
Disaat bersamaan disaat mereka masih melongo dengan petir yang tiba-tiba menyambar itu, pintu utama terbuka dengan ucapan salam yang membarengi.
"Eza,, Niky.. lhooo... kok pada didepan pintu?" ternyata itu adalah Mama Dinda, ibunda Niky.
"Mau pada kemana ini kok bawa koper segala?" sahut Bram, papa Niky yang ternyata juga ikut.
Mereka semakin terdiam membisu dan melongo, tidak bisa berkata-kata apapun. Sama sekali. Mirip hayam tetelo 😂
Apa yang sedang terjadi ini? Eza bahkan belum bisa mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
"Pada kenapa ini.. kok diam saja?" Mama Dinda berujar lagi sambil menatap Niky dan Eza bergantian.
Entah takdir atau suatu kebetulan orang tua Niky tiba-tiba saja hadir ditengah-tengah suasana menegangkan itu, bahkan pasangan itu rasanya belum bisa mencerna kata keramat yang baru saja dilontarkan oleh Eza.
Namun nasi sudah menjadi bubur, akhirnya Niky dan Eza mengatakan apa yang telah terjadi beberapa menit yang lalu kepada orang tua Niky
__ADS_1
"Saya telah menjatuhkan talak kepada anak papa dan mama.. Artinya mulai hari ini Niky kembali menjadi tanggung jawab kalian. Maaf untuk segala kekurangan Eza ketika menjadi suami Niky, maaf untuk janji sehidup semati yang Eza ingkari. Eza sebenarnya tidak ingin berpisah dengan Niky, namun bagaimana lagi.. Kata keramat itu sudah terucap."
Tidak ada kata kaget atau menangis haru disana, orang tua Niky terlihat menerima dengan lapang dada. Toh, mereka memang menginginkan Niky untuk berpisah dari Eza.
Lalu detik selanjutnya setelah mengobrol sebagai tanda perpisahan, akhirnya mereka pamit untuk pulang dan membawa Niky bersama mereka ke rumahnya.
"Maaf mah, Eza minta waktu sebentar untuk ngobrol dulu berdua, untuk yang terakhir." Eza berujar ketika tiga orang itu sudah bangun dari sofa dan siap pergi dari rumah Eza.
"Oh iya, silahkan.. Mama nunggu dimobil ya." ujar Mama Dinda yang kemudian benar-benar pergi darisana diikuti Papa Bram juga.
Setelah kepergian mereka, Eza segera mendekat ke arah Niky. Lelaki itu tampak mengusap wajah Niky dengan telapak tangan. Ditatapnya Niky, istri tercintanya. Mungkin lebih tepatnya adalah mantan istri, karena Eza sudah menjatuhkan talak pada Niky. bahkan sudah mengatakannya di hadapan orang tua Niky juga.
"Mungkin memang udah seharusnya kita kayak gini.. Makasih buat segalanya, aku harap kita berdua bisa bahagia dengan pasangan kita dimasa depan." bahkan Niky tidak terlihat sedih sedikitpun, wanita itu bahkan masih bisa bicara dengan gamblang tanpa raut wajah menyesal.
"Aku menyesal mengucapkan kata keramat itu, aku gak yakin bisa hidup tanpa kamu." bola mata Eza rasanya mulai memanas, di dalam lubuk hatinya ia masih sangat mencintai Niky.
__ADS_1
"Aku gak mau selamanya hidup berdua. Aku pengen kita punya anak! Aku gak bisa terus-terusan hidup bersama lelaki mandul seperti kamu!" ujar Niky tanpa beban sedikitpun.
Anak, itulah akar dari permasalahan rumah tangga mereka. Niky selalu menekan bahwa Eza lah yang memiliki kelemahan. Begitu hebatnya wanita itu bersandiwara, andai Eza tahu bahwa selama ini Niky menggunakan alat kontrasepsi, mungkin malam ini dia akan dengan suka rela melepaskan istrinya yang sangat amat keterlaluan.
"Gimana caranya biar aku bisa buktiin itu kalo kamu ninggalin aku?" Tanya Eza dengan perasaan bingung.
"Buktiin apa lagi kak? kita bahkan udah nikah tujuh tahun!!" jawab Niky dengan santainya. Wanita itu mempertegas lagi bahwa Eza lah yang mandul. Padahal jelas-jelas permasalahan soal anak itu ia dalangnya. Andai saja Niky tidak memakai alat kontrasepsi,mungkin sekarang mereka sedang menanti anak kedua.
Wajah Eza masih menyiratkan rasa menyesal dan bingung. "Aku sungguh sangat menyesal sudah mengucapkan kata itu." lagi-lagi Eza mengulang kata penyesalannya. Eza menggenggam tangan Niky lembut, sorot matanya sangat jelas menyiratkan cinta yang mendalam pada wanita itu.
"Aku harus pergi, mama udah nungguin dimobil."
Dan kini Eza benar-benar ditinggal sendirian dengan ribuan kata menyesal dan bingung luar biasa.
Di acaknya rambut dan kemudian berteriak seperti orang gila.
__ADS_1
Huwaaaggghhh!!!
Eza berteriak meluapkan emosi dalam dirinya, benarkah tentang semua yang terjadi ini? akankah ia bisa melanjutkan hidup tanpa Nikita yang hampir 10 tahun membersamainya?