
“Lama banget Sya datangnya,”
Tasya duduk diantara dua sahabatnya lalu menaikkan kedua bahu untuk menjawab pertanyaan Mita.
“Raja gue mana Sya?” Dimas yang duduk di sebrang melirik pintu dan tidak menemukan Rajaya.
Tasya menghela nafas lalu ikut melirik pintu, “Gak-“ Tasya tidak melanjutkan pertanyaannya lagi karena Rajaya akhirnya muncul.
“Wuih, Rajaya bareng si Caleg bentar lagi kiamat pasti,” Dimas terkekeh.
“Lo ngalah, kasih tempat.”
Dimas hampir tersungkur didorong oleh Rian dari samping, “Kagak, gue lagi makan. Farel lo belum pernah ngalah anjir,”
“Gitu aja repot,” Teresa menatap malas kelakuan Dimas, Rian dan Farel.
“Minggir.” Rajaya membangunkan Dimas dengan paksa.
“Gue mulu, lo minggir bro.”
Farel berdecak kesal sebelum akhirnya mengalah dari semua drama yang terjadi.
“Salsa mana?” Tanya Tasya agar bisa menghindar dari pandangan Rajaya yang kadang terasa jengah dan ingin memaki.
“Noh,” Tunjuk mita menggunakan jarinya ke arah pojok ruangan.
“Kea, duduk di sini aja,” Nia menawarkan kursi di sampingnya.
Niatnya ingin melihat Salsa, Tasya malah melihat dramanya si Nia.
“Kenapa sih Kea... duduk di sana,” gumam Tasya pelan dan dengan spontan.
“Hah, coba ngomong sekali lagi Sya?” Mita menahan tawanya.
“untungnya Rajaya tuli,” bisik Teresa ditelinga Tasya.
Mita membisikkan sesuatu ditelinga Tasya, “Lo ceritanya lagi cemburu Sya?”
“Kata siapa, gue cuma gak suka ada orang yang ketipu sama si Nia.”
“Pinter ngeles nih anak,”
“Ah, pengap,” Protes Tasya, sementara yang diprotesnya malah tertawa.
“Ini kenapa mejanya dipisah pisah gini sih?!” Tasya menggebrak meja.
Rajaya yang sedari tadi sibuk dengan ponsel kemudian mengerutkan dahi setelah Tasya memukul meja.
“Aneh lo Sya... cerita-cerita dong kalau ada masalah,” ucap Dimas yang baru saja menghabiskan salad buah.
“Meja aja dipermasalahkan! CAPER.” Ejek Rara.
“Lo bilang kalau mau gabung, atau war di sini saja gimana? bar udah ada. Adu minum berani gak lo?" sulut Mita.
“Lawan gue bukan orang lemah kayak lo,”
“Sya, gue dikatain lemah sama dia,” Mita menunjuk wajah Rara yang jauh di meja sana.
Tasya melototi Rara karena terlalu malas untuk adu mulut.
“Rajaya...” Panggil Tasya lembut kepada Rajaya yang masih sibuk dengan ponsel.
“Kalau udah ngomong kayak gini pasti ada maunya ini anak,” Teresa terkekeh.
“Mbak goshting...” Rian bersenandung diakhir kata.
“Kalau lagi minum minum aja mas, nanti keselek terus mati bagaimana?”
"Uhuk uhuk,” Rian tersedak minuman setelah mendengar apa yang diucapkan Tasya.
“Beneran keselek anjay!” Dimas tertawa.
“Lo gak tahu ucapan Tasya suka jadi kenyataan,”
“Wuih, yang bener Ta.”
“Rajaya!”
Rajaya mendongkak lalu bangkit dari duduknya.
“Ayo,” Rajaya mengulurkan lengannya.
“Bneran mau ubah tempat ini Sya?” Tanya Teresa.
__ADS_1
“Yoi, kita semua butuh kebersamaan.”
Rajaya membawa Tasya menghampiri ketua pelayan yang berada tepat di samping bar.
“Mas mau ubah tempat duduk,” request Rajaya.
“Silahkan,”
Tasya segera menyambar buku yang diberi pelayan, buku itu berisi foto-foto tata letak kursi yang jumlahnya puluhan.
“Yang ini. Kursi sama mejanya gak perlu diganti, tinggal diubah posisinya aja.”
“Baik,”
Tasya menaikkan kedua alisnya, Tumben banget ini anak sibuk sama ponsel mulu, gue tinggalin ah.
“Tasya,” Panggil Rajaya sambil menghampiri Tasya yang sudah duduk di depan bar. Sementara Tasya menoleh dengan malas.
“Mbak, ini minumnya.”
“Gak,” Rajaya mengambil gelas berisi wine yang disuguhi pelayan.
“kalau lagi sibuk ya jangan ganggu gue, niat tlaktir gak sih?”
“Tadi dibawah udah minum, sekarang minum lagi? Makan dulu,”
“Bijak banget lo kalau ngomong. Gue haus Rajaya,”
“Air putih ada atau pesan jus aja,”
“Kagak jadi,” Tasya memutar kursi lalu melihat para pelayan yang sedang menata meja, sementara teman-temannya menepi ke sisi ruangan.
“Sibuk ngapain si Rajaya, lo punya cewek ya?”
Rajaya menjauhkan ponselnya sambil tersenyum, “Kamu cewek aku,”
“Idih males banget gue jadi cewek lo,” Tasya mengambil minuman yang lepas pengawasan Rajaya, pengalihannya berhasil.
“Balikkin,”
“Gak,” Tasya menjauhkan gelas yang dipegang.
