
Sudah kembali ke rumah Eza..
Alita masih marah atas apa yang telah Eza lakukan. Mungkin lebih tepatnya Alita hanya ngambek saja, buktinya gadis itu tidak teriak-teriak memaki Eza atau melupakan kewajibannya untuk melayani Eza. Yang akan Alita lakukan hanya meliburkan diri dari melayani Eza diatas ranjang.
Alit harus mastiin kalo Alit gak hamil! Tapi gimana caranya 😩
Alita duduk diam disofa, menunggu kepulangan Eza dari kantor sambil melamun. Gadis itu seperti kehilangan akal memikirkan bagaimana nasibnya jika dirinya benar-benar hamil. Meskipun Eza mengatakan akan bertanggung jawab, tapi tetap saja Alita takut. Alita tidak tahu tanggung jawab macam apa yang akan Eza lakukan.
Membiarkan Alita hamil lalu membiarkan Alita mengurus si bayi sendirian dikampung, atau membiarkan Alita hamil lalu Eza hanya akan mengambil bayinya saja? Bagaimana? Alita tidak tahu. Alita tidak boleh berharap banyak, karena Alita hanya istri kontrak.
"Lit.. hey.." Eza melambaikan tangan dihadapan wajah Alita. Sejak tadi ia memanggilnya namun Alita tidak menyahut juga. Gadis itu malah melamun sengan tatapan kosong.
"Eh.. Aa' udah pulang.." Alita mengerjap dan kembali tersadar dari lamunan. Menyadari bahwa Eza sudah ada dihadapannya. Cup! Alita langsung mengecup punggung tangan Eza seperti kebiasaanya.
"Ngelamunin apa hayoo? kok bengong hm?" Eza duduk disamping Alita dan tidak lupa membubuhkan sebuah kecupan diwajah Alita.
"Eng-ggak.. Alit gak ngelamun A'." Alita mengelak sambil mengedarkan pandangannya ke arah lain. Enggan untuk saling menatap bersama Eza.
"Orang bengong gitu kok." Eza menjawil hidung Alita gemas. "Udah dooong jangan ngambek terus, Aa' kan udah bilang kalo Aa' gak tau apa-apa soal kontrasepsi kamu."
Huh.. Alita membuang nafas tertahan. Seakan kembali mengingat hal yang sejak kemarin menggerogoti pikirannya.
"Siapa yang ngambek A'.. Hm mending Aa' mandi dulu yaaa.. Alit siapin dulu air panasnya.. Habis itu kita makan malam." Alita berdiri dan hendak beranjak menuju kamar utama.
"Aa' belum selesai ngomong kok kamu main pergi aja sih?" Eza menarik tangan Alita. Tahu bahwa gadis itu memang sedang marah. Pasalnya ada beberapa perubahan sikap dari Alita sejak kemarin.
Alita gugup, menelan ludah kemudian duduk kembali disamping Eza. Namun pandangan Alita tetap enggan untuk melihat Eza.
"Kamu gak percaya kalo Aa' bakal tanggung jawab kalo kamu sampe hamil?" Eza berusaha mempertemukan pandangan mereka meskipun Alita selalu mengelak. "Liat Aa' dong, Aa' kan lagi ngomong."
__ADS_1
"Alit cuma belum siap A'.. Masih banyak ketakutan dalam diri Alit." Gadis itu akhirnya menjawab meskipun takut-takut. Pandangan mereka akhirnya bertemu, namun rasanya Alita malah ingin menangis saat melihat Eza.
"Apa yang bikin kamu takut? coba kasih tau Aa', Aa' harus gimana supaya kamu percaya dan gak takut lagi?"
"Nggak tahu atuh A', Alit juga bingung."
"Kamu percaya kan Aa' orang baik? Aa' gak bakal nyakitin kamu Lit." Eza menangkup wajah Alita. Mencoba meyakinkan Alita bahwa Eza tulus kepada gadis itu. Eza menyayangi Alita meskipun Eza tidak pernah mengatakannya.
Alita terdiam. Tidak mengangguk ataupun menggeleng. Eza memang orang baik, namun melihat tentang ini rasanya pelik sekali.
"Aa' bakalan nikahin kamu secara resmi kalo kamu beneran hamil.. Aa' janji."
Menikah resmi? Yatuhan. Mimpi kah ini? Selama ini Alita berusaha menahan diri agar tidak jatuh cinta kepada pria yang selalu bersamanya ini. Alita sadar diri, tahu tempat. Mana mungkin Alita berharap lebih atas kawin kontrak ini? Apa yang diucapkan Eza itu sungguhan? darimana Alita tahu bahwa Eza akan menepati janjinya? darimana Alita tahu bahwa Eza benar-benar akan menikahi dirinya secara resmi? Meskipun sudah dua bulan bersama, namun Alita belum tahu banyak tentang Eza.
