Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Lemas


__ADS_3

"Kenapa sayang? lemes banget keliatannya." Eza duduk ditepi ranjang. Menghampiri Alita yang masih dibalut selimut tebal, gadis itu bahkan masih polos karena pertempuran semalam. Tidak biasanya Alita seperti itu, bahkan Alita tidak bangun untuk membuatkan sarapan dan menyiapkan keperluan Eza.


"Maaf ya, A'. Gak tau kenapa Alit asa lemes pisan initeh. Gaada tenaga." Alita menatap lelaki yang sedang mengelus puncak kepalanya. Meminta maaf karena tidak bisa melakukan kewajibannya pagi itu. Entah kenapa tubuhnya terasa begitu lemas. Alita juga merasai tubuhnya seperti demam meskipun suhu tubuhnya tidak terasa panas. Tubuh Alita seperti memberikan sinyal bahwa ada sesuatu yang salah.


"Kamu sakit?" Eza balas menatap Alita.


"Nggak kok, Alit gak sakit." Gadis itu berusaha tegar dan menyembunyikan rasa tidak nyaman yang dialaminya. Alita tidak mau menggagalkan rencana mereka yang akan mengunjungi makam ayah ibu hari ini.


"Aa' harus pergi, ada meeting yang gak bisa Aa' tinggalin. Kamu istirahat dulu aja yaa, Aa' gak lama kok. Habis itu baru kita berangkat ke desa kamu." Eza juga menyampaikan kalimat maafnya. Padahal hari ini seharusnya dia tidak punya urusan di kantor. Tapi nyatanya ada meeting yang tidak bisa dia tinggalkan.


"Iya A', Maaf yah Alit meuni gak bikin sarapan-sarapan acan buat Aa'." Alita kembali mengulang kalimat permintaan maafnya.


"Gakpapa.." Eza melemparkan senyuman untuk Alita. "Yaudah Aa' berangkat sekarang ya. Nanti Aa' langsung telpon bik mumun buat bantuin kamu prepare. Kamu jangan lupa sarapan." Eza menjawil hidung Alita dengan rasa gemas seperti biasanya. Mencoba menetralkan perasaannya yang seperti tidak ingin meninggalkan Alita hari ini.


"Aa' hati-hati dijalan yaa.." Alita menatap Eza sambil tersenyum manis.


"Baik-baik dirumah yaaa." Cupp!! Eza mengecup kening Alita lumayan lama.


Dengan rasa gundah, Eza melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Entau kenapa rasanya seperti tak enak hati ketika akan meninggalkan Alita. Padahal dia sendiri yang mengatakan bahwa meetingnya hanya sebentar.


Paling lama juga dua jam. Buru-buru Eza mengusir rasa khawatir yang tidak ia tahu apa sebabnya. Eza kemudian menelepon bik Mumun untuk segera datang ke apartemen sebelum akhirnya Eza benar-benar pergi.

__ADS_1


~


 


"Ssshhh.." Alita mendesah lagi. Perutnya terasa kram dan amat sakit. Membuat Alita terus meringis kesakitan. "Awh.." Pekiknya. Sakit itu benar-benar tak tertahan saat Alita mencoba untuk duduk.


"Aaw.." Alita terus mengelus-elus perutnya sendiri. Mencoba mengurangi rasa tidak nyaman yang sedang dia rasakan. "Perut Alit kok kenceng terus yaa." Alita mencoba abai. Mengingat ucapan dokter kandungan yang mengatakan memang akan banyak keluhan yang terjadi pada ibu pasca keguguran.


Detik selanjutnya Alita mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki. Bangkit dari tempat tidur yang sejak tadi membuai rasa lemasnya. Memungut pakaian yang berserakan di lantai kemudian memakainya. Gadis itu merasa lapar juga.


Sudah selesai mengisi perut, pintu apartemen itu tiba-tiba ada yang mengetuk. Membuat Alita yang masih duduk dimeja makan bangkit dengan malas menuju sumber suara.


Krekk!! Alita membuka pintu. Benar. Orang yang mengetuk pintu rumah itu adalah bik Mumun.


"Selamat pagi, Non." Bik Mumun tersenyum ramah sambil mengangguk kecil.


"Pagi, Bik. Hayu atuh masuk." Alita mempersilakan bik Mumun untuk masuk kedalam. Dan langsung saja kedua orang itu masuk dan kembali menutup pintu.


"Non gimana kabarnya?" Bik Mumun mulai berbasa-basi.


"Baik bik." Alita tersenyum kecil "Maaf ya bik, Alit ngerepotin bibik lagi."

__ADS_1


"Nggak papa, Non. Bibik malah senang bisa ketemu enon lagi."


"Yaudah bibik beres-beres ruang tengah sama dapur aja ya, Alit mau mandi, Mama Rosa bentar lagi pasti datang."  Gadis dengan wajah letih dan sedikit pucat itu berujar sambil melangkah menuju kamarnya.


 


"Iya Non."


Detik selanjutnya Alita kembali memasuki kamar, berniat untuk mandi agar tubuhnya mendapat kesegaran.


"Uwh.." Dengan hati-hati Alita mendudukkan dirinya di tepi ranjang, mengelus lagi dan lagi perutnya yang terasa sangat tidak nyaman. Namun baru saja sepersekian detik menemukan posisi pewe, gadis itu justru merasai hasrat ingin pipis. "Huuuuuu.. Bisa nanti aja gak sih?" Lemas. Alita benar-benar lemas. Tubuh itu seperti kehilangan sesuatu dan menyebabkan Alita jadi seperti itu.


Alita kemudian bangkit lagi, ingin pergi ke kamar mandi karena merasakan hasrat ingin kencing. Dengan malas dan sangat perlahan-lahan Alita pun kembali keluar kamar dan menuju kamar mandi.


"Astagfirullah, initeh darah? tapi ning meuni banyak gini?" Alita mematung tatkala mendapati banyak sekali darah hitam dan menggumpal yang keluar dari v*aginanya. Dan kali ini rasa sakit diperutnya malah bertambah berkali-kali lipat.


"A aaaaa', sakit bangett!!!"


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2