
Jemari mereka saling bertautan menyusuri jalanan yang masih berupa tanah, rumput-rumput yang kurang terawat mulai mereka belah dan perlahan meninggalkan tempat pemakaman. Keduanya masih diam, belum ada kalimat penghangat lagi.
“Kok rumah ibu sepi yah A’.” Wanita itu membuka suara. Bilik sederhana yang menyimpan jutaan cerita itu memang nampak sunyi, seharusnya ada aktifitas apalagi cuaca disana sedang sangat bagus. Tidak terlalu panas namun tidak mendung juga.
“Kamu mau yang rame?” tangan Eza melepas tangan Alita, melingkari pinggang kemudian meremas lembut.
“Ih.” Alita berjengkit kaget.
Hehe.. Eza malah tersenyum kecil. Sudah gemas dengan wajah Alita yang jelas-jelas menyimpan kesal dan seribu tanya. Eza jadi tidak sabar melihat apa kejutan yang dia berikan akan membuat wanita itu senang.
Hening lagi..
“Mama sama papa belum sampe juga A’? kenapa gak di susul aja atuh A’, kasian mama sama papa kelamaan di bengkel.” Langkah Alita terhenti, bukan itu yang sebenarnya ingin dia ungkapkan. Hanya saja, hanya saja Alita bingung kalimat apa yang bisa mewakili kegundahan yang berhari-hari dia sembunyikan.
“Mama sama papa udah gede, sayang. Gak perlu di khawatirin. Mending sekarang kita….”
“A’.” Alita menegapkan tubuhnya. Menatap Eza dengan dagu yang sedikit terangkat agar pandangan mereka sejajar. Pahit atau manis, Alita harus segera menemukan jawaban. Tentang kejelasan hubungan antara mereka. “Kontrak kita udah berakhir…” Ah, rasa sesak itu langsung menyeruak. Berakhirkah? sungguh? tapi Alita tidak mau.
“Aa’ tau kontrak kita udah berakhir.” Pandangan itu bertemu lagi. Pandangan yang jelas menyiratkan bahwa mereka tidak ingin kehilangan satu sama lain.
“Dulu Aa’ mau nikahin Alit secara resmi kalo Alit bisa mengandung anak Aa’, tapi sampai saat ini Alit belum dikasih kepercayaan lagi untuk itu. Maaf, Alit udah berusaha buat memberikan kebahagian itu, tapi ternyata Alit gak bisa A’. Alit gak bisa melengkapi kebahagiaan Aa’, kebahagiaan mama papanya Aa’.” Siapa yang menyangka ternyata kini Alita memiliki sisi dewasa. Cara dia menatap dan mengungkapkan isi hatinya, berbeda dengan Alita si gadis purba yang aneh, yang satu tahun lalu muncul ke hadapan Eza.
“Iya, Aa’ masih inget janji itu kok.”
Gulp! Alita menelan ludah.
“Karena Alit gak bisa memenuhi keinginan Aa’, jadi Aa’ juga gak perlu tepatin janji Aa’. Alit gak akan maksa Aa’ buat nikahin Alit. Alit gak mau Aa’ jadi merasa Terjebak kawin kontrak ini. Alit mau liat Aa’ bahagia dengan pasangan dan juga keturunan Aa’.” hiks. Segamblang itu mulut Alita berucap. Seolah benar-benar rela jika ia benar ditinggalkan. Padahal hatinya seperti dihantam benda tumpul. Sakit. Teramat sakit.
“Sayang..” Tangan Eza membelai wajah Alita. Wajah manis yang kini malah dipenuhi kesedihan. Sepertinya sudah cukup untuk bermain-main dengan wanitanya, jangan sampai Alita justru sakit hati sungguhan.
Pluk! Mata Alita terpejam. Dan bulir-belir bening mencelos begitu saja dari kedua bola matanya. Tak sanggup lagi untuk menatap lelaki yang kini menguasai hati dan hidupnya. Berharap bahwa kehilangan Eza adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi.
“Aa’ gak akan pernah ingkar janji.”
“Alit gak mau kehilangan Aa’. Alit sayang pisan sama Aa’.” Tangan Alita melingkari tubuh kekar Eza, membenamkan wajah dan menyembunyikan tangisnya yang semakin deras.
“Siapa yang hilang, sayang. Aa’ disini.” Eza ikut memeluk, juga membelai rambut Alita dengan lembut. Sedikit menyimpulkan senyuman melihat tingkah Alita mengungkapkan perasaannya begitu.
