
Masih dengan perasaan haru, Eza dan Alita saling berpelukan.
“Alit kira Aa’ gak akan menikahi Alit, Alit pikir Aa’ bakal ninggalin Alit disini.” Ketakutan, kegundahan dan kekhawatiran Alita sirna begitu saja. Berganti haru karena kejelasan hubungan mereka. Alita sudah tidak meragukan lagi bahwa Eza mencintai dirinya seperti ia yang juga mencintai Eza.
“Mana mungkin Aa’ ninggalin kamu, Aa’ gak akan bisa hidup tanpa kamu.” Selama Alita menjadi istrinya, selama itu pula Eza banyak bergantung. Sudah mulai tertata dan memiliki tujuan hidup baru. Bagaimana jadinya jika gadis itu menghilang? tentu hidup Eza akan kembali berantakan.
“Selamat ulang tahun, sayang. Terima kasih kamu gak nolak apa yang Aa’ siapkan untuk kamu.” Detik selanjutnya Eza memasangkan sebuah cincin bertahtakan berlian di jari manis milik Alita. Mengecupnya dengan tulus kemudian memeluk lagi.
Tak cukup sampai disitu, kini Alita dibawa menuju tempat lain yang akan membuatnya lebih terkejut. Sebuah halaman luas yang sudah berdiri tenda dan hiasan-hiasan yang senada dengan pakaian yang mereka berdua kenakan.
Itu adalah pesta, pesta ulang tahun Alita dengan hadiah pernikahan mereka dengan nuansa negri dongeng..
“A’...” Lagi-lagi tercengang. Begitu banyak orang disana termasuk Mama Rosa dan ibu tirinya. Mereka sudah berkumpul dan kini semua mata tertuju pada gadis lugu yang sedang kejatuhan durian runtuh.
Tidak ada yang menyangka sama sekali bahwa Alita akan mendapatkan pria yang begitu mencintainya, juga menunjukan bahwa gadis itu sangat disayangi.
“Hai, semuanya.” Eza berucap cukup lantang, membuat orang-orang yang menunggunya kini menjadi fokus kepada dua ikon yang tengah berbahagia. “Hari ini, di hari kelahiran Alita, saya ingin semua orang menikmatinya dan juga ikut berbahagia. Dan satu lagi, beberapa menit yang lalu saya melamar Alita dan dia.. Alita bersedia menjadi istri saya.”
Wohooooo… Prok..prok..prok..
Riuh suara tamu dan juga keluarga yang ikut berbahagia.
Ada satu yang membuat Alita heran, ibu tirinya dan juga Amel ada disana. Mereka juga ikut bertepuk tangan meskipun senyumannya seperti dibuat-buat. Ada Boy dan juga Rya disana. Bagaimana mungkin?
“Sayang.. kamu siap nerima kejutan berikutnya?” Eza membuyarkan senyum penuh tanya milik Alita. Setelah melamar dirinya dan juga perkumpulan orang-orang itu memangnya apalagi yang akan Eza tunjukan. “Kita akan menikah hari ini juga.”
__ADS_1
Semuanya seperti tidak masuk akal. Bagaimana bisa semuanya berlangsung begitu cepat dan lancar-lancar saja. Bagaimana mungkin keluarga Alita menerima dengan mudah tentang pernikahan itu.
Alita tidak habis pikir. Meskipun hatinya senang, namun tetap ada tanda tanya disana.
Perjuangan Eza tidak semudah itu. Jika sebelumnya dia berusaha meyakinkan kedua orang tuanya bahwa Alita adalah pilihan hatinya, Eza juga harus menghadapi keluarga Alita yang sangat menyebalkan dikampung. Mendatangi kampung tempat tinggal Alita saat waktu kontrak pernikahan mereka hampir usai. Eza datang kesana bukan untuk menyerahkan Alita kepada keluarganya, Eza justru akan meminta restu untuk menikahi Alita secara resmi. Yaaaa.. Meskipun sudah datang secara baik-baik, tetap saja mereka tidak menerima kedatangan Eza dengan baik.
"Tah geuning datang oge jelema teh! Dimana si Alita?!” IbuNuri__Ibu tiri Alita menghardik kedatangan Eza dan Yoga dengan tatapan tidak suka. Kedatangan mereka dari kota, tidak disambut dengan baik sama sekali. Mengingat apa yang telah Eza lakukan, melanggar kontrak dan membuat kang Eman rugi sampai mendekam di balik jeruji besi.
