Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Kesurupan


__ADS_3

Eza mendesak Alita untuk bercerita tentang mengapa gadis itu mengatakan bahwa Eza kesurupan. Tidak mungkin seorang Eza kesurupan lagipula saat ke-esokkan harinya, Eza mendapati dirinya telanjang kala itu.


"Waktu itu Alit belum tidur karena nunggu Aa' pulang. trus tiba-tiba Alit denger Aa' teriak-teriak ditangga. Pas Alit samperin eh Aa' udah jatoh ditangga." Alita mulai bercerita, kembali memutar ingatan yang sebenarnya sangat menakutkan dan menyakitkan tentunya.


"Trus?" Eza hanya menyimak. Ia harus cerdas menarik benang merah dari apa yang dikatakan si polos Alita.


"Trus Alit bawa Aa' ke sini.. uwh setengah mati Alit waktu itu A', badan Aa' soalnya berat banget!" ujar Alita yang dibubuhi dengan ekspresi menggemaskan.


"Iya terus?" Eza belum mau menyela meskipun mode menyebalkan Alita mulai on. Ia akan menjadi pendengar yang baik hingga Alita selesai bercerita.


"Alit bobo'in Aa' disini. Terus habis itu Alit bukain sepatu sama dasi Aa'. Malem itu Aa' udah bau banget. Tapi Alit gak curiga kalo itu bau jin yang mau masuk ke tubuh Aa' soalnya Alit baru pertama nyium bau kayak gitu." Yaampun. Kenapa Alita masih yakin bahwa Eza kerasukan jin sih.


"Bau?" hesh.. hesh.. Refleks Eza mengendus ke-dua sisi ketiaknya. Sejak kapan seorang Eza memiliki masalah bau badan?


"Iya A'. Bau nya menyengat, gak enak banget." Gadis itu bahkan mengerutkan penciumannya seolah mempraktekan betapa bau-nya Eza malam itu.


Mungkin maksutnya bau minuman kali ya? Batin Eza.


"Terus abis itu Aa' gimana?" Eza bertanya lagi, baru soal minuman yang bisa Eza simpulkan.


"Terus.. te-rus abis itu Aa' minta Alit buka baju." Hm, ekspresi Alit bahkan terlihat sendu. Gadis itu seolah kembali ke masa dimana saat kejadian itu terjadi. "Alit bilang nanti aja karena Alit kira Aa' sakit soalnya Aa' keliatan kusut dan cape banget. Tapi tiba-tiba Aa' bangun dan robek baju Alit gitu aja." Alita bercerita terus terang. Tidak ada yang disembunyikan, tidak ada yang dikurangi atau ditambah-tambahkan.


Gullp!! Eza mulai menelan ludah. Sudah membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Apa Eza benar-benar hilang kendali waktu itu? Apa Eza menyakiti Alita malam itu? Pasti! Sudah pasti Eza menyakiti Alita. Bahkan ia sampai merobek gaun tidur milik Alita. Kenapa Eza jadi se-kasar itu?


"Aa' bukain semua baju Alit termasuk baju Aa' juga. Terus kita melakukan itu lagi. Tapi maaf yah A', kalo Alit boleh jujur Alit kesakitan banget waktu itu. Gara-gara jin itu Aa' jadi kasar dan kaya monster. Alit sampe teriak-teriak kenceng banget, dan mungkin tetangga sebelah juga denger."


"Cukup!!" Detik selanjutnya Eza langsung memeluk Alita sebagai permintaan maaf. Tidak sanggup mendengar hal yang lebih buruk yang sudah ia lakukan terhadap gadis yang tidak berdosa itu. Eza bahkan masih mengingat pagi itu saat ia mendapati Alita tidur disofa dengan wajah pucat dan mata yang sembab. "MA AF."


"Ga pa-pa A', Aa' kaya gitu kan karena jin itu."


ASTAGA ALITA!! Baru aja mau bikin adegan melow tapi kamu masih bilang Eza kesurupan jin?!


"Aa' mabuk. Bukan kesurupan Lit." Eh. Kenapa Eza ikut-ikutan berujar sepolos Alita sih. Apa mungkin Eza sudah tertular virus Alita si gadis purba.


"Mabuk? Aa' mabuk perjalanan ya?"


Yalord!! Eza hanya menghela nafas. Sudahlah, tidak perlu dijelaskan apa itu mabuk dan kenapa ia mabuk malam itu. Toh tidak penting juga. Daripada Eza darah tinggi dengan segala penuturan Alita yang polos namun terkadang menyebalkan itu.


"Lit boleh bikinin teh gak? Kayaknya Aa' jadi gak ngantuk deh." Rasa kantuk itu sudah kabur entah kemana. Eza juga tidak mengerti keadaan sekarang ini, bersama Alita ia selalu bingung harus kesal atau tertawa. "Eh gak usah deh, kita mending delivery makanan aja. Kamu ngantuk gak?"

__ADS_1


Alita menggelengkan kepala dan kemudian Eza mengotak-atik ponselnya untuk memesan beberpa makanan. Sepertinya malam ini mereka akan begadang. Eza juga lumayan tertarik untuk mengobrol lebih banyak bersama Alita. Karena semenjak mereka bersama mereka memang belum pernah mengobrol intens. Hanya sekilas-sekilas saja.


γ€€


γ€€


~


Sudah duduk dikarpet dengan meja kecil yang menyuguhkan beberapa loyang pizza dan juga minuman, mereka berdua lanjut mengobrol apa yang memang belum pernah mereka bahas.


