
Alita dibawa masuk kedalam gedung. Tangan Eza masih setia menuntun tangan gadis itu untuk mengambil card access system dilobby utama. Sudah dilobby dan Eza sedang berbincang dengan orang-orang disana yang tidak lain adalah orang dibawah Eza. Sementara Alita, gadis itu sedang memperhatikan sebuah pintu yang terbuka dan tertutup secara otomatis.
Itu apa yaa? perasaan Alit pernah naik yang kayak gitu sama si Aa', namanya teh apating.
Pintu yang dimaksud Alita tidak lain adalah sebuah lift. Sebuah alat yang sebelumnya Alita kira adalah akses menuju angkasa. Alita sibuk memperhatikan alat yang bertuliskan kata 'open' itu.
Open.. Itu maksudnya open yang artinya buka atau open buat manggang kue sih?
Dan saat Alita masih asik memperhatikan, terlihat seorang lelaki berkulit putih masuk kedalam sana sambil membawa koper. Lelaki itu masuk dan pintunya kembali tertutup secara otomatis.
Pintunya buka tutup sendiri.Alita semakin asik dengan pemikirannya.
Beberapa saat kemudian pintu itu kembali terbuka dan anehnya seseorang berkulit hitam keluar darisana. Bukannya yang masuk tadi adalah lelaki berkulit putih? lalu kenapa sekarang berubah jadi hitam? Astaga. Jangan-jangan alat bertulisan open itu memanglah alat memanggang. Artinya alat itu berbeda dengan alat luar angkasa yang sebelumnya pernah Alita masuk-i.
"Hey, kok bengong. Yuk keatas." Eza membuyarkan lamunan Alita tentang lelaki berkulit putih yang tiba-tiba berubah jadi berkulit hitam tadi. Seketika Alita celingukan sendiri.
Kemana orang tadi? apa diaaaaaa....
"Lit... kamu gakpapa?" Eza memanggil lagi.
"Eh hm nggak A', udah selesai?" Alita malah gelagapan dan balik bertanya.
"Udah, nih udah adakuncinya." Eza memperlihatkan beberapa kunci kartu itu kepada Alita dan Alita hanya mengernyit heran.
"Mana kuncinya A', itumah kartu."
"Hihi.. Ini namanya card access system, jadi kuncinya berbentuk kartu. Udah ah hayuk, nanti kamu liat sendiri aja gimana cara buka pintunya." Alita kemudian dituntun lagi, tangan mereka selalu saja bertautan mirip orang yang akan menyebrang jalanan.
Alita mengedarkan pandangannya dan tanpa disadari langkah mereka ternyata menuju alat yang bernama 'open' tadi. Alita yang semula santai saat melangkah, tiba-tiba saja berhenti, membuat Eza juga refleks berhenti sambil menatap Alita. "Kenapa?" tanya Eza dan Alita menggelengkan kepala.
"Alit gak mau masuk kesitu." Gadis itu mencebik dengan raut cemas.
"Kenapa kok gitu? inikan alat yang bisa bawa kita ke luar angkasa itu, masih inget gak namanya?" jih, kenapa Eza jadi menyebut lift itu alat menuju luar angaksa. Mulai ketularan nih (●__●).
"Emang sama A' kaya alat yang waktu itu?" Alita malah balik bertanya.
"Iya, ini namanya lift sayang." Eza mengingatkan gadis itu tentang nama alat yang sebelumnya pernah ia jelaskan.
"Lift?" Alita mengulang kosa kata itu.
"Iya." Eza mengiyakan.
__ADS_1
"Bukan open?"
"What on your mind, baby?" Eza mendesah kecil, kali ini apalagi yang Alita akan utarakan. Yang pasti akan menyebalkan.
"Orang itu ada tulisannya A'." Alita menunjuk tulisan lampu berwarna merah yang dibentuk kata open. "Tadi juga Alit liat ada laki-laki putih masuk ke sini, teris pas keluar nya jadi item A'. Emang itu open artinya buka atau open yang buat bikin kue sih? Alit takut kita juga bakal dipanggang didalem. Nanti Aa' sama Alit jadi item gimana?"
Huh.. Sabar Zaa, tarik nafaaaaas... Buaang.... tarik nafaaaaaas.. Buaaaang...
