Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Nongki


__ADS_3

Sudah ditempat tujuan..


Rumah Rya ternyata tidak terlalu jauh dari apartemen Eza dan Alita. Tanpa menunggu lama mereka sudah sampai dan asyik berbincang untuk sekedar berbasa-basi. Hingga akhirnya Eza memperhatikan arloji yang melingkar ditangannya.


"Gue nitip Alit ya, awas lho jangan sampe lecet." Ujar Eza sambil mempersiapkan diri untuk berangkat dari sana.


"Kucing kali ah dititipin." sahut Rya sambil memperhatikan Eza dengan tatapan canda.


"Hehe.. Aa' berangkat dulu yah.. Nanti Aa' jemput lagi kesini." Cupp!! Eza mengecup kening Alita. Dihadapan Rya.


"A' malu atuh ih." bisik Alita.


"Kok manggilnya Aa' sih, nggak ayank bep gitu." Rya menyahut disela adegan suami istri yang saling berpamitan itu.


"Udah gak zaman, terlalu umum.. Yaudah ya, harus buru-buru nyampe nih ditungguin." Eza kembali menatap arloji itu.


"Yoi.. Tiati Za." Rya menyahut lagi dengan gaya khasnya sebagai anak muda, meskipun katanya wanita itu kini sedang mengandung anak kedua.


"Teh, Alit pamit anterin Aa' sampe depan dulu yah." Alita ikut berdiri menyeimbangi Eza dan menatap Rya sambil


tersenyum.


"Eh iya, Lit." Pamit katanya.


Eza dan Alita keluar menuju pintu utama, berjalan bersama kemudian melepas lelaki itu untuk pergi bekerja. Mirip kebiasaan mereka saat masih tinggal dirumah yang lama.


"Jaga diri baik-baik yaa.. Nanti Aa' langsung kesini kalo udah selesai." Eza dan Alita berhenti melangkah. Saling menatap.


"Iya A', si teteh ini kayaknya baik kok sama Alit. Tenang aja Alit gak bakalan macem-macem hehe."


"Good girl." Eza menjawil gemas dagu Alita


.


"Oh iya, hape kamu aktifin yaa. Nanti Aa' mau chit chat sama kamu, biar kamu terbiasa sama hape itu."

__ADS_1


"Chit chat teh apah A'? Eh tapi kan hapenya mati A', Casannya juga dirumah."


"Nanti pinjem aja.. Rya pasti punya kok." Alita kemudian mengangguk patuh. Dan sejurus kemudian Eza benar-benar pamit dan pergi darisana. Meninggalkan Alita bersama Rya berdua.


Alita kemudian kembali masuk, dilihatnya Rya masih diposisi yang sama saat ia berpamitan tadi. Wanita itu tampak sibuk dengan hape sambil senyum-senyum sendiri.


Ih siteteh kenapa sura-seuri-sorangan :?


"Teh.." Alita menyapa lagi saat ia akan duduk di sofa.


"Eh,, Eza nya udah berangkat?" Rya menoleh sambil menaruh ponselnya diatas meja.


"Udah teh,, udah berangkat." Alita tersenyum canggung.


Kemudian mereka lanjut berbasa-basi. Saling bertanya dan berbagi cerita basic kehidupan masing-masing. Mencoba saling mendalami dan menjalin keakraban.


"Astagaaa... Kawin kontrak?" Rya tercengang ketika mendapati penuturan Alita. Gadis itu berujar polos sepolos-polosnya tentang bagaimana hubungan antara dirinya dan Eza dimulai.


"Iya teh, Alit dikawin kontrak sama A' Eza selama setahun. Tapi si Aa' minta Alit supaya hamil dan janji mau nikahin Alit secara resmi, tapi sayang, bayi Alit baru aja keguguran beberapa minggu yang lalu." Bukan Alita


jika tidak bawel dan membeberkan segalanya dengan gamblang. Meskipun baru kenal ternyata mereka langsung klop dan nyaman untuk saling bicara. Mungkin karena Alita baru merasakan yang namanya mempunyai teman yang bisa diajak mengobrol.


