Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Membaik


__ADS_3

Beberapa hari kemudian~


Alita sudah membaik dan tampil seperti biasa lagi. Gadis itu sudah kembali menjadi Alita yang sehat dan bugar. Tapi, Kini kontrak pernikahan mereka tinggal menghitung hari, Entah apa yang akan terjadi sekarang, Alita tidak tahu. Mereka belum pernah mengobrol lagi tentang hal itu, tentang bagaimana hubungan mereka selanjutnya sebelum kontrak itu benar-benar berakhir.


Alita menatap pantulan dirinya didalam cermin, mengelus perutnya sendiri sambil memikirkan hal-hal yang bersarang dipikirannya. Gadis itu benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Setelah satu tahun tapi Alita belum hamil lagi setelah kejadian keguguran itu.


Andai ia tidak sakit kemarin, pasti saat ini ceritanya lain. Setidaknya mungkin Alita akan menghirup udara lebih lega.


"Apa si Aa' akan tetep mempertahankan Alit yang belum bisa ngasih anak buat dia?" Gadis itu kembali risau akan nasibnya.Meskipun tahu bahwa Eza mencintainya, tapi tujuan utama lelaki itu adalah memiliki buah hati. "Ataau negri dongeng itu harus usai? apa Alita harus kembali menjadi gadis yang selalu berlapang dada menerima takdir?"


Huft~ Alita menghembuskan nafas berat. Tidak. Ia tidak mau jika harus kehilangan Eza, Alita tidak mau.


Mungkin dengan memberikan pelayanan terbaik disisa-sisa harinya untuk lelaki itu adalah hal yang tepat untuk dilakukan, setidaknya untuk memberikan kode kepada Eza bahwa mereka masih saling menginginkan satu sama lain. Seperti halnya tadi malam, Alita rela melayani Eza semalaman suntuk dengan senang hati, seolah penyatuan itu adalah penyatuan terakhir bagi mereka.

__ADS_1


Tapi hasilnya nihil, tidak ada kejelasan yang menjurus kemana hubungan mereka akan dibawa. Hubungan mereka baik-baik saja, tapi mereka tidak pernah membicarakan soal rencana yang pernah mereka susun.


"A'." Alita memberanikan diri untuk membuka suara, memulai obrolan dengan lelaki yang kini tengah sibuk dengan laptop dihadapannya.


"Hm?" Eza hanya bergumam, tidak menoleh ataupun mengucapkan satu patah kata. Jari jemari lelaki itu sibuk memencet tombol-tombol keyboard dengan sangat cepat. Banyak pekerjaan yang Eza tunda semasa Alita sakit, untuk itu dia mengebutnya secepat mungkin.


Cupp!! Alita menempelkan bibir mungilnya dileher Eza seraya memeluk lelaki itu.


Eza langsung terkesiap ketika lehernya tiba-tiba dikecup begitu saja. Sensasi bibir mungil itu berhasil mengalihkan perhatian seorang Eza. Apalagi ketika gadis itu menelusupkan kepalanya sambil memberikan kecupan-kecupan disekitaran rahang Eza yang tegas. Bergelayut dengan seringai manjanya yang membuat Eza gemas dengan tingkah gadis itu.


"Cupp!!" Eza menolehkan wajahnya dan mengecup gadis itu. Berbalik badan kemudian membawa tubuh mungil itu kedalam dekapan tubuhnya yang kekar. Dengan lahap Eza mulai menghisap-hisap bibir mungil nan manis itu, bertarung lidah hingga mereka hampir saja kehabisan pasokan oksigen untuk dihirup.


Mmmh~ Suara itu sudah keluar. Menandakan bahwa pertukaran saliva itu memberikan sensasi yang lebih.

__ADS_1


"Kamu lagi pengen ya?" Ujar Eza sesaat menjeda kegiatan itu.


"Iya, selamanya Alit pengen seperti ini sama Aa'."


"Aa' tau maksud kamu apa, Aa' ngerti kok. Aa' gak bakalan ninggalin kamu, sayang. Gak usah takut. Kali ini Aa bener-bener sibuk banget, sebentar yaa." Eza melemparkan senyuman manis.


Namun bagi Alita senyuman itu justru bermakna lain, senyuman itu terasa lebih dingin dari biasanya. "Sok aja lanjutin A', sambil Alit pijitin ya." Gadis itu tersenyum simpul. Entah kenapa hatinya terasa begitu sakit melihat sikap Eza yang seperti itu.


 


Sementara Eza, lelaki itu memang benar-benar sedang sibuk sekarang. Selain menyelesaikan urusan kantor yang memang terbengkalai, pekerjaan yang menumpuk berhasil membuat fokus Eza sedikit buyar. Lelaki itu bahkan tidak menyadari bahwa dia telah bersikap dingin akhir-akhir ini. Juga melupakan rencananya tentang kampung halaman Alita.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2