Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Menyerahkan Diri


__ADS_3

Alita menguatkan hatinya ketika memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi. Meskipun ia hanyalah gadis desa yang polos, tapi Alita tahu bahwa tugasnya setelah menjadi istri, maksudnya istri kontrak, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan menyerahkan dirinya untuk lelaki yang sudah membayarnya menjadi istri bayaran.


Alita menghela nafas, menariknya dalam kemudian menghembuskan nafasnya seperlahan mungkin.


"Maaf Alit lama dikamar mandinya." Gadis itu menunduk dihadapan Eza yang sudah menunggunya diatas ranjang. Alita merasa sangat canggung dan takut sekali. Apa yang akan terjadi sekarang?


Pasrah. Alita pasrah~


"Gak papa, sini.." Eza menepuk kasur disampingnya, meminta gadis itu untuk duduk disebelahnya.


Dengan kaku dan takut-takut, perlahan-lahan Alita mengayunkan langkahnya menuju tempat dimana tadi Eza meminta dirinya mendekat.


"Gak usah takut." Eza menyelimuti gadis yang kini hanya dibalut handuk, menenangkan dulu Alita sebelum ia melancarkan aksinya. "Aku mau minta hak aku malam ini, kamu siap?" Eza menatap gadis asing dihadapannya, gadis muda yang lumayan cantik meskipun tanpa riasan diwajahnya.

__ADS_1


"I-iya A'." Gugup Alita menjawab, sambil menggigit bibir bagian dalamnya sendiri.


Sejurus kemudian Eza mulai menyentuh Alita dengan jari-jari tangannya, memberikan sentuhan untuk gadis itu supaya tidak terlalu tegang. Sementara Alita, gadis itu hanya bisa memejamkan mata dan membiarkan suami kontraknya melakukan apapun yang ia inginkan. Mencoba menahan diri untuk tidak berteriak atau berlari dari sana meskipun rasanya sangat menakutkan sekali.


"Handuknya buka yaa.." Alita tidak menjawab, lagi-lagi ia membiarkan apapun yang Eza lakukan terhadap dirinya. "Tiduran aja sini." ujar Eza lagi sambil menepuk sebuah bantal empuk berwarna putih.


Patuh. Alita hanya bisa patuh dengan segala arahan yang diberikan, gadis itu benar-benar menurut dan menyiapkan hatinya untuk menyerahkan diri malam ini. Meskipun kini detak jantungnya berpacu sangat cepat dan pori-porinya terasa membesar dan bercucuran keringat saking takutnya. Untuk pertama kali ia berada sedekat ini dengan seorang lelaki, terlebih lagi keadaanya telanjang seperti itu.


Kata Teh Denok malam pertama kan sakit, tapi kesananya mah enak. Duh, initeh sakit apa enak? kalo enak kenapa sakit? kalo sakit kok bisa enak? Aaah~


Gadis itu mulai meremang seiring kecupan Eza yang sangat lembut mengenai kulitnya, darah mereka sudah sama-sama mendidih karena pemanasan itu. Eza kemudian membungkam bibir wanita yang sepertinya sedikit bergetar, mencium kemudian menghisapnya dengan lembut.


Kaku sekali.. Tapi bibirnya manis~

__ADS_1


Tangan Eza tidak tinggal diam, lelaki itu juga menghampiri dua gunung kembar yang sepertinya belum matang sempurna. Buah kenyal itu sangat pas digenggamnya, membuat Eza asik berlama-lama dengan kegiatan itu.


Mmmh~ Alita maloloskan desahan yang tertahan. Untuk pertama kali bibirnya disentuh oleh bibir lagi, rasa itu begitu aneh namun sedikit memabukkan.  Membuat Eza tersenyum kecil dan semakin intens dengan gerakannya. Dan sekarang mereka berdua sudah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.


"Sekarang yaaa.." ujar Eza sambil melepaskan bibir mereka yang saling bertautan. Sementara Alita tidak menjawab apapun, gadis itu sibuk mengatur nafasnya yang berantakan.


Perlahan Eza melebarkan paha Alita, merambatkan jarinya menuju inti tubuh gadis itu. Aaaah~ guha kenikmatan itu bahkan sudah lembab sekarang. Mungkin karena pemanasan yang cukup lama dan sangat dinikmati detik-detiknya.


"Aaaaaahhh.." Alita mencengkeram punggung Eza dan merapatkan wajahnya di dada bidang lelaki itu, berusaha menahan teriakannya meskipun itu terasa sangat sakit sekali. Hiks. Alita sampai meloloskan bulir-bulir bening dari sudut matanya.


"Sakit ya?" tanya Eza yang belum bergerak lagi. Punggungnya yang dicakar pasti tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Alita. Melepaskan keperawanan katanya sangat sakit, bahkan Eza pun merasakan begitu pada inti tubuhnya. Kejantanannya terasa dijepit dengan sangat kuat, dihimpit dinding-dinding yang memijat dengan sangat kuat. Sempit sekali. Eza bahkan belum pernah merasakan gigitan yany seperti ini.


Cupp!! Eza mencium bibir Alita lagi. Menenangkan gadis itu sebelum ritual itu kembali dilanjutkan. Kembali bergumul agar mereka kembali panas. Dan setelah Alita tenang dan mencoba menetralkan rasa sakit itu, mereka melanjutkan ritual itu hingga akhir. Hingga selesai dan sama-sama merasakan nikmatnya bercinta.

__ADS_1


Ternyata begini rasanya~ Eza dan Alita.


Bersambung~


__ADS_2