
Sudah berhari-hari mereka tinggal diresort itu. Eza terlihat benar-benar menikmati suasana liburan yang merangkap rasa bulan madu. Bagimana tidak, setiap malam mereka tidak pernah melewatkan kegiatan indah itu. Dan sepertinya Eza berhasil membuat Alita benar-benar lupa tentang pil kontrasepsinya. Buktinya gadis itu tampak ceria dan tanpa beban apapun. Membuat Eza juga rasanya ikutan ceria, wajahnya nampak segar sekali. Eza benar-benar fokus menikmati suasana itu, buktinya ia sampai enggan membuka ponsel dan membiarkan seluruh pekerjaannya dihandle oleh Yoga.
Eza juga jadi kembali mengingat tentang apa yang pernah Yoga katakan sebelumnya. Sebelum Eza mengajak Alita liburan rasa bulan madu itu. "Pil yang diminum Alita itu harus diminum tiap hari, Bro. Jadi kalo sekali aja dia lupa minum terus bercinta, gue jamin jebol!" kata-kata Yoga benar-benar menjadi harapan besar untuk Eza.
Semoga saja Alita cepat hamil!
"Aa' kita teh mau tinggal disini bukan? ning nggak pulang-pulang?" Alita baru saja selesai mandi. Gadis itu nampak seksi dengan bathrobe dan juga handuk putih yang melilit rambutnya. Gadis itu baru saja menyegarkan diri setelah pergulatan sengit tadi pagi.
"Kamu betah gak disini? mauuu tinggal disini?" Eza malah balik bertanya dan memberikan penawaran.
"Tinggal disini A'? emang boleh? Alit suka sih disini, tapi disini mah panas banget." Alita mengipaskan tangannya, memperagakan seolah dia memang sedang kepanasan.
"Kan ada AC Lit, masa panas." Eza mengecup pipi Alita. Mencium Alita seperti sudah menjadi candu bagi Eza.
"Alit betah disini tapi Alit kangen rumah Aa' yang kemaren, Alit udah lama gak masak buat Aa', Selama disini Aa' makan masakan orang lain terus."
"Ya bagus dong, kamu jadi gak usah capek.. Emang kenapa sih Aa' harus makan masakan kamu terus hm." Eza menempelkan hidungnya diwajah Alita. Selalu saja bermanja-manja seperti itu.
"Atuh pan Alit jadi gak dapet pahala ari Aa'." Gadis itu mencebik dengan raut wajahnya yang selalu menggemaskan.
"Ngelayanin Aa' diatas ranjang juga kan pahala, Lit. Emang mau sebanyak apasih pahala nya?" Eza bertanya lagi, namun kali ini tanganny mulai melingkari perut milik Alita yang hanya dibalut bathrobe.
"Harus sebanyak-banyaknya atuh kalo pahala mah."
"Yaudah nih, Aa' buat kamu biar dapet pahala lagi yaaa.." Eza menarik tali bathrobe yang melingkari tubuh Alita. Menggoda gadis yang sudah membuat Eza ketagihan.
__ADS_1
"Aa' ih.. tangannya meuni gak mau diem." Alita mencoba menepis tangan Eza yang memang selalu tidak bisa diam.
"Katanya mau dapet pahala.. Gimana sih.." Bisik Eza sambil mencerukkan hidungnya dibahu Alita yang sudah terbuka.
"A' tadikan udah." Astaga. Alita rasanya gempor kalo harus melulu dihajar oleh Eza. Baru saja dua jam yang lalu mereka bergulat, belum lagi tadi malam, belum lagi nanti malam. Haduuuh.
"Nolak suami dosa lho.." Eza semakin gencar mengecupi Alita.
"Tapikan dosa Alit ditanggung Aa', gimana hayo?"
"Bisa aja yaaa ngejawab suami! harus dihukum inimah!" Hyaaaaa!!! Eza berujar seolah ia benar-benar marah. Membawa Alita ala bridal style kemudian menumpahkan Alita ditengah-tengah ranjang.
Cap..Cip..Cup.. Eza segera menyerang Alita dengan ribuan kecupan.
"Yaampun A'!!!!!" Alita yang semula menggeliat geli langsung mendorong tubuh Eza sekuat tenaga. Sepertinya gadis itu mengingat sesuatu.
"Aa' mah pasti sengaja yaa.. hiks.." Wajah Alita langsung memerah, mata gadis itu bahkan langsung berembun. Satu kali saja Alita berkedip, lolos sudah air mata itu jatuh.
"Sengaja apa? kok nangis sih! Aa' nggak beneran marah, nggak ngehukum beneran.. Inimah hukumannya bikin enak kok." Tidak ada angin tidak ada hujan, kenapa Alita tiba-tiba menangis? apa dia takut benar-benar dihukum oleh Eza?
"Pil kontrasepsi Alit!" Plukk!! Air mata Alita benar-benar jatuh. Kenapa harus sebodoh itu sih Alita. Kenapa kamu terbuai dan terlalu senang sampai melupakan hal yang akan menentukan nasib kamu. Bahkan ini sudah satu minggu. Bagaimana kalo kamu benar-benar hamil! Rutuk Alita pada dirinya sendiri.
Huft.. Eza membuang nafas tertahan. Kemudian duduk tegak sambil menutup tubuh Alita yang sudah ia buka. Alita ternyata sudah menyadari tentang pil itu. Bagaimana caranya agar Eza bisa berdalih bahwa itu bukan kesalahannya?
"Pil kontrasepsi? kenapa gitu?" ujar Eza dengan santai walaupun sebenarnya gugup. Tidak. Eza tidak mau mengakui bahwa memang dirinya yang sengaja melakukan itu.
__ADS_1
"Aa' pasti sengaja bawa Alita kesini tanpa bawa apa-apa kan? tanpa bawa baju atau apapun padahal kita mau nginep lama. Aa' kenapa jahat banget sih sama Alit? kalo Alit beneran hamil gimana?" Huwaaggh.. Alita bahkan sudah tidak bisa mengontrol diri. Alita membiarkan dirinya menangis sejadi-jadinya.
"Enggak.. Aa' nggak niat bawa kamu lama-lama disini. Kan kamu yang bilang betah dan pengen agak lama disini.. Aa' mana tau kamu bawa kontrasepsi atau enggak.. Aa' juga gak tau kontrasepsi yang kamu maksut seperti apa.," Ayo Eza.. berakting lebih bagus lagi. Meksipun kamu berjanji akan bertanggung jawab, tapi jangan dulu mengakui hal ini. Jangan membuat gadis itu merasa takut dan terancam.
"Hiks... Alit emang bodoh!" Gadis itu kini memeluk lututnya dan menangis sesenggukan.
"Kalo cuma lupa sekali mungkin gapapa Lit, gak usah nangis dong." Eza mendekati Alita dan mengusap rambut Alita.
"Sekali gimana atuh A', kita aja udah berapa hari disini. Dan tiap malem Aa' selalu minta itu terus.. Hiks.. Alit gak mau hamil A', nanti Alit dimarahin ibu sama kang Eman.."
"Aa' bakal tanggung jawab, sayang."
Apa? sayang? sejak kapan Eza memanggil Alita dengan sebutan sayang?
"Aa' mah sengajaaaa..."
"Nggak.. Aa' gak tau apa-apa."
"BoOohong.."
"Beneraaaan.."
Teuing ah si Aa' mah... #Alita
γ
__ADS_1
γ
πππ