Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Kawin Kontrak


__ADS_3

Dengan ditemani Yoga, Eza segera mengunjungi tokoh agama yang tinggal dikawasan rumah Eza yang dulu. Mengkonsultasikan masalah yang sedang ia alami sebelum membawanya menuju apartemen untuk melihat keadaan Alita.


"Jadi nak Eza sudah menikah lagi? kok tidak undang-undang. Saya baru dengar ini lho." Pak Syarief, seorang tokoh agama dan juga tokoh masyarakat yang memang terkenal dikawasan tempat tinggal Eza dulu.


"Saya memang menikah diam-diam, pak. Tidak ada yang tahu, bahkan orang tua saya pun tidak tahu." Eza menjawab pertanyaan itu dengan lugas dan apa adanya.


"Owh, menikah siri ya?" Tanya Pak Syarief sambil mengangguk-angguk kecil.


"Kawin kontrak, pak." Jawab Eza meluruskan.


"Astaghfirullah,, kawin kontrak?"


"Iya."


Eza kemudian menceritakan segalanya dari awal, dimulai dari ia berpisah dengan Nikita sampai ia bertemu Alita dan melakukan kawin kontrak itu. Tidak ada satupun yang Eza tutup-tutupi, lelaki itu berujar dengan jujur dan apa adanya.


"Siapa yang menjadi wali nikah saat kalian menikah saat itu?" Tanya Pak Syarief lagi.


"Kang Eman, dia saudara dari ayah Alita karena Alita adalah yatim piatu. Pernikahan kontrak itu hanya dihadiri wali dan saksi saja, tidak ada yang lain. Dan iya, apa pernikahan saya itu sah pak?"

__ADS_1


Pak Syarif menelaaah cerita Eza, mencerna setiap kalimat yang ia dengar. Tidak ada yang salah dengan pernikahan itu, karena sejatinya pernikahan bisa dilangsungkan jika ada mempelai wanita dan mempelai pria, kemudian wali dan saksi. Namun yang salah adalah bahwa pernikahan itu hanyalah sebatas kontrak yang akan berakhir dengan tenggat waktu yang sudah ditentukan, dan pernikahan semacam itu haram hukumnya.


"Saat Nak Eza mengatakan 'saya terima nikahnya' pernikahan itu sudah sah dan tanggung jawab si gadis sudah otomatis berpindah pada Nak Eza. Kalian sudah terikat sebagai suami istri. Tapi pernikahan itu bisa berubah menjadi haram ketika pernikahan itu justru punya maksud yang lain, pernikahan itu ibadah dan bukan suatu hal yang bisa dianggap sebagai lelucon dan bisa dipermainkan sesuka hati. Karena saat ijab kabul itu terjadi, Tuhan pun menyaksikan saat Nak Eza mengucapkan ikrar suci itu."


"Tapi saya tidak akan menceraikan istri saya setelah kontrak itu berakhir, saya justru ingin menikahi dia secara resmi dan menjadikan dia istri sungguhan."


Pak Syarif hanya mengangguk-angguk, mengerti apa yang Eza inginkan. "Pernikahan kalian kemarin sebetulnya sudah sah karena wali si gadis adalah keluarga dari ayah, tapi alangkah baiknya jika pernikahan kalian disempurnakan supaya lebih sakral dan juga khidmat. Supaya menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah." Pak Syafif tersenyum tulus sambil menepuk bahu Eza.


"Insa Allah, pak. Saya sedang berusaha meresmikan pernikahan kami. Tapi sebelum mencapai itu, saya juga harus berjuang menghadapi hal-hal yang sama sekali tidak saya duga."


"Jangan takut, Nak. Niat yang baik pasti akan berbuah baik. Insya Allah semuanya akan lancar dan berjalan sebagaimana mestinya."


"Baca Bismillah dan minumlah air ini, usapkan juga di bagian muka, ubun-ubun dan perutmu. Berdo'a pada Tuhan semoga dengan air ini penyakit mu bisa sembuh." Dengan tangan yang masih memutar tasbih, pak Syarif memberikan Alita segelas air putih, kemudian meminta Eza untuk membantu gadis itu melakukan apa yang baru saja ia ucapkan.


"Bismillah ya, Sayang. Insya Allah semuanya akan baik-baik aja." Eza menyodorkan air putih tersebut, meminta Alita untuk meminum nya kemudian melakukan langkah-langkah selanjutnya. Mengusapkan air itu di beberapa bagian tubuh Alita sambil merapalkan do'a.


Setelah meminum air yang didoakan oleh pak Syarif, Alita langsung tertidur pulas. Gadis itu seolah memberikan reaksi bahwa dia sudah membaik. Membuat Eza sedikit bisa bernafas lega meskipun masih ada yang mengganjal di dadanya.


"Istri saya langsung tertidur, pak." ujar Eza sambil menghampiri pak Syarif dan Yoga yang sudah duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Jangan khawatir istrimu akan baik-baik saja." Pak Syarif tersenyum kecil.


"Bagaimana jika nanti hal yang serupa terjadi lagi?" dengan perasaan yang belum tenang sepenuhnya, Eza mendudukan diri kemudian menatap pak Syarif yang duduk di hadapannya.


"Berdo'a dan mintalah perlindungan kepada yang maha kuasa. Sebagai seorang suami, Nak Eza sebaiknya tidak menunjukkan khawatir yang berlebihan jika sang istri sedang dalam keadaan lemah atau sakit. Nak Eza harus tetap setegar karang. Haqul Yakin semuanya akan baik-baik saja, karena terkadang pemikiran kita sering menentukan apa yang akan terjadi."


Wejangan dari Pak Syarif betul-betul mendamaikan seorang Eza. Banyak sekali yang Eza petik dari kata-kata beliau. Untuk itu, Eza akan menerapkan di kehidupan nyata. Berharap akan menemukan titik kedamaian dalam hidupnya, mencapai titik paling bahagia bersama Alita.


"Satu lagi saran saya." Ujar pak Syarif sambil menatap Eza. "Ulangi pernikahan kalian dari awal, lakukan rukun-rukun nikah sebagaimana mestinya. Ganti niat sebelumnya dengan niat lillahi ta'ala. Karena sesungguhnya pernikahan mut'ah itu haram.


(Pernikahan Mut'ah = pernikahan dalam tempo masa tertentu.)


"Insa Allah, Pak."


 


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2