Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Pindah


__ADS_3

"Besok kita pindah dulu yaa." Ujar Eza saat mereka baru saja tiba dirumah.


"Pindah.. kita mau pindah kemana A'?" tanya Alita heran.


"Kemana aja. Rumah Aa' banyak, kamu tinggal pili nanti..." Eza tersenyum manis sambil menuntun Alita agar mengikutinya menujur kamar mereka. "Gak usah mikir aneh-aneh. Aa' cuma mau kamu aman dan nyaman. Tau sendiri kan dirumah ini udah banyak kejadian yang nggak mengenakan?"


Iya juga sih. Melihat tangga dimana Alita menggelinding dan kehilangan calon anak mereka sebenarnya juga memubuat Alita sedikit trauma.


"Yaudah sekarang kita istirahat yuk? Besok kita pindah dan pikirin rencana mana dulu yang bakal kita tempuh."


"Yakin Aa' mau istirahat?" Hehe. Wanita itu lebih berani sekarang. Ternyata bukan hanya Eza, tapi Alita juga ternya mulai kecanduan.


"Gak yakin sih hehe."


Mwah.. mwah,, Tanpa basa-basi lagi bibir mereka saling bertaut, bertukar saliva and u know lah apa yang terjadi selanjutnya.


Hihihi


 


Besok Pagi..


 


"Maafin bibik tuan.. Bibik gak bermaksut untuk bocorin semua rahasia tentang non Alita. Bibik terpaksa mengatakan itu semua karna non Niky mengancam Bibik.. Bibi mohon maafin Bibik tuan." Hiks~ bik Mumun langsung bersimpuh ketika Eza dan Alita baru saja turun dari kamar mereka. Apalagi mendengar apa yang terjadi kepada Alita sampai nona muda ittu kehilangan bayinya membuat Bik mumun benar-benar merasa bersalah.


Masalah yang terjadi pada Alita itu bermula gara-gara dirinya yang membocorkan rahasia kawin kontrak antara Eza dan Alita kepada Niky. Andai saja bik Mumun tidak mengatakannya, kejadian seperti itu tidak mungkin terjadi.


"Udah gakpapa gak usah nangis." Santai Eza berujar. Meskipun rona marah itu tidak bisa disembunyikan. Bik Mumun sudah layaknya ibu asuh bagi Eza, Eza sudah hafal betul bagaimana seorang bik Mumun. Bik Mumun tidak mungkin mengkhianatinya, Bik Mumun melakukan itu karena terpaksa dan Eza memakluminya.  "Sekarang bibik mending bantu packing barang-barang. Saya sama Alita mau pindah dari sini."


"Pindah? mau pindah kemana tuan?" Bik mumun mengusap air matanya, menatap Eza untuk meminta jawaban.


"Rumah ini udah gak aman. Saya mau nempatin rumah yang lain." Sebagai seorang pebisnis properti yang menggeluti properti berupa tempat tinggal, Eza memang memiliki banyak rumah. Bukan hanya rumah, Eza juga memiliki aset lain berupa hotel, apartemen dan juga villa yang tersebar dibeberapa kota. Untuk itu, pindah dari satu rumah ke rumah yang lain adalah hal biasa.


"Oh iya, kalo bibik masih mau kerja sama saya, bibik siap gak untuk tinggal bersama kami? jadi bibik menetap, gak pulang pergi."


"Tapi tuan, rumah sayaaaa.."


"Saya gak mau ninggalin Alita sendirian kalo saya kerja, Alita harus ada yang nemenin. Kalo bibik gak bisa paling bibik balik aja kerja dirumah mama."

__ADS_1


Sejenak bik Mumun berfikir untuk menimang-nimang penawaran Eza. Namun saat mengingat alasan Tuan-nya itu untuk melindungi Alita, rasanya bik Mumun tidak mau berfikir panjang lagi. Bik Mumun merasa harus untuk ikut andil melindungi Alita. Hitung-hitung untuk menebus kesalahan dan juga demi keamanan dirinya. Siapa yang tahu jika suatu saat Nikita akan kembali dan mengancam dirinya lagi. Soal rumah, rumah itu bisa disewakan. Begitu pikirnya.


"Yasudah Tuan. Saya siap.." Bik Mumun menatap Eza sambil mengangguk mengiyakan.


"Oke, bibik packing dulu aja. Nanti saya kirim orang buat bantuin bibik. Saya mau ajak Alita liat-liat rumah dulu."


"Baik tuan."


Detik selanjutnya Eza membawa Alita untuk berkeliling dibeberapa aset miliknya. Eza mempersilahkan gadis itu untuk memilih hunian mana yang akan mereka tempati.


