Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Istri Aa'


__ADS_3

Rosa sudah pulang dan kini Eza tengah berada dikamar utama bersama Alita, mereka sudah bersiap untuk tidur. Wajah Alita masih merona ketika mengingat bagaimana Rosa terus saja memuji dirinya tadi. Dari ke-ramahan, ke-cantikan hingga masakan yang ia nikmati bersama Eza. "Kamu ikut kursus Lit? Masakannya mu enak pisan. udah lama saya gak masak ala-ala sunda kie, geus kolot mah loba pantangan hehe." Hmm ternyata Mama Rosa curcol juga.


"Duh, Nyonya bisa aja. Alit mah cuma hoby aja, gak kursus-kursus." Alita yang sedang menyiapkan minum untuk dua orang itu ikutan menyahut ketika lagi-lagi dipuji sang mertua kontrak.


"Nanti kalo kamu mau punya istri lagi carinya yang kaya si Alita. Yaa.. Nu pinter masak, pandai mengenyangkan perut suami. Bukan yang hoby kelayapan terus."


Aaaa.. Alita rasanya berbunga-bunga ketika mendengar penuturan itu. Eh tapi tunggu. Nyonya Rosa bilang kalo punya istri lagi? emang Eza gak punya istri?


"Lit.." Eza memanggil gadis yang sedang melamun itu.


"Eh iya A'." Alita mengerjap dan langsung menatap Eza.


"Ini buat kamu." Eza menyodorkan sebuah paper bag kecil kepada Alita.


"Apa A'?" Alita menerima paper bag itu dengan ekspresi heran.


"Itu hp buat kamu. Jadi nanti kalo aku kang,, Hm Maksutnya kalo aku dikantor atau keluar kota lagi kita bisa komunikasii. Bisa telponan atau kirim pesan." Eza mendeskripsikan hadiah yang ada di dalam paperbag itu.


H a p e?


"Alit gak ngerti cara pakeknya A'." Seumur-umur Alita tidak pernah menyentuh apalagi memiliki benda tersebut.


"Nanti aku ajarin."


Detik selanjutnya Eza benar-benar mengajari Alita bagaimana untuk menggunakan benda pintar tersebut. Darimulai cara menelpon, mengirim pesan, mencari dan menyimpan kontak dan lain-lain.


Sementara Alita hanya mengangguk-ngangguk pelan tanda mengerti apa yang Eza sampaikan. "Oh jadi Alit bisa ngobrol sama Aa' lewat sini?"


"Kalo kamu mau ngobrol tinggal telpon, tapi kalo mau kirim pesan tinggal ketik aja disini terus kirim deh."


"Kirim kemana A'?"


"Ya ke aku!! Maksudnya kamu tinggal sentuh bagian ini aja, nanti pesannya langsung terkirim ke hape aku. Nih aku contohin lagi." Uuwh.. Aa' Eza meuni sabar pisan😂


"Canggih euy! dulumah kalo mau kirim pesan teh pake surat da A'.. terus harus ke kantor pos."


"Iya itukan dulu. kalo sekarang udah beda Zaman. Kamu bisa kirim pesan text, voice note atau langsung telpon aku. Mau video call juga bisa, nih tinggal sentuh icon ini." Eza masih memberi tahu secara detail bagaimana aplikasi-aplikasi diponsel itu berfungsi. Sambil mempraktekan agar Alita tidak kebingungan.


"Astagfirullah A'.." Alit berjengkit kaget dan hampir saja berteriak.

__ADS_1


"Kenapa?" Eza menatap gadis itu dengan heran.


"Itu kenapa jadi ada Alit sama Aa' disitu." Alita kaget bukan main karna setelah Eza menyentuh ikon video call itu tiba-tiba saja ada gambar dirinya bersama Eza disana.


"Yaampun Lit. Kirain apa!" Eza jadi ikut-ikutan kaget karena suara Alita yang cukup nyaring. Gadis itu memang selalu ada-ada saja. "Ini namanya kamera. Gini nih.. kamu bisa tangkap gambar apapun kalo nyentuh tombol ini."


 


Cekrek!! 📸✨


Cekrek!!📸✨


Cekrek!!📸✨


 


 


Eza mempraktekan lagi bagaimana kamera itu berfungsi. Mencontohkan dengan sengaja mengambil foto mereka berdua. "Nah kalo yang ini video.. tau gak video?" Eza bertanya lagi dan Alita hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Besok lagi deh yaa aku ajarinnya. Sekarang aku ngantuk." Sudahlah. Yang penting Alita tahu bagaimana cara menelpon dan mengirim pesan saja sudah cukup.


