Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Tenggat Waktu


__ADS_3

Seharusnya Alita sadar hubungannya dengan Eza hanya bersifat sementara, Benar kata Nikita, bahwa Alita hanya dianggap sebagai kelinci percobaan untuk membuktikan keperkasaan lelaki itu. Ketika waktunya berakhir hubungan itu juga berakhir, apapun yang Eza katakan, apapun yang Alita rasakan, hubungan mereka hanya tidak lebih dari sebatas kontrak.


Seharusnya sejak awal Alita tidak pernah menaruh harapan lebih, karena hubungan mereka tidak ada ikatan lain selain penyaluran nafsu. Berulang kali Alita mengatakan itu kepada dirinya sendiri, tapi kenapa hatinya masih saja terasa sakit?


Hari berganti hari sikap Eza masih saja sama, dingin dan sangat sibuk. Alita bosan. Biasanya hari-hari mereka selalu diisi dengan hangatnya kebersamaan. Tapi seminggu menuju tanggal kontrak itu habis, sikap Eza tiba-tiba saja berubah.


"A'." Alita menghampiri Eza yang lagi-lagi sedang sibuk dengan laptop meskipun sudah naik ke atas kasurnya.


"Kenapa?" sahut Eza tanpa berpaling dari laptopnya.


"Besok--


"Kontrak kita berakhir, kamu mau bilang itu?" Eza lebih dulu menyelesaikan kalimat yang akan Alita ucapkan. Membuat Alita sedikit terhenyak dan langsung terdiam. "Kamu sabar ya, mungkin besok kita baru bisa ke kampung halaman kamu. Aa' gak mungkin ingkar, sayang." Tangan Eza menangkup wajah Alita, mengusapnya lembut. Menyalurkan bahwa rasa sayang itu masih ada.


"Tapi gimana kalo besok kang Eman datang menjemput Alit? Alit gak mau." Dengan segala cemas dan kegundahannya Alita menatap Eza dengan intens.


"Gak akan, sayang. Kang Eman gak akan berani ganggu kamu lagi. Aa' gak akan biarin hal itu terjadi. Lagipula sekarang kang Eman kan udah di penjara."

__ADS_1


"Penjara?" Alita mengernyitkan dahi tidak mengerti. Di penjara? Maksudnya? Sejak kapan? Kenapa Alita tidak tahu.


"Emang kamu belum tahu ya?" Ujar Eza dengan santainya. Padahal dia memang belum bercerita sama sekali, saat itu Eza hanya takut emosional Alita terganggu, apalagi dia baru saja keguguran.


Ting..Tong..


Suara bell berhasil mengalihkan fokus mereka berdua. Membuat mereka sama-sam diam dan melemparkan pandangan.


"Alit gak tau, memangnya kapan Aa' cerita." Yatuhan. Kenapa hal sebesar ini Alita bisa tidak tahu. Apa jadinya keadaan di kampung kelahirannya? Gadis itu pasti jadi bahan gunjingan karena hal ini.


"Ada yang datang. Biar Aa' buka dulu."


Eh.. Eza terdiam.


"Sejak kapan kang Eman dipenjara A'? Kenapa Aa' gak ngasih tau Alit. Semua imbasnya pasti harus Alit yang nanggung." Hiks. Air mata Alita turun. Dada Alita rasanya sesak dan bergemuruh. Sudah banyak hal yang Alita langgar dan jelas akan membuat keluarga dikampung marah. Ditengah ketidak pastian hubungan mereka justru Alita mendapati kekacauan di tempat dimana dia harus pulang.


"Aa' gak bermaksud buat menutupi ini dari kamu, Aa' gak ngasih tau kamu karena waktu itu kondisi kamu masih lemah. Aa' gak mau emosional kamu terganggu apalagi kamu baru aja keguguran."

__ADS_1


"Alit keguguran berbulan-bulan yang lalu, A'. Kenapa Aa' gak bilang apa-apa.." Hiks.. Tangisnya makin deras. "Gimana Alit mau pulang kalo dikampung keadaanya berantakan gini." Alita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tidak habis pikir.


"Pulang? maksudnya pulang apa? Aa' gak izinin kamu pulang."


"Tapi Aa' juga gak ngasih kepastian buat Alit. Aa' malah sibuk. Apa Aa' tau kalo Alit ketakutan? Gimana kalo besok Alit dijemput dan dibawa paksa sama anak buah kang Eman?"


"Kamu mikir apa, sayang." Eza mendekati Alita kemudian membawa gadis itu kedalam pelukanya.. "Maaf Aa' mengabaikan kamu beberapa hari ini, Aa' cuma bener-bener lagi banyak kerjaan aja. Aa' sayang banget sama kamu. Aa' gak mungkin biarin hal buruk terjadi sama kamu." Cupp!! Eza mengecup kening Alita.


Bohong! Eza sebenarnya tidak sesibuk itu. Dia hanya sedang menyiapkan sebuah kejutan untuk Alita. Selama hidup, Alita selalu mendapatkan kesedihan dan Eza berencana untuk membuat sesuatu di hari ulang tahun gadis itu.


Bahkan mungkin, Alita sendiri tidak menyadari hari kelahirannya sebentar lagi akan tiba.


Mana mungkin Eza dengan sengaja melupakan prioritasnya. Mengejar kebahagiaan lain dan melupakan kebahagiaan yang sudah jelas berada didepan mata.


"Jangan marah ya, Aa' janji besok bakal memulai rencana yang udah kita susun itu." Eza rela kehilangan apapun, yang terpenting dia tidak kehilangan permatanya. Apapun tidak akan bisa menggantikan berartinya Alita untuk hidup Eza.


"Alit takut setelah ini Alit malah dinikahin sama arab yang waktu itu." Hiks..

__ADS_1


"Haha." Eza sedikit terkekeh. Pikiran Alita masih terjebak disana ternyata. Mungkin dia sudah tidak ingin lagi mendengar janji, dan biarlah besok dia membuktikan kesungguhan cintanya itu.


Bersambung~


__ADS_2