Teresa juga banyak kali bukan lo doang. Lo punya modal apa, ganteng kagak?”
“Sya, menurut lo gue ganteng gak?” Dimas tersenyum semanis mungkin.
“Gak, lo jelek.” Rajaya yang nyahut sambil menghabiskan es krimnya.
“Yaeelah, king cobra racun banget mulut lo. Tapi, jelek gapapa asal banyak duitnya,” Dimas terkekeh.
“Sehat lu botak?” Rian menoyor jidat Dimas.
“Yang penting apa? Harta dan Tahta, iya gak Re.”
“Sorry, gue bukan cewek matre ya.” Teresa menatap Dimas dengan datar.
“Harta, Tahta, Teresa.” Tasya menjentikkan jarinya.
“Cakep, kalau gue udah jadian. Lo orang pertama yang gue tlaktir, Sya.” Dimas tepuk tangan.
Rajaya melepar stick ice cream dan mengenai pipi Dimas.
“Setan laknat, kalau gue rabies gimana,” Dimas melempar jauh-jauh stick ice cream yang mengenainya.
“Lo pikir gue ANJI*G, ANAK DAJJAL!” Rajaya tidak terima.
“Berisik. Hp gue dimana?” Tasya menerima ponselnya dari Mita.
BRAAKKK!
“TASYA!” Teriakan melengking terdengar setelah pintu kelas terbuka dengan hebatnya.
__ADS_1