
“Oh, jadi lo kepukul terus jatuh gitu sampai berguling ke bawah. Parah sih sampai lo memar memar gini, kalau sakit bilang ya.” Mita sedang membersihkan juga mengompres luka-luka Hana.
“Eh aduh, pelan-pelan.” Hana merintih sakit.
“Sorry ya sorry,”
“Biar gue aja yang ngompresnya.” Yuna mengambil alih pekerjaan Mita, sementara Mita duduk di dekat Tasya.
“Kalian dari sekolah mana?” Tanya Mita.
“SMA 5, Kenalin gue Yuna dan ini teman gue Hana.”
Mita tertawa kecil, “Gue udah tahu, waktu di lapangan kan lo sudah ngenalin diri. Gue Mita dan ini sahabat gue Tasya.”
“Salam kenal,” Tasya mencoba ramah.
“Tasya, kita pernah ketemu deh sebelumnya,” ucap Yuna.
“Masa sih,” Tasya pura-pura terkejut.
“Lo pernah main ke basecamp avarelic kan? Lo masih ingetkan kita pernah balapan sekali.”
Mita menelan ludah lalu memukul paha Tasya pelan.
“Oh iya ya, kita gak smepet kenalan waktu itu.” Tasya tertawa paksa.
“Jago tikungan kalau bawa mobil, salut gue sama lo.” Sanjung Yuna.
Tasya batuk beberapa kali melihat mita yang terus melototinya, “Gue keluar ya, Ta.”
“Lo kalau masih sakit istirahat aja, gue keluar dulu ya.” Mita pergi menyusul Tasya.
“Ta, nanti siang gue mau izin sebentar keluar, bikinin gue surat izinnya ya.”
“Buat jam berapa?” Tanya Mita.
“Jam 2.”
Mita mengerjapkan mata, “Tasya... lo bilang kek dari pagi. Sekarang jam satu mana sempet. Lo bilang Keano deh sana.”
Tasya berdecak melihat Rajaya dari kejauhan datang menyusulnya.
“Lo datang ke sini pertandingannya dah kelar emang?”
“Awas gue mau duduk, Mita bagi air.”
“Lo cowok, lo yang ngalah dan lo bisa ambil air sendiri.” Tasya menahan Mita untuk tidak pergi.
“Ambil dimana aku kan gak tahu Sya.”
“Di ruang osis banyak kalau lo abis satu dus juga gak masalah ambil saja sendiri.”
“Denger?” Tanya Tasya takut Rajaya tidak mendegar apa yang dikatakan Mita.
Rajaya berdecak kesal lalu berjalan menuju ruang osis yang berjarak tinggal beberapa langkah lagi.
“Mereka sudah lo obatin? Jaga stand di lapangan.” Keano menghampiri Mita dan Tasya lalu memeriksa ruang PMR.
“Iya gue tahu, tapi nanti.”
__ADS_1
“Tasya ayo ikut aku,” ucap Rajaya yang baru datang sambil meneguk botol air mineral.
“Gak bisa, gue mau jumpa pers. Kea aku minta surat izin keluar sebentar."
“Aku yang bilang langsung sama guru piketnya di depan, ayo.”
“Ngakak gue, Tasya dah ngomong aku kamu sama Keano, u gimana?” Mita tertawa meledek Rajaya.
Rajaya berdecak kesal. “Tasya aku ikut,” Rajaya berjalan cepat menghampiri Tasya.
“Tasya mau kemana?”
Mita melirik Yuna yang baru saja keluar, “Tasya mau izin keluar sebentar.”
Yuna ikut duduk di samping Mita, “Tasya primadona ya. Banyak yang suka sama dia.”
Mita mengangguk setuju, “Gue setuju, Kalau gue cowok gue juga bakal kejar Tasya sampai manapun.”
Kedua mata Mita melotot teringat kalau Yuna anggota avarelic, “Gue ke lapangan lagi ya, gue kan panitia.”
***
“Tambah rumit kalau lo ikut.” Nono melototi Rajaya.
Nono sudah menunggu di tempat satpam saat Tasya datang.
Keano pergi setelah Tasya masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Rajaya.
***
Silauan flash itulah yang membuat mata Tasya tak karuan melihat orang-orang di sekitarnya untungnya ada Nono yang merangkap sebagai bodyguard dan menyamar sebagai manajernya.
