
Dengan dress dibawah lutut berwarna salem dan juga tas tangan yang senada, Alita nampak anggun saat memasuki ballroom tempat teman Eza melangsungkan pesta pernikahan. Meskipun agak risih dengan tanda-tanda yang melekat dilehernya. Alita berulang kali merapihkan rambut untuk menutupi luka itu.
"Kenapa kok benerin rambut terus?" tanya Eza saat mereka baru saja turun dari mobil. Tangan Alita kemudian dilingkarkan dilengannya seraya perlahan mengayunkan langkah memasuki tempat dimana pesta pernikahan itu berlangsung.
"Ini tah gara-gara Aa'!" Alita kembali mengingatkan ulang sang suami yang membuat jejak dilehernya. Belum lagi yang ditempat lain, namun beruntungnya bekas yang lain bisa ditutupi oleh baju.
Hehe..Eza hanya tertawa kecil. "Digigit vampire ya."
"Iiih Aa' mah, udah ah Alit gak mau masuk. Maluuuuu." Gadis itu menghentikan langkah.
"Tenang aja saiank, gak bakal ada yang liat kok.. Kan tinggal ditutupin pake rambut."
Lalu mereka berdua melakukan serangkaian test yang memastikan bahwa mereka adalah tamu undangan. Perlahan memasuki area pernikahan yang hingar bingar dengan tamu dan juga alunan musik yang dilantunkan. Belum pernah Alita melihat hajatan yang seperti itu.
Alita meyakini bahwa pengantin yang sedang berbahagia itu adalah putri raja atau anak presiden. Terlihat dari mewah dan ramainya tamu yang berdatangan disana.
"A'." Alita ingin bertanya, namun tiba-tiba dirinya takut bahwa Eza akan kesal seperti siang tadi dan malah membuat lelaki itu malu.
"Kenapa?" Eza menoleh ke arah gadis yang melingkarkan tangan dilengannya itu. Sambil masih berjalan berdampingan.
"Rame pisan A', malu.." Bukan itu sebenarnya. Alita ingin bertanya soal siapa orang yang sedang menikah itu? kenapa pernikahannya sangat mewah sekali.
"Malu kenapa coba? kok kalo gak pake baju didepan Aa' gak malu?" Jih, Eza malah semakin menggoda Alita. Dan Alita kembali dengan seringai manjanya. "Aa' mah ih!"
Lanjut memberi selamat kepada pengantin dan berbasa-basi dengan beberapa tamu undangan, kini Eza dan Alita duduk disalah satu meja yang disiapkan. Eza menatap Alita yang sejak tadi hanya diam dan mengedarkan pandangannya dengan pandangan heran dan kagum, tumben sekali gadis itu tidak banyak bertanya.
Tumben gak nanya yang aneh-aneh! Eza malah merindukan moment saat gadis itu selalu menyebalkan dengan pertanyaan yang hm,, kalian tahu sendirilah.
"Hey Bro!" Seorang lelaki menyapa dan menyalami Eza dan juga Alita. Lelaki yang sama-sama mereka kenal dan memang seringkali muncul. Yoga.
"Tau ajanih kutil kita disini!" Eza menyahut atau lebih tepatnya menyindir secara halus.
"Dimana ada Eza disitu pasti ada Yoga." Apasih Yoga lebay. "Neng, mau pesta kaya gini gak nanti?" Yoga kini beralih bertanya kepada Alita. Daripada kepada Eza yang kadang bosan ia temui. Yoga sudah tahu soal restu yang mereka dapatkan, dan tidak lama lagi mereka juga pastin akan menggelar pesta seperti ini.
Eh.. hehe.. Alita tersenyum canggung. "Terlalu mewah atuh A' inimah. Alit mana bisa pesta kaya begini, Alit gak punya uang. Lagian inimah yang pesta pasti anak presiden ya. Mewah pisan." Nah kan, mode purba nya kambuh.
"What?" Yoga tercengang sementara Eza hanya tersenyum kecil. Mode menyebalkan istrinya sepertinya sudah on.
__ADS_1
"A n a k p r e s i d e n?" Yoga mengulang kalimat Alita. "Kata siapa?"
"Eh tapi yang inimah keren pisan, kayanya bukan anak presiden. Pengantinnya meuni kaya putri sama pangeran. Iya gak A'?"
Aneh! Cewek ini aneh! Apa dia gak tau kalo Eza bisa bikin pesta lebih mewah dari ini?
