Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Organik


__ADS_3

Beberapa hari kemudian..


Eza masih kesulitan membujuk Alita agar mau berhenti meminum pil kontrasepsi itu. Eza benar-benar berusaha meyakinkan wanita itu namun segala cara yang sudah Eza coba, semuanya gagal.


"Yaah, Lit.. Mau yaaa? ini permintaan suami kamu lho. Dosa kalo gak nurut." Seribu satu cara sudah Eza coba, meskipun gagal lelaki itu tampak tidak menyerah.


"Aa' memang suami Alit dan Alit harus nurut sama Aa', cuma kalo yang ini Alit bener-bener takut dan gak berani A'. Alit gak punya siapa-siapa.." Meskipun Alita polos tapi pemikirannya tentang itu cukup matang juga. Gadis itu memikirkan nasib dirinya dan bayi itu kelak. Siapa yang akan bertanggung jawab? memertanggung jawabkan diri sendiri saja Alita tidak bisa. Alita tidak mau lebih berdosa menelantarkan seorang anak nantinya saat dia tidak bisa berbuat banyak.


Kini Eza tengah berada disebuah kafe. Wajahnya kusut karena melulu memikirkan Alita yang tidak mau berhenti tentang alat kontrasepsi.


"Ngapa lagi sih bro! kusut banget tuh muka." Yoga ikut bergabung dimeja yang sedang Eza singgahi. Bukan kebetulan, mereka memang sudah berjanjian sebelumnya.


"Dia gak mau lepas dari kontrasepsi, Bro. Peluang gue buat nunjukin gue perkasa sekarang nol persen." wajah Eza semakin ditekuk malas


"Ah elah... dibawa pusing amat sih Za.. Zaaaa..." Yoga menggeleng pelan terhadap sahabatnya yang selalu saja murung dan mengkhawatirkan apapun dengan sangat berlebihan. "Lagian lo mau nunjukin perkasa sama siapa? sama si uler? buat apaaaa!! Mending lo nikmatin aja kali. Hepy-hepy."


"Bukan cuma nunjukin ke Niky bro. Gue juga harus nunjukin ke bokap nyokap gue!" Wajah Eza seakan meminta pertolongan sebuah ide brilian terhadap sahabatnya. Yoga memang selalu bisa diandalkan saat Eza sedang berantakan dan tidak bisa berfikir jernih.


"Lo beneran mau bikin Alita hamil?" Yoga menatap Eza dan sedetik kemudian Eza mengangguk meng-iyakan. "Lo tau kan konsekuensinya? kontrak ini diatas materai lho." Yoga masih mempertanyakan ke-seriusan Eza. Sampai mana Eza akan bertanggung jawab. Takut-takut Eza hanya terobsesi saja.


"Gue kayaknya nyaman juga sama Alita. Cewek itu natural banget.. Polos. Walaupun kadang nyebelin tapi.. gue seneng ngabisin hari-hari sama dia."


"Widiih.. puber ke dua nih!" Yoga tertawa sekencang mungkin mendapati Eza yang sepertinya jatuh cinta lagi.

__ADS_1


"Gak usah ketawa nyiing!"


"Hehe.. Gue punya solusinya! tapi sebelum itu gue pengen pastiin dulu kalo lo serius tentang ini. Kalo Alita sampe hamil pilihan lo cuma dua, nikahin dia secara resmi atau lo di bui tuh sama jalarnya."


"Gue serius. Mending gue nikahin Alita resmi daripada harus balik lagi sama Niky." Tidak. Eza sudah tidak mencintai Nikita. Rasa cinta itu sudah menguap bersama ribuan luka yang dihadirkan wanita itu. Eza akan membuktikan bahwa Eza bisa bahagia tanpa Niky. Atau kalau bisa Eza ingin membuat wanita itu menyesal seumur hidup.


"Nah gitu dong. Gue dukung seratus persen! daripada lo kembali sama si uler."


Eza dan Yoga kemudian lanjut berbincang. Mendiskusikan ide yang Yoga punya. Hingga akhirnya mereka sepakat untuk melakukan itu, melakukan hal agar Alita lupa alat kontrasepsi, melakukan hal yang secepatnya bisa membuat Alita hamil.


"Yang organik emang lebih edun ye bro! haha. Gak nyangka lo bisa beneran suka sama Alita."


"Semuanya ngalir bro. Gak bisa gue cegah.. yaudah thx ya bro! semoga cara ini berhasil." Eza menyesap kopinya dan bersiap untuk pulang.


"Sialan lo main langsung pulang aja. Nyesel gue kasih ide!" Yoga mendelik pada sahabatnya yang sedang bersiap untuk pulang.


"Widiiiih saaaaik. Mantep ugha nih."


"Yaah.. bye."


"Oke bro. thx."


Eza kemudian bergegas pulang. Namun saat menuju pintu keluar tiba-tiba saja ada seorang wanita yang mencegah langkahnya.

__ADS_1


"Eh.. Mantan suami.. Apa kabar?"


Eza menatap wanita itu dengan tatapan datar, kemudian menoleh ke arah meja dimana seorang pria sedang duduk. Seorang pria peliharaan Nikita.


"Sorry.. gue gak ada waktu buat ladenin elo!" Eza menabrak bahu Nikita, berniat segera pergi. Namun tiba-tiba tangan Nikita kembali mencegahnya.


"Kusut amat sih! selow aja kali.. Mau gabung sama kita? yuk."


"Dasar perempuan gak tahu malu!" Kenapa harus bertemu wanita ini sih. Mood Eza baru saja kembali membaik dan kini harus hancur kembali.


"Nyantai dong! kasar amat sih sama cewek." Pria yang sedang bersama Niky berdiri seolah menjadi pahlawan bagi wanita itu.


"Diem lo anjing kecil! Lo doyan cewek kaya gini? Ambil."


"Duh yang galau kayaknya hampir gila yaa.. Kamu stress banget yaa ditinggal sama aku? uuuuu kacian." Ekspresi Nikita benar-benar merendahkan mantan suaminya. Seolah dia sudah menang telak karena persidangan sebentar lagi akan berakhir.


Sial! tangan Eza mengepal. Ingin sekali meninju mulut yang tidak tahu malu itu.


"Sorry Nik. Udah gak ada elo di kamus hidup gue." Eza menarik ujung senyumnya. Menatap Niky dengan tatapan menjijikan kemudian benar-benar pergi dari sana. Entah kenapa hatinya tidak terasa sakit saat kembali melihat wanita itu bersama pria lain.


 


 

__ADS_1


Syukurlah.. lagi pula untuk apa galau karena orang seperti itu!


Bersambung~


__ADS_2