
Selesai mandi bersama, Eza dan Alita kini sama-sama hanya mengenakan handuk berwarna putih. Berdiri dihadapan cermin lalu, sama-sama menatap pantulan diri di dalam sana.
“Aa’ gak akan pernah bosan untuk kita selalu seperti ini sampai tua.” Eza sedikit menggerakan tubuhnya. Yang tadi menatap pantulan dirinya di cermin, kini menatap Alita sambil menangkap salah satu pipi milik gadis itu. “Dulu Aa’ mengejar sesuatu sampai mati-matian, susah payah untuk mencapai bahagia. Aa’ kira bahagia itu nanti, di depan sana.. di masa depan. Tapi ternyata Aa’ salah.. Bahagia itu harusnya masa kini, Aa’ gak pernah menikmati masa kini, Alita. Aa’ gak pernah merasakan debaran yang seperti ini.” Kening itu disatukan, tangan Eza yang menangkap pipi gadis itu sedikit memberi tekanan. Meminta energi kepada Alita bahwa gelenyar yang mengalir itu benar adanya.
Eza mencintai, Alita. Menyayangi gadis itu dari lubuk hati yang paling dalam. Eza bahkan tidak tahu sejak kapan gadis itu berada di hatinya. Yang Eza sadari kini, hanya Alita sudah sangat besar mengambil kendali atas hatinya.
Bagaimana gadis itu dengan polosnya menyerahkan diri, bagaimana tubuh mungil itu selalu sibuk memastikan apa yang dia butuhkan, bagaimana tangan ajaib itu menjadi obat dari segala rasa, bagaimana rumah benar-benar menjadi ketenangan yang di dambakan. Ah, kehadiran Alita rasanya terlalu indah untuk dijabarkan. Hidup Eza yang kosong kini sudah terisi, sampai penuh. Kehadiran gadis yang ia sebut sebagai gadis purba benar-benar melengkapi hidupnya.
“Makasih, Lit. Makasih udah menjadi permata di hati Aa’. Aa’ merasa sangat cukup, saat memiliki kamu.”
“Alit juga mau berterimakasih sama Aa’, makasih sudah membuat Alit merasa dipikanyaah. Aa’ membangunkan Alit dari mimpi-mimpi buruk. Aa’ seperti pangeran berkuda yang dihadirkan untuk menyelamatkan Alit. Alit bungaaaah, bungah pisan A’. Alit merasa hidup selama satu tahun ini.”
Berpelukan. Menyatukan guncangan yang berpacu cukup hebat, menyatukan perasaan itu menuju nirwana kedamaian bahwa mereka memang diciptakan menjadi satu.
Beberapa saat kemudian, Eza mengambil paper bag yang tadi sengaja disiapkan, kemudian memberikannya kepada Alit. “Aa’ mau kamu pake ini.”
Alita menerima, menatap paper bag itu kemudian menatap Eza. “Ini apa A’?”
“Pake aja, sayang.”
Tanpa membantah lagi, perlahan Alita membuka bingkisan yang tersembunyi. Menyingkapnya kemudian mengeluarkan benda yang ia dapat dari dalam sana. Putih, semuanya berwarna putih.
Lalu Eza berjalan dan mengambil paper bag yang lain, mengeluarkan benda itu kemudian mulai mengenakannya. Setelan jas kasual berwarna putih. Benda-benda itu lengkap dari dasi, ikat pinggang hingga sepatu.
“Di pake, sayang.” ujar Eza sambil mulai mengenakan pakaian, sementara Alita sejak tadi hanya menatap benda-benda dalam paper bag itu.
“Kita mau kemana atuh A’?” Kain itu berwarna putih, begitu lembut namun tidak tahu bentuknya seperti apa. Yang membuat Alita aneh adalah sebuah mahkota dari bunga-bunga. Untuk apa dia menggunakan itu? Memangnya mau kemana?
“Kita ke negri dongeng yang kamu impikan?”
“Negri dongeng?”
__ADS_1
Alita mengernyitkan dahi namun Eza hanya tersenyum kecil.
. . .
Detik itu, masih di tempat yang sama.. Eza membawa Alita ke sebuah sisi tersembunyi di villa itu. Entah tempat apa, yang jelas sedikit gelap.
Dengan menggunakan gaun putih dengan banyak belahan yang memperlihatkan bagian tubuh, Alita terus di arahkan Eza agar masuk.
“Ini tempat apa A’?”
Maksudnya?
