Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 13 - Ilham si penulis fiksi remaja


__ADS_3

“Sya, mobil taruhan mau diapain?” Mita bertanya sambil berjalan di samping kanan Tasya.


“Belum punya rencana, diemin aja dulu.”


“Sya, apapun yang bakal lo lakuin gue dukung. Terus kalau ada apa-apa jangan lupa bagi-bagi cerita apapun deh suka apapun duka,” pinta Teresa dan Mita pun mengangguk-angguk.


Tasya tersenyum lebar, “Berkah banget gue ketemu lo berdua,” Tasya dan dua sahabatnya saling rangkul satu sama lain.


“Langsung ke kelas nih, Sya?” Dimas memutar badannya bertanya kepada Tasya yang berjalan di belakangnya.


“Langsung ke kelas aja.” Tasya mengangguk.


“Oh, ya Sya. Tadi lo gak diapa apain kan sama anak kelas 12, soalnya lo lama banget di sana.”


“Santai saja. gue gak diapa apain kok.” Tasya masih bisa melihat ekspresi kekhawatiran dari Mita dan juga Teresa.


“Ada guru Di kelas,” Dimas mulai panik.


“Baru juga guru, gimana kalau setan.” Rian menyentil dahi Dimas.


Rajaya lebih dulu membuka pintu kelas lalu di susul Farel kemudian Rian dan Dimas dan terakhir Tasya, Teresa dan Mita.


“Ini ganteng-ganteng cantik-cantik abis dari mana? Kalian sudah terlambat satu jam pelajaran bapak. Berdiri di sini jangan ada yang duduk.” Pinta bapak guru bername tag Redy Firmansyah, S. Pd.


“Abis dari mana?” Pak redi berjalan mondar mandir di depan muridnya yang di suruh berdiri.


“Abis ambil surat-surat mobil pak.” Tasya menunjukkan buku kecil dan kertas-kertas yang ada di tangannya.


“Bapak baru liat kamu, murid baru?” Pak redi menaikkan kedua alisnya lalu memeriksa buku juga kertas-kertas dari tangan Tasya.


“Ambil buku gini doang selama itu, memangnya ambil dari siapa semua surat itu?” Pak redi mengembalikkan barang milik Tasya lalu kembali mondar-mandir.


“Dari kelas 12, pak.” Tasya menjawab.


“Terus yang lainnya darimana?”


“Dimas? Rajaya, Farel, Rian, Teresa, Mita?”


“Anter Tasya pak,” Jawab dimas Spontan.


Tasya yang berada di ujung mengerutkan alis, sementara Teresa yang berada di samping Dimas segera menginjak kaki Dimas.


Pak Redy menghembuskan nafas pendek, “Mengantar orang kok sebanyak ini. Kalian mau duduk gak?”


“Mau banget Pak sudah pegel ini kaki.” Hanya dimas seorang yang menyahut.


“Tapi nyanyi dulu, Kamu, Dimas nyanyi lagu daerah.” Pinta Pak Redy


“Saya doang pak?” Dimas menunjuk dirinya sendiri.


“Berdua pilih teman kamu satu.”


Rajaya sudah menatap Dimas dengan begitu tajam. “Sama Rajaya, Pak.” Dimas langsung merangkul Rajaya.


“Jay, lo harus nyanyi ya, tutupin suara fals gue” bisik dimas.


“Sekarang, pak nyanyinya?” Dimas masih tidak percaya kalau dirinya harus nyanyi terlebih dahulu jika ingin duduk.

__ADS_1


“Cepet nyanyi sebelum bapak tambah-“


“Nyok. Kite nonton ondel-ondel. Nyok.....” Dimas mendominasi dalam bernyanyi, sebenarnya bukan mendominasi lagi tapi lagu tersebut full dinyanyikan Dimas karena Rajaya tidak mengeluarkan suara untuk satu nada pun.


“Nyanyi tolol,” Dimas memukul pantat Rajaya sambil berbisik.


Rian dan Farel sudah tidak bisa lagi menahawan tawa khasnya yang bengek, termasuk seisi kelas ikut riuh saat Dimas bernyanyi.


“Sudah-sudah, kamu berdua boleh duduk.” Pak Redy memotong lagu dimas yang baru dinyanyikan setengahnya.


“Yang bisa jawab pertanyaan dari bapak boleh duduk. Pada tanggal berapa sekolah ini ulang tahun?”


“15 September, Pak.” Teresa, Mita, Farel dan Rian menjawab serempak, hanya Tasya yang diam seorang.


“Kalian berempat boleh duduk,”


“Tinggal satu orang lagi, Tasya?” Pak Redy kembali mondar mandir.


“Iya, Pak.” Jawab Tasya.


“Siapa yang belum kenal Tasya?” Pak redy melihat bahwa semua yang ada di kelas sudah mengenal Tasya.


“Tasya kenal semua teman-teman di kelas?”


“Kalau wajahnya hafal, tapi namanya masih banyak yang tidak tahu.” Tasya menjawab sesuai fakta.


Pak Redy mengangguk-angguk sambil terus mondar-mandir, “coba yang belum kenalan sama Tasya, kenalanlah, perbanyak teman. Masa gak mau berteman sama Tasya.”


“Oke, Tasya. Kamu bener minta anter sama semua teman kamu yang berdiri bersama kamu tadi?”


“E, iya Pak.”


“Siap, Pak.”


“Pak, sebenarnya bukan Tasya yang minta dianter, tapi kita semua yang diam-diam ikut Tasya.” Mita bersuara dari bangkunya.