Alita bingung harus senang atau sedih sekarang. Senang jika dinikahi secara resmi, artinya ia tidak akan menikah kontrak dengan lelaki lain lagi. Ia hanya aakn dimiliki Eza se-utuhnya. Namun Alita juga sedih, takut apa yang Eza ucapkan hanya akan mempermainkan hati dan hidupnya.
Obrolan itu berakhir tanpa ujung. Berakhir bisu sampai mereka berbaring diatas tempat tidur. Alita masih diam begitupun Eza.
"Gimana kalo nanti kang Eman sama ibu marah A'? Soal Alit hamil dan dinikahi resmi sama Aa'?" Alita akhirnya buka suara lagi setelah berjam-jam hening dalam diam. Alita tidak bisa memungkiri bahwa sekarang hidupnya bergantung pada Eza. Tawaran Eza tentang menikah resmi sepertinya terngiang dikepala Alita. Hal itu akan lebih baik ketimbang Alita harus pulang ke kampung dan hidup bersama ibu dan saudara tiri lagi nantinya.
"Kamu mau dinikahi resmi sama Aa'?" Eza malah balik bertanya dan menyampingkan posisi tidurnya. Melihat Alita yang sedang menatap langit-langit kamar. "Kamu udah besar Lit.. Kamu berhak menentukan jalan hidup kamu. Aa' lebih gak tega kalo kamu jadi alat mereka cari uang. Aa' bakalan lindungin kamu."
"Alit sebenernya gak mau pulang lagi ke kampung A', Alit gak mau tinggal sama ibu dan kak Amel lagi. Alit lebih seneng disini sama Aa', Alit ngerasa kaya manusia sejak disini.. Tapi Alit cuma punya mereka A', cuma mereka keluarga Alit.. Alit gak berani ngebantah mereka." Hati Alita rasanya tercabik ketika mengingat bagaimana kehidupannya sebelum bertemu Eza, sebelum ia jatuh ke dalam lingkaran kawin kontrak yang tadinya Alita kira adalah sebuah neraka didunia. Tapi ternyata tidak, hidup Alita justru lebih baik saat dirinya sudah dikawin kontrak oleh Eza. Alita merasa menjadi manusia yang dihargai kehadirannya.
"Duduk yuk.." Eza bangkit sari posisinya dan memilih untuk duduk. Ini adalah obrolan serius dan Eza harus serius dalam membicarakannya. "Cukup kamu bilang 'Mau nikah sama Aa',' semuanya beres. Aa' juga gak bakalan ngebiarin kamu dijual secara kontrak lagi sama kang Eman. Mereka tuh bukan keluarga kamu, mana ada keluarga kaya gitu! Kamu gak punya ayah, gak punya ibu, tapi kamu punya suami. Kamu cuma punya Aa' Lit.. Kamu harus percaya sama Aa' karena Aa' gak main-main sama ucapan Aa'." Serius. Eza serius berujar demikian. Tidak main-main karena semua itu benar-benar keluar dari hatinya.
"Aa' serius mau nikahin Alit?" gadis itu sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Dua rius.. Aa' sayang sama kamu.." Eza menyimpulkan sebuah senyuman tulus untuk Alita.
"Maksudnya Aa' suka sama Alit?"
"Lebih dari suka.. Makasih yaa Lit, kamu udah jadi istri yang membuat aku merasa jadi suami sungguhan. Kamu adalah permata yang terpendam bagi Aa'."
"Hehe.." Alita malah cengengesan. "Aa' mah bisa aja. Alit kan emang permata.. Nama Alit kan Alita permata."
"Iya iya.. Pokoknya Aa' sayang kamu." Eza langsung merangkum tubuh Alita ke dalam pelukannya.
"Alit juga sayang sama Aa'." Alita balas memeluk Eza.
"Jadi udah nih ngambeknya?" tanya Eza disela pelukan itu dan Alita mengangguk pelan. "Yaudah lagi yuk.."
"Lagi?"
"Itu.."
"Apa?"
"Ini.."
"Ish Aa' mah.." Alita malu-malu.
Cap..cip..cup Eaaaaaaa....
Sudahlah~ Alita akan mengalah lagi kepada takdir. Biar saja jika dirinya memang harus mengandung anak Eza, toh lelaki itu adalah lelaki baik dan selalu menunjukan bahwa dia memang menyayangi dan mencintai dirinya. Alita mulai memutuskan perubahan untuk hidupnya sendiri, memilih jalan hidup yang memang seharusnya jadi tanggung jawab dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung~