Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Setuju


__ADS_3

Belum selesai Eza mengungkapkan kalimatnya. Mama Rosa dan Papa hendra sudah terang-terangan tidak akan memberikan lampu hijaunya untuk Eza menikahi Alita. Meskipun gadis itu baik, tapi ketika mendengar kata 'kawin kontrak' yang Eza lontarkan membuat gadis itu jadi mendapat poin minus. Tapi apapun itu Eza akan tetap bersikukuh menikahi Alita secara resmi. Dengan atau tanpa restu orang tua. Eza akan menentukan jalan hidupnya sendiri.


"Mama selalu dukung apapun soal kamu, Za. Tapi kali ini mama gak bisa. Mama gak mau anak mama satu-satunya jadi begini." Tidak habis pikir, Rosa benar-benar tidak habis pikir. Berasal dari tanah yang sama, tanah sunda, Rosa setidaknya tau seperti apa wanita-wanita yang menjalankan kawin kontrak. Mereka hanya lintah penghisap darah. Mereka hanya menginginkan harta semata, lalu akan mencari mangsa baru ketika yang satu sudah habis.


"Kamu deuih, Neng. Kamu teh cantik, keliatanya wanita baik-baik. Naha mau-maunya kawin kontrak? Kamu tau kan wanita yang sering kawin kontrak itu akan berakhir seperti apa?" Huft, sebisa mungkinRosa memilah-milah kalimatnya. Jangan sampai menyakiti Alita dan juga Eza. Meskipun ada perasaan marah, tapi wanita paruh baya itu cukup bijak untuk berfikir jernih.


"Mama sama papa gak bisa tarik benang merahnya gitu aja, mama sama papa harus dengerin Eza dulu. Setelah ini mungkin mama sama papa akan bersyukur kenapa Eza sampai kawin kontrak dan sekarang berniat menikahi Alita secara resmi.


Eza kemudian mulai bercerita, mengutarakan apa yang dia alami dan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya Nikita dan juga Alita. Eza tidak lagi menutup-nutupi soal apapaun, termasuk segala kebejatan yang Niky lakukan terhadapnya. Se-detail mungkin Eza juga menceritakan Alita, bagaimana pertemuan mereka, bagaimana kontrak itu berjalan, bagaimana mereka memulai segalanya. Tidak lupa Eza jga menuturkan kehidupan Alita, menuturkan bahwa Eza punya keharusan untuk merengkuh kehidupan Alita dari kejahatan keluarganya.


Hiks~ Alita mulai berkaca-kaca. Alita mendengarkan bagaimana lelakinya berusaha berjuang untuk mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Tidak ada lagi keraguan bahwa Eza benar-benar mencintainya.


Begitupun mama Rosa, wanita itu menangis ketika mendengarkan apa yang Eza kisahkan. Begitukah kisah yang dijalani putra semata wayangnya? bodoh sekali Rosa sampai tidak tahu.


"Maafin mama, Za. Ternyata selama ini mama banyak gak tau tentang apa yang kamu alami. Mama bener-bener gak nyangka Niky akan se-tega itu sama kamu." Hiks. Refleks Rosa berdiri dari kursi tempat dia duduk. Menghampiri Eza kemudian memberikan pelukannya.


Beberapa saat kemudian..


"Jadi kamu udah gak punya keluarga sama sekali?" Kali ini Hendra yang bersuara, menatap wanita muda yang akan menjadi menantunya.

__ADS_1


"Alit cuma punya kang Eman sama Ibu dikampung, Pah." Takut-takut Alita menjawab. Dua pasang mata itu kini tertuju padanya.


"Uyuhan kamu masih menganggap mereka keluarga. Meuni baredegong kitu!" ujar Mama Rosa.


"Maaaaah.." Hendra dan Eza menatap Rosa berbarengan.


"Atuh da!" Mama Rosa mendelik sebal. Alita terlalu polos menurutnya, bahkan hampir tipis dengan kata bodoh. Sebagai sesama wanita, apalagi berasal dari suku yang sama, Mama Rosa merasa sangat tidak terima. "Mama sama papa setuju kamu menikahi Alita, tapi dengan syarat kamu harus menikahi Alita dari awal. Mama gak mau pernikahan kamu gak diketahui publik. Mama mau pesta besar-besaran, biar orang-orang tahu dan merayakan kebahagiaan anak-anak mama."


Hah? Alita melongo tidak percaya. Mimpi kah ini?


"Dan kamu Alit, sebelum ada pesta pernikahan Mama minta kamu pulang dulu ke kampung." Tambah mama Rosa.


"Ziarah kubur dulu atuh, Za. Ke makam ayah sama ibunya si Alita."


"Oooowwhh.." Mulut Eza membulat ber O~ ria.


"Sekalian pamer sama orang kampung kalo kamu akan menjadi bagian keluarga kami, hehe." Mama Rosa tersenyum sendiri. Wanita paruh baya itu seolah memiliki dua kekuatan yang mengharuskan dia untuk menunjukan sesuatu. DIa tidak terima anaknya diinjak-injak seperti itu.


Mama Rosa bertekad untuk mendukung Eza berbahagia dan membuat Nikita menyesal, juga mendukung kebahagiaan Alita agar orang-orang yang dulu tidak menghargai Alita akan terpukau takjub.

__ADS_1


Lihat saja!


~


Eza dan Alita senang bukan main ketika undur diri dari kediaman Mama Rosa. Bagaimana tidak, mereka berdua sudah mendapatkan lampu hijau dan siap untuk melanjutkan rencana mereka untuk menjadi sepasang suami istri yang sah dimata agama dan juga negara.


"Alit seneng pisan, A'. Gak nyangka kalo mama sama papa Aa' bakal setuju sama pernikahan kita." Mata Alita tidak berhenti mengalirkan cairan bening, bibirnya tersenyum, hatinya begitu terenyuh mendapati kebahagiaan luar biasa yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


"Kok Mama Papa Aa' sih, mereka Mama Papa kamu juga, sayang." Eza menatap Alita yang berlinang air mata. Tidak menyangka bahwa hari itu ia akan berhasil membawakn kebahagiaan untuk wanita yang kini mengisi hatinya itu.


"Gak tau mau bilang apa, pokoknya Alit seneng pisan." Alita sedikit menunduk, air mata bahagia itu kian deras keluar dari matanya. Bahagia itu benar-benar membuncah hingga Alita tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


"Aa' udah janji buat bahagia-in kamu. Semoga selamanya Aa' selalu bisa buat kamu bahagia."


 


 


 

__ADS_1


Aaaaaaaaa~ Berpelukan.


__ADS_2