
Pagi Hari..
Sesuai ucapannya hari ini Eza akan membawa Alita untuk main ke rumah mama Rosa. Eza berniat untuk mengungkapkan rahasia yang hampir enam bulan ini dia sembunyikan dari kedua orang tuanya. Eza sudah mantap memilih Alita dan tidak mau menyembunyikan lagi gadis yang tengah mengandung itu.
Hari pertama dibawa ke rumah mertua tentu membuat Alita gugup, tapi Eza selalu meyakinkan Alita bahwa kedua orang tuanya pasti memberikan restu untuk mereka berdua. Apalagi Alita tengah mengandung, berita itu pasti disambut hangat oleh kedua orang tua Eza terutama Rosa-Ibunya.
“A’ bajunya cocok gak? Duh Alit bingung mau pake baju apa?”
“Bagus sayang. Kamu cantik pake gaun itu.” Puji Eza dengan melempar sebuah senyuman. Gadis itu terlihat anggun dengan gaun putih yang memiliki aksen kancing berwarna cokelat, dan lagi bagi Eza semenjak hamil Alita terlihat lebih cantik dua kali lipat.
“A’?” Panggil Alita. “Nanti gimana cara Alit jelasin sama Nyonya Rossa, kemarin kan Alit bilang Alit ponakan bik Mumun. Apa Nyonya gak marah kalau Alit tiba-tiba hadir sebagai istri Aa’?”
“Gak usah Nyonya gitu nyebutnya, mama aja sayang.” Perintah Eza. Lelaki itu kemudian mendekat kepada Alita yang sedang berdiri di depan cermin.
“Nanti Aa’ yang jelasin semuanya. Kamu gak usah khawatir.” Eza memeluk Alita dari belakang, kemudian mengecup kilas tengkuk Alita dan menatap mereka berdu dari pantulan cermin.
“Alit deg-degan.” Ujar gadis itu sambil meletakkan tangannya di dada yang terasa cukup berdebar.
“Mana coba.” Eza malah ikut-ikutan meletakkan tangan miliknya di dada Alita. Lalu usil merayap ke sela kancing Alita dan menyentuh tombol gadis itu.
“Aa’. Tangannya usil ih. Alit beberan deg-degan ini.”
“Hehe, biar tegang kamu ilang. Yaudah yuk.” Ajak Eza saat dirasa mereka sudah selesai bersiap.
__ADS_1
“Alit gak mau malu-malu in Aa’.” Ujar Alita saat mereka mulai berjalan keluar dari kamar.
“Rileks sayang, jangan mikir macem-macem ah.”
TingTong! Suara bel rumah berbunyi saat mereka baru menuruni anak tangga.
“Ada tamu, A’ .”
Eza kemudian menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang, sementara Alita menunggu di ujung tangga.
“Assalamualaikum.” Seorang lelaki datang dengan senyum ramahnya.
“Kang Eman?” Eza menatap sedikit kaget kepada tamu tak di undang itu.
“Iya, pak. Mau jenguk Neng Alit.”
“Oke, silahkan masuk.”
Detik pertama mereka berbasa-basi membahas hal yang tidak terlalu penting. Entah kenapa Eza memiliki firasat buruk tentang kedatangan Kang Eman yang tanpa pemberitahuan, maka secara diam-diam dia mengirim pesan darurat kepada Yoga. Tapi sedetik kemudian salah satu anak buah kang Eman memperhatikan gerak-gerik Alita yang baru menyuguhkan teh manis di atas meja.
“Lit, kamu gendutan. Kamu hamil?”
Orang yang duduk di ruang tamu seketika melirik ke arah Alita dan memperhatikan baik-baik perut gadis itu.
__ADS_1
“Eh, mm,” Alita hanya menggumam, bingung untuk menjawab apa. Sorot mata Kang Eman membuatnya bergidik ngeri. Pria itu pasti marah jika tahu dirinya sedang hamil.
“Kamu beberan hamil neng?” Tanya Kang Eman dengan tatapan tajam meminta penjelasan. “Gak bisa dibiarin. Gimana ini Pak? Di perjanjian kan udah di sebut kalo Alita gak boleh sampe hamil.” Ujar Kang Eman yang merasa sikap Alita memang menunjukkan gadis itu tengah mengandung.
“Saya bisa jelasin.”
“Gak usah basa-basi. Anda sudah melanggar!”
"Pulang!!" Kang Eman langsung berdiri dan menghampiri Alita. Menyeret gadis itu dengan kasar sementara dua anak buahnya menghalau Eza yang coba menghentikan apa yang Kang Eman lakukan. Kang Eman merasa sangat berhak melakukan itu, karna di dalam surat perjanjian tertulis jika salah satu pihak melanggar maka kontraknya berakhir.
“Aa’.” Alita menatap Eza dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Jangan sentuh Alita!” Teriak Eza. “Kita bisa bicara baik-baik dulu.” Pinta Eza.
"Banyak bacot!!" Sebuah pukulan melayang mengenai wajah Eza dan lelaki yang merasa tidak siap itu langsung tersungkur ke lantai.
“Aa’.” Lirih Alita. “Jangan atuh kang, jangan sakiti si Aa’ kasian.” Alita memohon dengan tangisan yang tak bisa di tahan tapi Kang Eman terlihat tidak peduli sama sekali.
“Kamu jadi pembangkang gara-gara orang kota ini, Ayo pulang!” Cengkeraman Kang Eman makin kuat dan berusaha menyeret Alita untuk keluar dari rumah itu.
Eza yang terduduk di lantai segera bangkit melihat Alita meringis kesakitan. “Sialan!” Eza menghampiri Kang Eman kemudian meninju lelaki itu.
“B a b i !!” Teriak Kang Eman. “Habisin dia!” Perintahnya kepada dua anak buahnya.
__ADS_1
Eza dihajar dan juga menghajar habis-habisan. Dirumahnya kini sedang terjadi film action yang sangat disayangkan tidak ada sutradara yang merekam. Tiga vs satu. Hampir saja Eza kewalahan.
"Woy woy woy, ada apanih!" Yoga menghalau orang yang baru saja akan melemparkan sesuatu tepat dikepala Eza. "Stop!!" Yoga berteriak. "Stop!! gue bilang stop!!"