
Sudah berjam-jam didalam mobil tapi mereka belum juga sampai ditempat tujuan. Alita bahkan sudah tidak bisa diam dikursinya. Gadis itu terus saja bertanya 'kapan kita sampai.' Dan Eza selalu menjawab sebentar lagi.
"Kita mau kemana sih A'? kok jauh amat." Tubuh Alita bahkan sudah meleleh sejak tadi. Tidak nyaman berada didalam mobil berAC itu.
"Lima menit lagi juga nyampe Lit." Jawab Eza yang masih santai memutar kemudi.
"Alit udah keringetan A'. Cepetan dong!" Alita menggerakan tangannya seolah menjadi kipas.
"Gerah? inikan pake AC Lit.. masa gerah sih.." Eza mengernyit heran dan menatap gadis yang sejak tadi gusar.
"Gak tau atuh A'.. Duh.. Alit pengen cepetan turun dari mobil."
"Iya bentar.. nih udah sampe kok."
Mobil itu sudah berhenti. Parkir disalah satu resort milik Eza yang terletak dipinggir pantai. Lokasi yang cukup strategis untuk bulan madu buatan itu. Kemudian Alita dibawa turun, gadis itu sudah terlihat lemas dan sedikit pucat.
"Kamu gak pa-pa Lit? kok pucet gitu sih."
Alita tidak menjawab dan hanya menggeleng pelan. Kemudian Eza menuntun gadis itu untuk memasuki loby.
"Selamat datang.. Tuan." Baru selangkah masuk Eza sudah disambut disana. Bahkan keduanya sampai dikalungi sebuah kalung bunga.
"Aa' Alit pengen ke kamar mandi.." ujar gadis yang sudah menyimpan tangannya dimulut. Kenapa pucat sekali sih dia.
"Iya ayoo.. Buka kamar yang dilantai enam yaa.." pinta Eza kepada salah satu karyawan diresepsionis. Kemudian Alita dibawa naik lift menuju kamar tersebut.
"Aa' initeh kita mau kemana? jangan bilang kita mau ke angkasa!" Seumur-umur Alita baru pertama kali menaiki ruangan yang bergerak naik. Ada rasa kaget dalam dirinya. Ini bukan naik roket seperti difilm-film kan?
"Iya! Kita mau ke angkasa pas kita main ranjang nanti." Eza menggoda gadis itu. Seperti lupa bagaimana seorang Alita yang pasti selalu menganggap itu adalah hal serius.
"Aa' kalo nanti meledak gimana?" Tangan Alita bahkan langsung melingkari tangan Eza. Mengira bahwa mereka naik roket dan akan pergi ke angkasa.
"Biarinlah.. Meledaknya juga kan enak. Aa' juga malah ketagihan." Cih, percakapan Eza mulai menjurus ke suatu hal. Namun sayang Alita tidak paham itu. Membuat Eza malah tersenyum sendirian.
__ADS_1
Alita tidak menimpali lagi. Gadis itu terlihat malah komat-kamit sendirian seperti membaca mantra.
Ting! Lift terbuka. Sejurus kemudian Eza membawa gadis itu keluar dari sana.
"Kita udah nyampe A'? hamdallah ternyata kita gak jadi meledak." Alita mengusapkan kedua telapak tangan kewajahnya. Bahkan Alita sampai lupa dengan rasa mual karena mabuk perjalanan.
"Mau meledak? tar malem yaa!" Eza tersenyum genit. Kemudian segera berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan ala-ala pengantin yang sedang honeymoon dan Alita dengan setia mengikuti langkah Eza.
Alita kembali terperangah saat memasuki kamar. Banyak sekali kelopak bunga mawar bertebaran dimana-mana. Ada juga kain yang dibentuk hati juga tebaran kelopak bunga mawar dikasur. Terkesan indah namun cukup membuat Alita heran. Tunggu.. ritual apa ini?
"Kenapa? Ayo masuk.."
"A' ini....?" Alita menggantung kata-katanya.
"Kenapa?"
"Aa' gak bersekutu sama setan kan?"
"Setan? bersekutu?"
"Astaga!! Kamu mikirnya aneh-aneh mulu Aa' jitak yaa! Inituh romantis Alita, Aa' kasih kamu kejutan."
"Romantis? Alit belum mati atuh A' ngapain dikasih taburan bunga."
Yassalam!
Eza memilih untuk menjatuhkan diri dikasur ketimbang menimpali ucapan Alita. Perjalanan itu cukup melelahkan, kenapa harus ditambah hal seperti ini sih. "Tidur dulu yuk, Aa' capek." Eza bahkan memejamkan mata sambil merentangkan tangan disana.
Alita juga lelah. Gadis itu kemudian menyetujui saran Eza agar mereka tidur dulu tanpa mendebat lagi. Dengan catatan kelopak bunga itu disingkirkan terlebih dahulu diatas kasur.
Beberapa jam kemudian..
Mereka sudah terbangun dan sudah sama-sama mandi dan makan juga. Pasangan itu kini tengah bersantai dibalkon yang langsung menghadap pantai. Menikmati langit yang berwarna ke unguan.
__ADS_1
"A' ini kita beneran dilaut?" Alita begitu kegirangan melihat hamparan laut yang terbentang didepan matanya.
*Emang tadi diperjalanan gak liat laut sama sekali Lit?* Author 🤭
*Auk dah elo yang bikin naskah!* Alita.
*Dih ngegas! Udah bisa elo-eloan.* Hahahaha
"Bukan dilaut Lit, kita dipinggir laut." Eza menarik ujung senyum melihat gadis yang terlihat senang itu.
"Waahh.. Alit pengen banget main air disana A'."
"Besok kamu boleh main sepuasnya."
"Serius A'.. yeaaayy.." Alita bahkan refleks merengkuh tubuh Eza saking bahagianya.
"Kamu udah pernah main ke laut?" Eza balas memeluk gadis itu.
"Pernah dulu waktu Alit masih kecil. Pas ayah sama ibu masih ada." ujar gadis itu yang sepertinya memutar kenangan masa lalu saat ia masih anak-anak.
"Seneng gak?" tanya Eza.
"Seneng banget A'.. Makasih yah uda ajak Alit kesini."
Eza mengulum senyuman lebar. Gadis dihadapannya itu selalu bersyukur dan berterimakasih atas apa yang ia lakukan. Eza jadi merasa bangga kepada dirinya sendiri karena bisa membuat wanita itu senang. "Aa' juga seneng liat kamu seneng." Cupp!! Eza mengecup kening Alita dengan perasaan tulus. Bagi Eza Alita adalah permata yang terpendam.
Cupp!! Eza juga sedikit membungkukan tubuhnya dan membubuhi kecupan dibibir Alita. Kecupan yang kemudian berubah jadi hisapan kecil dan berujung dengan saling berpagutan satu sama lain.
Langit yang hampir gelap itu menjadi saksi bagaimana mereka berbagi saliva dengan penuh kasih.
__ADS_1
Bersambung~