"Open itu artinya buka kuliiiiiiiit!!!!" Astaga. Kelepasan kan. "Open artinya buka. Bukan oven yang ada didapur." Dahlah.
"Alit kan gak tau A', gak usah ge marah-marah atuh, tadi juga Alit sempet mikir kok ini open yang artinya buka atau open yang buat bikin kue." Bibir Alita ditekuk secara automatis. Wajarlah, orang sunda memang sulit membedakan huruf p, f, dan v. Semuanya biasa dibaca pe.
Huuuuuuuuuffftt.. ლ(ಠ﹏ಠლ)
"Maaf sayang, abisnya kamusih gemesin." Eza menjawil hidung Alita dengan gemas. "Yaudah yuk mending kita naik sekarang."
Kini Alita bungkam saat dirinya dibawa masuk kedalam lift.
Si Aa' mah meuni gitu.. bilang apa taditeh, kulit, siapa coba kulit!
Namun ada yang ia sadari sekarang, tempat itu tidaklah panas. Jadi artinya mereka benar-benar tidak akan terpanggang.
Ting!! Sudah sampai dilantai 12.
Pasca keguguran itu, si polos Alita memang jadi lebih semakin sensitif dan menyebalkan.
"Nih kartunya, kamu yang coba buka deh. Biar percaya kalo kartu inituh emang kuncinya." Eza memberikan sebuah card access system, berharap gadis itu kembali terperangah dengan kecanggihan dan tentunya akan tersenyum kembali.
"Sama Aa' aja, Alit gak bisa." cukup ketus Alita berucap.
"Tinggal tempel aja gitu masukin kesini nih, ayo. Nanti kita jadi gak masuk-masuk lho."
"Nggak bisa A'."
"Coba dulu."
Alita kemudian mengambil kartu itu dan benar saja setelah se-per-sekian detik pintu itu langsung terbuka. Membuat Alita kembali terpaku dan lupa akan rasa kesalnya. "Wiiiih bisa A', meuni canggih amat initeh buka pintu tinggal tempelin ini."
Hihi. Eza berhasil.
"Keren kan? yaudah yuk masuk."
__ADS_1
Pasangan itu kemudian masuk kedalam, melakukan room tour dan mengecek anu-anuan dan segala macamnya.
"Waaaahh.. ternyata gak terlalu gede yah A', hihi Alit kira seluruh gedung ini yang jadi tempat tinggal kita, sedeung lah segini mah." Alita nampak sumringah ketika dibawa ke apartemen yang didesain minimalis. Tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu luas. Memiliki dua kamar dan satu kamar mandi, ada dapur, ruang tamu dan juga ruang keluarga. Sempurna. Tempat ini sepertinya sangat cocok.
"Gimana? yang ini suka gak?"
"Suka A'.. Sedeng segini mah. Gak ada tangga juga, Alit jadi gaperlu capek-capek naik turun tangga." Alita tersenyum lebar karena merasa se-antusias itu.
"Jadi mau disini ajanih?" Eza bertanya lagi.
"Eh tapi, meuni tinggi pisan euy. Kita gak bakalan jatoh kan A'?" Alita menatap kaca yang menjadi dinding disana. Melihat keindahan kota dari ketinggian, mobil-mobil yang berlalu lalang pun rasanya seperti seekor semut.
Stop nanya yang aneh-aneh bisa gak sih 😩
"Ya nggak lah, Aa' gak mungkin bahayain kamu. Tempat ini aman seratus persen."
Aaaaa~ Mereka saling melemparkan senyuman.
"Tapi kayaknya kalo disini bik mumun mending kerja pulang pergi seperti biasa aja deh ya, gak usah menetap." tutur Eza.
"Lho kenapa? kamarnya kan ada dua A'."
"Gak mau. Nanti Aa' jadi gak leluasa."
"Leluasa apa ari Aa'?"
"Gak leluasa bikin dedek bayik lagi hihi."
Aaaaaaa.. Eza langsung menghambur memeluk Alita dengan rasa gemas yang sejak tadi tidak bisa dideskripsikan.
Bersambung~
Alita kuno banget sih!
__ADS_1
Orang desa juga gak gitu-gitu amat kali.
Nikmatin aja, namanya fiksi memang kadang gak masuk akal. Thx