
Seiring waktu berjalan, perut Alita mulai menunjukan perubahan. Janin yang ada didalam rahim Alita sudah mulai berkembang, buktinya perut Alita kini mulai menonjol, menandakan gadis itu benar-benar hamil.
Gadis yang polos itu juga kian manja kepada Eza, mungkin karena hormon ibu hamil mulai menyerang Alita. Kadang Eza kewalahan menghadapi Alita yang manja dan selalu merengek, namun apapun itu, Eza selalu melakukannya dengan senyuman. 'Alita seperti itu karena aku, karena bayi yang sedang ia kandung.'
Hari ini Eza tidak masuk kantor karena Alita minta ditemani dirumah. Bik mumun sedang tidak masuk karena sakit dan Alita bilang ia takut jika ditinggal sendirian.
"Aa' janji kan gak ke kantor hari ini? bik mumun sakit A', jadi hari ini bik mumun gak masuk."
"Hm.. gimana yaa?" Eza berakting seolah sedang menimang-nimang pemikiran dikepalanya.
"Jangan tinggalin Alit A', Alit takut kalo dirumah sendiri." Alita menggelayut manja dilengan Eza. Mode manja nya itu memang selalu On setiap hari.
"Iya iyaaaa.. Aa' nggak masuk kantor deh hari ini.. Aa' mau nemenin kamu seharian hari ini. Tapi dapet imbalan gak?" Eza menatap gadis itu dengan senyuman. Entah mengapa sejak Alita hamil, keinginan Eza untuk bercinta jadi lumayan tinggi. Andai saja dokter mengizinkan mereka lebih intens berhubungan intim, Eza pasti akan melakukannya setiap hari.
"Imbalan apa atuh A'? Alit harus ngasih uang gitu sama Aa'?" Alita mengerutkan wajahnya, membuat alisnya hampir saja saling bertautan. Kenapa harus meminta imbalan sih. Pikirnya.
"Ini!"
"****** murag!!" wkwk😂 Alita tersentak kaget saat tiba-tiba tangan Eza meraih segitiga bermuda miliknya. Membuat Alita menjadi tiba-tiba latah. "Aa' mah ih.."
"Iiihh.. ngomongnya jorok." Eza semakin menggoda Alita sambil tertawa kecil. Haha. Bahkan Eza tidak bisa menahan untuk tidak tergelak.
"Kaget A'." Bibir Alita mengerucut karena tadi itu ia merasa kaget sungguhan.
"Hehe.. Pengen ih." Cup! Eza sudah membubuhkan kecupan diwajah Alita. Menciptakan suasana intim agar adegan itu terjadi.
"Pengen apa ari Aa'." Stop! Sekali saja Alita mendapatkan kecupan, tubuh Alita selalu saja langsung meremang. Bulu kuduknya mudah sekali berdiri sekarang. Apa ini karena hormon kehamilan atau memang karena Alita jadi doyan?
"Ini.." Lagi-lagi Eza me-re-mas segitiga bermuda Alita pelan. Libido Eza seringkali naik dan tak tertahan untuk segera disalurkan.
"Masih pagi atuh A', lagian kata dokter jangan sering-sering dulu." Alita meraih tangan Eza agar berhenti dari aktivitasnya. Meskipun Alita mau tapi ia harus menolak karena ini demi bayi yang ada didalam kandungannya.
__ADS_1
"Ya gapapa.. Mau pagi atau malem tetep enak kok." Hidung Eza sudah bergerilya menyusuri batang leher Alita. Membuat gadis itu semakin meremang dan sesuatu didalam celana Eza terasa sesak.
"A' ih.." Napas Alita tertahan. Mata Alita bahkan sudah tidak bisa menahan agar terus terbuka. Kesadarannya sudah mulai dikuasai surga dunia yang bahkan belum dilakukan. Sesi pemanasan ini benar-benar membakar Alita.
Cap..cip..cup Eaaaa #Iklan wkwk
Sudah melewati pertempuran panas pagi itu, kini mereka sedang makan makanan yang baru saja datang. Hari sudah hampir sore namun Alita belum memasak karena sejak tadi dikuasai Eza, untuk itu mereka jadi memesan makanan online.
"Cape yaaa.." Eza menyuapi Alita yang sepertinya kehabisan banyak tenaga karena pertempuran tadi.
"Nggak A', cuma lemes aja sedikit." Alita menerima suapan dari Eza lalu mengunyahnya pelan.
"Yaudah nanti habis makan kamu istirahat aja yaa, Aa' harus ke kantor sebentar. Ada perlu.."