“Oh, begitu. Jadi bapak menahan orang yang salah. Tapi buat semuanya, bapak minta tidak ada yang keluar dari kelas saat jam pelajaran, Siap semua.”


“Tasya boleh duduk. Siapa yang mau menjelaskan ulang materi yang sudah bapak sampaikan tadi agar teman-teman yang baru datang tahu.” Pak Redy menaikkan kedua alisnya, tidak ada satupun murid yang ingin menjelaskan ulah materi yang telah disampaikannya.


“Keano, jelaskan ulang.” Pak Redy duduk di kusi guru.


***


“Beneran ini, anggota kelompoknya gak bisa milih sendiri?” Tasya menepuk bahu Ilham yang ada di depannya.


Setelah menyimak penjelasan Keano, Pak Redy ternyata guru Bahasa Indonesia dan minggu depan jadwal presentasi perkelompok mengenai materi Biografi dan anggota kelompoknya pun sudah terbagi sesuai keinginan Pak Redy.


“Gak bisa, Sya. Keputusan Pak Redy itu mutlak.” Rian memutar bangkunya. “Fadil, come here. Lo muter dong duduknya Bro.” Ilham menyentil dahi Keano.


Fadil segera duduk di bangku tasya yang kosong.


“Sya, sorry. Gak satu kelompok.” Mita dan Teresa memanyunkan bibirnya.


“It’s okay. Cuma tugas sekolah doang.”


“Jadi guys, dimana dan kapan ini kerjakelompoknya, di rumah lo mau gak, Sya?” Tanya Ilham.

__ADS_1


“Gak ah males, jangan di tempat gue,” Tasya melirik Nia dengan spontan.


“Di rumah lo aja,” Tasya menepuk pundak Fadil.


“Jangan Sya nanti dikira kita mau buka arisan grup sosialita.” Ilham menolak sementara Fadil tertawaa cekikikkan, hanya Keano yang tetap datar tidak terpengaruh dengan apapun.


“Jangan di tempat gue, mami gue orangnya rese,” Ilham lebih dulu menolak sebelum ditunjuk Tasya.


“Planing terakhir, di tempat lo Kea.” Ilham menepuk pundak Keano.


“Weekend mau gak, tapi malem soalnya siangnya ada kegiatan osis, bisa kan Sya malem?” Tanya ilham.


“Bebas gue sih.” Tasya setuju.


“Deal, ya. Di rumah Kea sekitar jam 7 malem deh. Lo jangan lupa siapin makanan yang enak ya bro.” Ilham menepuk punggung Keano tapi segera di tepis oleh si yang punya punggungnya.


“Gak baik lo bawa cewek malem-malem ke rumah,” Teresa menepuk pundak Keano, lalu menyuruh fadil pindah duduk.


“Tapi menurut gue, itu lebih baik daripada bawa cowok sih apalagi cowoknya ilham. Soalnya kan jati diri Keano itu remeng-remeng, dengan wajah datar tapi otak dan pikirannya yang entah kemana iya kan. Biasanya yang diem kayak gini yang harus diwaspadain. Lo hati-hati, Sya.” Mita merangkulkan satu tangannya di pundak Tasya.


“Ta, jangan gitu dong. Gini-gini Kea itu calon ketua osis yang harus lo sukseskan. Sya, jangan golput ya, pilih Keano saja.” Pinta ilham.


“Gimana nantilah.”


“Lo harus dukung dong, masa sudah gandeng-gandeng sama rangkul-rangkul, gak mau dukung,” Ilham menahan tawanya.


“Ilham ceritain yang lengkap dong, biar kita gak ngira lo cuma omong kosong doang,” Mita mengeluh sementara Teresa menyetujui perkataan Mita.


Tawa ilham pecah saat melirik Keano, “Jadi gini kemarin itu gue gak sengaja-“


“Mulai deh lo, kenapa lo gak jadi penulis cerita fiksi remaja aja sih, biar ada manfaatnya.” Potong Tasya.


“Gue punya skill menulis sih walaupun dikit, nanti gue buatin cerita tengan Tasya dan Keano,”


“Gabut banget sih hidup lo, Ilham.” Teresa memutar bola matanya malas.


“Re, coba kalau lo liat tadi pagi Tasya sama keano ngapain. Mau tahu gak?”


“Tadi pagi Tasya sama Keano ngapain?” Mita bepikir sejenak.


“Kok gue jadi ambigu, Sya lo bilang sama gue lo abis diapain sama Kea. Bilang aja gak papa.”


“Kok otak lol cepet banget kecuci sama omongannya Ilham. Kea kita gak ngapa-apa dan gak ada hubungan apa-apa kan.” Tasya meletakkan tangan kanannya di atas tangan Kea.


“Itu, bukan apa-apa?” Ilham berteriak sambil menunjuk tangan Tasya yang ditumpangkan di atas tangan Keano.


Tasya berbisik kepada Mita, dengan segera Mita memberi tahu Teresa lalu melirik Nia sesuai intruksi yang diperintah Tasya.


Mita dan Teresa tertawa cekikikkan, sementara Keano menarik Tangannya lalu dilipatkan di depan dada.


“Wah, wah,” Teresa membulatkan matanya melihat reaksi Keano sementara Tasya menaikkan kedua alisnya.


“Sombong bange lo,” ucap Mita dengan muka judesnya.


“Ah, bagaimana sih lo Kea.” Ilham menyentil dahi Keano.


“Eh, mau kemana? Re, Ta, Sya?” Tanya Ilham.

__ADS_1


“Keluar bentar, urusan negara,” ucap Tasya sambil memainkan handphonenya yang baru saja berdering.


__ADS_2