Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Periksa Kandungan


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan. Alita rutinmemeriksakan diri ke dokter kandungan dan tentunya selalu ditemani Eza disampingnya. Eza dan Alita sama-sama mengulum senyuman lebar saat dokter wanita itu mengatakan bahwa kandungan Alita sehat. Bulan ini kehamilan Alita sudah mencapai trismester kedua.


"Perkembangan janin pada usia 4 bulan, tepatnya usia 20 minggu janin sudah sebesar buah pisang Bun. Janin sudah memiliki berat 290 gram dan panjang 16,5 cm. Gimana? Bunda sudah merasakan pergerakan janin kah?" Ibu dokter itu bertanya dengan ramah sambil mengaplikasikan alat USG diperut Alita. Menceritakan tentang perkembangan janin didalam perut Alita.


"Ada dok, kalo Alit elus-elus perutnya suka ada getar-getar gitu. Itu dedeknya gerak yah bu?"


"Betul, Bun. Itu pergerakan janin. Biasanya gerakan janin 4 bulan mulai terasa, lebih sering lagi saat kehamilan sudah mencapai 5 atau 6 bulan, rahim bunda sudah setinggi pusar, jadi tentunya sudah lebih besar. Sehingga, biasanya memang sudah terasa sesekali seperti menghentak." jelas dokter itu lagi.


"Jadi bayi dan bundanya sehat yah dok?" kali ini Eza yang bertanya.


"Sehat.. Bayi dan bundanya sehat." Selama ini Alita memang baik-baik saja. Tidak ada keluhan atau kesulitan selama mengalami masa trismester pertama. Tidak terlalu sering muntah atau mood swing, semuanya masih dalam batas normal.


"Berarti udah boleh lebih intens ya dok, kalo berhubungan badan?" Hm~ otak lelaki Eza keluar. Karena selama trismester pertama Eza tidak dianjurkan untuk sering-sering berhubungan intim. Takut-takut terjadi suatu hal karena Alita sedang hamil muda diusia yang masih muda.


"Boleh, ayah dan bunda sudah boleh berhubungan intim secara aktif sampai usia kehamilan bunda menginjak usia tujuh bulan. Tapi tetap hati-hati yaa, karena usia kehamilan Bunda masih rentan. Dan juga harus saat dua-duanya memiliki mood yang baik atau saling menghendaki."


Haaasyiiiiikkkk~ \=D/


"Apa ada posisi yang dianjurkan agar hubungan intim kami aman dok?" tanya Eza lagi.


"Yang dianjurkan itu wanita di atas atau si wanita dalam posisi nungging dan suami dari arah belakang."


"Aa' ih nanya teh aneh-aneh!" Alita mendelikan mata sambil menatap Eza. Yang lelaki itu pikirkan hanya berhubungan badan saja, bukannya memikirkan janin Alita.


"Kan biar aman, jadi Aa' harus nanya itu juga. Udah lama lho Aa' gak dikasih jatah." Jih, Eza berujar seolah tidak ada siapapun selain mereka dikamar itu.


"Atuh malu A' ada ibu dokter juga."

__ADS_1


"Hehe gakpapa, Bun. Hubungan intim juga memang perlu."


Horeeeee... Eza serasa mendapat dukungan.


Setelah selesai dengan pemeriskaan dan membeli sejumlah vitamin yang disarankan dokter kandungan, Eza dan Alita langsung kembali kerumah. Setelah Alita hamil Eza memang jarang bekerja dikantor. Lelaki itu lebih memilih mengerjakan pekerjaannya dirumah, toh Eza adalah bossnya. Eza hanya sesekali pergi ke kantor jika ada meeting atau pe-nanda tangannan dokumen.


Baru memasuki gerbang rumah~


"A'.." Alita bersuara sambil menyentuh perutnya.


"Apa?" Eza menjawab sambil memutar kemudi, mobil yang ditumpangi Eza dan Alita kini diparkirkan dihalaman rumah.


"Alit pengen makan goreng burung puyuh" ujar Alita dengan wajah memelas.


"Burung puyuh? tadi katanya gak mau apa-apa." Eza menatap Alita sambil mematikan mesin mobil.


"Yaudah kita pesen online aja.. Yuk kita turun."


"Alit pengen makan ditempatnya. Gak mau online online."


"Jalanan lagi macet, sayang. Kita aja nyampe satu jam diperjalanan tadi. Online aja ya?"


"Alit pengen makan ditempatnya langsung. Pengen makan yang baru digoreng, yang masih agak panas."


"Kan bisa nanti minta yang baru digoreng."


"Yaudah gak usah deh. Hiks~" Alita turun dari mobil dengan wajah yang ditekuk.

__ADS_1


Heeeeeeuup Aaaaaahh~ Eza menarik nafas dan membuangnya pelan. "Iya iya hayuuu kita makan disana. Jangan ngambek dong." Eza turun dari mobil dan mengejar Alita.


"Gak usah A'. Jalannya macet." Wajah Alita sudah ditekuk malas. Cie ngambek.


"Nggak papa hayu, itung-itung jalan-jalan aja." Eza mencoba memberikan penawaran. Seharusnya ia memang tidak menolak keinginan istrinya yang sedang hamil itu.


"Nggak mau A', Alit pengen tidur siang aja."


"Hayuuuk,, Aa' juga pengen makan burung puyuh. Yukk.. Manyun mulu nanti cepet keriputan lho, nanti cantiknya ilang." Sabar Eza. Menghadapi ibu hamil memang perlu kesabaran dan tenaga ekstra.


 


Aaaaaa~ Alita menahan senyuman.


Selesai dengan pemeriksaan kandungan dan perkara makan burung puyuh goreng, Eza dan Alita kini sudah kembali lagi ke rumah. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam.


"Makasih yah A' udah nurutin kemauan Alit, Alit seneeeeng banget. Burung puyuhnya enak banget!" Gadis yang akan segera menjadi wanita itu bergelayut manja dilengan Eza.


"Sama-sama, sayang.." Eza mengusak rambut Alita dan tersenyum. Dan inilah yang selalu menjadi obat dongkol dan lelah Eza terhadap Alita, gadis itu selalu berucap terimakasih dan juga berujar senang dengan ceria. Menyiratkan apa yang telah Eza lakukan tidak sia-sia. "Mandi dulu yuk, tadi kan udah janji kalo abis makan burung puyuh mau makan burung Aa' juga heeeee..." Mode omeshnya keluar.


"Janji? Kapan ari Aa'?" Alita mengingat-ingat kembali, tapi perasaan Alita tidak pernah mengucap janji apapun kepada Eza. Alita bingung sendiri.


"Kok kayak bingung gitu sih, udah hayuk! Burung Aa' pokoknya lebih enyak heee..."


 


 

__ADS_1


Aaaaaaaaaaaa~


__ADS_2