Diperjalanan~


"Jadi itu semua teh rumah punya Aa'? tanya Alita saat mereka sudah menyurvei tiga rumah. Sejak tadi Alita terperangah takjub ketika melihat rumah-rumah mewah yang katanya milik Eza.


"Iya.. Gimana? ada yang suka?" Eza balik bertanya.


"Owh ning Aa' teh orang kayaaa." Alita kembali menganga mengetahui kenyataan itu dengan polosnya.


Haha. Eza hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.


"Tapi rumahnya mending gak usah yang gede-gede A', Alit maunya yang penting cukup buat kita berdua aja." Alita mengutarakan kemauannya karena memang Eza meminta Alita untuk seperti itu. Untuk memilih rumah yang mana yang Alita sukai. Agar gadis itu nyaman.


"Mending kecil A' jadi semua ubin-nya keinjek. Daripada rumah gede tapi banyak ruangan gak kepake nanti malah diisi sama hantu loh." Alita menjawab dengan jujur kenapa alasannya memilih rumah kecil.


"Ubin?" Eza menatap semakin heran.


"Itu A', lantai yang kotak-kotak itu." Alita mendeskripsikan lagi.


"Maksutnya keramik?" Eza menebak dan Alita cengengesan mengiyakan.


"Haaaiya itu hehe."


"Yaudah kalo gitu mending kita liat-liat apartemen aja ya.." Sepertinya bangunan itu akan lebih mendekati kata cocok. Tidak terlalu besar dan aman tentunya.


"Apartemen?" Alita kembali mengulang kosa kata yang baru pertama kali ia dengar.


"Iya. Tau gak apartemen?" Eza bertanya dan Alita menggelengkan kepala. "Emang apartemen teh apa A'?"


"Biar tau mending kita liat langsung aja ya.." Daripada menjelaskan berbelit-belit mending langsung bawa ke tekape sajalah.

__ADS_1


 


 


Lanjut perjalanan~


Sudah tiba di apartemen~


 


 


Kaki Alita dibawa untuk berpijak dihadapan sebuah gedung yang sangat tinggi. Sebuah tempat yang katanya bernama apartemen.


Tapi tunggu Alit kan minta tinggal dirumah yang kecil, trus kenapa si Aa' mau ngajak Alit tinggal disini?


Jika tinggal ditempat itu, waktu Alita pasti habis hanya untuk membuka dan menutup jendela seharian. Belum lagi kamar mandi yang sudah pasti sangat jauh dan sulit untuk dijangkau. Tidak terbayang sepanjang apa tangga didalam sana untuk mencapai lantai paling tinggi. Aaah~ pikiran Alita sudah melanglang buana entah kemana.


"Yuk, masuk. Kenapa bengong?" Eza menarik tangan Alita saat Alita hanya mematung menatap bangunan besar dan tinggi itu.


"Ini serius A' kita mau tinggal disini?" Alita malah bertanya sambil masih mengedarkan pandangannya.


"Ya kita liat aja dulu, kalo kamu suka berarti kita tinggal disini.. Yuk." Eza kembali menarik tangan yang masih digenggamnya. Bermaksud agar mereka segera bergerak dan memasuki gedung.


"Mending tinggal dirumah yang tadi ajah deh A'." Alita memberengut sementara Eza jadi heran dengan perubahan ekspresi gadis itu.


"Lho, kenapa?"


"Alit pasti capek atuh A', Nantiteh Alit bangun jam lima pagi teh harus buka jendela sebanyak itu, belum nutupnya lagi. Terus nanti Alit juga udah pasti kewalahan nyapu sama ngepel rumah segede gini." Alita kembali menuturkan pemikirannya yang seperti gadis purba. Alita mengira bangunan tinggi itu hanya akan dihuni oleh dirinya dan Eza.


"Hahaha." Eza tertawa namun kesal. Lelaki itu menepuk jidatnya sendiri. "Masa iya kamu buka-bukain jendela dari lantai satu sampe lantai atas? kita cuma tinggal di satu unit Alitaaaaa!!!!"


"Satu unit?"


"Satu rumaaaaah." Sabar Za.


"Mana rumahnya A' orang inimah gedong tinggi."


"Iya, yang tinggal disini bukan cuma kita aja. Dahlah pokoknya hayuk liat langsung aja!" Kini Eza benar-benar menarik tangan Alita. Membawa gadis itu masuk daripada semakin berpresepsi hal yang tidak masuk akal.

__ADS_1


GEMESSSSSHHH!!!


__ADS_2