__ADS_1
Selanjutnya Alita dibawa Eza menuju sebuah tempat. Tempat yang menjadi saksi bisu bagaimana kisah kawin kontrak itu bermula.
“Kita mau menginap disini lagi A’?” tanya Alita dengan mata yang masih agak kemerahan. Villa itu, villa tempat mereka melangsungkan kawin kontrak satu tahun yang lalu.
Sepintas kenangan itu kembali terkenang, saat mereka masih sama-sama canggung. Saat Alita menyerahkan diri, saat Alita melayani suami yang membayarnya. Sarkas tapi itulah kenyataan.
“Ke atas yuk. Aa' udah siapin baju buat kamu.” Ajak Eza. Namun tanpa menunggu persetujuan Alita, lelaki itu sudah menuntun Alita naik.
"Baju apa A'?"
"Kejutan sayang."
~
"Aku mau minta hak aku malam ini, kamu siap?" Eza menatap gadis asing di hadapannya, gadis muda yang lumayan cantik meskipun tanpa riasan di wajahnya.
"I-iya A'." Gugup Alita menjawab, sambil menggigit bibir bagian dalamnya sendiri.
Patuh. Alita hanya bisa patuh dengan segala arahan yang diberikan, gadis itu benar-benar menurut dan menyiapkan hatinya untuk menyerahkan diri malam ini. Meskipun kini detak jantungnya berpacu sangat cepat dan pori-porinya terasa membesar dan bercucuran keringat saking takutnya. Untuk pertama kali ia berada sedekat ini dengan seorang lelaki, terlebih lagi keadaanya telanjang seperti itu.
Eza kemudian mulai mengecupi bagian-bagian tubuh Alita yang terbuka. Sebagai lelaki normal yang hampir 3 bulan lebih tidak menyalurkan hasrat biologisnya, lelaki itu terlihat sangat bergairah.
Gadis itu mulai meremang seiring kecupan Eza yang sangat lembut mengenai kulitnya, darah mereka sudah sama-sama mendidih karena pemanasan itu. Eza kemudian membungkam bibir wanita yang sepertinya sedikit bergetar, mencium kemudian menghisapnya dengan lembut.
Kaku sekali.. Tapi bibirnya manis~
__ADS_1
Tangan Eza tidak tinggal diam, lelaki itu juga menghampiri dua gunung kembar yang sepertinya belum matang sempurna. Buah kenyal itu sangat pas digenggamnya, membuat Eza asik berlama-lama dengan kegiatan itu.
Mmmh~ Alita meloloskan desahan yang tertahan. Untuk pertama kali bibirnya disentuh oleh bibir lagi, rasa itu begitu aneh namun sedikit memabukkan. Membuat Eza tersenyum kecil dan semakin intens dengan gerakannya. Dan sekarang mereka berdua sudah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.
"Sekarang yaaa.." ujar Eza sambil melepaskan bibir mereka yang saling bertautan. Sementara Alita tidak menjawab apapun, gadis itu sibuk mengatur nafasnya yang berantakan.
Perlahan Eza melebarkan paha Alita, merambatkan jarinya menuju inti tubuh gadis itu. Aaaah~ guha kenikmatan itu bahkan sudah lembab sekarang. Mungkin karena pemanasan yang cukup lama dan sangat dinikmati detik-detiknya.
*
"Aaaaaahhh.." Alita mencengkeram punggung Eza dan merapatkan wajahnya di dada bidang lelaki itu, berusaha menahan teriakannya meskipun itu terasa sangat sakit sekali. Hiks. Alita sampai meloloskan bulir-bulir bening dari sudut matanya.
"Sakit ya?" tanya Eza yang belum bergerak lagi. Punggungnya yang dicakar pasti tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Alita. Kejantanannya terasa dijepit dengan sangat kuat, dihimpit dinding-dinding yang memijat dengan sangat kuat. Sempit sekali. Eza bahkan belum pernah merasakan gigitan yang seperti itu.*
~
"Sayang, kita mandi dulu yuk biar seger." Bayangan saat Alita memberikan mahkotanya tiba-tiba membuat Eza merinding. Adik juniornya tiba-tiba bangun dan ingin di manjakan.
"Alit kan udah mandi A' waktu di Jakarta."
"Mandi lagi, sayang. Bau aceum! Dari tadi kan keringetan."
"Keringetan gimana atuh A'? Puguh cuaca disini lagi adem begini."
"Yaudah kita mandi keringet aja kalo gitu." Cap..cip..cup mwah..
Bodo amat yang lain nunggu, daripada ngorbanin si otong yang nunggu. hahaha.
Sosor bang!!!!
__ADS_1