"A' makasih yaa, Aa' pasti beli ini pasti mahal kan?" Alita menatap sendu. Masih ingat dengan harga baju di mall itu. Baju saja mahal apalagi benda secanggih itu.


"Yaudah makasih yah A'. Semoga Alit bisa menggunakannya dengan baik." Alita kemudian tersenyum manis kepada Eza.


Yalord. Gadis ini.. dia selalu berterimakasih atas apapun yang Eza berikan. Entah hal kecil atau hal besar, gadis itu selalu menghargainya.


"Sama-sama."


Kemudian mereka mengambil posisi untuk tidur. Sudah sama-sama terlentang ditengah-tengah kasur. Dengan jarak se-dekat itu. Tidak adalagi guling yang jadi pemisah antara mereka. Eza kemudian mulai memejamkan mata, berharap mata itu cepat layu namun ternyata tidak. Eza masih terngiang ucapan mama Rosa sebelum pulang tadi.


"Gimana sidang perceraian kamu? Sudah beres? Mama senang kamu lepas dari Niky, Za. Mama harap setelah ini kamu cepat menikah lagi dan membalas sakit hati mama. Buktikan kalo kamu bisa bahagia tanpa dia Za! Mama berharap kamu bisa secepatnya menikah lagi, Buktikan bahwa kamu bisa mempunyai anak."


Kalimat itu terdengar sarkas. Tapi itulah keadaanya. Tidak salah jika ibunya itu berharap dan berkata demikian, ia juga pasti merasakan sakit hati yang Eza rasakan.


"Lit.." karena merasa gusar sendiri akhirnya Eza membuka suara lagi. "Tidur belum?"


"Belum A'.. kenapa? Aa' gak bisa tidur lagi ya?"


"Masih haid?" Tanya Eza sambil bangkit dari posisinya. Kini Eza duduk dan begitupun Alita.

__ADS_1


"Sudah selesai A'." Jawab Alita malu-malu.


"Aa' punya satu permintaan sama kamu. Boleh?" Eza menatap gadis itu sendu, berharap Alita mampu mengobati hatinya yang gundah.


Aa'? sejak kapan Eza menyebut dirinya Aa'? biasanya kan aku.


"Permintaan apa atuh A'? Kalo Alit bisa kasih, Alit pasti kasih."


"Aa' minta ini sebagai suami kamu. Aa' harap kamu mau menuruti ke-mau-an Aa'." Dua insan itu saling menatap. Saling menghela napas sebelum akhirnya Eza mengutarakan apa yang dia inginkan. "Aa' mau kamu berhenti pakai kontrasepsi." Eza mengatakan itu dengan harapan yang sangat besar. Ia bahkan menggenggam tangan Alita untuk meyakinkan gadis itu. "Tolong Aa', Lit. Aa' mohon."


"Tapi A', kalo Alit berhenti pakai kontrasepsi nanti Alit hamil bagaimana? Gimana nasib Alit nantinya." Menjalani kawin kontrak inisaja Alita sudah risau akan nasibnya kelak, bagaiman ia kembali menjalani kehidupannya setelah kontrak itu berakhir.


"Aa' memang pengen kamu hamil. Aa' bakal tanggung jawab, jadi kamu gak perlu takut."


"Tapi A'.."


"Lit, percaya sama Aa'." Eza semakin erat menggenggam tangan Alita.


"Alit gak bisa A', nanti Alit pasti dimarahin kang Eman kalo melanggar kontrak. Alit takut A', Alit gak punya siapa-siapa, Alit gak mau macam-macam." Alita sudah duluan bergidik ngeri jika benar-benar ia melanggar kontrak itu.


"Aa' cuma mau buktiin kalo Aa' gak mandul. Aa' mau buktiin kalo Aa' bisa punya anak." Eza masih memohon dengan tatapan nanar.


"Kenapa Aa' tidak menghamili istri Aa' saja?"


"Istri Aa'?"


"Iya.. wanita yang Aa' sebut waktu kesurupan itu pasti istri Aa' kan?"


"Kesurupan?"


"Waktu Aa' pulang larut malam itu."


"Kapan Aa' kesurupan Lit?"


"Nikita. Aa' nyebut nama itu waktu kesurupan. Itu pasti istri Aa' kan?"


Yalord! kapan aku kesurupan? apa maksutnya saat aku mabuk malam itu?


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2