"Inimah bikinnya dari terigu A', padahal Aa' gak usah beli, Alit juga bisa bikin."


"Lebih praktis Lit, udah tinggal makan aja jadi kamu gak perlu capek-capek."


"Alit seneng masak kok, kalo bikin makanan gini doang mah gak cape atuh A'."


"Iya-iya.. nanti kamu bikin yaa, sekarang mending kita makan yang ini dulu."


Nyum.. nyum.. nyum.. satu loyang pizza itu mulai kehilangan beberapa slice karena mulai dilahap Eza dan Alita.


"Ini atasnya pakek apa ya A'?" Alita masih mengunyah slice pertama dan menatap makanan yang baru pertama kali ia makan itu.


"Tapi kan Alit belum tahu bahan-bahannya. Tapi kalo buat Alit pasti bisa kok."


"Makan aja ya Lit. Besok Aa' beliin buku resep buat kamu biar kamu tahu bahan-bahannya." Eza angkat tangan, enggan menjelaskan tentang apapun lagi. Lebih baik ia mengambil jalan paling praktis.


"Widih.. nanti Alit jadi kayak chef dong kalo masak lihat buku resep." Gadis itu tetlihat tersenyum antusias.


"Mana ada chef masaknya masih lihat resep?" Eza menggeleng pelan sambil menelan kunyahan terakhir. "Lit kamu sepolos ini tapi kok mau sih kawin kontrak? Kamu gak takut kalo semisal suami kontrak kamu jahat?" Eza menatap gadis itu dengan seksama. Ingin tahu bagaimana reaksinya.


"Alit gak punya pilihan A'. Kalo boleh milih mah Alit gak mau kerja kaya gini, Alit mau nya sekolah lagi." ujar Alita lirih. Airmuka Alita juga terlihat sedih sekarang.


"Kok gak punya pilihan sih? hidup itu kan pilihan." Eza menimpali agar gadis itu mau berbicara lebih banyak tentang kehidupannya yang belum Eza ketahui.


"Mau gimana atuh A'. Sebenernya dulu Alit dapet beasiswa buat nerusin ke SMA, tapi ibu ngelarang karena walaupun gratis pasti ada pembayaran yang harus dibayar kontan di tengah-tengah perjalanan sekolah. Belum lagi biaya sehari-hari. Alit kan udah gak punya ayah."


"Ibu? maksutnya ibu tiri kamu?" tanya Eza dan Alita mengangguk mengiyakan. "Trus ibu kandung kamu kemana?"


"Ibu Alit meninggal waktu Alit masih delapan tahun A'."

__ADS_1


Yaampun! kenapa bertanya hal itu sih! kau kan tahu Alita yatim piatu!


"Alit terpaksa kawin kontrak karena Alit harus bayar hutang Alm.ayah A', Alit mah cuma bisa pasrah aja waktu ibu ngajuin Alit buat kerja kawin kontrak ke kang Eman."


"Jadi ibu tiri kamu yang nyuruh buat kerja kawin kontrak?"


"He em."


"Tapi tunggu. Kenapa kawin kontrak disebut pekerjaan sih?" Eza tidak habis pikir. Mana mungkin hal seperti ini disebut sebuah profesi.


"Katanya sih jalan pintas A', itu satu-satunya cara paling ampuh buat dapet uang banyak di kampung Alit." seperti biasa, Alita selalu berujar apa adanya.


"Jadi uang yang aku kasih buat mahar kawin kontrak itu buat bayar hutang ayah kamu?"


"Engga itu aja A', uang dari Aa' itu dibagi-bagi. Buat kang Eman, buat bayar hutang ayah dan sisanya buat ibu sama Kak Amel."


"Terus kamu kebagian berapa persen?"


"Alit gak kebagian apa-apa A', ibu sama kang Eman bilang katanya nanti juga Alit pasti dikasih lagi sama Aa'."


Alita tolong! jangan polos-polos banget lah, kenapa harus sejujur itu sih πŸ™ˆ


"Emangnya hutang ayah kamu berapa sih?" Eza sudah mulai berapi-api dengan penuturan gadis itu.


"Sepuluh juta A'." jawab Alita apa adanya.


Astagaa!! sepuluh juta? padahal Eza memberikan mahar ratusan juta waktu itu.


"Sebenernya kamu ini polos atau bodoh sih?" Eza geram dengan semua cerita yang Alita katakan. Mana mungkin bisa seperti itu. Alita yang menjalankan kawin kontrak dan ternyata gadis itu tidak mendapat sepeserpun dari ratusan juta yang Eza berikan waktu itu. Dan bodohnya gadis itu masih bisa tersenyum menerima meskipun sudah di peralat.


"Udah takdir kali A', mau gimana lagi.. Alit gak bisa nolak meskipun Alit gak mau. Ibu sama Ayah juga pasti sedih ngeliat Alit kayak gini. Tapi mereka pasti tahu kenapa Alit melakukan semua ini.. Alit harus berlapang dada menerima nasib ini." gadis itu masih bisa tersenyum simpul meskipun jelas-jelas matanya berkaca-kaca.


Deg!! Seketika dada Eza rasanya seperti dihantam sesuatu. Kenapa ia jadi merasa ikut-ikutan jadi penjahat dalam hidup Alita. Hati Eza rasanya tersentuh untuk merangkul wanita itu dari nasibnya yang kelam, namun harus bagaimana memulainya, Eza juga belum tahu.


γ€€


γ€€


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2