"Kan Aa' izin gak masuk, kenapa gak besok aja A' ke kantornya?" Jika Eza pergi artinya Eza ingkar janji. Tadikan ia bilang akan menemani Alita seharian, bahkan imbalan yang Eza minta juga sudah ia dapatkan.
"Sebentar aja, Sayang. Aa' harus tanda tangan, ini penting." Eza menyuapi lagi Alita yang mulai menekuk wajahnya.
"Jangan ngambek dong.. Kamu kan capek jadi harus istirahat. Yaaa.. Nanti Aa' gendong deh ke kamarnya, oke." Eza memberikan penawaran namun Alita hanya diam tidak menjawab atau sekedar menggeleng dan menganggukan kepala. "Wah.. Minta dicium lagi sih inimah."
Hyaaaa!! Eza membawa tubuh Alita untuk dibaringkan diatas kasur. Cap..cip..cup. Eza menyerang Alita dengan hujan kecupan. Membuat Alita jadi menggeliat geli.
"Nih yang suka manyun tuh harus digini-in."
Mwah..mwah..mwah.
"Ha ha ha.. Ampun A'." Alita terkekeh geli.
"Mwah..mwah..mwah.." Dan Eza terus saja menghujani kecupan.
"Udah A' ih.. Iya iya Aa' boleh ke kantor tapi jangan lama-lama yaaaa." Alita mengalah. Kecupan itu membuatnya merasa geli. Alita tidak mau mendapat yang lebih dari ini. Tubuhnya sudah lelah dan minta untuk diistirahatkan.
__ADS_1
"Iya sayang, sebentar doang kok." Akhirnya Eza melepaskan diri dari tubuh Alita yang sudah menjadi candu baginya. "Yaudah Aa' berangkat dulu yaa.. Kamu istirahat." Cupp!! Eza mengecup kening Alita lama.
Sepuluh menit setelah kepergian Eza~
Alita yang semula ingin tidur beristirahat entah kenapa hanya bisa berguling-guling mencari posisi yang nyaman. Mata itu seolah enggan untuk dipejamkan. Dan jika hal seperti itu terjadi, biasanya pelukan Eza dan sentuhan Eza yang membelainya yang mampu mengobati.
"Si Aa' meuni lama pisan berangkatnya." Alita berujar sendiri. Padahal belum satu jam lelakinya itu pergi.
Dan karena merasa haus juga, Alita kemudian memutuskan untuk turun ke lantai bawah untuk minum dan mengambil beberapa camilan. Sejak hamil, Alita memang jadi sering makan. Entah itu makanan berat atau sekedar camilan.
Kali ini camilan Alita adalah beberapa potong buah segar. Gadis itu tampak menikmatinya dengan lahap. "Sehat-sehat yaa dek." ujarnya sambil mengelus perut yang sudah menonjol itu. "Nanti dedek manggilnya apa yaa, mama ibu atau apa? apa ajadeh asal jangan manggil nama, pamali hehe." Cih, sedang sendirian juga kenapa masih konyol sih.
Ting tong.. Suara bell dipencet.
"Pasti si Aa' pulang." Alita langsung tersenyum sumringah saat mendengar suara bell yang menandakan ada orang dibalik pintu. Sudah pasti itu Eza yang memang Alita tunggu.
Krek!! Pintu dibuka.
"Aa' udah... Eh.." tiba-tiba Alita merubah ekspresi wajahnya. Bukan, itu bukan Eza. Mana mungkin Eza berubah jadi wanita yang tinggi semampai dengan penampilan modis seperti itu. Tapi tunggu, sepertinya Alita pernah melihat wanita ini. Tapi dimana?
"Siapa kamu?" tanya wanita itu.
"Eh.. saya.." Alita menggantungkan kalimatnya. Masih berusaha mengingat wajah yang pernah ia lihat itu. Aaaa Nikita! Iya. Wanita ini bernama Nikita. Wanita yang pernah Alita lihat difoto bersama Eza, wanita yang pernah disebut namanya saat Eza kerasukan jin.
"Dimana Eza?" Nada bicara wanita itu bahkan tidak ramah.
Duarr!! Bagai disambar petir Alita hanya mampu diam mematung. Seperti baru mendapat tamparan keras yang membuatnya kembali kepada kenyataan bahwa Eza memiliki istri lain. Seketika dunia Alita terasa runtuh. Apakah negeri dongeng ini sudah usai?
__ADS_1
Bersambung~