"Eh kamu mau cup cakes gak?" Eza mengalihkan pembicaraan karna melihat airmuka Yoga yang seperti sedikit aneh ketika mendengar penuturan Alita yang seperti itu.
"Cup...." Alita ingin mengulang kalimat Eza namun belum selesai berucap Eza sudah menyela lebih dulu.
"Brownies,,, bolu."
"Za, ini asli bini lo kayak begini?" Yoga menganga tidak percaya bahwa Alita se-polos dan se-udik itu.
"Heeeeeeey, apa kabar?" ditengah perbincangan itu terdengar suara orang asing menyapa yang samar karena lantunan suara musik.
"Widih, sape nih?" Yoga menyahut lebih dulu sambil menyambut orang asing tersebut. Mereka lanjut berbasa-basi 'Say hai dan bertanya kabar.'
"Makin seger aja nih obos." Orang asing itu kini menyapa Eza. Sementara Alita hanya diam menyaksikan pemandangan itu.
"Boy. Kemana aja lo!" Eza menyambut hangat salah satu temannya. Sudah lama mereka tidak bertemu karena katanya Boy sibuk di novel sebelah π "Baru aja gue mau ngontek elo, eh mana, bini lo ikut gak?"
"Bini gue." jawab Eza lantang.
"Bini lo? bukannyaaaaa... aw." Boy tidak menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba tangannya seperti dicubit. Dan itu pasti ulah Yoga.
"Hooon!" Seorang wanita datang dengan perut yang membuncit. "Malah ninggalin sih!" Wanita itu mencebik manyun.
"Ditinggal tiga langkah doang, tadikan aku izin duluan kesini." Boy menatap wanita yang sepertinya adalah sang istri.
"Tapikan..."
"Drama deh!" Yoga menyahut.
"Dih elo. Ngapain lo disini?" Wanita itu menimpali sambil mengulurkan tangn kepada Yoga. "Eh,, ada elo juga Za." Wanita itu juga mengulurkan tangan kepada Eza. "Jadi kayak reuni yah kita, hihi. Eh, ini siapa?" Wanita itu menatap Alita dan Alita hanya tersenyum canggung.
"Alita.. Bini gue. Kenalin yang itu namanya Boy yang itu namanya Rya. Mereka temen Aa'." Eza yang menjawab sambil merangkul bahu Alita, seolah menyatakan bahwa gadis itu benar-benar istrinya.
__ADS_1
Hah? Sekian lama gak ketemu, Eza ganti bini?
"Rya.."
"Alita.." Para wanita itu saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Alita cukup kikuk saat teman-teman Eza berada disekelilingnya, cukup canggung dan juga malu.
"Udah lama Za sama Alita?" Rya bertanya sambil duduk tepat disamping Alita.
"Lumayan, tapi belom setahun sih." jawab Eza. Saat berkumpul diluar urusan pekerjaan mereka memang terbiasa tampil okem seperti anak muda biasa.
"Gak ngundang-ngundang parah." Boy menyahut.
"Coming so soon!" Yoga menimpali.
"Masih jadi pengantin baru dong, masih anget-angetnya." Ryaikut menyahut.
"Pengantin baru apaan, baru keluar dari kamar?." Kali ini Yoga yang menyahut.
"Teteh lagi hamil ya?" Alita memberanikan diri untuk bertanya pada wanita yang duduk disampingnya itu. Wanita itu tampak cantik sekali dengan perut yang membuncit seperti itu. Andai kejadian itu tidak terjadi, mungkin Alita akan berpenampilan seperti itu juga.
"Iya,kamu udah isi belum? Alit cewek sunda juga ya? sama juga dong kita." Rya tersenyum ramah.
"Teteh juga orang sunda emang?" Alita mulai membuka diri untuk berbiacra dengan orang baru itu.
Dan disela perbincangan itu Eza menyadari bahwa ponselnya bergetar didalam saku sejak tadi. Eza kemudian merogoh saku dan mengeluarkan benda yang sepertinya sejak tadi dimasuki beberpa notifikasi.
Puluhan panggilan tidak terjawab dan juga beberapa pesan masuk. Salah satunya dari Nikita.
γ
Dimana kamu? Apa maksutnya kamu mengambil alih semua properti aku hah? Kita harus bicara!
γ
Eza hanya menatap malas, kemudian kembali menyembunyikan ponsel itu didalam saku. Niky seperti itu pasti karena baru menyadari bahwa Eza mencabut semua izin properti yang digunakan oleh mantan istrinya itu.
γ
__ADS_1
γ
Bersambung~