Eza tidak menjelaskan lebih rinci, hanya meminta Alita berjalan lebih dulu untuk masuk. Tempat itu berdinding dan juga berlantai kaca. Banyak bunga yang indah bertebaran, juga lampu-lampu yang memberikan kesan romantis.
Indah, suasananya begitu indah. Tapi Alita belum juga mengerti arti dari semua itu.
“Kalo sebelumnya Aa’ menikahi kamu secara kontrak, hari ini Aa’ memutuskan agar kontrak itu berakhir.” Kalimat itu membuat Alita berhenti mengagumi ruangan asing, membuat Alita membalikan badan untuk menatap ke arah Eza.
“Dan kalo sebelumnya Aa’ hanya mengharapkan anak dari kamu, hari ini Aa’ mengubah harapan itu. Kali ini Aa’ berharap kamu mau menjadi permata Aa’ untuk selamanya.” Eza menatap Alita penuh kasih, kemudian merogoh saku dan berlutut. “Alita permata.. Maukah kamu menikah dengan Aa’?”
“A’.. ini… ini beneran?” Alita mulai berkaca-kaca. Kegundahannya selama ini terjawab sudah. Eza benar-benar akan menikahinya. Tidak salah lagi, adegan seperti itu sering Alita lihat di film. Lelaki yang berlutut dan menampakan sebuah cincin, artinya mereka akan menikah.
“Kalo kamu masih ragu, bilang sama Aa’ hal apa yang akan membuat kamu yakin.” Percayalah, hati Eza berdebar tidak karuan. Bagaimana jika apa yang telah ia persiapkan justru ditolak sebelum di mulai. Kejutan itu akan gagal dan justru malah mengejutkan dirinya.
__ADS_1
“Nggak A’, Alit gak pernah meragukan Aa’. Tapi.. Tapi Alit cuma takut akan mengecewakan Aa’ nantinya.” Setelah melalui kawin kontrak itu, Alita masih berpegang pada prinsip bahwa hubungan mereka hanya simbiosis mutualisme. Alita di untungkan dengan uang yang Eza berikan, sementara Eza di untungkan tentang bayi yang selama ini di idam-idamkan. Pasca keguguran, Alita takut jika kedepannya dia tidak bisa mengandung lagi dan menggenapi kebahagiaan Eza.
“Selama kamu yakin bahwa hati kamu berdenyut untuk Aa’.. segalanya akan baik-baik aja, sayang. Aa’ gak menuntut apapun dari kamu, Aa’ cuma mau kamu seutuhnya menjadi milik Aa’. Dan Aa’ melakukan semua ini, karena Aa’ yakin hati Aa’ berdenyut untuk kamu. Aa’ gak merasa terjebak dalam kawin kontrak kita. Aa’ menyayangi kamu dari lubuk hati Aa’ yang paling dalam. Bukan karena anak, bukan karena Aa’ udah berjanji sama kamu..” Setelah menjadi seseorang yang gagal dalam mengarungi bahtera rumah tangga, Eza menyadari bahwa pernikahan tidak bisa dilandasi dengan hal-hal seperti itu.
Pernikahan adalah penyatuan, dan apa yang terjadi setelah pernikahan adalah kehidupan baru. Eza tidak bisa memaksa agar Alita hamil terlebih dahulu, lagipula menjadi orang tua mereka harus mempunyai kesiapan. Secara mental dan semuanya. Menjadi orangtua bukan hanya hamil, mengandung dan melahirkan, tapi kehidupan baru justru dimulai sejak itu. Jadi, biar saja semuanya mengalir. Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik, dan rencana Tuhan tidak akan pernah salah.
“Iya.. Alit mau A’.. Alit mau menikah sama Aa’.” Alita mengangguk kecil sambil terharu, sungguh, dia merasa sangat istimewa. Belum pernah dia diperlakukan seperti Eza memperlakukan dirinya. Manis sekali.
“Apa? Coba ulang, sayang. Aa’ gak denger.” Ah, Eza juga jadi ikut terharu. Belum pernah dia merasakan debaran seperti itu. Kekuatan cinta terkadang memang sangat gila dan di luar kendali.
“Alit mau, A’. Alit mau jadi istri Aa’.”
Ya Tuhan, jika kali ini aku bermimpi lagi…. jangan biarkan aku terbangun. Biar aku hidup seperti ini, seperti negri dongeng yang selalu aku impikan..
Bersambung..
__ADS_1