Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Telat


__ADS_3

Dua bulan setelah pemeriksaan terakhir~


Sudah satu minggu Alita tidak kedatangan tamu dari belanda yang seharusnya datang tepat waktu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri, menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada dirinya. "Jangan jangan Alit lagi hamil yaa?" uajr gadis itu berbicara sendirian. "Alit harus bilang sama si Aa'." Alita mencari hapenya, berniat menghubungi lelaki itu.


"Ehhh.. Tapi.. Kayaknya Alit jangan kasih tau si Aa' dulu, takutnya Alit gak hamil gimana? nanti si Aa' malah kecewa." Gadis itu mengurungkan niatnya kemudian menaruh ponsel itu ke tempat semula. Laci. Gadis itu kini menyimpan hapenya di laci, semenjak diprotes karena menyimpan hape di lemari ini tempat hape itu berpindah menjadi di laci.


Alita kemudian memutuskan untuk menemui Bik mumun dan meminta saran kepada wanita itu, hal itu dirasa cukup membantu daripada memberi tahu Eza dan malah memberikan harapan palsu untuk lelaki itu.


"Bik.." Alita duduk di meja makan, menyaksikan bik mumin yang sedang sibuk berkutik disana.


"Iya Non?" Bik mumun menoleh sambil memberikan senyumannya.


"Alit pengen tes kehamilan. Caranya gimana ya? tapi jangan yang kerumah sakit, kalo dikota ada mak berang gak sih?"


"Mak berang?"


"Itulooooh, apating.." Alita memikirkan sesuatu. "Dukun beranak. Haaaaiya, disini ada dukun beranak gak bik?"


"Kalau cuma pengen tes kehamilan ngapain ke dukun beranak non, enon tinggal beli testpack aja." Ampun. Ada-ada saja pertanyaanya.


"Testpack teh apa bik?" Alita bertanya lagi.


"Tespack... alat buat tes kehamilan di rumah."


"Wah emang ada ya alat kayak gitu?"


"Ada non, emang enon kenapa? telat datang bulan?"


"Iyaa bik, Alit udah telat datang bulan satu minggu. Alit bisa minta tolong dibeliin alat itu nggak? tapi jangan bilang-bilang sama dulu sama si Aa' ya."


 

__ADS_1


 


~


"Dua garis." Alita menatap benda pipih yang ada di tangannya. Alat yang katanya bisa mendeteksi kehamilan itu memberi hasil dua garis. Dan menurut petunjuk yang ia baca dua garis itu artinya positif. "Maksudnya Alit positif hamil apa gimana sih ini? hasilnya cuka dua garis aja."


Alita bingung.


Kemudian Alita kembali keluar kamar dan berniat untuk menemuimu bik mumun lagi. Tapi ternyata bik Mumun sudah pulang. "Biiikk.. ini kok hasilnya kayak begini? maksudnya apa ya?" alita setengah berteriak sambil berjalan menuju dapur dan membawa benda yang bernama tespek itu.


"Hasil apa Lit?" suara seorang lelaki menyahut. Dan tentu saja itu adalah Eza. Kenapa lelaki itu sudah pulang? Alita kan belum selesai memastikannya.


"Eh.. Aa' udah pulang?" Alita gugup sambil menyembunyikan tespek itu di balik punggungnya.


"Iya.. Aa' lagi pengen pulang cepet. Aa' kurang enak badan." Eza menghampiri Alita dan kemudian gadis itu mengulurkan tangan untuk meminta tangan Eza untuk dikecupnya. "Maksudnya tadi hasil apa?"


"Eeeh.. Nggak A'." Alita semakin menyembunyikan tespek yang ada di tangannya. Tidak. Alita tidak mau melihat suaminya kecewa karena tes kehamilan lagi.


"Itu apa yang diumpetin?" Tahu. Eza tahu bahwa Alita menyembunyikan sesuatu.


"Coba Aa' liat?" Eza membuka tangannya dan meminta Alita untuk menyerahkan apa yang ia sembunyikan. Tapi justru gadis itu menggeleng samat sambil mundur perlahan-lahan. "Dosa lho ngumpetin sesuatu dari suami."


"Belum saatnya Aa' tahu, Alit harus nanya bik mumun dulu." Gadis itu kukuh dengan pendiriannya untuk tidak memberikan hasil tes itu kepada Eza. Alita takut Eza kecewa, itu saja.


"Aa' pengen liat sekarang." Eza meminta lagi, membujuk gadis itu memberikan apa yang ia sembunyikan.


"Alit takut Aa' marah."


"Aa' janji gak bakal marah."


"Bener?"

__ADS_1


"Iya!"


"Serius?"


"Ciyuss Miapah Alita!!!"


Hehehehe.. Alita kemudian memberikan hasil tes itu meskipun ragu-ragu, gadis itu menyipitkan matanya untuk melihat bagaimana reaksi Eza ketika melihat benda pipih yang menunjukkan dua garis itu.


"Ini serius dua garis?" Eza menatap Alita tidak percaya. Mimpikah ini?


"Tuhkaaaann.. Aa' kan udah janji gak bakalan marah."


Mwah..Mwah..Mwah. Eza langsung menghujani Alita dengan kecupan-kecupan di wajah gadis itu. Betapa bahagianya Eza ketika mendapati benih cinta itu sudah tumbuh dirahim Alita. Yaaa, Alita benar-benar hamil sekarang. Eza sudah sukses membuktikan bahwa dirinya adalah lelaki perkasa. Rasa bahagia itu benar-benar membuncah dalam diri seorang Eza.


"Kamu udah bikin Aa' bahagia banget, Lit. Sebutin.. kamu mau hadiah apa dari Aa'." Eza terus saja mengecupi Alita sejak mereka pulang dari dokter kandungan dan membawa hasil tes kehamilan. Sungguh ini bahagia bukan main.


"Hadiah? Aa' kenapa sih?" Alita mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti kenapa Eza begitu kegirangan.


"Kamu hamil, Lit. Anak Aa', anak kita. Aaaaa Yatuhan.. Terimakasih untuk kebahagiaan ini." Eza merengkuh tubuh Alita sambil menceloskan air mata bahagia. Betapa ini sangat membuat hatinya sangat membuncah. Bahkan rasanya Eza tidak pernah merasakan bahagia yang seperti itu.


"Hamil? jadi Alit hamil A'?" Alita tidak kalah girangnya seperti Eza. Tanpa sadar ia juga sama menantikan hal itu.


"Sebutin kamu mau hadiah apa?" Eza melepaskan pelukannya dan kemudian menatap Alita penuh haru.


"Liat Aa' bahagia Alit mah udah bahagia A'.. Alit gak mau apa-apa yang penting bayinya sehat dan Aa' selalu ada disamping Alit." Gadis itu menyunggingkan senyuman manis dan mengusap air mata lelaki yang mulai menguasai hatinya. Yaa, Alita tidak bisa menampik bahwa dirinya kini mencintai Eza. Apalagi setelah benih itu tumbuh. Level cinta dan sayang Alita kepada Eza rasanya semakin bertambah.


"Jaga dedek-nya baik-baik yaa, Sayang.. Aa' sayang kalian." Cup! Cup! Eza mengecup perut dan kening Alita bergantian. Tanpa ke-munafikan Eza berani mengakui bahwa dirinya juga mencintai Alita.


"Alit juga sayang sama Aa'."


 

__ADS_1


 


(づ ̄ ³ ̄)づ ლ(´ ❥ `ლ)


__ADS_2