
Hari-hari Eza dan Alita kini sudah kembali normal, tidak ada masalah atau embel-embel apapun lagi. Entah tentang Nikita, Kang Eman atau apapun itu. Semuanya dirasa
berjalan lancar dan dan baik-baik saja.
Dua orang itu asyik menikmati
momen bersama-sama, sambil menanti hari peresmian pernikahan mereka.
Meskipun demikian, sebelum hari itu tiba, mereka tetap menjadinjadi suami istri yang menjalankan tugas dan kewajiban masing-masing.
Diruang tengah~
Sedang duduk di sofa.
"Ini uang bulanan buat kamu." Eza menyodorkan segepok uang yang masih dibungkus amplop coklat kepada Alita. Sebuah kebiasaan saat awal bulan tiba.
"Yang kemaren-kemaren juga belum abis atuh A'." Alita menatap tangan Eza yang menggenggam amplop coklat berisi uang jatah bulanan Alita. Lelaki itu selalu memberikan apapun secara berlebihan menurut Alita.
"Ya gapapa, mau habis atau enggak Aa' bakal tetep ngasih jatah kamu." Eza memaksa Alita untuk menerima pemberiannya. Menaruh amplop itu ditangan Alita.
"Masalahnya dompet Alit udah gak cukup A', uang dari Aa' yang bulan kemarin aja belum Alit gunakan sama sekali. Piraku kudu dikeresekan mah?." Gadis itu menatap Eza dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Pokoknya terima aja, mau kamu pake atau enggak itu urusan kamu. Yang penting Aa' selalu memenuhi tanggung jawab Aa' menafkahi kamu." Eza melemparkan senyum manis sambil membelai lembut rambut Alita. "Mau ditabung atau kamu beliin apa juga terserah kamu." Eza tersenyum lagi.
Dasar Alita si wanita aneh. Biasanya kan para istri selalu uring-uringan jika tidak mendapatkan jatah bulanan. Tapi dia malah menolak dengan alasan uang yang Eza berikan bulan-bulan lalu masih cukup.
*Akukan nggak pinter kodek thor wkwk Alita
Alita bukan Nikita yang doyan kesalon dan muter-muterin mall seharian~
"Atuh da Aa' mah ngasih Alit uang sebanyak ini, tapi kalo Alit mau beli apa-apa suka dibayarnya sama Aa'. Kan uang Alit jadi utuh terus." Gadis itu menggerutu. Membuat para ibu-ibu ingin berebut untuk berada diposisinya.
Eza terkekeh geli melihat raut wajah Alita yang selalu mengerucut gemas seperti itu. Alita memang benar-benar permata yang terpendam. "Nanti juga uang itu berguna kok, siapa tau kan kamu punya keinginan apaaaaa gitu yang belum terwujud." Lagi-lagi Eza melemparkan senyuman manisnya.
Alita jadi teringat masa kecilnya yang sangat sederhana, mendapatkan uang lima
ribu rupiah saja rasanya sulit. Alita harus melakukan sesuatu dulu agar diberi
upah oleh sang ibu atau ayahnya, sejak kecil Alita memang di didik sederhana
dan harus berjuang jika ingin mendapatkan sesuatu.
Pingin apa atuhnya?
__ADS_1
Dasar teuboga kahayang \=D *Author
"Lho kok bengong?" Eza membuyarkan lamunan Alita tentang akan digunakan untuk apa uang itu.
"Eh gakpapa A'." Alita tersenyum canggung.
"Yaudah kalo gitu Aa' berangkat dulu ya, sayang. Doain semoga hari ini semuanya selesai biar besok kita bisa nemuin orang tua kamu."
"Emang besok mau jadi A'?"
"Jadilah, Mama juga katanya mau ikut."
"Serius A'?" Semakin dijawab Alita malah semakin tidak yakin. Kenapa bayang-bayang dia akan ditinggalkan dikampung malah semakin menggerayangi pikirannya.
"Kenapa sayang? kamu takut sama ibu sama kakak kamu?" Melihat raut wajah Alita, Eza sudah paham. Masih ada ketakutan dalam dirinya. Meskipun kang Eman sudah dipenjara, tapi dikampung Alita masih harus menghadapi ibu dan kakak tirinya.
"Nggak A', Alit nggak takut apa-apa kok. Kan ada Aa'. Alit yakin Aa' pasti akan selalu lindungi Alit. Iya kan?"
"Iya sayang." Cuuuupp!! Eza mengecup kening Alita cukup dalam. Kemudian berpamitan untuk melakukan tugasnya di kantor.
Bersambung~
__ADS_1