(Akhirnya ni orang datang juga! Dimana Alita?)
"Boleh kita bicara di dalam bu?" Bagai datang ke kandang harimau yang sedang tidur, tapi Eza menahan diri dan berusaha untuk tetap ramah. Dia akan mendapatkan Alita dengan cara yang baik, agar hubungan mereka selalu baik-baik saja.
"Menikah apa ari kamu?" Ibu Nuri naik pitam lagi,meskipun sebenarnya ia tidak memiliki hak. Ia hanya tidak ingin kehilangan Alita yang menurutnya adalah sebuah aset. "Masa kawin kontrak nya sudah habis, Ayeunamah mending pulangkeun deui si Alit.. Saha nu nyaho, amis di biwir hungkul! Kumaha mun diditu si Alit padahal di siksa." Cih, wanita tidak punya akhlak itu mengaum seolah peduli.
(Sekarang mending pulangin Alit. Siapa yang tau manis di bibir aja. Gimana kalo ternyata Alita disiksa disana?)
"Teu bisa kitu. Perkawinan kalian cuma kawin kontrak! Dan sebelumnya Alita sudah setuju mau kawin kontrak sama Arab. Arab itu sudah datang dan nunggu Alita sekarang!”
"Saya gak akan biarin Alita dikawin kontrak sama siapapun, saya ingin menikahi Alita secara sah." Melihat sikap keluarga Alita sungguh-sungguh membuat dirinya geleng-geleng kepala.
"Saya bayar uang kontrak arab itu 2x lipat! Saya juga akan memberikan mobil untuk ibu berbeda dengan mahar yang akan saya berikan kepada Alita.” Eza tahu bahwa berdebat dengan orang-orang minim pemahaman dan juga matrealistis seperti itu tidak akan ada ujungnya. Lebih baik Eza memberikan penawaran tentang apa yang mereka inginkan. Mereka bukan menginginkan Alita berada disamping mereka kan? mereka hanya ingin menjadikan Alita sebagai aset. “Dengan catatan kalian tidak akan mengganggu kehidupan Alita lagi, se-cuil pun saya gak akan biarkan!”
Gulp! Detik selanjutnya Ibu Nuri terdiam. Tawaran yang orang kota itu berikan cukup membuatnya tertarik meskipun sebenarnya ingin mendapatkan yang lebih dari itu.
"Jika Ibu menolak saya akan mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat disini, saya yakin mereka akan mendukung apa yang akan kami lakukan." Kali ini Yoga ikut angkat bicara.”
__ADS_1
"Ulah saeutik-saeutik ngancam atuh. Mun didinya bener niat serius mah sok buktikeun!" Sekujur tubuh Nuri tiba-tiba tremor, dia harus belajar dari apa yang sudah terjadi. Kang Eman yang terkenal jawara kampung saja bisa dimasukan ke dalam penjara, apalagi dirinya yang hanya butiran debu.
(Jangan dikit-dikit ngancam dong! Kalo emang serius ayo buktiin!)
"Hari ini juga saya akan membuktikan apa yang saya ucapkan.”
Eza sudah matang soal ini sebelumnya, ia sudah merencanakan semuanya dengan baik.
Dan hari ini, Eza menepati janjinya kepada Alita. Lelaki itu menikahi Alita sesuai rukun-rukun pernikahan. Secara sah, secara khidmat dan juga sakral. Dua orang itu mengganti niat mereka sebelumnya, mengulang kembali ijab qabul dan mengulang lagi kisah bahtera rumah tangga yang akan sangat berbeda dari sebelumnya.
Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi yang akan memisahkan mereka kecuali maut. Bukan kehadiran seorang anak yang menjadi dasar pernikahan itu, pernikahan itu mereka buat sebagai penyatuan jiwa.
Jalan Tuhan memang tidak selalu lurus dan cepat. Tapi, Jalan Tuhan selalu berakhir baik. Biarlah kehadiran anak, kebahagian, suka duka, mereka arungi bersama dalam nahkoda yang kini mulai berlayar sebagaimana mestinya.
~
Maaf kalo tulisanku kali ini kurang dapat feelnya karena kelamaan mangkrak. I hope pembaca setia bisa menikmatinya dan mensupport aku si Author abal-abal untuk membuat karya yg lebih bagus lagi.
Terjebak Kawin Kontrak..
__ADS_1
Camey Smith