Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Surabi Haneut


__ADS_3

Sudah satu bulan Eza dan Alita hidup bersama-sama dalam satu atap dan sepertinya Eza mulai lupa akan sakit hati yang diciptakan Nikita. Lelaki itu juga nampak tegar saat menerima surat dari pengadilan. Yang menyatakan bahwa sidang perceraian resmi mereka akan segera berlangsung.


Eza lebih menikmati bagaimana hari-harinya bersama Alita yang menyenangkan ketimbang melulu pusing dan sakit hati tentang Niky. Bersama Alita, Eza selalu merasa dihargai dan dibutuhkan. Selalu diutamakan dan mendapat sentuhan kasih sayang yang tidak pernah ia minta.


Alita selalu melakukannya dengan tulus, dengan naluri sebagai istri yang kian tumbuh dalam dirinya. Alita selalu memastikan semua tentang Eza tercukupi dan terpenuhi, mulai dari membuka mata hingga mata itu tertidur kembali. Dari urusan perut hingga yang dibawah perut, Alita selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Eza.


Begitu pun Eza, ia selalu melakukan segalanya dengan tulus layaknya suami sungguhan. Ia selalu menghargai dan memperlakukan Alita sebagai istrinya.


Dikamar utama..


"Lusa aku ada proyek ke luar kota. Kamu ikut yaa.." Eza baru saja membuang surat panggilan pengadilan yang ditujukan kepada dirinya. Ogah untuk datang ataupun mengurusi apapun tentang Nikita. Biarlah wanita itu melakukan semua yang ia mau, asalkan tidak mengganggunya lagi.


"Masa Alit ikut A', Alit kan gak bisa kerjain kerjaan Aa'. Nanti Aa' malah dimarahin bos kalo Alit ngerjainnya salah."


Haha. Eza hanya mengulum senyuman lebar sambil terkekeh. Selalu begitu ketika mendapati penuturan Alita yang polos. Apa tadi yang gadis itu bilang? dimarahi Bos? apa dia tidak tahu bahwa Eza adalah bosnya.


"Ya enggak ngerjain kerjaan aku, pokoknya kamu ikut aja.. Kita jalan-jalan."


"Capek atuh A' jalan-jalan mah, Aa' aja ampe ngos-ngosan waktu Alit ajak jalan ke warung waktu kita divilla." Alita menatap suaminya dengan eskperi polos namun begitu menggemaskan bagi Eza.


"Kamu tuh yaaa.." hanya itu yang bisa Eza katakan. Eza selalu gemas terhadap gadis yang terkadang penuturannya menyebalkan, namun membuat Eza tidak bisa menyembunyikan senyumannya. "Pokoknya kita liburan, kita mau cari suasana baru. Refreshing."


Alita hanya mengangguk pelan meskipun tidak mengerti apa yang diucapkan Eza diakhir kata. Alit kemudian bangkit dan menuju meja rias untuk menyisir rambut. Dan dengan refleks pula Eza mengikuti gadis itu dan kemudian mengibak rambut Alita ke samping kemudian memeluknya dari belakang sambil membubuhkan sebuah kecupan dileher Alita.


Whussshh.. Tubuh Alita selalu terasa diserang jutaan volt jika diberi sentuhan atau kecupan oleh Eza. Kenapa tubuh mereka selalau se-intim itu sih.


"Rambut kamu wangi banget.. pakek apasih?" puji Eza sambil menghirup aroma rambut Alita yang memang wangi. Mungkin karena gadis itu terlalu sering keramas akhir-akhir ini.


"Ya pake shampoo yang ada dikamar mandi atuh A'." jawab Alita yang mulai meremang dengan aksi Eza.

__ADS_1


"Tapi kok rambut aku gak wangi kaya gini." Eza menghirup lagi aroma itu, namun sejurus kemudian tubuh Eza memberi kode, meminta Alita untuk berbalik badan.


"Geli A'.." Alita sedikit menggeliat pelan saat Eza semakin intim memperlakukan dirinya. "Alit mau ke kamar mandi dulu." pamitnya.