Rya dan Niky, tidak terlalu akrab. Gaya hidup mereka berbeda, lagipula Rya memang tidak terlalu suka bergaul dengan orang yang glamour seperti Niky.


"Owh gitu.. trus,, eh tapi sebelumnya maaf yaa, aku mau nanya sesuatu, boleh gak?" Rya yang cukup tertarik dengan cerita Alita mulai terkumpul beberapa pertanyaan didalam kepalanya.


"Nanya aja atuh Teh.. Hmm ini minumnya ditampi yaa.."


"Owh iya sok silahkan."


*Haus ye Lit nyerocos mulu \=D Author


"Alit pernah ketemuuuuu,,, Nikita?" takut-takut Rya bertanya. Ia bahkan menatap Alita untuk melihat airmuka gadis itu. Namun tidak ada apapun yang terjadi, gadis itu sepertinya sangat santai.


"Owh.. Mantan istri si Aa'?" Alita menjeda kalimatnya sambil melirik Rya yang menunggu jawaban dari dirinya. "Kalo

__ADS_1


sampe ngobrol sih gak pernah Teh, cuma Alit pernah ngeliat beberapa kali. Teh Nikita nya genit, masih suka peluk-peluk si Aa'."


"Peluk-peluk gimana maksutnya?" Kepo. Rya sangat kepo terhadap wanita yang bernama Nikita itu. Mereka tidak berteman namun pernah beberapa kali bertemu saat pertemuan bisnis para suami mereka. Dan kadang Rya dan Niky sesekali bertemu dikafe milik Boy.


"Katanya Teh Niky pengen balikan sama si Aa', tapi si Aa' nya gak mau karna sekarang si Aa' punya Alit ceunah."


"Duh.. Masih asik nih ngobrolnya. Tapi aku harus jemput dulu Barel disekolah.. Ikut yuk? nanti kita lanjut ngobrol dikafe Boy.. gimana.. mau gak?"


"Nanti kalo si Aa' kesini terus nyariin Alit gimana?"


"Kamu telpon dulu."


"Tapi hape Alit mati Teh. Alit baru aja mau bilang pinjem casan."


"Yaudah telpon pake hape aku aja, nanti hape kamu dicas dimobil. Nih..." Rya menyodorkan hape miliknya.


Dicas dimobil? Alita mengulang kalimat yang ia tidak mengerti. Namun kali ini didalam hati. Sejak Eza kesal dan menyebutnya 'Kulit' waktu itu, Alita jadi lebih memilah pertanyaan yang sebenarnya sangat ingin diketahui.


"Barel siapa Teh?" Malah pertanyaan itu yang keluar dari mulut Alita.


"Anakku. Ini langsung aku sambungin ke Eza ya." ujar Rya.


Dan setelah menelpon Eza dan mendapatkan izin, akhirnya Alita mau di ajak Rya untuk menjemput Barel dan melipir dikafe. Sebuah tempat asing lagi yang baru Alita kunjungi.


Sudah duduk dikafe dan memesan beberapa makanan dan minuman~


"Bun.. Barel mau sama ayah dulu." Pamit bocah kecil berusia empat tahun sambil berlari tanpa menunggu persetujuan Rya.


"Iya sayang, jangan nakal yaaaa..." Teriak Rya sambil memperhatikan punggung kecil yang berlari itu. "Eh..Gapapa kan kita nongki disini?" Rya menyeruput es kopi best seller dikafenya sambil


melirik Alita.


"Nongki?" Alita mengulang kalimat lagi.


"Nongkrong hehe.."

__ADS_1


Masa nongkrong disini? nongkrong mah di wese atuh kalo nggak digawir! (jurang)..


Bersambung~


__ADS_2