Tasya dibawa ke sebuah gedung berlantai, tepatnya lantai lima di salah satu ruangan sana sudah terdapat beberapa wartawan beserta kameramennya dari berbagai media dan agensi.
“Cek.” Nono mencoba mix yang tersedia di atas meja.
“Waktu kita tidak banyak, Kami akan menjawab semua pertanyaan tapi hargailah jika menyangkut privasi. Silahkan dimulai.”
“Mbak Tasya izin bertanya, bagaimana tanggapan Anda tentang berita kemarin? Nama Anda dibuat tercemar selama beberapa jam.”
“Tanggapan saya, saya hanya ingin mengatakan kepada media penyiar berita dari perusahaan manapun untuk memeriksa kembali sebuah berita sebelum diposting baik ataupun buruknya sebuah berita pasti ada kosekuensinya, terima kasih.”
“Lalu apakah Anda akan kembali aktif di dunia entertainment terutama dunia permodelan?”
“Saya akan mengambil jarak dulu,”
“Apakah alasan Anda mengambil jarak dengan dunia entertainment karena Anda takut rahasia Anda yang lainnya terbongkar satu persatu?”
“What? Rahasia, No. saya tidak memiliki rahasia dan saya pun tidak memiliki argumen ataupun cerita yang harus dipublis. Saya menjaga jarak dengan dunia ini agar lebih fokus dengan pendidikan,” Jawab Tasya cukup bijak.
“Mbak Tasya, sebelumnya Anda pernah menetap di Amerika. Apakah Anda berencana untuk pindah ke sana lagi, lalu dengan keluarga siapa Anda tinggal di sana?”
__ADS_1
“Maaf privasi.”
“Apakah keluarga Anda yang berasal dari Amerika bukan keluarga sembarangan?”
“Maaf, pertanyaan yang akan dijawab hanya seputar dunia entertainment, diluar itu kami anggap privasi.” Jawab Nono karena Tasya tidak berniat menjawabnya.
“Kemarin malam kami melihat mobil Anda terpakir di apartement termewah yang ada di Indonesia. Setahu kami Anda tidak memiliki satu unit apartement pun di sana. Jika berkenan untuk dijawab siapa yang Anda temui diapartemen itu?”
Tasya menghembuskan nafas panjang, “Teman saya, kami sedang mengerjakan tugas sekolah di sana.”
***
“Maaf mengganggu jalannya sebentar, kami dari seleb news.”
“Iya, ada apa?” Tanya Nono.
“Sebelumnya kami ingin meminta maaf atas berita tidak mengenakkan yang kami buat terhadap saudari Tasya. Perusahaan kami benar-benar terpuruk dan menyesal dengan kejadian itu. Atas permintaan maaf kami bolehkah kita bekerja sama untuk-“
“Ehem,” Nono berdehem. “Apakah ada tempat lain yang lebih baik untuk membicarakan bisnis?”
Tasya menatap Nono datar sambil memaki dalam hati, Hutang gue bertambah banyak.
***
“Inget hutang lo itu ada hutang tebus nama baik lo, hutang kerja sama sama perusahaan media tadi dan lo juga mau renovasi kantor hutangnya jangan dilupain, Hutang harus dibayar.”
“Iya, sumpah lo berisik. Turunin gue.”
“Yakin lo mau turun di pinggir jalan.”
“Iya cepet,” ucap Tasya sambil memakai blazer jumbo hitam serta topi bucket dan terakhir masker.
Nono menurunkan kaca mobilnya, “Lo mau balik kemana? Mobil lo di sekolah, sekolah masih jauh.”
“Sekolah sudah bubar jam segini, lo sih tadi ngobrolnya lama banget.”
“Terus lo mau kemana?”
“Gue mau ke tem- udah lo jalan sana, lo ngomel terus telinga gue mau copot ini.”
“Taksi.” Tasya melambaikan tangan.
“Ke sini ya pak,” Tasya menunjukkan alamat dari google map di handphonenya.
***
“Dor.” Tasya menepuk dua bahu Keano dari belakang. “Gak kaget ya, ah percuma.” Tasya membuka masker lalu meraih gelas kosong dari meja makan lalu mengisinya dengan air putih.
__ADS_1
Keano berhenti memotong sayuran lalu melirik pintu utama dan ruang yang lainnya.
“Kenapa?” Tanya Tasya sambil membuka balzer dan topi yang dipakainya.