"Yaudah.. tapi jangan lama-lama." Eza semakin sengaja membuat Alita merinding disco, lelaki itu mengucapkan kalimatnya tepat didepan daun telinga Alita.


"Iya.."


Alita tahu Eza pasti akan meminta jatah lagi malam ini. Namun tubuh Alita rasanya lumayan letih, perut bawahnya juga terasa lumayan berat. Entah apa yang terjadi. Untuk itu Alita beralasan ingin ke kamar mandi, mencari alibi agar Eza tidak mencumbunya malam ini. "Dosa kamu Lit kalo nolak suami." ujarnya saat tiba dikamar mandi sambil menatap pantulan dirinya dihadapan cermin. "Tapi kan udah tiap malem, istirahat semalam aja boleh kan?" Alita berbicara dengan dirinya sendiri.


Dan bagai mendapat dukungan dari semesta, Alita langsung tersenyum saat mendapati dirinya datang bulan. Itu artinya ia akan beristiraha bukan malam ini saja, namun beberapa hari kedepan.


Alita keluar dari kamar mandi dan melihat Eza sudah menunggunya diatas kasur. Benar saja, saat Alita ikut naik ke atas ranjang, lelaki itu langsung mendekat dan mengikis jarak antara mereka berdua.


"Aa' geli ih.."


"Pengen lagi.." Tuh kan.. Sepertinya Eza mulai kecanduan surabi haneut milik Alita🤣


"Halangan?"


"Iya.. Alit lagi datang bulan."


"Datang bulan?"


Eza menatap gadis itu. Lalu Eza kembali tersadar bahwa ia memiliki Alita hanya sebagai istri kontrak, lagipula Eza menikahi Alita hanya untuk membuktikan bahwa ia lelaki perkasa. Jika Alita datang bulan artinya gadis itu belum hamil juga. "Hm,, lama gak kalo datang bulan?"


"Empat hari A', paling lama juga satu minggu."


"Lama juga yaa." Eza menimang-nimang sesuatu dalam pikirannya. Menerka-nerka kapan jendela subur wanita setelah datang bulan, sesuai ilmu yang pernah bidan yang menangani Niky katakan dulu. "Kalo gitu lama lagi dong aku hamilin kamunya."

__ADS_1


"Hamil?" Alita menatap tajam dan Eza mengiyakan sambil mengangguk. "Di dalam kontrak pernikahan kan gak boleh hamil A'."


"Gak boleh? maksutnya?"


"Emang Aa' gak baca surat kontraknya?" Alita malah balik bertanya.


Tidak. Eza memang tidak membaca surat kontrak dengan seksama. Karena dulu ia masih merasa ngambang dan menyerahkan segala urusan itu kepada Yoga.


Lalu... untuk apa Eza menikahi wanita itu kalo tidak boleh sampai hamil? Eza melakukan kawin kontrak hanya untuk membuktikan bahwa ia tidak mandul dan tentu saja gadis yang dinikahinya harus hamil!


"Berarti aku ditipu dong." Eza bangkit dari posisinya dan menatap Alita dengan tatapan sulit diartikan.


"Kok ditipu A'?."


"Lit, aku kawin kontrak karena aku mau buktiin kalo aku gak mandul!! Trus gimana ceritanya kalo ternyata kamu gak boleh sampai hamil?"


"Mana ada atuh A' nikah kontrak sampe hamil. Terus nanti nasib Alit sama bayiknya gimana setelah kontrak itu selesai?"


Duarr!! 🔥 Apa maksudnya ini? Eza mulai menarik benang merah dan mengutuk apa yang telah Yoga lakukan terhadapnya. Tangan Eza terlihat mengepal karena kesal.


"Lagipula Alit masih rutin minum pil kontrasespi." Alita semakin jujur mengatakan keadaan sesungguhnya.


"Aku pergi dulu." Eza menyibak selimut dan beranjak dari kasur yang tadinya akan kembali menjadi saksi bisu pertempurannya bersama Alita.


"Aa' mau kemana? ini udah malem A'."


"Ada perlu, kamu tidur aja." Eza mengganti pakaian dengan cepat kemudian menyambar kunci mobil dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata lagi.


 

__ADS_1


 


Bersambung~


__ADS_2