“Aduh! Sya jangan main air dong,” Dimas membersihkan sepatunya yang terkena tumpahan wine.
“Siapa yang nambrak?” Tasya meletakkan gelas kosong dengan malas.
“Kursi bar Cuma segini?” Tanya Teresa yang datang terakhir.
“Di sini mau Re?” Dimas menepuk salah satu pahanya.
“Lo mau gue santet?” Mita menepuk jidat Dimas cukup keras, kebetulan duduknya tepat di samping Dimas.
“Mita galak sumpah,”
Mita memutar matanya malas, “Farel ngalah dong Farel, lo kan baik.”
“Gue mulu,”
Tasya bangkit dari duduknya, “Rajaya... ikut aku bentar.” Tasya menarik lengan Rajaya.
Rajaya yang sedari tadi sibuk main ponsel hanya menurut apa yang dilakukan Tasya.
“Ini anak hidupnya setengah sadar,” Mita menahan Tawa.
“Re, duduk...” ucap Tasya lalu meninggalkan Rajaya yang berdiri tidak jauh dari bar.
“Raja gue gini amat,” Dimas tertawa.
“Teman gue itu Sya, gak kasian?” Tanya Rian.
“Kasian kenapa? Rajaya gak gue aniaya,” Tasya yang sudah duduk di kursinya terkekeh sambil melihat Rajaya.
“Kapan sadarnya ini anak?”
“Itung saja Re,”
“Tasya,”
“Mampus lo Sya, beraninya bodohin ular kobra,”
“Berisik, Farel.” Tasya menjauh saat Rajaya menghampirinya dengan cepat.
“Jangan kasih dia duduk,” ucapa Rajaya yang sudah duduk di tempat Tasya tadi.
__ADS_1
Tasya mendengus, “siapa yang mau duduk,”
“Kemana Sya?” Tanya Mita.
“Samperin Kea,”
“Ampun, Rajaya langsung panik.”
“Ini yang lebih panik Ta, lo liat Rara samperin kita,”
Mita menoleh, “makhluk kayak begitu gak usah dipanikkin,”
“Sya, ayo balik lagi,” Rajaya berhasil menangkap lengan Tasya.
“Kagak, lepas gue bukan anak kucing gak usah disered,”
“RAJAYA! Gue kebelet mau ke toilet,”
“Bukan mau samperin dia,” Rajaya menujuk Keano dengan menggerakkan wajah.
Tasya terkekeh kecil, “Aneh lo, kalau bukan berarti iya. Argh! Sakit tahu tangan gue.”
Tasya meninggalkan Rajaya sambil mengusap lengannya yang memerah.
“Ngapain ikutin gue?” Tasya melototi Rajaya yang ikut berjalan di sampingnya.
“Mastiin bener ke toilet,”
“Lo bikin kesel mulu, gue balik juga nih,”
“Jangan pulang Sya... terus aku harus apa?”
Tasya menghembuskan nafas pendek, “Oke, gue gak akan balik asalkan lo gak ikutin gue mulu dan gak larang-larang gue.”
“Deal,” Rajaya mengulurkan tangan.
Tasya menerima jabat tangan, “Oke , Deal. Kalau lo ingkar, gue balik.”
“LEPAS!”
“Galak banget Sya,”
Setelah lepas jabat tangan Tasya meninggalkan Rajaya dengan malas menuju toilet.
“Aneh gak sih, kalau semua kemauan lo terkabul mulus tanpa hambatan.”
“Maksud lo apa?” Tasya menatap Nia malas.
“Serahin perusahaan lo buat bokap gue,”
Tasya terkekeh, “Lo tunggu gue di lorong ini Cuma mau bahas harta?”
“Lo belum tahu keluarga gue, serahin perusahaan hidup lo aman.”
“Yang bener? Eh, tapi gue tahu keluarga lo, keluarga lo itu gila harta. Dan hidup gue sampai sekarang masih aman, lo liat ada yang lecet di tubuh gue? Gak kan.”
“Anak ****** aja belagu,”
Tasya tersenyum miring, “Lo Nia kan? Gila hinaan lo damage tapi gak kena buat gue. persetan sama muka polos, Lo gak pantes sedikit pun buat Kea.”
Nia tersenyum mengejek, “Lo ngaca dong, lebih pantes mana gue sama lo. Walaupun Keano welcome sama lo, lo sadar diri lo anak ****** gak pantes sama Keano yang dari keluarga terhormat, MERUSAK CITRA TAHU GAK. Dan inget juga ancaman Alda. Jauhi avarelic dan serahin perusahaan, hidup lo sekali lagi aman.”
Nia meninggalkan Tasya dengan serangkaian kata yang begitu menohok.
“MERUSAK CITRA TAHU GAK!”
“MERUSAK CITRA TAHU GAK!”
“MERUSAK CITRA TAHU GAK!”
“Ih! Telinga gue kenapa sih.” Tasya merenung sebentar mencerna kembali kalimat-kalimat yang diucapkan Nia sebelum pergi.
“Jauhi avarelic serahin perusahaan? Nia gabung avarelic buat lawan gue?”
“Bener-bener gak pantes ini anak buat si Kea,” Tasya menghela nafas panjang.
“Mami... kok aku sakit hati banget ya dibilang Merusak Citra.”
“Sya... kok malah melamun di sini, cepet balik.” Teresa melipatkan kedua tangan di depan dada begitu juga dengan Mita.
“Lo berdua ngapain ke sini,”
“Menyusul lo lah, telinga gue sakit diomelin RAJAYA mulu.”
__ADS_1
“Kalau gak percaya, nih telinga gue sampe merah Sya,”